SUAMI KU DAUN MUDA

SUAMI KU DAUN MUDA
Bab 44 - Suami Bucin


__ADS_3

Axel berlari kencang menghampiri sang istri setelah mendengar bunyi suara tembakan, bahkan beberapa orang yang tak sengaja lewat di jalan itu berhenti seketika dan berbalik arah karena ketakutan.


Salwa menutup wajah dan mata nya sesaat suara tembakan itu melesat, dan benar tembakan itu memang melesat ke arah nya, tapi Jun lebih dulu membuat tameng dengan punggung kekarnya.


Salwa mendongak menatap Jun yang tengah memeluknya dari arah depan.


"Are you oke, Jun?" Salwa berbisik lirih dan masih dalam dekapan Jun.


"Hei Jun, dia istriku!" seru seseorang yang datang dari arah belakang mereka bak pahlawan kemalaman.


Axel langsung melepas dekapan Jun, dan mengambil Salwa kedalam rengkuhannya.


"Kamu ini, dia nyelamatin aku!" Salwa menatap tajam kearah suami muda yang tak tahu situasi ini.


Sedangkan Jun meringis merasakan perih karena ternyata timah panas itu bersarang di lengan atas dekat dengan pundaknya.


"Jun kau tidak apa-apa!"


Seorang pria blasteran, berahang tegas serta tubuh bagai atlit binaraga datang bagai dewa yunani yang sedang ingin menggaet para wanita, Salwa yang terkejut melihat pria ini, menganga karena terpana dengan ketampanannya. Axel yang menyadari jika sang istri tengah menatap sang teman, langsung mencium bibir Salwa agar istrinya itu hanya terpaut dengan nya saja.


"Eemm!" Salwa berusaha meronta karena Axel menciumnya dengan sedikit desakan. sedang kan Jun dan si pria blasteran merotasikan bola matanya malu melihat tingkah anak muda tak tahu ahklak ini.


"Suara tembakan kedua, apa kah dari senjata mu Max?" tanya Juna.


Pria bernama maxim ini mengangguk dan menggiring Jun ketempat yang jauh dari sejoli gila tak tahu tempat ini.


Anak buah Jun yang datang bersamaan dengan Max kini sedang meringkus mereka yang tergelatak karena baku hantaman dengan Jun, beserta seseorang yang melepaskan timah panas ke arah Salwa yang berhasil di halau oleh pengawal setia ini.


"Kita apa kan mereka?" tanya Max.


"Seperti biasa lepaskan agar kembali ke tuannya!" senyum smirk yang Jun sunggingkan membuat Max mengangguk-anggukan kepalanya.


Anak buah Jun langsung meringkus beberapa dari mereka dan membawa mereka masuk ke dalam mobil yang para bandit itu kendarai.


"Setel GPS nya!" ujar salah satu nya.


Para anak buah handal itu, mengantar kembali para bandit ini ke tuannya, dengan belati yang bersarang di leher berotot salah satu yang sedang memegang kemudi.


"Jika kalian tidak ingin kepala dan tubuh kalian terpisah jarak dan waktu, jalan kan mobil sesuai intruksi kami!"


Sedangkan dua orang di belakangnya, sudah ada ujung senapan di kepala mereka masing-masing, jika mereka memberontak sudah di pastikan nyawa akan berterbangan.

__ADS_1


Mobil yang di kendarai para anak buah Jun yang lain mengikuti dari arah belakang. Sedangkan beberapa yang lain, tetap tergeletak di jalanan dan di biarkan begitu saja, bagai sampah.


"Kita langsung ke markas saja, tinggalkan dua suami istri baru itu! dasar tukang pamer!" sungut Max.


Jun berjalan mengikuti Max sambil memegangi luka bekas tembakan itu, bau anyir darah segar membasahi lengan kekarnya, namun tak nampak jika pria itu kesakitan atau mengeluh, entah seperti apa ia melatih tubuh dan pikirannya.


Salwa yang di dekap erat oleh Axel, terdiam mematung tak bergerak, Axel mengancamnya jika bergerak dan melihat kearah lain, Axel kembali akan menciumnya di depan Jun dan Max.


"Ax, aku bisa mati kehabisan nafas, udah sepi ini. yuk! pulang sebelum orang-orang ini bangun." pinta Salwa.


Axel menatap sekitar, ternyata benar saja, mobil yang di kendarai Jun sudah tak terlihat bersamaan dengan sang penegemudi dan kawannya tadi.


Axel mencium kening Salwa, ia rangkul wanita tercinta itu menuju mobil yang ia kendarai tadi.


"Siapa mereka Ax, orang yang sama atau berbeda?"


"Aku tidak tahu pasti sayang, tapi yang jelas mereka sudah tahu hubungan kita!"


Axel mendekat dan menarik seatbelt yang berada di kursi Salwa agar istrinya aman.


Axel mulai menjalankan kendaraannya, memutar setir menuju kembali ke kediamannya.


"Kenapa dia ada disana? tidak mungkin ia yang melakukan ini?" batin Axel bertanya, tadi saat ia masuk kedalam mobil tak sengaja Axel melihat seseorang yang ia kenal berada di sebalik bangunan ruko yang terbengkalai.


***


Pria di sebalik tembok tadi, kini sedang berada di apartemen yang baru saja ia beli beberapa waktu lalu, ia lepas kontaks lens yang selalu ia pakai, serta mencuci wajah nya dengan air bersih. Ia mendongak menatap cermin di atas wastafel kamar mandinya.


Terlihat wajah blasteran milik nya, mata berwarna abu-abu serta garis mata yang tajam, ketampanan khasnya sungguh ia sangat mirip dengan sang ayah.


Ia usap wajah basahnya dengan handuk yang ada disana, ia memutar tubuh dan keluar dari kamar mandi.


Ia berdiri di depan cermin sambil sesekali merapikan rambutnya, pria ini mulai mengingat adegan yang ia lihat tadi, hawa panas tiba-tiba menjalar keseluruh tubuhnya, pikirannya berkabut, kenapa bukan dia yang ada di posisi itu, ia kepalkan kedua tangannya.


Pranggg


Cermin yang ada di depannya ia hantam dengan sekuat tenaga hingga berhamburan jatuh ke bawah. Tangannya terluka, sayatan-sayatan kecil menghiasi punggung tangan itu, namun rasa sakit ini tak seberapa di bandingkan dengan luka di hati nya.


Tapi sayangnya, ia tak bisa membenci wanita atau lelaki itu, hatinya tak mengijinkan untuk ia berbuat di luar kondisi hati terdalamnya.


"Aku akan pada tekadku, ia memang pantas bahagia!"

__ADS_1


Ia buka laci nakasnya, ia ambil antiseptik berupa salep dan mengoleskan di punggung tangannya yang terdapat luka akibat goresan dari cermin yang ia pukul tadi.


Pria ini menghirup udara sebanyak mungkin, berusaha sekuat tenaga agar tetap pada prinsipnya, ia tak mau melukai jalinan yang sudah ia buat selama ini. Matanya terpejam, siap mengarungi mimpi indah yang mungkin akan membawanya memiliki wanita itu walau hanya dalam dunia angannya saja.


***


Kediaman Axel pukul 03.00 dini hari


Axel menatap layar laptop nya sesekali mengernyit, sesekali ia berdecak pelan dan menghela nafas. Selepas menemani Salwa di atas ranjang hingga wanita itu tertidur, ia bangun dari posisi nya keluar kamar menuju ke ruang kerjanya.


Ia menghubungi Max untuk menanyakan kondisi Jun, ia cukup lega jika pengawal setia nya itu dalam kondisi baik-baik saja.


Setelah memastikan apa yang ia ingin ketahui, ia membuka laptop dan membuka surelnya. ternyata setelah ia periksa ia mendapat notif pesan dari seseorang beberapa jam yang lalu.


Ia buka dan menemukan hal yang sungguh di luar dugaannya, ia baca satu persatu kalimat yang ada disana, sampai ia menyimpulkan sesuatu.


"Jadi kecelakaan itu rekayasa? pria itu di bunuh?" gumamnya.


Axel kembali membaca beberapa hal yang di kirim seseorang yang memang Axel tunggu, karena ada beberapa persoalan yang tidak bisa ia ketahui secara rinci, maka dari itu beberapa waktu lalu ia mengirimkan beberapa data, agar di periksa orang tersebut.


...🖤🖤🖤🖤🖤...


Hai readers?


apa kabar hari ini?


aku bawa lagi nih, cerita kawan aku, simak yuk!


Napen : Aveeii


Judul : TERNYATA ITU CINTA


Blurb :


cinta itu tidak punya mata, mulut, dan telinga. Tapi ia hanya punya hati. Tidak perlu semua indera untuk mengenal apa itu cinta. Tapi jika kamu ingin menegnalnya lebih dekat coba kamu tanya hatimu


- Langit Angkasa


Aku tidak tahu dan tidak mengenal apa itu cinya. Tetapi aku nyaman ada di dekatmu dan aku tidak mau kamu menjauh dariku. Apa itu yang di namakan cinta?


Sebuah kisah sederhana sepasAng remaja yang baru belajar mengenal apa itu CINTA dan PENGORBANAN.

__ADS_1



__ADS_2