
Setelah meninggalkan tempat ujian digelar, Yu Jie diarahkan oleh kepala akademi masuk lebih dalam ke wilayah tempat pendidikan nomor satu di kerajaan tersebut.
Ternyata Masing-masing murid yang diterima diberikan kediaman yang membuat mereka tidak harus pulang, kediamannya juga sama sekali tidak buruk terkhusus untuk mereka yang mendapat peringkat atas dalam ujian masuk.
Yu Jie sebagai peringkat pertama mendapat kediaman paling besar, Rong Yue tidak kebetulan mendapat kediaman tepat disampingnya membuat gadis itu teriak kegirangan.
“Hehe, sekarang kita bahkan tinggal bersebelahan. Hanya perlu menunggu waktu sampai kita tinggal di bawah atap yang sama," ucap Rong Yue malu-malu.
“Berhenti menghayal, lagipula ekspresi malu-malu tidak cocok untukmu," timpal Yu Jie.
Rong Yue hanya menjulurkan lidahnya tidak peduli, sembari terus bersenandung riang seolah ucapan dari mulut Yu Jie tidak pernah ada.
“Sialan, aku iri."
“Benar, kapan aku bisa punya pendamping hidup sepertinya ... tidak perlu yang secantik Saudari Yue, asal yang mau saja padaku."
Dua pemuda yang mendapat peringkat kelima dan keempat membicarakan nasib menyedihkan mereka, di samping Jang Kao yang hanya bisa menatap tidak terima.
“Kalian istirahatlah terlebih dahulu, saat waktunya tiba aku akan mengirim orang untuk menjemput kalian," ucap kepala akademi.
“Baik," ucap serempak kelimanya.
Pada akhirnya kepala akademi pergi dan masing-masing dari kelima murid tersebut memasuki kediaman mereka, termasuk Yu Jie yang terkesan terburu-buru sebab ada hal ingin dirinya periksa.
“Tunggu, aku ikut ...."
“Diam di sana, jangan berani melangkah masuk atau aku akan marah. Lagipula kau punya tempat tinggal mu sendiri," ucap Yu Jie, menghentikan Rong Yue yang ingin ikut memasuki kediamannya.
“Baiklah-baiklah, menyebalkan sekali," Rong Yue dengan wajah cemberut.
“Menyebalkan? Itu kau, bukan aku." Yu Jie seraya menutup gerbang depan kediamannya.
Yu Jie sempat memerhatikan sejenak kediaman yang akan ditinggalinya, halaman depan benar-benar luas dan agak berlebihan sebenarnya memberikan kediaman sejenis ini hanya untuk seorang murid.
Untuk kenyamanan tidak perlu diragukan, jarak antar kediaman cukup jauh dan ada rimbun pepohonan sebagai pemisah sehingga tidak akan ada kebisingan tidak terduga.
“Peduli apa? Aku tidak akan tinggal di sini terlalu lama," gumam Yu Jie.
Yu Jie pada akhirnya memanggil sistem setelah memasuki salah satu kamar di sana, pesan sistem perlahan muncul tepat di depan matanya.
[Notifikasi sistem diaktifkan, laporan hasil dari setiap yang Tuan lakukan akan dijumlahkan ... Kesombongan murni telah terpicu beberapa kali, Tuan berhasil mendapatkan 225% exp juga 1500 poin sistem]
Yu Jie mengangguk puas, salah satu fitur dari sistem yang telah ditingkatkan adalah memperbolehkannya mematikan pesan sistem secara sementara, sehingga tidak akan menganggu secara tiba-tiba dengan muncul di depannya.
[Jumlah exp yang Tuan miliki sudah melebihi jumlah syarat peningkatan kekuatan, apakah Tuan bersedia melakukannya? ]
“225%, bukankah itu berarti lebih dari cukup untuk aku naik dua tahap? Lakukan," ucap Yu Jie.
__ADS_1
[Perintah diterima ....]
[10%]
[30%]
[70%]
[100%]
[Berhasil!!!]
Yu Jie merasakan lonjakan kekuatan luar biasa dari tubuhnya. Berbeda dengan sebelumnya, semakin tinggi ranah maka akan menimbulkan efek lebih besar tergantung ranah yang dicapai.
Yu Jie di ranah yang sudah terhitung tinggi kini tiba-tiba mengalami peningkatan dua tahap sekaligus, tentu saja merasakan perasaan asing yang membuat tubuhnya tidak terbiasa sehingga harus melakukan meditasi kecil guna mengurus itu semua.
Cukup lama Yu Jie terpejam hingga matanya perlahan terbuka, hari ternyata sudah malam terlihat dari jendela kamarnya.
“Status," ucap Yu Jie.
[Nama : Yu Jie
Tubuh Bawaan : Tubuh Naga Surgawi (Legendaris)
Tingkat : Pembentukan Jiwa tahap Puncak (25%)
Poin :5500
Kondisi : Sehat]
“Tahap Puncak? Bukankah hanga tinggal satu langkah lagi sampai aku menjadi kultivator Jiwa Bumi?" gumam Yu Jie.
Yu Jie yang tidak tau harus apa lagi akhirnya memutuskan membersihkan diri, sampai dirinya selesai tiba-tiba gerbang kediamannya diketuk tanda ada orang datang ingin menemuinya.
“Ada apa?" tanya Yu Jie setelah membuka gerbangnya.
Di sana ternyata sudah ada lima orang, satu orang tidak dirinya kenali sementara empat yang lain cukup familiar sebab baru sore tadi mereka datang ke sana bersama.
“Kyaaa ... rindunya," Rong Yue sesaat gerbang dibuka.
Yu Jie mengangkat tangannya untuk menahan kepala Rong Yue, mencegahnya lebih dekat sebab gadis itu terlihat ingin memeluknya.
Jang Kao dan dua orang lain segera mengalihkan pandangan mereka, cemburu tentu saja melihat primadona ujian masuk kini terus-terusan menempel pada Yu Jie.
“Tuan, kepala akademi memberiku perintah untuk mengajak kalian hadir dalam jamuan istana," ucap pria yang tidak Yu Jie kenali yang ternyata adalah orang kiriman kepala akademi.
“Jamuan istana langsung malam ini juga?" tanya Yu Jie.
__ADS_1
“Tentu saja, kalau kau keberatan maka tidak perlu ikut. Lagipula pangeran pertama bukan orang yang cocok ditemui oleh orang biasa sepertimu," sahut Jang Kao dengan ketus.
Yu Jie mengangkat alisnya, menatap penuh ketertarikan pada Jang Kao yang mulai berani kurang ajar.
“Saudara Jie, jangan hiraukan ucapannya. Tuan Muda Kao mungkin masih kecewa pada kekalahan yang diterimanya."
“Benar Saudara Jie, lagipula kita semua akan menjadi teman di sini. Kenapa tidak mencoba akrab saja?"
Mereka yang menempati peringkat kelima dan keempat menengahi, sadar ucapan Jang Kao berpotensi memicu amarah Yu Jie.
“Oh, kalian benar. Aku tiba-tiba ingat akan sebuah cerita sebab hal ini," ucap Yu Jie.
“Cerita? cepat sampaikan, aku ingin mendengarnya." Rong Yue penuh semangat.
“Pada jaman dahulu ada tikus bodoh yang menganggap dirinya singa, sampai singa asli datang dan bisa menyantap tikus itu kapan saja ... tikus bodoh itu tetap tidak juga sadar kalau dirinya hanya mangsa," ucap Yu Jie asal.
“Woahhh, ternyata kekasihku adalah singa? Tunggu ... jika iya berarti Jang Kao?" Rong Yue seolah menghembuskan angin pada api.
“Tikus bodohnya," timpal Yu Jie cukup keras, memastikan agar Jang Kao juga mendengarnya.
“Kalian ...."
Jang Kao ingin marah tetapi tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, belum lagi setelahnya menyadari jika setiap orang di sana tengah berusaha menahan tawa agar tidak keluar dari mulut mereka, membuat Jang Kao saat itu juga menyadari posisinya.
“Sekarang kau sadar, kan? Tikus bodoh," bisik Yu Jie sembari melangkah pergi.
Yu Jie dan yang lain segera diajak oleh orang kiriman kepala akademi untuk datang ke istana, di sana ternyata sudah disediakan berbagai macam hidangan tanda jamuannya sudah siap dilaksanakan.
Ruangan demikian luas dengan meja panjang saling berhadapan merupakan tempat setiap tamu yang datang dipersilahkan duduk, sementara ada satu meja kecil terpisah yang diduduki oleh seorang pria dua puluhan tahun memimpin jamuannya.
Tidak perlu terlalu pintar untuk Yu Jie dapat mengetahui siapa pria itu, meski demikian Yu Jie coba tidak hiraukan terlebih dahulu pangeran pertama meski pria itu adalah alasan utama dirinya ke sana.
Yu Jie lebih tertarik mencari tau apakah Xiang He benar menghadiri jamuan itu, tidak lama Yu Jie menyapu pandang sudah terlihat wajah lesu wanita cantik di seberang meja dirinya berada.
“Xiang He," gumam Yu Jie, entah mengapa merasa lega melihat Xiang He baik-baik saja.
Tepat setelahnya Xiang He secara kebetulan juga menatap Yu Jie, pandangan mereka bertemu membuat Xiang He tampak terpaku.
“Bagaimana Tuan Muda Jie bisa ada di sini?" gumam Xiang He penuh keterkejutan sekaligus rasa senang.
Yu Jie hanya tersenyum tipis seolah tidak ada yang terjadi, berharap Xiang He mengerti dan berpura-pura tidak mengenalnya selama ada di sana.
“Tidak, jangan bilang ...."
Yu Jie mengangkat alisnya ketika Rong Yue tiba-tiba berbicara, mempertanyakan ingin bertingkah menyebalkan seperti apa gadis itu kali ini.
“Kekasihku berselingkuh dengan Tuan Putri? Huhuhu, aku ternyata dikhianati selama ini," ucap Rong Yue dengan air mata palsu yang bahkan tidak keluar sama sekali.
__ADS_1
“Hei, kita bahkan baru bertemu siang tadi," timpal Yu Jie.