Sistem Kesombongan Surgawi

Sistem Kesombongan Surgawi
Gadis Aneh Dan Kemenangan


__ADS_3

Setelah ketegangan antara Yu Jie dengan Jang Kao usai, seorang pengajar memasuki ruangan, pengajar itu ditugaskan menjadi pengawas dalam ujian pertama seleksi masuk akademi.


Setiap peserta diarahkan ke meja yang telah disediakan sebelum memulai ujiannya, ini merupakan ujian kaligrafi yang berkaitan erat dengan seni.


Yu Jie baru sampai di meja miliknya ketika sudah ada seseorang di sana, gadis muda seumuran dengan wajah cantiknya, terkesan tegas juga berani yang malah menambah daya tariknya.


Yu Jie sadari setelahnya jika ada banyak peserta ujian mencoba mencuri pandang pada gadis itu, daya tarik gadis itu jelas luar biasa dan bukan hanya perasaan Yu Jie saja.


“Halo, perkenalkan ...."


Gadis itu mencoba mengajak bicara Yu Jie tetapi tidak Yu Jie hiraukan, lebih memilih bersiap menyambut ujian ketimbang meladeni basa-basi gadis tersebut.


“Sombong," ucap gadis itu ketika Yu Jie tidak mendengarkannya sama sekali.


Yu Jie segera tersenyum puas karena setelahnya gadis itu tidak lagi mencoba menganggu dirinya, tersinggung sepertinya tetapi tidak Yu Jie pedulikan juga.


Selembar kanvas dan kuas tidak lama diberikan pada setiap peserta, kemudian dipersilahkan membuat kaligrafi yang setelah selesai akan dinilai oleh pengawas yang bertugas.


“Aku akan mempermalukan mu," ucap tanpa suara Jang Kao dari mejanya.


Yu Jie hanya tersenyum sinis, dirinya bisa membaca gerak bibir Jang Kao sehingga mengerti Jang Kao tengah mencoba memprovokasinya.


“Coba saja jika bisa," gumam Yu Jie.


“Sepertinya kau benar-benar tidak bisa akur dengannya," ucap gadis yang duduk semeja dengan Yu Jie.


“Bukan urusanmu," timpal Yu Jie.


“Menyebalkan." Gadis itu dengan nada tidak senang.


Yu Jie mulai mengambil kuas sebelum memberi coretan awal pada kanvasnya. Di kehidupan pertama, dirinya telah hidup beratus tahun lamanya sehingga telah menekuni berbagai macam hal untuk menghabiskan waktu senggangnya, kaligrafi adalah salah satunya.


Coretan demi coretan perlahan mulai membentuk sebuah kata, terlihat abstrak namun indah membuat Yu Jie menyunggingkan senyumnya.


“Kemampuanku tidak hilang bahkan setelah sekian lama," gumam Yu Jie.


“Kau sudah selesai?" tanya gadis di samping Yu Jie tiba-tiba.


Yu Jie menatap gadis itu risih sebelum berkata, “Bisakah tidak perlu mengajakku bicara seolah kita saling kenal?"


Gadis itu tidak menghiraukan ucapan Yu Jie, lebih sibuk menatap kaligrafi buatan Yu Jie dengan mata berbinar penuh kekaguman.


“Wah, kau hebat. Pantas saja kau berani mengajak pemuda paling pintar generasi ini berkompetisi."

__ADS_1


Yu Jie hanya menghela napas panjang mencoba menahan kesal, setelahnya berkata, “Sesukamu saja."


“Hehe, seperti itu memang seharusnya. Lagipula kau seharusnya merasa beruntung wanita secantik aku bersedia mendekatimu terlebih dahulu." Gadis itu dengan penuh percaya diri.


Yu Jie mengangkat alisnya, kepercayaan diri gadis di hadapannya jelas terlalu luar biasa yang pada akhirnya malah menjurus ke arah menyebalkan.


“Kalian berdua di sana, maju kemari jika sudah selesai dengan ujiannya." Pengawas dengan nada tidak senang.


Setiap mata peserta ujian langsung terpaku pada Yu Jie, tidak terkecuali Jang Kao yang langsung tersenyum remeh berpikir Yu Jie mengacau.


“Aku akan menang." Jang Kao pada Yu Jie tanpa bersuara.


Yu Jie hanya tersenyum sinis, tanpa ragu dirinya maju sesuai perintah untuk menyerahkan kaligrafi buatannya.


“Hei, tunggu." Gadis itu sembari melangkah menyusul Yu Jie.


Yu Jie segera menyerahkan kaligrafi buatannya pada pengawas ketika gadis menyebalkan terus mengekornya, pengawas hanya menatap Yu Jie malas tidak mengharapkan apapun dari peserta yang serius ikut ujiannya saja mungkin tidak.


“Cepat tunjukan dan jelaskan kaligrafi buatan mu, biar setiap peserta di sini tau betapa kacau kaligrafi buatan seseorang yang bahkan membuat kebisingan selama ujian." Pengawas dengan ketus.


“Hahaha, benar. Perlihatkan pada kami coretan kacau buatan mu."


“Tidak tau malu sekali orang sepertinya berani menantang Tuan Muda Kao yang jelas akan menang."


Benar saja tidak berapa lama setelahnya semua orang terdiam, bukan hanya peserta tetapi pengawas yang sempat menganggap remeh Yu Jie juga.


Coretan di kanvas Yu Jie sama sekali tidak terlihat asal sebab masing-masingnya berkesinambungan, membanting kencang anggapan kalau kaligrafi buatannya akan terlihat asal.


Bukan hanya itu, keindahan dari kaligrafi buatan Yu Jie juga bisa terlihat jelas di tangkap mata, membuat pengawas juga para peserta termasuk Jang Kao diam seribu bahasa.


“Keindahan ini ...."


Pengawas bahkan tidak bisa memberi komentar dan lanjutan ucapannya tercekat di tenggorokan, sudah banyak karya sejenis dirinya lihat dan buatan Yu Jie adalah yang paling membekas untuknya.


“Tidak mungkin ...."


Jang Kao beberapa kali melihat kanvas di tangan Yu Jie sebelum membandingkan dengan kaligrafi buatannya, tidak bisa dianggap setara bahkan walau setengahnya saja.


Yu Jie tersenyum lebar melihat reaksi setiap orang di sana, sesaat kemudian berkata,"Keberanian adalah yang tertulis di sini, artinya kita harus harus tau kapan waktunya membuktikan diri dan yang pasti kita harus berani saat itu tiba."


Sempat hening setelah ucapan Yu Jie sebelum tepuk tangan meriah menggema memenuhi ruangan, pengawas mempersilahkan Yu Jie kembali ke mejanya dengan sorot mata penuh kekaguman.


“Sialan, siapa itu Jang Kao? Pemuda ini jelas akan menjadi pemenangnya."

__ADS_1


“Kau benar, seribu Jang Kao pun tidak akan bisa menandingi kehebatannya."


Ucapan penuh pujian menghujani Yu Jie dan cercaan berbalik menimpa Jang Kao, hal ini membuat Jang Kao risau takut reputasinya rusak sebab semua ini.


“Sudah aku duga kau tidak biasa, caramu tidak ragu menyinggungnya juga tindakanmu menghancurkannya, kau siapa sebenarnya?"


Yu Jie melirik ke sampingnya, gadis menyebalkan itu ternyata masih menempel padanya bak lintah.


“Bisa kau tutup mulutmu? Lagipula ini hanya ujian pertama." Yu Jie menyerah menyuruh gadis itu menjauh darinya.


“Baik, aku akan tutup mulut kalau begitu." Gadis itu menutup mulut secara harfiah dengan telapak tangannya, membuat Yu Jie menepuk dahi mempertanyakan isi kepalanya.


“Lakukan apapun yang kau mau," ucap Yu Jie.


Gadis itu mengacungkan jempolnya, tidak menjawab sebab mulutnya yang tertutup.


Ujian dilanjutkan dengan kemenangan pasti Yu Jie dapatkan, satu persatu peserta yang selesai mulai maju memperlihatkan hasil karyanya hingga giliran Jang Kao datang pada akhirnya.


Banyak sorot mata menatap Jang Kao penasaran, awalnya mereka mengira Jang Kao yang akan menang tetapi tidak dengan sekarang.


Ketimbang penasaran apakah kaligrafi buatan Jang Kao akan mengejutkan, mereka lebih penasaran apakah Jang Kao mampu membuat setengahnya saja dari keindahan kaligrafi buatan Yu Jie.


“Peserta Kao, silahkan perlihatkan kaligrafi yang telah kau buat," ucap pengawas.


Jang Kao dengan tangan gemetar akhirnya melakukan yang di pinta, tanpa diduga kaligrafi buatannya tampak tidak seberapa dan cenderung di bawah kualitas seharusnya.


“Sampah," celetuk pengawas tanpa sadar menggambarkan kaligrafi buatan Jang Kao.


Jang Kao merasa ada batu menimpa kepalanya mendengar itu, dirinya memang tidak bisa fokus setelah melihat kaligrafi buatan Yu Jie dan pada akhirnya mengacau dalam tahap penyelesaian kaligrafi yang tengah dikerjakannya.


“Jangan berkecil hati, masih ada ujian berikutnya dan pastikan jangan mengacau seperti ini lagi," pengawas mempersilahkan Jang Kao kembali ke mejanya.


Jang Kao kembali ke meja dengan kepala menunduk, setiap tatapan yang terarah padanya terasa sekali tengah meremehkan membuatnya hancur sekaligus tidak terima.


“Sialan, rakyat jelata itu pasti hanya beruntung!!!" Jang Kao mencoba menahan geram.


Yu Jie di mejanya hanya tersenyum lebar penuh kemenangan, melihat Jang Kao yang biasanya disanjung kini menerima perlakuan tidak seharusnya, membuat suasana hati Yu Jie berubah senang secara tiba-tiba.


“Kau senang melihat orang menderita? Seramnya ..." ucap gadis di samping Yu Jie tiba-tiba.


Yu Jie hanya mengangkat alisnya, mempertanyakan maksud ucapan gadis itu.


“Tapi aku suka, kyaaa ...."

__ADS_1


Yu Jie mengerutkan dahinya, setelahnya berkata, “Pasti ada yang salah dengan kepala gadis ini."


__ADS_2