
Di kediaman Bimasena seperti biasa jika di pagi hari pasti akan sangat ribut,istri yang mengomel sambil memainkan alat perangnya,serta sang anak yang bingung dengan tugas sekolah yang belum selesai.
Kegiatan ini yang selalu menjadi sebuah kehangatan sehingga membuat Salwa memilih tinggal dengan sang abang,dan meninggalkan rumah yang di beli Satya satu minggu sebelum mereka menikah.
Walau terkadang Nayla kakak iparnya lebih suka mengomel dari pada berkata lembut padanya,namun justru itu yang Salwa sukai.ia suka Nayla yang selalu apa adanya di depan siapapun,walau terkadang omelannya pedas,tetapi sejatinya ia adalah istri dan ibu yang selalu mengutamakan urusan keluarganya.
Salwa terkadang berkhayal,suatu saat nanti ia bisa menjadi seperti Nayla,memiliki suami yang baik dan penurut seperti abangnya,serta anak yang baik dan lugu seperti bocah laki laki usia 10 tahun itu.
Ia pandang keluarga kecil itu dari arah tangga dengan senyum manisnya,keluarga yang mau menerima ia di kala semua orang menghujatnya sebagai pembawa sial atas kematian Satya sang suami.
"Apa sih ribut banget."Ujarnya sambil menapaki satu demi satu tangga hingga duduk disalah satu kursi meja makan.
Nayla yang mendengar Salwa turun dari semedinya langsung berteriak untuk meminta Salwa membantunya di dapur.
Salwa yang tak ingin sedok sayur itu melayang,bergegas untuk mendatangi Nayla di dapur yang sudah berkacak pinggang dan menatap sinis padanya.
"Tumben kamu udah turun,nih goreng dulu tempenya."Nayla memberikan mangkuk berisi tempe yang sudah di beri bumbu.
Salwa memasukan tempe kedalam wajan dengan bersungut sungut."Bangun di omelin,bangun siang juga,wuh!"
"Enggak usah ngomel,selesaiin ini.kakak mau bantuin keponakan mu beresin PRnya."Nayla melepas celemek dan memasangkan asal asalan di leher Salwa.
Itu lah Nayla,ia tak pernah bersikap selayaknya kakak ipar tapi ia selalu bersikap seolah ia adalah kakak kandungnya.
Nayla selalu menjaga Salwa seolah ia adalah adik kandungnya sendiri,walau sebenarnya usia mereka tak terpaut jauh,Nayla selalu merasa lebih beruntung dari pada Salwa,jika kini ia masih bisa dan sering mendengar kabar ibunya yang tinggal di Tegal Jawa Tengah bersama sang adik yang bertugas di Dinas perhubungan,lain dengan Salwa yang tak pernah lagi bisa mendengar kabar kedua orang tuanya yang sudah kembali kepada sang Khaliq karena sebuah insiden.
Salwa sudah menjadi yatim piatu saat usia nya menginjak 13 tahun,tapi sayang nya hingga kini ia masih melupakan kejadian yang telah merenggut nyawa kedua orangtuanya itu.
"Salwa,om rudi sakit katanya,tadi malam tante yana menghubungi abang." Sruuup,Bima menyeruput teh hangat,sedangkan Nayla hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Hah,alasan itu Bang,paling juga kangen sama kita.Seperti enggak tahu tante Yana saja,modus."Salwa menaruh kopi pahitnya,menarik kursi dan duduk disebelah Nayla.sedangkan Yudis keponakannya sudah berangkat kesekolah menggunakan sepeda.
Dari arah belakang Salwa,nampak pria dan wanita paruh baya berjalan mengendap endap,membuat Bima menahan tawanya.
"Aduh aduh !" Tante sakit."Teriak Salwa membuat semua yang ada di meja makan terbahak,wanita paruh baya benama Yana itu menjewer telinganya.
"Bagus kamu ya,tante sam om kangen nya udah setengah mati kalian malah enak enak makan."Ujar sang tante yang memang sudah datang dari tadi namun Bima sengaja tak mengatakan kepada Salwa,karena ingin mengerjai adik tercintanya itu.
"Ya ampun merah tante Yana."Salwa mengeluh seperti anak kecil dan memegang telinganya yang benar benar merah.
"Gimana kabar tante dan om ?" Tanya Nayla sembari menarik kursi untuk tante Yana.
"Baik sayang,kamu apa kabar ?" Baik tan,yang enggak baik tuh itu,masih jomblo."Salwa merengut karena perkataan Nayla.
Tante Yana dan suami,hanya bisa menghela nafas saja.mereka bukan tak ingin mencarikan jodoh,tapi apa boleh di kata Salwa selalu menolak dengan berbagai alasan yang memang masuk akal.
"Pagi pokoknya,tantemu kalau udah bilang kangen kalian,enggak bisa di tunda.terpakasa ambil libur."Ujar nya menyesal.
"Oh,jadi papa nyesel nih nganter mama kesini!"Serunya.
Rudi sang suami tertawa,"Enggak dong sayang,aku kan sayang kamu,apa sih yang enggak."Bima dan Nayla terkekeh.Salwa yang merupakan jomblo abadi hanya bisa merengut kesal jika sudah mendengar rayuan maut sang om.
"Plis,bantu aku ya Allah.kenapa orang orang ini enggak tahu nasibku."Ujar Salwa sambil menengadahkan kedua tangannya dan menatap langit langit ruangan itu.
Nayla yang tepat berada di samping Salwa langsung menoyor kepala Salwa pelan,"Enggak usah sok teraniyaya.kamu sendiri yang enggak mau nikah lagi.mantan mertuamu itu udah terlalu banyak ngebebani kamu Salwa."Ujar Nayla.
"Memangnya kamu masih rutin ngirim uang sama mereka ?" tanya tante Yana.
"Masih tan,siapa lagi kalau bukan Salwa tan,apa lagi semenjak ayah sakit sakitan,cuma dari Salwa saja mereka bisa nyambung hidup,apa lagi sebentar lagi si Rahma mau masuk kuliah."Tuturnya sendu.
__ADS_1
Rudi dan Yana memandang kearah Bima,namun Bima hanya bisa mengedikkan bahunya tanda tak tahu harus melakukan apa.Karena hal yang di lakukan Salwa merupakan sebuah hal yang harus ia penuhi apa lagi ketika Salwa tahu jika Satya sudah merubah nama kepemilikan kafe nya dengan namanya sendiri.
Jika Orang lain mengira bahwa Salwa menerima banyak hal dari Satya itu memang benar adanya,namun hingga detik ini Salwa tak pernah menggunakan kenyamanan yang Satya tinggalkan, seperti rumah yang sekarang di tempati oleh adik dari mantan ibu mertuanya serta satu buku tabungan yang isinya membuat Salwa takut menggunakannya.
Jadi semua usaha yang ia lakukan untuk kafe peninggalan sang suami,semuanya murni jerih payahnya sendiri di bantu Bima sang abang.
"Ya sudah,yang penting kamu ihklas Salwa."Tante Yana mengusap kepala Salwa sayang dan memeluknya dari arah belakang.
"Salwa ihklas tan,Salwa yakin pasti akan ada kebaikan untuk Salwa nanti."
Mereka semua mengamini ucapan Salwa,obrolan kecil itu harus berhenti di kala Bima mendapat telpon dari seseorang yang tak mungkin ia abaikan.
" Baik pak,nanti saya akan mencoba mengajaknya."Ucap Bima sebelum menutup sambungan telepon.
Bima sedikit tak yakin dengan keputusannya,tapi apa salahnya jika mencoba.Ia ingin sang adik segera memiliki pasangan,yah walau kali ini,sedikit lebih muda atau malah sangat muda jika di bandingkan dengan usia Salwa sang adik.
.
.
.
.
"Bagaimana Han,apa Pak Bima setuju untuk mengajak nya kemari ?"Farhan mengangguk.Pria muda genius itu tersenyum lega.
Apapun akan aku lakukan untuk memastikan jika perasaan ini adalah nyata adanya.
...☘☘☘☘☘☘☘...
__ADS_1