
Beberapa hari telah terlewat semenjak kericuhan di tembok kota, hal ini membuat kerajaan Zirah Besi panik sebab tindakan Yu Jie yang tidak pernah mereka sangka-sangka.
Dalam beberapa hari terakhir setelah runtuhnya tembok, penjagaan juga patroli di wilayah ibu kota diperkuat. Selebaran berisi sketsa wajah Yu Jie disebar hingga sudut kota, menjadikannya buronan paling dicari oleh kerajaan saat ini.
Seorang pemuda dengan topi jerami nampak baru memasuki sebuah kedai, malam hari baru datang membuat banyak pengunjung singgah di sana untuk rehat setelah lelah bekerja.
“Kedai ini cukup ramai," gumam Yu Jie.
Yu Jie duduk di sebuah meja paling pojok sebab yang lain telah terisi penuh, bagaimana Yu Jie terlihat dengan topi jeraminya membuatnya terhindar dari perhatian para pengunjung yang kebanyakan prajurit tersebut.
“Tuan, apa ada yang ingin Anda pesan?" tanya pelayan.
Yu Jie memesan beberapa hidangan guna menemaninya menghabiskan waktu di sana, tujuan utamanya tentu mencari informasi yang biasanya banyak tersebar di tempat semacam ini.
Tidak lama Yu Jie menunggu akhirnya makanan datang, memenuhi meja tempatnya berada cukup membuat banyak orang bertanya-tanya apakah Yu Jie mampu menghabiskannya.
“Sial, aku salah langkah," gumam Yu Jie, tidak menyangka hanya dengan memesan hidangan saja dapat membuatnya mendapat perhatian.
Beruntung untuk Yu Jie sebab perhatian yang mengarah padanya hanya sebentar, setelahnya para pengunjung mulai sibuk akan urusan mereka sendiri.
“Bukankah ini berlebihan? Kita disuruh memburu orang yang dikatakan dapat menekan puluhan prajurit sendirian, kalau benar ketemu sekalipun bukankah kita yang akan diburunya?"
“Mau bagaimana lagi? Pangeran pertama lah yang meminta, belum lagi ada ancaman dilancarkan padanya membuat pangeran pertama tidak bisa hidup tenang setiap harinya."
“Salah sendiri kemampuan tidak seberapa malah berani-berani mencari masalah, belum lagi yang disinggungnya adalah kultivator Jiwa Bumi tahap Puncak ... aku rasa pangeran pertama memang ditakdirkan mati karena ambisinya."
Pembicaraan antara prajurit di kedai tersebut ramai terdengar, Yu Jie di mejanya tersenyum kecil mendengar itu semua.
“Apa aku memang semenakutkan itu?" gumam Yu Jie.
Yu Jie pada akhirnya mencoba menyantap hidangan yang dipesannya, yang mana baru Yu Jie melakukan itu, salah seorang prajurit tiba-tiba membuat keributan entah apa alasannya.
Seorang pelayan nampak menunduk dengan tubuhnya yang bergetar, prajurit yang membuat keributan ternyata tengah marah padanya sebab tidak mendapatkan pesanan yang dimintanya.
“Kau bilang apa? Aku datang kemari setelah berpatroli menjaga keamanan kota dan kalian malah tidak bisa menyajikan apa yang aku minta?"
“Maaf, Tuan. Hidangan yang Anda pesan memang sudah habis sehingga tidak bisa kami buatkan," ucap pelayan tersebut menunduk ketakutan.
Brakkk!!!
__ADS_1
Meja makan tiba-tiba di gebrak oleh prajurit itu, membuat banyak pengunjung lain memutuskan pergi tidak ingin terlibat situasi tersebut.
Prajurit itu tersenyum puas berhasil membuat pergi cukup banyak orang, meski setelahnya senyum tersebut menghilang melihat pemuda dengan topi jerami masih asik menyantap hidangan.
“Kau, tunggu di sini. Biar aku perlihatkan apa yang dapat aku lakukan untuk membuat kedai ini sepi sebagai hukuman," ucap prajurit itu pada pelayan yang masih ketakutan.
Yu Jie masih mencoba menyantap hidangannya meski keributan yang terjadi cukup mengganggunya, siapa sangka dalang keributan tersebut tiba-tiba menghampirinya dengan wajah congkak entah ingin melakukan apa.
“Hei, Bocah!!!" seru prajurit tersebut.
Prajurit itu menggebrak meja berisi makanan yang Yu Jie pesan, membuat banyak hidangan bercecer berantakan sehingga tidak dapat lagi dimakan.
Yu Jie menghela napas panjang, datang bukan untuk mencari masalah siapa sangka masalah itu sendiri yang menghampirinya.
“Kenapa, kau tidak senang?" tanya prajurit itu mendengar helaan napas Yu Jie.
Yu Jie segera menatap prajurit tersebut tajam, tangannya terkepal erat nampak siap menyerang.
Saat Yu Jie sudah dalam posisi siapnya, siapa sangka prajurit itu malah terpaku pada salah satu hidangan di meja, itu merupakan apa yang ingin dipesannya dan sepertinya Yu Jie memesan itu lebih dahulu darinya.
“Sialan, kau berani memesan makanan yang sama denganku?!!" seru prajurit itu mencoba memberi intimidasi.
Prajurit itu mengangguk, setelahnya berkata, “Kau benar, hal ini juga yang membuatku kesal seka—"
Yu Jie segera mengambil hidangan yang dimaksud sebelum menjejalkannya ke mulut prajurit itu, hanya karena sebuah hidangan tetapi sampai membuat keributan jelas membuat Yu Jie kesal.
“Hmphhh"
Prajurit itu mencoba menyingkirkan tangan Yu Jie yang terus mendorong makanan ke mulutnya, sayang tenaga Yu Jie lebih kuat membuat apa yang dilakukannya sia-sia.
“Kenapa? Bukankah ini yang kau inginkan? Kalau begitu makan!!!" seru Yu Jie dengan senyum di wajahnya.
Prajurit itu masih mencoba melawan sampai melihat senyum di wajah Yu Jie, senyum tersebut entah mengapa terasa mengerikan membuatnya lemas ketakutan.
“Ampwuni akwu, Twuan ...."
Yu Jie hanya menghiraukan ucapan tidak jelas prajurit itu, sampai makanan di tangannya habis prajurit itu makan, barulah Yu Jie lepas prajurit tersebut.
Tepat setelah Yu Jie melepasnya, prajurit itu segera jatuh sembari mengeluarkan isi perutnya, cukup menyedihkan memang apa yang baru dialaminya.
__ADS_1
“Hei, kenapa kalian diam saja?!!" Prajurit itu pada teman-temannya yang hanya memerhatikan.
Ada lima prajurit lain memang datang ke kedai itu bersama prajurit yang baru Yu Jie beri pelajaran, yang mana kelimanya tampak ragu untuk membantu sebab wajah Yu Jie yang terasa familiar.
“Dirinya ... bukankah orang yang tengah dicari pangeran pertama?" Salah satu prajurit menyuarakan dugaannya.
Prajurit lain termasuk prajurit yang baru Yu Jie beri pelajaran segera menatap wajah Yu Jie lekat, setelahnya keringat dingin mengucur dari dahi mereka sebab kemiripan antara wajah pemuda tersebut dengan sketsa yang tersebar hampir tanpa celah.
“Cepat laporkan keberada—"
Yu Jie sudah menebaskan pedangnya saat salah satu prajurit ingin bicara, membuat para prajurit lain memutuskan lari saat itu juga.
Yu Jie dengan senyum di wajahnya segera melesat menghampiri satu persatu dari mereka, tidak membiarkan mereka lolos dari pedangnya apalagi lari dari kedai tempat mereka berada.
Hampir seluruh dari mereka segera kehilangan nyawa tidak lama setelahnya, menyisakan satu prajurit yang berhasil menyantap makanan langsung dari tangan Yu Jie sebelumnya.
“Tu— tuan, jika ada lagi yang harus aku makan, aku bersedia memakannya." Prajurit itu dengan suara bergetar.
Yu Jie menaikan alisnya, sesaat kemudian menunjuk salah satu makanan yang tercecer di lantai sebelum berkata, “Makan itu."
“Ba— baik." Prajurit itu tanpa ragu melakukan apa yang Yu Jie katakan, membawa harap nyawanya akan diampuni setelah melakukan hal menjijikan ini.
“Apa enak?" tanya Yu Jie.
“En— enak, Tuan." Prajurit itu mengangguk kencang.
“Baguslah, dengan ini aku cukup baik hingga tidak menghabisi seseorang ketika tengah kelaparan." Yu Jie dengan senyum seringai.
“Tidak ...."
Slashhh!!!
Sebuah kepala melayang terpisah dari tubuhnya, hal ini membuat darah berceceran ke mana-mana memenuhi seisi kedai.
“Sekarang bisa katakan berapa kerugian yang harus aku bayar?" tanya Yu Jie pada pelayan.
Pelayan kedai ditanyai Yu Jie seperti itu langsung menggeleng kencang, semua kekejaman Yu Jie dilihatnya sendiri sehingga hampir mustahil dirinya memiliki keberanian meminta ganti rugi pada sosok seperti Yu Jie.
“Ambil saja, aku bukan orang jahat seperti yang kau bayangkan," ucap Yu Jie sembari melempar kantung berisi koin emas ke hadapan pelayan.
__ADS_1
Yu Jie setelahnya pergi meninggalkan kedai dengan langkah santai, tampak begitu berwibawa sosoknya tetapi tidak dengan apa yang ada di pikirannya, “Sial, uangku habis. Apa aku harus memintanya lagi dari Mu Yang?"