
Pukul tiga dini hari, Salwa yang sedang terlelap sayup sayup mendengar seseorang bergumam, ia merasa sedikit terganggu karena suara itu terus menerus tanpa berhenti.
Aku takut kakak , Axel takut ..
Salwa membuka matanya lebar, setelah ia memastikan pendengarannya bahwa sang suami lah yang sedang bergumam.
"Ax!" Salwa menggoyangkan pundak Axel, mencoba membangunkann suami berondongnya itu. Namun sayang nya Axel tak merespon dan tetap meracau.
Salwa menegakkan tubuhnya dan mencari saklar lampu yang ada di atas kepala ranjang, agar kamarnya lebih terang walau sebenarnya kamar itu sudah sangat terang. Axel memang tidak bisa tidur dalam kondisi kamar yang terlalu gelap, dan Salwa sudah tahu itu karena Axel sudah menjelaskan jika ia punya sebuah trauma tentang gelap. Namun hingga kini Salwa masih sedikit merasa aneh dari semua hal yang pernah Axel jelaskan tentang ia yang tidak subur, ia yang punya trauma gelap, dan lain sebagainya. Entah ia merasa bahwa Axel masih belum menjelaskan secara rinci tentang semua yang ada padanya.
Tapi bagaimana jika ia tahu segala hal yang Axel ceritakan padanya bukan yang sebenarnya? sungguh hal ini tak pernah Axel pikirkan dampaknya dengan matang, hanya karena tak ingin membuat Salwa kawatir dan berkecil hati tentang efek atas kejadian itu, ia terpaksa berbohong dan menjudge dirinya sendiri lah yang banyak sekali kekurangan.
Lampu menyala terang, Salwa bebrapa kali mengedipkan matanya agar bisa menerima cahanya itu pada pupil matanya.
Dan ternyata Axel menghentikan racauannya setelah lampu kamar menyala semua. "Jika memang tidak bisa tidur dalam gelap, kenapa harus di paksain sih, kan jadi ngigau begini." Ucap Salwa lirih.
Salwa meletakkan kepala Axel dalam posisi yang nyaman, ia menarik selimut agar menutupi tubuh sang suami, setelah nya ia turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, dan menunaikan tugas sunahnya.
Salwa mulai melantunkan zikir nya, mulutnya komat kamit serta tasbih yang terus bergerak sesuai jumlah zikir yang ia lafalkan. Salwa bukan manusia sok suci atau merasa bangga dengan kebiasaan yang ia lakukan, ia merasa bahwa belum menjadi manusia taat, apa lagi jika ia mengingat seluruh dosa yang tersirat maupun tersurat, sungguh ia takut jika ia meninggalkan semua itu Tuhan akan menjauh kan rahmatnya dari tubuh dan jiwanya.
"Amin"
Salwa mengakhiri doanya, ia mengusap lama wajah dengan kedua telapak tangannya, setelah memohon banyak hal kepada Sang Khaliq, penguasa jagad raya.
"Sayang."
Axel memanggil sang istri setelah ia tak mendapati Salwa yang seharusnya berada di sampingnya.
Salwa yang mendengar panggilan sang suami langsung melipat kilat mukenanya, walau pria itu lebih muda darinya tapi Bima mengatakan jika Salwa wajib menghormati bahkan harus selalu mengikuti perintah Axel selagi itu adalah kebaikan.
Salwa selalu berusaha menjadi istri yang baik dan tak pernah menganggap dirinya lebih dewasa, karena seorang suami adalah panutan baginya terlepas bagaimana Axel dengan segala kekurangannya.
"Iya Ax, aku tahajud tadi." Salwa menguap kening Axel bagai ibu yang sedang menenangkan anaknya, bukan merasa aneh justru Axel selalu terlena dengan usapan lembut itu.
"Kenapa enggak bangunin aku, akukan mau juga tahajud bareng kamu!" Axel memanyunkan bibirnya dengan mata yang terpejam.
Salwa terkikik melihat sang suami dengan wajah imutnya, sungguh menggemaskan.
__ADS_1
"Bisa lain waktu Ax, tapi sekarang kamu harus tetap bangun karena sebentar lagi subuh, udah jam setengah 4!" Salwa meniup niup wajah Axel membuat Axel langsung membuka matanya.
"Apa aku boleh nyicil?" Salwa mengernyitkan dahinya.
"Nyicil apaan?" Salwa menatap heran wajah Axel.
"Nyicil ini?" mata penuh binar dengan menunjuk bagian tubuh Salwa yang sungguh membuat tangannya ingin terus bergerak jika sudah mendapatkannya.
"Ini doang mah tinggal pegang, tiap malam wajah kamu juga nyungsep ditengah tengah sini!" Salwa merotasikan bola matanya.
"Tapi aku mau yang langsung!" Axel merengek seperti biasa, sebenarnya mereka ini suami istri atau adik kakak sih.
Salwa bingung mendengar kata langsung, karena selama satu minggu ini Salwa selalu mengijinkan Axel jika ia ingin berjalan jalan menyusuri tubuhnya dengan tangan dan jarinya.
"Sekarang mau pakai ini?" Axel menunjuk bibirnya.
Salwa spontan memundurkan tubuhnya, apa maksud dengan pakai indera perasanya? sungguh Salwa tak paham, atau pura-pura tak paham.
"Boleh ya?" Axel mengedip-ngedipkan matanya.
Salwa yang paham dengan apa yang Axel inginkan menghembuskan nafasnya ke udara, "Jika pakai itu, aku yakin enggak akan ada kata nyicil, tapi bayar lunas!"
"Lakukan!"
Axel menajamkan pendengarannya untuk memastikan apa yang sang istri katakan. ia mengerutkan dahinya. "Kamu yakin sayang?"
Salwa mengangguk, apa lagi alasan yang ia punya, selama satu minggu ini Axel sudah banyak sekali belajar tentang agama nya, bahkan Axel juga sudah berani menjadi imam solat untuk sang istri di hari ke empat ia belajar, dasarnya anak genius apapun bisa Axel hafal dalam sekejap. Salwa sungguh sangat bangga dengan suami mudanya ini.
Axel merapatkan tubuhnya, ia pegang pundak sang istri dan merapalkan doa yang sudah ia pelajari. Salwa hanya terdiam dan mengikuti apa yang akan Axel lakukan.
Cup
Axel mencium bibir sang istri lembut, ia tatap mata Salwa dan mulai menyusuri tiap jengkal tubuh bagian atas sang istri.
"Allahu akbar Allahu akbar"
Namun tiba-tiba suara adzan dari ponsel Salwa berkumandang memekakan telinga keduanya. Axel seketika langsung menghentikan kegiatannya dan menatap sendu ke arah sang istri.
__ADS_1
Salwa yang tidak tahan akhirnya terbahak sampai memegangi perutnya, karena wajah Axel sungguh membuat perutnya tergelitik.
"Cepet banget sih!" Axel mengeluh karena suara adzan yang tiba tiba saja terdengar. Ia pandang sang istri yang masih tertawa karena Axel gagal menuntaskan misinya.
"Seneng banget!" Axel nyinyir dengan kedua tangan terlipat di dada.
"Maaf Ax, wajah memelasmu sungguh lucu." Salwa mencoba menghentikan tawanya.
Salwa kembali menegakkan tubuhnya, ia pegang lengan suami mudanya itu pelan. ia usap dada Axel agar pria muda itu bersabar.
"Solat dulu yuk! nanti lanjutin, jangan manyun gitu dong!"
Axel melirik ke arah sang istri dengan tatapan sinisnya, ia mendengus kesal. Tapi sayang nya apa yang Axel lakukan tak membuat Salwa takut justru ia semakin ingin menggoda bayi koala itu.
"Ulu ulu, manisnya anak mama, mimik cucunya nanti lagi ya, kita solat dulu!"
Salwa terbahak dan segera kabur sebelum Axel membalasnya. Axel mencoba meraih tangan Salwa namun ia tak berhasil, ia bangkit dari ranjang dan berlari mengejar sang istri yang masuk ke dalam kamar mandi, di sana bukannya segera wudhu namun mereka justru main air dengan saling ciprat hingga membuat baju mereka semuanya menjadi basah.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
Malam readers...
Maaf ya jika di bab ini ada hal yang tidak pas menurut kalian, bisa komen kok ya...aku akan dengar..
ada beberapa uda unfav, makasih sebelumnya udah mampir ... dan masukin ke rak...😊😊
oh ya aku juga ada cerita nih dari teman sesama penulis,cerita fantasy kalau ada yang suka dengan genre ini mampir yuk dan bantu share ya...
Blurb :
Bagaimana rasanya, jika kamu hidup dalam dunia fantasy dari novel yang kamu buat sendiri.
Ya! itulah yang dialami oleh Ryana Zhang. Seorang author wanita dari dunia modern yang masuk ke tahun 775 dalam tubuh Zhang Rui, yang menjadi tokoh sampah dan paling sial dalam novelnya sendiri.
Dia harus berjuang untuk memutus alur cerita agar bisa selamat dari kejamnya dunia budidaya di novel yang dia beri judul "The Realm Of Cultivation" sebuah novel fantasy yang menuai banyak hujatan.
Napen : Eet Wahyuni Shandi
__ADS_1
judul : The Realm Of Cultivation