SUAMI KU DAUN MUDA

SUAMI KU DAUN MUDA
Bab 67 - Apartemen Baru


__ADS_3

Hari ini setelah beberapa hari dirawat. Akhirnya Axell bisa bernafas lega, kesehatan yang mulai membaik dengan cukup signifikan membuatnya meminta dengan sangat kepada Jonathan untuk segera memulangkannya ke rumah. Tak bisa leluasa melakukan hal-hal menyenangkan bersama dengan sang istri menjadi salah satu alasan utamanya untuk segera bisa lepas dari semua selang-selang kecil yang di tancapkan di tangannya itu.


“Kamu yakin sudah benar-benar tidak apa-apa Ax?” tanya Salwa sambil merapikan semua bawaan mereka.


“Aku sudah tidak tahan jika berlama-lama disini sayang, aku tidak leluasa menyentuhmu!” kesalnya.


“Is, apaan sih! kapan kamu tidak leluasa menyentuhku? lalu tadi malam itu apa?” sinis Salwa memicingkan matanya. Axell tergelak puas mendengar penuturan sang istri. Siapa suruh tak memakai baju di depannya, ada makanan lezat tentu saja tak akan Axell sia-siakan.


“Siapa suruh tidak mengunci kamar mandi, sayang kalau nggak dirasa dengan sepenuh hati hal menakjubkan seperti itu. Mubazir sayang.” Salwa yang mendengar penuturan suami mudanya itu hanya bisa merotasikan matanya dan kembali fokus merapikan baju miliknya serta sang suami.


Klek


Juna pengawal pribadi Axell masuk dna berdiri di dekat pintu, “Permisi Tuan dan Nyonya muda, apakah sudah selesai? mobil sudah siap!” ujarnya.


“Sudah, Jun!” jawab Salwa sambil melihat ke sekeliling takut-takut ada yang masih tertinggal.


Juna membuka pintu lebar dan membiarkan tuan serta nyonya muda nya itu keluar terlebih dahulu. “Maaf Nyonya, biar tasnya saya saja yang membawanya,” tutur Jun.


“Ya sudah, terima kasih ya Jun!” dengan senyum mengembang Salwa menyerahkan tas yang ia bawa kepada Jun, sedangkan pria di sampingnya sedikit melihat tak senang ke arah Jun.


“Lebar sekali senyummu sayang?” ucap Axell sambil melirik ke arah Jun. Jun yang di mendapat tatapan seperti itu hanya bisa menundukkan kepalanya.


“Hah, lalu aku harus bagaimana? melemparkan tas ini langsung ke tubuh Jun, begitu?” ucap Salwa.


“Kalau perlu begitu saja!” ucap Axell tanpa beban membuat Salwa melongo sedangkan Jun diam-diam menyunggingkan senyumnya walau hampir tak terlihat sama sekali.


“Astaga, sepertinya dia masih belum sembuh Jun, atau mungkin dia kena penyakit baru setelah kecelakaan,” tutur Salwa membuat Jun mengulum senyum takut kembali menyinggung sang tuan muda.


“Apa maksud dengan penyakit baru?” tanya Axell mengerutkan kedua alisnya.


“Penyakit posesif!” celetuk Salwa dan berlalu meninggalkan Axell.


“Hei sayang! apa salahnya jika aku posesif!” ujarnya sambil mengejar sang istri layaknya film-film Bollywood.


Axell menarik tangan Salwa namun sang istri menepisnya, dan terjadilah perdebatan kecil di antaranya yang membuat siapapun melihatnya pasti akan tersenyum. Sedangkan Jun mengikuti dua orang saling mencintai itu dengan langkah tegapnya.

__ADS_1


“Sayang, jangan begitu!” Axell menggoyang-goyangkan tangan Salwa yang sedang bersedekap.


“Cih, tukang cemburu!” cicit Salwa yang masih terdengar jelas ditelinga suaminya.


“Jangan berbagi senyum dengan pria lain, hanya itu saja!” ujar Axell tak mau kalah.


“Ya sudah, usir saja seluruh pengawal yang ada di rumah termasuk Jun, bereskan! kekanak-kanakan!” Salwa menggelengkan kepalanya.


Axell yang mendengar itu langsung menggeleng cepat, “tidak bisa begitu, kalau aku kerja siapa yang menjagamu di rumah!”


“Makanya jangan bersikap yang akan merugikan dirimu sendiri, sayang!” Salwa mengusap sayang pipi Axell membuat suami tercintanya itu tersenyum.


“Baik!” kata Axell, sedetik kemudian ciuman mesra mendarat seketika di bibir manis yang sang istri membuat Sawa langsung memukul dada Axell keras.


“Aduh, sakit!” kata Axell sambil memegang dadanya.


“Malu, ada Jun!” geram Salwa mencubit dada Axell membuat pria muda itu kembali mengaduh.


“Jun, masih di luar. Kaca ini tidak tembus pandang, kita mau bercinta disini juga tidak akan ada yang melihat!” mulut tak berfilter Axell membuat Salwa mengepalkan tangannya.


“Kamu pilih, mau masuk UGD atau kembali pasang jarum infus di kamarmu sekarang juga?” ucap Salwa dengan nada tak lagi bersahabat. Axell yang melihat kilatan amarah di mata sang istri menelan salivanya kelat.


“Cih!” ucap Salwa seraya tersenyum memandang penuh cinta sang suami. Sedangkan Axell sudah mendaratkan ciuman hangat di kening Salwa.


“I love you more, sayang!” Salwa tersenyum dan memeluk posesif tubuh Axell.


Perdebatan cinta itu akhirnya berakhir dan Jun mulai masuk ke kursi kemudi menjalankan kendaraan roda empat itu menuju ke sebuah tempat.


Sekitar satu jam perjalanan, mobil berwarna hitam itu berhenti di sebuah lobby apartemen yang terletak di pantai utara kota Jakarta. Apartemen mewah dengan segudang fasilitas Axell beli dua hari lalu lewat sang asisten, Farhan. Kediaman yang sudah tak lagi menjadi rahasia, membuat Axell merubah strateginya, demi melindungi sang istri ia akan melakukan apapun agar sang istri nyaman dan paling utama adalah keselamatan Salwa adalah yang utama.


“Sayang, bangun!” Axell menciumi seluruh wajah Salwa membuat wanita itu tergelak di sela tidurnya.


“Sudah Ax! geli!” tutur Salwa menjauhkan tubuhnya dari dekapan sang suami. Matanya mulai berkeliling, nampak sedikit guratan di tengah dahinya, heran kenapa rumahnya berubah menjadi gedung yang menjulang tinggi seperti itu.


“Dimana kita Ax?” tanya Salwa.

__ADS_1


“Di rumah baru, kita akan tinggal disini bersama dengan yang lain demi keselamatanmu,” tutur Axel membuat Salwa menaikkan kedua alis matanya.


“Yang lain? siapa maksudmu?”


“Tuh, mereka datang!” tunjuk Axell dengan kedua matanya yang mengarah ke tiga laki-laki yang sedang berjalan bak model catwalk dari dalam apartemen.


Salwa menyipitkan matanya melihat barisan pria-pria gagah berjalan ke arah mobil yang ditumpanginya. “Mereka? maksudmu?” kata Salwa.


“Iya sayang, tapi mereka tinggal di unit sebelah kamar kita, tidak di satu tempat.”


Salwa mengangguk, tetapi sesaat ia mulai memikirkan sesuatu yang janggal disini. “Ax, kita tinggal di lantai berapa?” tanya Salwa.


Axell menoleh ke arah Jun yang berada di kursi kemudi, “di lantai berapa Jun?” tanya Axell.


“Di lantai 10.”


Salwa membulatkan kedua matanya, pikirannya mulai khawatir. “Ax kamu serius?” terlihat guratan kekhawatiran di wajah Salwa membuat Axell tersenyum.


“Tentu sayang, yuk! kasihan tuh para penjaga pintu gerbang sudah menunggu,” tutur Axell.


Jun keluar dari dalam mobil bersiap membukakan pintu untuk tuan dan nyonya mudanya. “Silahkan tuan dan nyonya!” tutur Jun.


Axell keluar lebih dulu, dan mengulurkan tangannya membantu Salwa. Axell merapikan sedikit kemeja Salwa yang berantakan lengkap dengan tatapan yang penuh binar kebahagiaan. Farhan, Maxim serta Bara menyambut atasan mereka dan memberi jalan keduanya hingga di depan lift Salwa tiba-tiba menghentikan langkahnya.


“Are you sure?” tutur Salwa.


Sejujurnya bukan hanya Salwa, ketiga pria di belakang mereka juga sedikit sanksi akan keberanian yang Axell lakukan, karena mereka sangat tahu jika sudah bertahun-tahun Axell tak pernah lagi menaiki lift. Namun diantara mereka hanya Jun yang tetap nampak tenang, sepertinya pria itu tahu sesuatu hal lebih dulu.


“Silahkan Tuan!” ujar Jun yang sudah menekan tombol lift hingga pintu yang bergerak secara otomatis itu terbuka lebar.


“Ayo!” ajak Axell membuat Salwa mengeratkan pegangan tangannya di lengan Axell.


...💕💕💕💕💕...


Maaf guys baru bisa UP sekarang, jika ada hal yang keliru atau semacamnya, mohon maklum ya..

__ADS_1


jangan lupa berikan komen kalian ya..


😘😘


__ADS_2