
Pagi itu Yu Jie sudah siap pergi dari penginapannya, penampilannya tampak berbeda dari biasanya sebab sudah sempat membeli beberapa pasang pakaian untuk persiapan.
Rambut panjang yang biasanya tergerai kini Yu Jie ikat, memberi kesan rapih senada dengan jubah sederhana di tubuhnya.
“Ehemm, aku Yu Jie, calon sarjana yang punya beribu mimpi," gumam Yu Jie di depan cermin kamar.
Yu Jie mengangguk puas, dirinya sudah terlihat cukup berbeda sehingga hampir mustahil ada seseorang akan mengenalinya.
Yu Jie setelahnya beranjak pergi menuju pusat kota, ujian penerimaan akademi kerjaan adalah hari ini dan Yu Jie ingin ambil bagian dalam ujian tersebut.
Tidak berapa lama Yu Jie berjalan, akhirnya ia sampai di tempat akademi kerajaan berdiri, cukup luas dan tengah ada sekian banyak orang di sana.
Setiap yang datang diarahkan pihak akademi untuk berkumpul di lapangan, mereka yang datang memang kebanyakan adalah calon murid serupa dengan Yu Jie.
“Sebagai kepala akademi, aku sambut kedatangan kalian para calon bibit penyokong kemajuan kerajaan, meski demikian kalian tidak boleh terlebih dahulu senang sebab untuk dapat diterima, kalian harus melalui banyak hal."
Yu Jie hanya mendengarkan dengan malas sambutan yang diberikan oleh seorang pria paruh baya, meski begitu tetap dapat Yu Jie tangkap dengan baik apa yang disampaikan olehnya.
Sarjana serupa dengan kultivator, mereka juga punya peran penting dalam pemerintahan. Ibarat penyeimbang antara kekuatan juga kecerdasan yang dapat menjadi penentu maju mundurnya kerajaan.
Jika kultivator kebanyakan ditempatkan dalam militer, para sarjana akan ditempatkan di bagian administratif kerjaan dan ini sama pentingnya meski kebanyakan sarjana masih dipandang sebelah mata. Seperti itulah sekiranya ucapan kepala akademi untuk membuat senang hati para calon muridnya.
“Demikian sambutan dariku, aku harap kalian menyingkirkan pikiran rendah diri hanya karena tidak bisa menjadi kultivator, sebab para pembelajar cerdas seperti kalian juga bernilai untuk kerjaan." Kepala akademi menutup sambutannya.
“Omong kosong, sepintar apapun mereka belajar tetap tidak akan bisa selamat jika seorang kultivator menginginkan nyawa mereka," gumam Yu Jie.
Yu Jie dan para calon murid lain sendiri setelahnya diarahkan ke tempat ujian pertama digelar, itu merupakan sebuah ruangan besar mirip aula dengan cukup banyak meja.
“Hei, lihat. Bukankah itu Jang Kao?"
Beberapa calon murid nampak heboh ketika seorang pemuda memasuki ruangan, yang mana pemuda itu memang sudah terkenal di ibu kota sebagai pemuda paling pintar dalam hal belajar.
“Sial, jika dia ikut ujiannya. Maka sudah dipastikan satu bangku akademi adalah miliknya."
__ADS_1
“Bukan hanya kepastian diterima saja, peringkat pertama ujian penerimaan juga sepertinya sudah ditentukan pemiliknya."
Pembicaraan terus terdengar dari para calon murid membicarakan Jang Kao, membuat Yu Jie ikut melirik pemuda yang dimaksud sebab penasaran.
Tubuh rapuh yang mungkin akan terbang ketika terhempas angin juga wajah pucat tampak sakit-sakitan, pemuda itulah ternyata yang sedari tadi tengah dihujani pujian.
“Sepintar apa memangnya?" gumam Yu Jie, cukup terganggu akan kebisingan yang muncul.
Apes saat Yu Jie bergumam, calon murid didekatnya mendengar itu semua, membuat kehebohan tidak diinginkan terjadi menimpa Yu Jie.
“Hei, bicara apa kau barusan? Apa kau bahkan tidak tau siapa dirinya? Ia adalah Jang Kao, Tuan Muda keluarga bangsawan Jang sekaligus generasi muda paling jenius dalam belajar. Berani sekali kau meragukan dirinya!!!"
Yu Jie menepuk dahinya, seseorang yang berbicara mengeluarkan suara cukup keras hingga mereka yang awalnya tidak tau menahu kini ikut-ikutan mencercanya.
Ucapan Yu Jie yang terkesan meragukan kualitas seorang Jang Kao pada akhirnya didengar langsung oleh Jang Kao itu sendiri, membuat tatapan tidak senang Yu Jie terima dari pemuda tersebut.
Benar saja, tidak lama kemudian Jang Kao berjalan menghampiri tempat Yu Jie berada, membuat keduanya langsung menjadi pusat perhatian setiap orang di sana.
“Apa benar kau berkata demikian?" tanya Jang Kao.
Jang Kao tiba-tiba tersenyum lembut entah apa maksudnya, setelahnya mendekatkan diri ke kuping Yu Jie dan berkata, “Jelas itu mengganggu, apalagi jika diucapkan oleh rakyat jelata sepertimu."
Setelah mengucapkan hal tersebut Jang Kao melangkah pergi menjauh dari Yu Jie, senyum lembutnya tidak hilang membuat banyak orang percaya jika Jang Kao adalah seorang baik hati hingga tidak tersinggung pada hal seperti ini.
“Sial, sudah dihina sekalipun Tuan Muda Kao tetap tidak marah. Tuan Muda Kao memang sesuai dengan reputasinya."
“Kau benar, jika aku merupakan dirinya, mungkin sudah aku caci maki sampah entah darimana itu."
Yu Jie hanya bisa menghela napas panjang, dirinya tidak tau harus melakukan apa untuk menyadarkan setiap orang di sana kalau Jang Kao yang mereka puji hanya manusia bermuka dua, “Menyebalkan sekali bocah ini."
Yu Jie mencoba menahan emosinya, apa yang Jang Kao lakukan jelas merupakan kibaran bendera perang sehingga tidak bisa diam saja.
Di tengah riuhnya ucapan tidak mengenakan mengenai Yu Jie sementara kalimat pujian menghujani Jang Kao, Yu Jie tiba-tiba mengangkat tangannya tinggi memberi isyarat semua orang di sana untuk diam.
__ADS_1
Apa yang Yu Jie lakukan berhasil meredakan keriuhan, setiap mata kini terpaku padanya menunggu Yu Jie menyampaikan alasannya melakukan itu.
Serupa dengan kebanyakan orang, Jang Kao yang berselisih langsung dengan Yu Jie jelas melakukan hal serupa.
“Apa dia ingin memberitahu kalau aku menghinanya? Lakukan saja, lagipula tidak ada yang akan percaya," gumam Jang Kao.
Yu Jie segera tersenyum sinis mendengar gumaman Jang Kao, “Kau pikir aku bodoh hingga melakukan hal yang sudah pasti akan gagal?"
“Teman-teman, mohon maafkan aku jika ucapanku sebelumnya terkesan menyinggung. Bukan maksudku melakukan itu, melainkan hanya bentuk jujur dari lubuh hati terdalamku sebab aku merasa segala hal tentangnya adalah sesuatu yang dilebih-lebihkan." Yu Jie dengan wajah polos tanpa dosa.
Banyak orang di sana segera menatap Yu Jie tidak percaya, mereka mempertanyakan isi kepala Yu Jie hingga berani mengatakan itu semua.
“Saudara, kenapa aku merasa kau kembali menghinaku dengan ucapan mu itu?" Jang Kao dari tempatnya, wajahnya benar-benar tampak tenang ketika berbicara.
Yu Jie hanya bisa mengumpat dalam hati, muka dua Jang Kao benar-benar sudah tidak tertolong dirinya sadari.
“Sial, kau pikir hanya dirimu saja yang bisa?" gumam Yu Jie.
Yu Jie menarik napas dalam sebelum mengeluarkan senyum terbaiknya, setelahnya berkata, “Saudara Kao, mungkin ini tidak mengenakan untukmu tetapi fakta harus tetap dirimu terima."
“Fakta apa yang harus aku terima memangnya, Saudara?" Jang Kao balas tersenyum.
“Fakta kalau Saudara Kao sebenarnya biasa-biasa saja, bahkan aku yakin kepintaran mu mungkin tidak akan ada seperempat dari milikku."
Yu Jie mengatakannya dengan senyum ramah, membuat Jang Kao juga setiap orang yang mendengar menatap aneh, tidak paham Yu Jie kini tengah merendah atau tengah meninggikan dirinya.
“Benarkah? Kalau begitu bagaimana jika kita buktikan saja di ujiannya nanti, siapa yang mendapat peringkat lebih tinggi akan menang, setuju?" Jang Kao dengan wajah geram tetapi coba ditahan.
“Ide bagus, Saudara Kao. Aku harap dirimu benar bersedia menerima kekalahan dariku," ucap Yu Jie.
Kompetisi dua orang pemuda akhirnya dimulai di tengah ujian masuk akademi kerajaan, ekspresi kedua pemuda itu tampak ramah tetapi tidak dengan isi kepala mereka.
“Sialan, rakyat jelata menjijikan," batin Jang Kao.
__ADS_1
“Muka dua sialan, jika aku disini tidak ada kepentingan, sudah aku tebas lehermu sedari awal," batin Yu Jie.