
Setelah lima tetua sekte Pedang Darah kehilangan nyawa, Yu Jie terbang ke atas setiap prajurit yang masih terpaku menatapnya.
Yu Jie baru ingin bicara, tetapi Mu Yang lebih dahulu datang dengan langkah tergesa-gesa.
“Tuan Muda Jie, mana serangannya?" tanya Mu Yang.
“Tidak ada," jawab Yu Jie dengan entengnya.
Mu Yang hanya diam seraya memerhatikan sekitar, dirinya masih ingat Xiang He memberitahunya terkait serangan sekte Pedang Darah, tetapi melihat situasinya seperti tidak pernah terjadi hal semacam itu di sana.
“Jenderal Yang, kau terlambat datang."
“Benar, Jenderal Yang. Dirimu tidak beruntung melewatkan hal luar biasa yang telah Tuan ini lakukan."
Beberapa jenderal menghampiri Mu Yang dengan wajah bangga, mereka merasa lebih unggul dari Mu Yang sebab pernah melihat apa yang Mu Yang tidak pernah lihat.
“Apa maksud kalian?" tanya Mu Yang.
Salah satu jenderal menjelaskan jika baru saja Yu Jie menghabisi lima tetua sekte Pedang Darah dengan begitu mudah, yang mana hal ini membuat setiap dari mereka dapat melihat perwujudan jiwa bela diri yang begitu jarang terjadi.
“Jadi serangannya benar-benar ada?" tanya Mu Yang.
“Tentu saja benar, dirimu bisa lihat sendiri lima jasad yang ada di sana," ucap salah seorang jenderal sembari menunjuk satu arah.
Mu Yang segera bernapas lega, hal ini membuat beberapa jenderal mengerutkan dahi mereka.
“Apa?" tanya Mu Yang menyadari hal tersebut.
“Dirimu tidak penasaran dengan bagaimana bentuknya jiwa bela diri?" tanya balik para jenderal.
Mu Yang hanya mendengus kesal, sadar para jenderal ingin menggunakan itu untuk pamer padanya.
“Jangan melebih-lebihkan hal biasa, aku sudah lebih lama bersama Tuan Muda Jie, jadi aku lebih sering melihat hal semacam ini daripada kalian," ucap Mu Yang dengan senyum lebar.
Para jenderal langsung menatap Mu Yang penuh penasaran, jika yang dikatakannya benar maka mereka juga ingin tau apa hal luar biasa itu.
“Jangan tanya aku, yang jelas semua itu begitu luar biasa untuk melihatnya langsung dengan mata," ucap Mu Yang dengan senyum sinis di wajahnya.
__ADS_1
Sadar tidak dapat memaksa Mu Yang berbicara, para jenderal mengalihkan pandangan mereka langsung ke orangnya. Mereka juga ingin melihat hal luar biasa lain Yu Jie lakukan, sekalian menambah wawasan mereka akan dunia kultivator sebenarnya yang tidak dapat mereka gapai.
“Jangan tatap aku atau aku congkel mata kalian satu persatu," ucap Yu Jie.
Para jenderal segera menelan ludah mereka, mengalihkan pandangan tidak ingin ancaman itu menjadi nyata.
Pada akhirnya setiap jenderal juga para prajurit diperbolehkan pergi dari sana, kembali ke tugas mereka masing-masing untuk mencegah serangan susulan yang mungkin akan terjadi.
Setelah mereka pergi, praktis hanya tersisa Yu Jie dengan Mu Yang saja. Pria tua itu segera menghampiri Yu Jie dengan wajah penuh maksud membuat Yu Jie kesal sendiri.
“Apa?" tanya Yu Jie.
“Tuan Muda Jie, apa benar dirimu baru saja menghabisi lima tetua sekte Pedang Darah seorang diri?"
“Benar, apa masalahnya?" Yu Jie mengangkat alisnya.
“Kenapa dirimu tidak menunggu aku datang terlebih dahulu? Aku juga ingin melihat pertarungan luar biasa mu, Tuan Muda Jie." Mu Yang dengan ekspresi kecewa, hanya berpura-pura tidak tertarik sebelumnya agar tidak kehilangan wajah.
Yu Jie hanya menghela napas panjang sebelum berkata, “Apanya yang pertarungan luar biasa? Semua ini begitu membosankan untuk menjadi yang terbaik di bawah langit."
Yu Jie mengatakan semua itu dengan wajah muram penuh kesendirian, menciptakan kesan seorang yang selalu merasa sepi bahkan walau tengah ada di tengah keramaian.
Di tengah semua itu, Yu Jie menyunggingkan senyumnya. Sombong tanpa terlihat sombongnya berhasil, sehingga exp terus mengalir deras jika dirinya rutin melakukan ini.
“Ngomong-ngomong, ada di mana Xiang He sekarang? Aku ingin menemuinya," ucap Yu Jie.
Mu Yang segera mengantar Yu Jie ke tempat Xiang He berada, yaitu aula istana tempat singgasana raja berada.
“Tuan putri ada di dalam, aku juga ingin memberi tahu kalau dirinya tengah menunggu Anda sebab khawatir," ucap Mu Yang sebelum pamit undur diri.
“Kebetulan sekali," gumam Yu Jie.
Yu Jie baru memasuki aula tersebut ketika Xiang He langsung menyambutnya, mempersilahkan Yu Jie duduk dengan wajah sumringah mengetahui Yu Jie tidak kenapa-kenapa.
“Tuan Muda Jie, syukurlah Anda baik-baik saja," ucap Xiang He.
“Kumpulan orang lemah macam mereka memangnya bisa melakukan apa?" Yu Jie mengangkat alisnya.
__ADS_1
“Benar, Tuan Muda Jie adalah sosok orang yang tidak seharusnya aku khawatirkan," gumam Xiang He.
Yu Jie hanya diam mencoba tidak mengeluarkan tawanya, tergelitik disekitarnya ada banyak sekali orang yang mudah termakan bualan sombongnya.
“Lupakan, ada hal yang ingin aku bicarakan."
Wajah Yu Jie berubah serius ketika mengatakan itu, membuat Xiang He memasang wajah penuh penasaran.
Yu Jie segera mengatakan jika ia ingin Xiang melakukan sesuatu untuknya, yaitu mengumpulkan setiap keluarga bangsawan di kerajaan juga mengundang klan Yu dan klan Bai ke istana.
“Tuan Muda Jie, untuk mengundang keluarga bangsawan itu hal mudah, tetapi untuk dua klan yang baru Anda sebutkan ...."
Xiang He ingat betul betapa kerajaan tidak mendapat tempat di mata dua klan tersebut, dirinya bahkan yakin kalau undangannya kemungkinan besar akan ditolak begitu mudahnya.
“Lakukan saja, bila perlu gunakan namaku untuk meyakinkan mereka," ucap Yu Jie.
Xiang He segera mengangguk mengerti, dirinya baru ingat jika Yu Jie sendirilah ketua klan Yu. Sementara untuk klan Bai, Xiang He ingat pula kalau hubungan Yu Jie dengan mereka tidak kalah baiknya.
“Tuan Muda Jie, apa ada hal lain yang harus aku lakukan?" tanya Xiang He.
Yu Jie menggeleng pelan sebelum berkata, “Tidak ada, persiapkan saja dirimu sebelum naik menjadi ratu kerajaan secepatnya."
Xiang He langsung mengerti setelah mendengar ini, kalau tujuan mengundang sekian banyak pihak ada kaitan dengan pelantikannya.
“Terima kasih, Tuan Muda Jie."
Yu Jie mengangkat alisnya, setelahnya menghela napas panjang tanda lelah.
“Apa kau tau ini ucapan terima kasihmu yang kesekian kalinya?" tanya Yu Jie.
Xiang He segera mengangguk, mau bagaimana lagi sebab hanya kata itu yang bisa terlontar dari mulutnya.
“Sudahlah, lagipula aku melakukan semua ini ada maksudnya."
Xiang He baru ingin bertanya apa itu ketika Yu Jie sudah lebih dahulu berdiri untuk pergi dari sana, membuat Xiang mengurungkan niatnya sebab tidak memiliki keberanian menahan Yu Jie.
“Tidak perlu memikirkan sesuatu terkait itu, percaya saja kalau aku bukan tipe orang yang akan mendorong rekan sendiri ke dalam jurang," ucap Yu Jie di tengah langkahnya.
__ADS_1
Yu Jie hanya membiarkan Xiang He merenungkan ucapannya, lebih memilih memikirkan berapa kiranya jumlah exp juga hadiah dari misi yang telah ia selesaikan selama ini.
“Menyingkirkan pangeran pertama sudah aku lakukan, berapa banyak kekuatanku akan meningkat kali ini?" gumam Yu Jie dengan senyum lebar.