
Perjalanan kembali dilakukan oleh Yu Jie menuju ibu kota kerajaan setelah kejadian di desa tempat mereka sempat singgah, jasad-jasad korban pedang Yu Jie dimusnahkan seutuhnya agar tidak tertinggal jejak yang mungkin bisa ditemukan pihak pangeran pertama.
Tidak hanya itu saja, warga desa juga diarahkan untuk menutup mulut mereka dan bertingkah seolah tidak ada yang terjadi di sana.
Identitas Xiang He sebagai tuan putri sudah cukup memperlancar ini, di tambah banyak warga desa melihat sendiri kehebatan Yu Jie membuat kebanyakan mereka tidak berani membantah.
Perjalanan sendiri dilakukan dengan berjalan kaki sebab Xiang He yang memang tidak bisa memaksakan diri ikut terbang bersama Yu Jie, belum lagi mereka tidak bisa melewati jalur utama kerajaan membuat waktu tempuh hingga ibu kota memakan waktu lebih lama dari yang seharusnya.
Yu Jie menghindari singgah di tempat sejenis pemukiman selama perjalanan sebab tau pangeran pertama telah menyebar selebaran di sana, mencegah ikut campur kultivator tanpa sekte kembali muncul seperti sebelumnya.
Setelah sekitar seminggu penuh perjalanan dilakukan, akhirnya Yu Jie sampai di ibu kota kerajaan. Hambatan merepotkan berhasil Yu Jie cegah kemunculannya membuat perjalanan terasa lebih tenang dari yang seharusnya.
“Paman Yang, kakiku sakit," ucap Xiang He.
“Tahan sedikit lebih lama, Tuan Putri. Ibu kota sudah dekat dari sini, akan berbahaya untuk kita jika ada orang pangeran pertama menemukan kita ketika hanya tinggal sampainya saja," jelas Mu Yang mencoba menguatkan.
Yu Jie menaikan alisnya mendengar pembicaraan mereka, hampir selana perjalanan tidak pernah sekalipun dirinya dengar Xiang He mengeluh dan ini merupakan pertama kalinya.
Berbeda dengan Mu Yang juga dirinya yang seorang kultivator, Xiang He hanya manusia biasa sehingga berhasil menahan perjalanan panjang selama ini saja sudah luar biasa.
“Apa kalian ingin istirahat sejenak? Jika iya maka lakukan saja, jika orang-orang pangeran pertama muncul biar aku yang mengurusnya," ucap Yu Jie, mengerti Xiang He mungkin sudah ada di puncak rasa lelahnya.
“Oh ... tidak perlu, Tuan Muda Jie. Jika ibu kota sudah dekat, maka kita lanjutkan saja hingga sampai secepatnya," ucap Xiang He dengan gelengan cepat.
“Tidak perlu memaksakan diri, aku tau seberapa menderita kau selama perjalanan ini."
“Tidak, aku benar tidak apa. Betapa tidak tau malu aku sudah meminta bantuan tetapi masih sering merepotkan." Xiang He meyakinkan.
Yu Jie mengangguk pelan, mulai jelas apa alasan Xiang He memaksakan dirinya hingga sekarang yang ternyata sebab tidak ingin merepotkan nya.
“Naik," ucap Yu Jie.
Xiang He terpaku ketika Yu Jie tiba-tiba membungkuk di depannya, seperti ingin menggendongnya tetapi ingin coba Xiang He tanyakan terlebih dahulu takut dirinya salah paham.
“Menunggu apa lagi? Naik saja, hal mudah untukku menggendong mu hingga ibu kota." Yu Jie bahkan sebelum Xiang He berbicara.
__ADS_1
Xiang He mendengar ini segera tergagap, ada hal ingin disampaikannya tetapi bertahan di tenggorokannya.
“Naik saja ke punggungnya, Tuan Putri. Kapan lagi Anda dapat menerima kebaikan tulus Tuan Muda Jie seperti ini," bisik Mu Yang meyakinkan sekaligus khawatir akan kondisi Xiang He.
Xiang He pada akhirnya melakukan apa yang Yu Jie pinta, dirinya senang tidak harus lagi berjalan dengan kaki sakit tetapi di saat yang sama merasakan penderitaan lain yang mungkin lebih parah.
“Tidak, kenapa jantungku berdegup secara tidak normal seperti ini?" gumam Xiang He.
Yu Jie segera melangkah melanjutkan perjalanan dengan Xiang He di punggungnya, tidak terlalu memikirkan juga gumaman Xiang He yang terdengar sebab dirinya tidak ada maksud membuat Xiang He jatuh cinta atau sejenisnya.
“Apakah ketampananku adalah sebuah kesalahan?" gumam Yu Jie dengan harap ada pesan terpicu nya kesombongan murni.
“Sial, sistem sepertinya menolak mengakui ketampananku ini," lanjut Yu Jie sebab pesan yang diharapkannya tidak kunjung datang.
Tidak terlalu lama Yu Jie kembali berjalan, benar saja rimbun pepohonan di sisi jalan mulai berkurang, yang mana setelahnya mulai terlihat tembok kota menjulang tinggi mengitari sebuah wilayah yang jelas adalah kota.
“Akhirnya kita sampai di ibu kota kerajaan," ucap Mu Yang sembari memimpin jalan.
Xiang He melihat gerbang kota sudah dekat segera meminta turun dari gendongan Yu Jie, langsung Yu Jie persilahkan sebab Xiang He seharusnya sudah cukup beristirahat.
Ketiganya langsung menghampiri gerbang kota yang mana tengah ramai orang datang ke sana, mereka mengantri sebab ada pemeriksaan dilakukan sebelum benar-benar diperbolehkan memasuki kota.
“Kita akan melalui gerbang masuk khusus, Tuan Muda Jie." Mu Yang sembari mengarahkan Yu Jie mengikutinya.
Mereka agak melipir dari antrian memasuki kota yang seharusnya, menuju gerbang kota lebih kecil namun terkesan mewah yang seperti dikhususkan untuk keluarga raja juga bangsawan yang datang ke sana.
“Tuan Putri tiba, cepat buka gerbangnya!!!" seru Mu Yang.
Beberapa penjaga dari atas tembok segera memeriksa siapa yang berbicara, wajah mereka nampak terkejut setelahnya seolah tidak percaya.
“Apa yang kalian tunggu? Cepat turun dan buka gerbangnya!!!" seru Mu Yang pada setiap prajurit itu.
“Ba— baik, Jenderal Yang!!!"
Cukup banyak prajurit mulai turun dari atas tembok untuk membukakan gerbang, agak tidak biasa sebab dua orang saja seharusnya cukup untuk melakukannya.
__ADS_1
“Tuan Putri, silahkan." Mu Yang tidak terlalu memusingkan.
Xiang He segera melangkah memasuki gerbang diikuti Mu Yang juga Yu Jie dibelakangnya, yang mana baru gerbang kota ditutup tiba-tiba ada rombongan prajurit lain datang dengan kuda gagah mereka dari arah pemukiman kota.
Setiap kuda itu seolah dipacu dengan terburu-buru, satu yang memacu kudanya paling depan nampak mengenakan zirah serupa Mu Yang yang langsung dapat Yu Jie tebak siapa sekiranya pria itu.
“Tuan Putri, selamat datang!!!" Seru rombongan tersebut memberi hormat mereka.
Satu yang memimpin rombongan segera turun dari kuda, wajahnya tampak tegas dengan janggut putih cukup panjang memperlihatkan aura kepemimpinan.
“Jenderal Yang, senang melihatmu selamat selama perjalanan."
Mu Yang segera menaikan alisnya, yang baru berbicara adalah Yuan Fao seorang jenderal serupa dengannya.
“Jenderal Fao, mungkin agak kasar menanyakan hal itu tepat setelah sampainya Tuan Putri," ucap Mu Yang agak tidak senang.
“Huahaha, nampaknya dirimu tengah sedikit sensitif, Jenderal Yang." Yuan Fao dengan tawa renyah.
Yuan Fao segera menyampaikan maksud kedatangannya untuk menjemput Xiang He ke istana, dirinya menerima pesan dari bawahannya akan kedatangan Xiang He sehingga cepat-cepat datang ke sana.
“Kalau begitu pastikan Tuan Putri sampai ke istana dengan selamat, aku percayakan dirinya padamu, Jenderal Fao." Mu Yang mempersilahkan.
Xiang He sendiri segera pamit pada Yu Jie sebelum ikut pergi bersama Yuan Fao, tampak amat lelah sehingga Yu Jie dapat pahami kalau-kalau Xiang He ingin cepat ke istana untuk beristirahat.
Yu Jie sendiri dibanding memusingkan Xiang He, lebih penasaran akan sosok Yuan Fao yang menurutnya penuh keanehan. Sehingga segera dirinya hampiri Mu Yang untuk memenuhi rasa penasarannya.
“Hei, aku ingin bertanya."
“Menanyakan apa, Tuan Muda Jie? Apa terkait tempat tinggal mu selama di sini?" Mu Yang memastikan.
“Bukan, tetapi apakah kau yakin pria tua tadi dapat dipercaya?"
“Tentu saja, dirinya adalah jenderal terkuat kerajaan. Meski agak menyebalkan, tetapi kesetiaannya tidak perlu dipertanyakan," jelas Mu Yang.
Yu Jie langsung menyampaikan keanehan yang disadarinya pada Mu Yang, dari mulai prajurit penjaga gerbang yang nampak tidak percaya ketika Xiang He datang, hingga kecepatan datangnya Yuan Fao yang agak tidak masuk akal seolah memang telah bersiap menunggu entah dari kapan di dekat sana.
__ADS_1
Mu Yang mendengar ini langsung terdiam, dari sekian banyak dugaan Yu Jie, hampir tidak ada yang meleset sehingga dirinya bingung harus percaya Yu Jie atau jenderal terkuat kerajaannya.
“Jika kau sulit percaya, bagaimana jika kita buktikan saja?" Yu Jie dengan senyum seringai, menatap penuh arti beberapa prajurit penjaga yang memang masih ada di sana.