
Yu Jie menatap tajam setiap pengguna topeng di bawahnya, tatapan Yu Jie memberi kesan merendahkan yang luar biasa membuat para pengguna topeng geram melihatnya.
“Sialan, sombong sekali tingkahnya!!!"
Yu Jie menyunggingkan senyum seringai di wajahnya, berharap ada lebih banyak orang berpikiran serupa agar exp terus mengalir memperkuat dirinya.
“Katakan siapa Rong Yue dan apa alasannya datang kemari hingga mengacau seperti ini!!!" seru Yu Jie.
Para pengguna topeng hanya diam, mereka menolak bicara sebab ini menyangkut identitas kelompok mereka.
“Kalian diam? Aku bicara baik-baik dan kalian malah menghiraukan?!!" Yu Jie yang kali ini sudah beberapa kali memukulkan gagang kayu ke telapak tangan.
Para pengguna topeng menatap aneh, jika yang dimaksud baik adalah menekan mereka dengan aura sekuat ini, lalu bagaimana dengan buruknya.
Sampai gagang kayu di tangan Yu Jie diayunkan, barulah para pengguna topeng merasakan sendiri apa yang baru mereka coba bayangkan.
Aliran Qi setajam bilah pedang melesat ke arah setiap pengguna topeng dari kayu di tangan Yu Jie, para pengguna topeng sontak mengangkat belati mereka yang telah dialiri oleh Qi.
Bammm!!!
Ledakan beradunya Qi milik Yu Jie dengan para pengguna topeng pecah, sekian banyak orang dengan Qi milik mereka tetap tidak sebanding dengan aliran Qi milik Yu Jie, membuat para pengguna topeng terpental hampir secara bersamaan.
“Ini berbahaya, kita pergi dari sini secepatnya!!!"
Setelah ucapan itu dilontarkan, para pengguna topeng menggunakan seluruh kecepatan mereka untuk lari dari sana, pemimpin mereka sudah tidak ada sehingga tidak memiliki harap dapat menang jika memaksa melawan.
Yu Jie tentu tidak tinggal diam, dirinya langsung melesat ke arah para pengguna topeng yang belum terlalu jauh pergi.
Brakkk!!!
Brukkk!!!
Bruakkk!!!
Yu Jie secara membabi buta memukulkan gagang kayu di tangannya pada setiap pengguna topeng di dekatnya, mereka yang terkena serangan kebanyakan langsung jatuh hilang kesadaran.
“Sialan kau!!!"
Beberapa pengguna topeng mengurungkan diri untuk lari, memilih mencoba melawan agar Yu Jie tidak seenaknya menyerang mereka seperti ini.
Dari yang semula hanya beberapa, tidak lama hampir seluruh pengguna topeng yang masih sadar sudah putar arah, mereka tidak lagi memiliki keinginan lari sebab merasa terinjak ada generasi muda berani mempermalukan kelompok mereka seburuk ini.
“Mati kau!!!"
Sekitar puluhan orang mencoba menyerang Yu Jie dengan belati dari berbagai arah, Yu Jie yang ada di udara membuat mereka melemparkan belati sebagai bentuk perlawanannya.
Yu Jie menghindari lemparan belati yang masih dapat dihindari sembari beberapa kali menghalau belati yang lain, apa yang dilakukan Yu Jie terkesan tidak masuk akal mengingat ada puluhan belati yang sedari tadi melayang ke arahnya.
“Menyebalkan, berhenti bermain-main dengan benda lempar ini!!!" seru Yu Jie.
__ADS_1
Setelah seruannya, aura disekitar tubuh Yu Jie bertambah beberapa kali lipat menggetarkan seisi ruangan.
Aura serupa berhasil menekan gerak tubuh para pengguna topeng, tidak lagi bebas seperti sebelumnya sehingga mustahil untuk mereka dapat kembali melempar belati di tangan mereka.
“Sudah selesai?" Yu Jie dengan senyum lebar.
Para pengguna topeng terus berusaha menggerakkan tubuh secara paksa tetapi tidak bisa, untuk bergerak satu inci saja mereka kini kesulitan apalagi untuk lari dari sana.
“Sialan, siapa tadi yang memiliki ide untuk mencoba melawannya?!!"
Para pengguna topeng mulai saling menyalahkan, meski pada dasarnya mereka sadar kalau apa yang baru mereka lakukan adalah kebodohan mereka sendiri.
Yu Jie mulai mendarat dari terbangnya setelah memastikan tidak ada dari setiap pengguna topeng dapat lari, tidak lama dirinya hampiri Mu Yang yang hanya diam memperhatikan.
“Berikan aku pedang," ucap Yu Jie.
“Silahkan, Tuan Muda Jie," Mu Yang menyerahkan pedang miliknya.
Yu Jie berhasil mendapat pedang dari Mu Yang langsung menghampiri satu demi satu para pengguna topeng, apa yang akan dilakukannya benar-benar kejam bahkan mungkin akan menimbulkan trauma untuk siapapun yang melihatnya.
Slashhh!!!
“Satu."
Slashhh!!!
“Dua."
Slashhh!!!
Hal itu Yu Jie lakukan tanpa jeda, hingga pengguna topeng yang awalnya berjumlah puluhan orang kini hanya tersisa beberapa saja.
Yu Jie sudah kembali mengangkat pedangnya ketika salah satu pengguna topeng yang dihampirinya memohon ampun, terlihat jika mereka yang tersisa memang seperti hanya tinggal menunggu giliran mereka saja.
“Tu— tuan, mohon ampuni kebodohanku."
Yu Jie mengangkat alisnya, tidak lama berkata, “Berhenti bicara, katakan padaku kau yang ke berapa. Karena kau berisik hitunganku jadi kacau."
“Ak— aku yang ke tiga puluh lima, tetapi dibanding itu ...."
Slashhh!!!
“Tiga puluh lima." Yu Jie kembali berhitung setelah mendapat jawabannya, sembari menambah jumlah korbannya tentu saja.
Apa yang baru terjadi membuat para pengguna topeng tersisa memutuskan memejamkan mata mereka, tidak berharap diampuni sebab itu percuma sehingga mencoba pasrah menerima kematian mereka.
“Akhirnya selesai, oh ada satu yang tersisa ternyata," ucap Yu Jie ketika sekujur tubuhnya telah dilumuri darah.
Yu Jie menghampiri satu pengguna topeng tersisa, pria itu sudah bergetar hebat ketika mendengar telapak kaki Yu Jie mendekatinya.
__ADS_1
Yu Jie hanya tersenyum kecil sebelum berkata, “Hei, apa kau ingin hidup?"
Satu pengguna topeng tersisa seolah menemukan kolam air di tengah gurun ketika mendengar itu, tanpa ragu dirinya membuka mata sembari menganggukkan kencang kepalanya.
“Jawab pertanyaanku kalau begitu."
“Tanya apa saja, Tuan. Aku akan menjawab semuanya," ucap pengguna topeng tersisa.
“Pertama, katakan padaku siapa wanita bernama Rong Yue," ucap Yu Jie, masih merasa kesal pada gadis itu.
Pria bertopeng awalnya nampak ragu, hingga tatapan Yu Jie padanya kembali terlihat dingin, barulah pria bertopeng itu mau mengatakannya.
“Nona Yue adalah pemimpin penyerangan kali ini, bisa dikatakan dirinya merupakan salah satu petinggi kelompok kami."
Yu Jie mengangguk mengerti sebelum kembali membuka mulutnya,“Kedua, katakan kenapa kalian menyerang istana seperti ini."
“Itu ... karena ada pihak yang menyuruh kami."
“Siapa?" tanya Yu Jie.
“Keluarga Jang, mereka memiliki ambisi cukup besar melengserkan keluarga kerajaan."
Setelah ucapan itu, setiap mata orang di ruangan mengarah pada Jang Kao, terkhusus para petinggi kerajaan termasuk setiap jenderal pendukung pangeran pertama.
“Tangkap dia!!!" seru penasihat raja.
Jang Kao tanpa bisa melawan hanya dengan pasrah diamankan oleh beberapa jenderal kerajaan, di bawa pergi dari sana menuju ruang tahanan bawah tanah.
“Terakhir, kelompok macam apa kalian?" tanya Yu Jie sekali lagi.
“Ka— kami adalah fraksi Langit Merah, bergerak sesuai perintah asal ada bayaran setimpal kami terima," ucap pria bertopeng untuk terakhir kalinya, sebab setelahnya nyawanya hilang di bawah ayunan pedang Yu Jie.
“Kau sudah tidak berguna." Yu Jie sembari menghampiri para petinggi kerajaan yang berkumpul di sekitar pangeran pertama.
Para petinggi kerajaan segera bergetar ketakutan, mereka sempat lupa kalau Yu Jie masihlah sosok berbahaya yang bisa mengancam nyawa mereka.
“Kalian, kumpulkan setiap prajurit kerjaan secepatnya!!!" seru Yu Jie memberi perintah.
Para petinggi kerajaan kebingungan, mereka tidak yakin apakah harus menuruti perintah Yu Jie atau tidak sebab mereka bahkan tidak tau Yu Jie siapa.
“Lakukan apa yang diminta olehnya, Tuan Muda Jie ada dipihakku!!!" seru Xiang He, mengerti setiap tindakan Yu Jie pasti ada maksudnya.
Xiang He berharap dengan kata-katanya para petinggi kerajaan akan tergerak dan tidak menentang, siapa sangka tidak ada satupun dari mereka mau mempertimbangkan ucapannya.
“Tuan Putri, pangeran pertama bahkan belum sadar. Tidak pantas melakukan perintah yang harusnya disampaikan oleh raja atau calon penggantinya." Penasihat kerajaan mencoba memberi alasan keengganan mereka.
Yu Jie sempat berdecak kesal sebelum melempar pedangnya ke arah pangeran pertama, pedang itu menancap tepat di perut targetnya membuat pangeran pertama kemungkinan besar sudah kehilangan nyawa.
“Sekarang pangeran pertama sudah tidak ada, hanya ada Xiang He yang akan menjadi ratu di kerajaan ini. Jika sudah seperti ini masihkah kalian berani menyangkal ucapannya?" tanya Yu Jie dengan tatapan mengancam.
__ADS_1
Berani menolak maka harus berani juga menerima konsekuensinya, sekiranya seperti itulah arti tatapan Yu Jie pada mereka.
“Ak— akan kami lakukan!!!" seru para petinggi kerajaan serempak sebelum pergi dari sana melakukan apa yang Yu Jie pinta.