
Perjalanan kembali dilakukan yang mana kali ini setiap prajurit membawa kewaspadaan penuh dalam diri mereka, mau dikata apa jika Mu Yang sendiri yang memerintah sehingga mereka tidak boleh lengah sedikitpun atau akan celaka dibuat jenderal mereka.
Sampai matahari mulai meninggi yang berarti telah siang hari, tidak ada hal terjadi membuat para prajurit mulai ragu apakah kewaspadaan mereka sia-sia, sebab ini beberapa ucapan pedas juga mulai terlontar yang menyasar Yu Jie sebagai targetnya.
“Seperti inilah jika kita mempercayai ucapan pemuda yang tidak tau apa-apa."
“Benar, jika dirinya memang bagus dalam belajar maka tekuni saja itu, tidak perlu ikut campur yang malah merepotkan kita seperti ini."
Setiap ucapan itu sahut menyahut yang pada intinya memojokkan Yu Jie, setiap orang di rombongan mendengarnya termasuk Yu Jie itu sendiri.
“Kalau cara berpikir prajurit kerajaan Zirah Besi terus seperti ini, aku tidak akan terkejut kalau-kalau pembantaian di istana terjadi sebab ulah mereka sendiri," gumam Yu Jie mencoba tidak menghiraukan.
Serupa dengan Yu Jie yang mendengar itu semua, Mu Yang juga mendengarnya dengan jelas. Dirinya kesal pada pola pikir prajuritnya yang seolah baru bersedia waspada jika telah ada bahaya, bukan apa-apa karena takutnya kewaspadaan mereka percuma sebab sudah lebih dahulu kehilangan nyawa.
“Hentikan omong kosong kalian, jika ada yang keberatan bisa datang langsung ke hadapanku untuk mengatakannya!!!" seru Mu Yang.
Para prajurit jelas bungkam jenderal mereka tiba-tiba berteriak seperti itu, yang mana belum sempat mereka memberi penjelasan tiba-tiba ada hal mengejutkan menghampiri rombongan.
Dari balik semak dua sisi jalan muncul puluhan orang dengan zirah serupa dengan mereka tetapi mengenakan ikat kepala bewarna merah darah di dahi, itu merupakan tanda yang dikenakan para pemberontak istana sekaligus orang-orang yang memihak pangeran pertama.
“Jenderal Yang, lama tidak berjumpa."
Satu orang dari puluhan yang kini tengah mengepung berjalan maju, nampaknya pria itu adalah pemimpin kepungan saat ini.
“Kau?!!"
Mu Yang mengenali pria yang baru maju sebagai Kuan Li, salah satu jenderal yang berkhianat dengan mendukung pangeran pertama merebut tahta.
Mu Yang segera menarik pedangnya untuk menyerang pria bernama Kuan Li tersebut. Dalam pasukan, Mu Yang bisa dikatakan lebih senior walau pangkat mereka sama-sama jenderal, yang mana untuk hal kekuatan keunggulan juga dimiliki Mu Yang.
Mu Yang membawa keyakinan ini sehingga tidak ragu menyerang, siapa sangka saat pedangnya dengan Kuan Li bertemu ada celah kekuatan cukup besar membuat Mu Yang terpental mundur.
“Bagaimana bisa?" Mu Yang tidak percaya.
“Huahaha, Jenderal Yang. Jangan pikir aku masih junior mu yang dulu!!!" Kuan Li dengan tawa renyah.
__ADS_1
Mu Yang segera mengangkat pedangnya sekali lagi untuk berjaga takut-takut Kuan Li balik menyerangnya, untung hal tersebut tidak terjadi yang mana Kuan Li lebih memilih memerintahkan orang-orangnya untuk menyerang setiap prajurit Mu Yang.
Pertempuran tidak terhindarkan, puluhan prajurit Mu Yang dengan puluhan orang Kuan Li bertukar serangan membuat suara gemerincing pedang yang beradu terdengar memekakkan telinga.
“Sial, bagaimana bisa kekuatan orang-orang pangeran pertama melonjak pesat seperti ini?" Mu Yang penuh tanda tanya.
Bukan hanya kekuatan Kuan Li saja ternyata yang jauh berbeda dengan ingatan Mu Yang, serupa dengannya setiap prajurit yang memihak pangeran pertama mengalami peningkatan serupa.
“Jenderal Yang, apa yang harus kami lakukan?!!"
“Jenderal Yang, kekuatan musuh jauh lebih unggul, kami takut kita akan dibantai habis jika terus seperti ini!!!"
Banyak prajurit memang telah tumbang terkhusus mereka di barisan depan, menyisakan setengahnya saja berbanding terbalik dengan pihak lawan yang hanya kehilangan sedikit orang mereka.
“Tahan mereka, tunggu aku mengamankan Tuan Putri baru aku ikut dalam pertempurannya!!!" seru Mu Yang.
Mu Yang segera melesat menghampiri kereta kuda tempat Xiang He berada, setelah diperiksa ternyata Xiang He masih ada di sana dengan wajah risau penuh ketakutan.
“Paman Yang, apa yang terjadi?"
Mu Yang segera membantu Xiang He turun dari kereta kudanya, dirinya ingin segera membawa Xiang He bersembunyi tetapi hal itu tidak bisa dengan mudah terjadi.
“Jenderal Yang, Tuan Putri, ingin pergi kemana terburu-buru seperti ini?"
Kuan Li tiba-tiba muncul tidak jauh dari keduanya, memainkan pedang dengan senyum bengis di wajahnya.
“Arogan, jangan pikir hanya karena kau bertambah kuat sedikit saja kau bisa mengalahkan aku!!!" seru Mu Yang.
Mu Yang mulai maju berhadapan dengan Kuan Li, ada rasa terhina dirasanya sebab melihat mantan junior pasukannya berani bertingkah kurang ajar seperti ini.
“Huahaha, Jenderal Yang sepertinya tengah kesal."
Mu Yang tanpa menanggapi ucapan Kuan Li segera maju menerjang dengan kekuatan penuhnya, pedang di tangan sudah diayunkan yang di saat bersamaan juga mengeluarkan aura guna mempersulit gerak tubuh Kuan Li.
“Cukup pintar, sayangnya kepintaran tidak berguna jika tidak didampingi kekuatan!!!"
__ADS_1
Kuan Li langsung mengeluarkan auranya guna melawan tekanan aura Mu Yang, dari beradunya aura ini dirinya menang membuat ayunan pedang Mu Yang balik terhambat tekanan auranya.
Slashhh!!!
Terhambatnya tekanan aura Mu Yang dimanfaatkan Kuan Li untuk menyerang, menyasar bagian tubuh Mu Yang diluar perlindungan zirah membuat Mu Yang menerima luka cukup dalam.
“Tuan Putri, cepat pergi dari sini!!!" seru Mu Yang.
Dari dua kali pertukaran serangan sudah Mu Yang sadari dirinya memang tidak setara dengan Kuan Li yang sekarang, sehingga tidak mengharapkan menang hanya ingin menghambatnya saja hingga Xiang He pergi.
“Huhaha, Jenderal Yang. Kemana perginya kesombongan mu sebelumnya? Kenapa sekarang berbicara seolah sudah memiliki keinginan menyerah?" tanya Kuan Li dengan tawa renyah.
“Apa ada pembicaraan terkait kesombongan?"
Mu Yang, Kuan Li juga Xiang He segera menoleh ketika perkataan terdengar tiba-tiba, mereka penasaran siapa yang berbicara ditengah situasi mereka.
Yu Jie tampak tengah bersandar di atas pohon dekat sana ketika mengatakan itu semua, seolah setiap pertarungan juga pertempuran yang terjadi tidak ada kaitan dengannya.
“Sial, Bocah pengganggu dari mana ini?" Kuan Li penuh amarah.
Berbeda dengan Kuan Li yang merasa kesal, baik Xiang He juga Mu Yang bernapas lega. Mereka jelas merasa unggul sebab Yu Jie telah memutuskan untuk ikut campur.
“Jenderal Yang, Tuan Putri. Harap tunggu sebentar, kita akan kembali melanjutkan urusan kita setelah aku menyingkirkan bocah tidak jelas ini," ucap Kuan Li sebelum melesat menghampiri Yu Jie.
Yu Jie hanya mengangkat tangannya untuk memetik selembar daun di dekatnya, mengaliri daun tersebut dengan Qi sebelum melemparnya dengan Kuan Li sebagai targetnya.
Jlebbb!!!
Daun yang dialiri Yu Jie oleh Qi tiba-tiba berubah tajam mengalahkan bilah pedang pada umumnya, membuat lembar daun tersebut bisa dengan mudah menancap di bagian leher Kuan Li walau tidak berhasil langsung membunuhnya saat itu juga.
“Jangan membicarakan kesombongan di depanku, kalau bisa," ucap Yu Jie, tengah frustasi karena kesombongan murni amat sulit dipicu akhir-akhir ini.
Sorot mata Kuan Li melebar menatap Yu Jie penuh ketidakpercayaan. Berbeda dengannya, Xiang He juga Mu Yang menatap Yu Jie penuh kekaguman.
“Sial, sudah keren seperti ini tetap tidak ada tanda kemunculan kesombongan murni," gumam Yu Jie.
__ADS_1