
Yu Jie mulai melangkah meninggalkan Mu Yang yang kini tanpa kata, setuju tidaknya Mu Yang tidak berpengaruh untuknya yang sudah bulat dengan tindakan yang akan diambilnya.
“Tidak setuju pun bukankah aku hanya harus menghajarnya saja?" gumam Yu Jie kalau-kalau Mu Yang berani menghalanginya.
“Tuan Muda Jie, tunggu ...."
Yu Jie segera menaruh genggam jemarinya ke gagang pedang, siap melakukan sesuatu kalau-kalau Mu Yang benar berani lancang.
“Ak— aku sudah memikirkan ucapan mu dan aku rasa itu tidak ada salahnya untuk dicoba, tetapi pertama-tama bisakah kau memberitahu aku harus melakukan apa? Aku juga ingin membantu," ucap Mu Yang dengan ragu.
Masalah kerajaan tidak ada hubungan langsung dengan Yu Jie, membiarkan Yu Jie menyelesaikannya seorang diri jelas agak berlebihan walau Yu Jie memang berniat memberi pertolongan.
“Bagus kalau kau sudah memutuskan, sekarang kau hanya perlu diam dan melihatku mengambil langkah awal," ucap Yu Jie dengan senyum tipis.
Mu Yang segera mengangguk sebelum mengekor Yu Jie, dirinya ingin perhatikan dengan baik sesuai perintah Yu Jie.
“Tuan Muda Jie, kenapa kita kembali ke sini?" tanya Mu Yang penasaran.
Arah Yu Jie melangkah adalah tembok kota yang berisi banyak penjaga sebelumnya, satu dari mereka telah kehilangan nyawa sehingga amat mungkin Yu Jie akan langsung dicurigai jika dikenali oleh rekan-rekan penjaga sebelumnya.
“Bukankah sudah aku bilang untuk diam saja? Lihat bagaimana aku memberi sapaan sebelum kekacauan sebenarnya dimulai," Yu Jie dengan kepal jemari yang telah diselimuti Qi.
Para penjaga masih sibuk melakukan tugas mereka di atas tembok kota sehingga tidak menyadari kembalinya Yu Jie ke sana, mereka juga nampak belum curiga akan satu teman mereka yang belum kunjung datang setelah sempat Yu Jie tanyai sesuatu.
Di tengah semua itu, Yu Jie sudah mengangkat kepal jemarinya bersiap mengayunkannya, targetnya adalah tembok menjulang tinggi yang mengelilingi kota entah apa maksudnya.
“Jangan bilang ...."
Mu Yang segera mengerti apa sekiranya yang ingin Yu Jie lakukan, meruntuhkan tembok kota amat mungkin untuk Yu Jie lakukan dengan kekuatannya yang telah diketahui Mu Yang.
“Tu— Tuan Muda Jie, bukankah ini sedikit berlebihan?" tanya Mu Yang panik.
“Berlebihan? Terkadang sesuatu yang luar biasa harus dimulai dengan kesan pertama semacam ini," ucap Yu Jie sebelum mengayunkan kepalan tangannya.
Brakkk!!!
Tepat setelah kepalan tangan Yu Jie menghantam tembok kota, tembok tersebut bergetar dengan amat luar biasa, membuat setiap penjaga di atasnya terombang-ambing seolah tengah terjadi gempa.
__ADS_1
“Apa yang terjadi?!!"
“Sial, tembok kota bisa rubuh jika terus seperti ini!!!"
“Semua, cepat turun untuk menyelamatkan diri!!!"
Keriuhan terdengar dari atas tembok kota, seluruhnya adalah para penjaga yang panik takut tembok tempat mereka berpijak runtuh jika guncangan terus terjadi.
“Belum cukup?" Yu Jie menaikan alisnya.
Yu Jie tidak puas dengan hasilnya segera memukulkan kembali kepalan tangannya, tembok kota kembali bergetar sekali lagi yang mana sekarang jauh lebih parah guncangannya.
“Tidak, apa ini gempa?"
“Sial, ini berbahaya!!!"
Belum sempat para penjaga di atas tembok kota turun, tembok mereka berpijak telah lebih dahulu runtuh secara perlahan, awalnya rubuh tepat di tempat Yu Jie memukul sebelum merembet ke dua arah berbeda hingga merubuhkan seluruh tembok yang mengitari kota.
Apa yang baru terjadi segera membuat kepanikan memenuhi seisi kota, suara keras rubuhnya tembok memang amat luar biasa hingga mungkin jarak puluhan kilometer dari sana saja masih dapat mendengarnya.
Suara kedatangan ribuan prajurit terdengar dari arah pemukiman, mereka datang dengan terburu-buru setelah mendengar suara keras takut ada serangan tiba-tiba menyasar ibu kota.
Pertanyaan itu muncul di benak setiap prajurit yang baru datang, ibu kota kerajaan Zirah Besi tiba-tiba tidak memiliki tembok yang melindungi tanpa alasan jelas mereka ketahui.
“Cari penjaga yang selamat di antara reruntuhan, mereka mungkin tau alasan semua ini dapat terjadi!!!"
Penyelamatan segera coba dilakukan oleh para prajurit yang baru datang, banyak yang masih hidup tetapi kebanyakan tengah kritis sebab tertimbun reruntuhan.
“Tuan Muda Jie, sekarang apa?" tanya Mu Yang masih tidak mengerti alasan Yu Jie melakukan itu semua.
Yu Jie hanya tersenyum kecil sebelum berkata, “Sekarang waktu pertunjukannya."
Yu Jie tiba-tiba terbang dengan teknik Sayap Naga Surgawi miliknya, melayang di atas setiap prajurit yang tengah sibuk melakukan penyelamatan di bawahnya.
Yu Jie tidak lama setelahnya segera mengeluarkan seluruh aura miliknya, aura setara kultivator Jiwa Bumi berhasil membuat setiap prajurit di bawahnya merasakan tekanan luar biasa.
“Sial, sekarang apa lagi?!!"
__ADS_1
Masalah runtuhnya tembok kota tanpa alasan masih belum terselesaikan, kini tiba-tiba tubuh mereka ditekan oleh aura entah milik siapa jelas semakin membuat mereka bertanya-tanya.
“Di sana!!!" seru salah satu prajurit yang berhasil menemukan keberadaan Yu Jie.
Mata setiap prajurit secara otomatis terpaku pada Yu Jie, mereka segera menelan ludah sadar kalau kedatangan Yu Jie ke sana bukanlah pertanda baik untuk mereka.
Seorang kultivator dengan hebatnya bisa melayang di udara seolah terbang, hanya dengan ini pikiran mereka secara langsung menganggap Yu Jie sebagai Kultivator Jiwa Bumi tahap Puncak yang amat ditakuti.
Kultivator setingkat itu kini tengah ada di atas mereka dengan wajah tidak senang, entah apa bencana buruk yang akan segera datang.
“Dengarkan setiap kata yang keluar dari mulutku," ucap Yu Jie, terasa pelan tetapi setiap prajurit dibawahnya bisa mendengar.
Para prajurit hanya melirik satu sama lain, mereka mengangguk seolah memberi isyarat pada masing-masing untuk diam dan tidak melawan.
“Kerajaan Zirah Besi, sekarang telah menjadi musuhku," lanjut Yu Jie.
Wajah para prajurit seketika memburuk, mereka tidak tau siapa Yu Jie dan apa alasan kultivator setingkat Yu Jie memusuhi kerajaan mereka seperti ini.
“Tu— Tuan, jika boleh ta—"
Satu prajurit baru ingin bertanya ketika lesatan Qi tiba-tiba muncul dari ayunan pedang Yu Jie, membelah tubuh prajurit itu menjadi dua membuat para prajurit lain terbelalak melihatnya.
“Aku tidak suka mendengar seseorang menyela, ketika aku tengah berbicara," ucap Yu Jie.
Para prajurit segera kehilangan keberanian untuk melakukan hal sejenis sepenasaran apapun mereka, memilih mendengarkan saja sesuai apa yang Yu Jie inginkan.
Yu Jie mengangguk puas melihat ini sebelum berkata, “Sampaikan pada pangeran pertama untuk bersiap menemui ajalnya."
Setelah mengatakan itu, Yu Jie seolah menghilang dari pandangan setiap prajurit. Hal ini membuat mereka bernafas lega sekaligus bertanya-tanya, apa yang telah pangeran pertama lakukan hingga mengundang musuh berbahaya bahkan saat belum secara resmi menjadi raja.
“Sial, pangeran pertama itu ... aku tau dirinya hanya sampah rakus kekuasaan."
“Hei, kecilkan suaramu. Jika kau dilaporkan, kau akan langsung dihukum mati."
“Apa peduliku? Lagipula pangeran pertama akan lebih dahulu dihabisi oleh tuan tadi."
Pembicaraan di antara para prajurit mulai terdengar, tidak ada dari mereka benar-benar memihak pangeran pertama sesuai dengan dugaan Mu Yang sebelumnya.
__ADS_1
“Sial, jadi benar kebanyakan dari mereka hanya terpaksa?" Mu Yang tidak jauh dari sana.
“Terpaksa atau tidak apa bedanya? Pengkhianat tetaplah pengkhianat, itu faktanya," timpal Yu Jie dengan senyum puas, berhasil memicu cukup banyak kesombongan murni dari apa yang baru dilakukannya.