
Yu Jie mengarahkan Mu Yang untuk membawa pria sepuh yang merupakan kepala keluarga Jang ke penjara bawah tanah istana, mempertemukannya dengan Jang Kao yang ternyata merupakan putranya.
Jang Kao sudah ada di salah satu sel tahanan dengan tangan terikat ketika Mu Yang menghampirinya, seraya menyeret ayahnya yang masih belum sadar dari pingsannya.
“Kalian ... apa yang telah kalian perbuat pada Ayah-ku?!" pekik Jang Kao.
Jang Kao mencoba melepas rantai yang menjerat lengannya, tetapi tidak bisa bahkan walau sudah menggunakan seluruh tenaganya.
“Apalagi memangnya yang pantas diterima oleh pemberontak kerajaan sepertinya?" tanya Yu Jie, seraya berjalan santai menghampiri sel Jang Kao.
Sorot mata Jang Kao segera berubah tajam menatap Yu Jie, setelahnya berkata, “Kau ... siapa sebenarnya?"
Yu Jie mengikuti ujian masuk akademi bersamanya, awalnya dirinya kira Yu Jie hanya orang udik menyebalkan yang baru menginjak ibu kota, siapa sangka pemuda yang sama ternyata sosok yang begitu Xiang He juga Mu Yang hormati.
“Siapa aku? Kau tidak perlu tau," ucap Yu Jie.
Yu Jie segera memberi isyarat pada Mu Yang untuk melempar kepala keluarga Jang ke sel yang sama dengan Jang Kao, kasar bagaimana Mu Yang melakukan hal tersebut membuat amarah muncul dalam diri Jang Kao.
“Jangan sembarangan memperlakukan Ayahku!" seru Jang Kao.
“Jaga cara bicaramu sebelum aku habisi kau sekaligus Ayahmu!" timpal Mu Yang, nampak tidak lagi bisa diam dibentak demikian keras oleh generasi muda yang bahkan bukan kultivator macam Jang Kao.
Jang Kao jelas langsung bungkam, bagaimanapun sosok Mu Yang di kerajaan sudah dikenal begitu luas sebagai jenderal yang tegas juga lugas.
Yu Jie segera tertawa melihat ini, setelahnya ia tarik Mu Yang mundur untuk melakukan bagiannya.
Jang Kao hanya menatap penuh amarah ketika Yu Jie terus mendekat padanya, walau tidak lama sebab hantaman kepalan tangan langsung menyapa wajahnya.
Buaghhh!!!
Jang Kao segera terpelanting sebab pukulan Yu Jie, menyadarkan Jang Kao jika Yu Jie bukan sosok yang bisa dirinya tentang apalagi lawan.
“Sadari posisimu, sudah seperti ini masih congkak juga?" Yu Jie penuh ancaman.
Jang Kao hanya diam tanpa kata, sibuk meringis sebab rasa sakit pukulan Yu Jie masih lekat terasa.
“Ini bukan lagi masalah sepele macam ujian kecerdasan atau sejenisnya, jadi pastikan kau mengambil keputusan tepat jika tidak ingin kehilangan nyawa," lanjut Yu Jie.
Jang Kao dalam diam mulai menganggap serius ucapan Yu Jie, entah mengapa dirinya merasa ancaman tersebut tidak main-main.
__ADS_1
“Gadis bernama Rong Yue, apa kau hanya berpura-pura tidak mengenalnya sebagai orang fraksi Langit Merah?" tanya Yu Jie.
“Ak— aku tidak tau," ucap Jang Kao.
“Jangan bohong."
Yu Jie sudah mengangkat kepalan tangannya ketika Jang Kao buru-buru berlutut di hadapannya, berharap Yu Jie percaya jika jawaban dari mulutnya adalah kebenarannya.
“Aku juga terkejut mengetahui fakta jika Rong Yue adalah orang suruhan keluargaku, siapa yang akan mengira kelompok semacam itu bersedia repot mengikuti ujiannya untuk melakukan tugas mereka," jelas Jang Kao.
Yu Jie mengangguk pelan setelah memperhatikan ekspresi Jang Kao ketika mengatakan itu semua, tidak ada kebohongan di sana sehingga dirinya bisa percaya.
“Baik, sekarang katakan padaku di mana aku bisa menemui fraksi Langit Merah," ucap Yu Jie.
Jang Kao menjawabnya dengan tidak yakin, dirinya hanya menyampaikan apa yang ayahnya pernah katakan kalau fraksi Langit Merah memiliki markas di perbatasan antara kerajaan Zirah Besi dengan kekaisaran.
“Terakhir, apa keluarga Jang juga memiliki hubungan dengan sekte Pedang Darah yang mendukung pangeran pertama?" tanya Yu Jie sekali lagi.
Jang Kao segera menggeleng cepat sebelum berkata, “Sekte Pedang Darah sama sekali tidak ada hubungannya dengan keluargaku, pangeran pertama selalu berhubungan dengan mereka secara langsung tanpa perantara sedikitpun."
Yu Jie merasa puas setiap pertanyaannya telah terjawab akhirnya berkata, “Kau tau konsekuensinya jika berani membohongiku, kan?"
“Ak— aku tau, semua yang aku ucapkan dapat dipastikan merupakan kebenaran."
“Mu Yang, kau ingat ucapanku sebelumnya, kan?" tanya Yu Jie.
Mu Yang hanya diam, tidak mengangguk ataupun menggeleng sebab tidak ingin Yu Jie marah mengetahui dirinya lupa.
“Jangan biarkan seorang keluarga Jang pun tersisa," lanjut Yu Jie, seraya terus melangkah pergi dari sana.
“Sesuai perintah, Tuan Muda Jie." Mu Yang dengan pedang di tangannya.
“Tidakkk!!!"
Hanya teriakan itu yang terdengar sebelum Yu Jie keluar dari penjara bawah tanah, senyum seringai mulai muncul di wajahnya sebab Mu Yang benar melakukan tugasnya.
“Tuan Muda Jie!"
Yu Jie langsung menoleh ketika suara familiar memanggilnya, Xiang He ternyata tengah berlari tergesa-gesa menghampirinya.
__ADS_1
“Ada apa?"
“Ad— ada serangan di wilayah istana," ucap Xiang He penuh kekhawatiran.
“Serangan? Lalu apa masalahnya?" Yu Jie mengangkat alisnya.
Yu Jie ingat jika ada sekitar belasan ribu prajurit siap bertarung kapan saja, yang mana jika mendengar istana mendapat serangan, pastilah kebanyakan dari mereka akan cepat bergerak untuk menanganinya.
“Masalahnya adalah serangan ini dilakukan oleh sekte Pedang Darah, para jenderal juga sudah turun tangan tetapi tidak ada dari mereka berhasil memukul mundur penyerangnya," lanjut Xiang He.
“Ada berapa orang penyerang memangnya?" tanya Yu Jie.
“Lima orang yang masing-masingnya adalah tetua sekte Pedang Darah, mereka datang sebab marah mengetahui pangeran pertama telah kehilangan nyawanya."
Yu Jie mengangguk pelan sebelum berkata, “Tenang saja, akan aku tangani mereka."
Yu Jie berjalan dengan penuh wibawa keluar dari istana, menuju lokasi serangan yang sudah Xiang He sampaikan.
“Tetua sekte pedang darah, seingatku kekuatan masing-masing mereka tidaklah lemah," gumam Yu Jie.
Yu Jie ingat jika dirinya pernah berurusan dengan tiga tetua sekte Pedang Darah bahkan menghabisinya, jika kekuatan setiap tetua sama, maka lima orang yang sekarang menyerang merupakan kultivator Jiwa Bumi tahap Awal.
“Benar-benar terlalu kuat bahkan untuk dihadapi belasan ribu prajurit juga para jenderal."
Masing-masing prajurit kerajaan Zirah Besi hanyalah kultivator Pelatihan Tubuh, untuk jenderal termasuk Mu Yang hanya ada di tingkat Pengumpulan Qi yang jelas tidak akan memiliki kemampuan untuk menghadapi bahkan seorang saja kultivator Pendekar Jiwa.
“Jika tidak ada aku di sini, entah akan jadi apa kerajaan ini." Yu Jie asik dengan pikirannya sendiri.
Tidak lama Yu Jie melangkah, sudah terdengar keributan dari halaman istana. Belasan ribu prajurit ternyata sudah kembali berkumpul di sana, dengan senjata masing-masing di tangan mereka.
“Jangan takut, kita serang sekali lagi kelima orang ini!" seru seorang jenderal memberi arahan.
Belasan Ribu prajurit baru ingin melangkah ketika tubuh mereka terasa demikian berat, penyebabnya adalah aura dari lima orang dengan jubah merah yang tidak lain merupakan para tetua sekte Pedang Darah.
“Lancang! Kumpulan sampah lemah seperti kalian berani sekali melawan!" seru salah seorang dari kelimanya.
Yu Jie memperhatikan itu semua dari kejauhan, setelahnya menggunakan teknik Sayap Naga Surgawi untuk terbang mendekat guna menyudahi itu semua.
“Lancang! Sampah Pedang Darah seperti kalian berani sekali mengacau!" seru Yu Jie.
__ADS_1
Para prajurit langsung menoleh sebelum memasang ekspresi lega, mereka bahkan bersorak-sorai menganggap sudah pasti akan menang jika Yu Jie turun tangan.
Berbeda dengan para prajurit, lima tetua Pedang Darah menatap Yu Jie penuh tanda tanya. Mereka tidak pernah tau ada sosok seperti Yu Jie di istana, yang mana semua ini di luar rencana mereka.