
Setelah ujian kaligrafi, ujian-ujian lain Yu Jie lalui yang seluruhnya bisa dilewati cukup mudah dan dengan sempurna tentu saja.
Banyak orang berdecak kagum juga tidak percaya, Yu Jie yang tidak mereka kenali siapa tiba-tiba memegang peringkat tertinggi di setiap ujiannya tentu sulit untuk masuk akal mereka.
Banyak orang mulai menaruh rasa hormat begitu serius pada Yu Jie, bagi seorang pelajar melihat pelajar lebih baik dari mereka tentu langsung mereka kagumi.
“Saudara, boleh aku tau namamu?"
“Saudara, kau sungguh luar biasa. Apakah kau ada waktu makan malam bersama jika semua ini usai?"
Di tengah jeda ujian, banyak peserta menghampiri meja Yu Jie berada, bermaksud saling mengenal lebih dalam sekaligus membangun koneksi.
Pemuda sepintar Yu Jie tentu mereka sadari akan memiliki masa depan cerah kedepannya, entah posisi tinggi di kerajaan atau sejenisnya, mereka ingin mengambil keuntungan dari ini jika berhasil menjadi temannya.
Yu Jie tentu mengerti maksud tujuan mereka, tidak sudi juga berkenalan dengan maksud imbalan sehingga lebih memilih tidak menghiraukannya.
Saat Yu Jie tengah merasa risih, gadis menyebalkan di sampingnya tiba-tiba mendekap lengannya, membuat Yu Jie melirik kesal berpikir gadis itu ingin mengambil kesempatan tidak berbeda dengan mereka.
Banyak orang yang tengah mengajak Yu Jie berkenalan segera menatap iri, gadis di samping Yu Jie memang banyak dari mereka sukai tetapi untuk mendekatinya mereka tidak berani.
Yu Jie menyadari perubahan sorot mata mereka segera mengerti, setelahnya membiarkan saja gadis menyebalkan itu melakukan yang diinginkannya jika tujuannya adalah untuk membantunya.
“Hehe, aku baik, kan?" bisik gadis itu.
“Sedikit," timpal Yu Jie.
Melihat Yu Jie yang asik berbisik-bisik dengan gadis itu membuat mereka lebih cemburu, jelas yang ada dipikiran mereka adalah Yu Jie tengah bermesraan dengan gadis pujaan hati yang tidak dapat mereka gapai.
“Saudara sekalian, aku dan kekasihku sudah ada janji makan malam bersama, jadi bisa kalian pergi dan jangan ganggu waktu kami?" tanya gadis itu dengan senyum manis di wajahnya.
Peserta di sekitar meja Yu Jie langsung tergagap, senyum gadis itu membuat mereka terpana sehingga hanya dapat mengangguk tanpa berani membantah.
Para pengganggu telah pergi dan ini waktunya untuk Yu Jie menyudahi sandiwara ini, dirinya lepas dekapan gadis itu pada lengannya sebelum berkata, “Lepas, lagipula sejak kapan kita menjadi sepasang kekasih?"
“Tadi, memang sejak kapan lagi?" Gadis itu dengan senyum meledek.
Yu Jie hanya bisa menghela napas panjang, tidak lama kemudian melirik tempat Jang Kao berada yang wajahnya tengah terlihat begitu geram.
__ADS_1
Jang Kao memang tidak terlalu mengacau di ujian-ujian selanjutnya, peringkatnya cenderung bagus walau tidak sesuai harapannya sebab Yu Jie selalu di atasnya.
“Sialan, tidak mungkin aku kalah. Belum lagi gadis di sebelahnya ... aku menyukainya sejak pandangan pertama," gumam Jang Kao yang sorot matanya tidak lepas dari gadis di samping Yu Jie.
Yu Jie ingin sekali tertawa tetapi mencoba menahannya, kesan elegan pemuda berpendidikan yang kali ini tengah serius dirinya coba pertahankan.
“Jang Kao sepertinya menyukaiku, jika kau tidak bergerak lebih cepat mungkin aku akan berpaling padanya," bisik gadis di samping Yu Jie menyadari lirikan Jang Kao.
“Apa peduliku? Lagipula itu berarti kebebasan untukku," timpal Yu Jie, bertanya-tanya harus sampai kapan dirinya bersama gadis menyebalkan ini.
“Kerennya ... jawaban yang aku harapkan, nona ini jadi semakin tergila-gila, kyaaaa...."
Entah sudah berapa kali Yu Jie dibuat menepuk dahi sebab tingkah gadis ini, untungnya pengawas yang sebelumnya keluar kini telah kembali membuat gadis itu harus menutup mulutnya.
Pengawas setelah ujiannya selesai memang memutuskan pergi entah untuk apa, yang jelas ketika kembali sudah ada kepala akademi ikut bersamanya.
“Perhatian, ujiannya telah resmi usai dan Kepala Akademi datang untuk menyampaikan peringkat sekaligus peserta yang berhasil diterima," ucap pengawas.
Kepala akademi segera melangkah tepat ke hadapan setiap peserta sebelum menyebutkan nama dari peringkat paling bawah, mereka yang disebut otomatis lolos sehingga tetap senang meski menduduki peringkat tidak terlalu baik.
“Peringkat ketiga, Jang Kao. Silahkan maju ke depan." Kepala akademi cukup keras.
Setiap orang di sana terkejut bukan karena kagum, mereka lebih merasa aneh sebab Jang Kao mereka kira akan menempati urutan kedua di bawah Yu Jie.
“Apa? Siapa orang kedua yang lebih unggul dariku?" Jang Kao penuh tanda tanya.
Jang Kao meski tidak percaya pada akhirnya tetap maju, kepala akademi yang mengenalnya langsung menggelengkan kepala sebab berpikir Jang Kao bisa lebih baik dari ini.
“Ayahmu akan marah setelah kau kembali," ucap kepala akademi, dirinya dan ayah Jang Kao yang seorang bangsawan memang cukup dekat.
“Aku tau, Paman. Tolong jangan ingatkan aku terkait itu," timpal Jang Kao penuh kecewa.
Jang Kao pada akhirnya ikut menunggu bersama dua orang yang menempati peringkat keempat dan kelima, dirinya memerhatikan sungguh-sungguh sebab ingin tau siapa yang ada di peringkat kedua.
Bukan hanya Jang Kao sebenarnya yang merasa demikian sebab hampir setiap orang di sana juga, termasuk pengawas yang sebenarnya sudah tau namanya tetapi tidak dengan orangnya.
“Peringkat kedua, Rong Yue," ucap kepala akademi.
__ADS_1
Setiap peserta saling menoleh untuk mencari tau, sampai tiba-tiba gadis di samping Yu Jie berdiri membuat mereka terpaku.
“Dewiku ... siapa sangka dirinya sepintar ini?"
“Sial, tidak hanya kecantikannya bahkan sekarang dirinya membuatku kagum dengan kepintarannya ... menyesal aku tidak berani mendekatinya sebelum orang lain memilikinya."
“Hei, tutup mulut kalian. Lagipula bukankah keduanya serasi? Satunya tampan dan satunya lagi cantik, belum lagi keduanya menempati peringkat pertama dan kedua ... orang-orang seperti kita hanya sebutir debu di mata mereka."
Cukup banyak ucapan terlontar dari para peserta, membuat suasana gaduh segera terasa.
“Aku pergi dulu, jangan lama-lama dan cepat susul aku. Hidupku akan terasa hampa jika tidak bersamamu," ucap gadis itu dengan senyumnya.
“Jangan berlebihan, lagipula kau hanya ke depan," timpal Yu Jie mencoba untuk tidak kesal tetapi sulit.
Gadis itu hanya menjulurkan lidahnya meledek Yu Jie, setelahnya hanya tinggal peringkat pertama yang harus dipanggil dan semua orang tau kalau itu adalah Yu Jie.
Benar saja, nama Yu Jie di panggil tidak lama setelahnya. Kepala akademi dengan sangat memujinya bahkan begitu sopan tutur katanya seolah Yu Jie adalah seseorang yang setara.
Bertepatan dengan dipanggilnya Yu Jie, ujiannya secara resmi usai, mereka yang tidak lolos dipersilahkan pergi sementara mereka yang lolos langsung dibawa untuk dikenalkan pada lingkungan akademi.
Berbeda dengan yang lain, lima peringkat teratas diminta duduk kembali. Kepala akademi menyampaikan terkait perjamuan istana yang ternyata benar adanya, sudah kebiasaan setiap tahun kerajaan akan memberi apresiasi pada lima peringkat teratas dalam ujian masuknya.
“Ini dia, aku lebih butuh ini dibanding omong kosong memasuki akademi," gumam Yu Jie, merasa tidak sia-sia dirinya melakukan semua ini.
“Kau mengikuti ujiannya hanya karena ingin mengikuti jamuan istana? Bagaimana bisa kita memiliki tujuan serupa?" tanya gadis menyebalkan yang kali ini Yu Jie ketahui namanya sebagai Rong Yue.
Yu Jie mengangkat alisnya sebelum berkata, “Memang apa alasanmu ingin ke sana?"
“Untuk terus bersamamu, kekasihku. Memangnya apa lagi?" Rong Yue dengan senyum lebar terlihat menyebalkan.
Yu Jie menarik napas dalam sebelum menghembuskannya, tidak berapa lama dirinya berkata, “Hufthhh, hampir aku tidak bisa menahannya."
“Kyaaaa ... Kekasihku sangat tampan ketika tengah marah."
“Diam," timpal Yu Jie.
“Baik ..." Rong Yue menutup mulut dengan tangannya.
__ADS_1