SUAMI KU DAUN MUDA

SUAMI KU DAUN MUDA
Bab Enam puluh empat


__ADS_3

Salwa menatap tak percaya, pria yang beberapa hari ini terbaring kini telah sadar dan memanggil namanya, ia sudah cukup takut jika akan ada drama lupa ingatan dan sebagainya, namun ternyata suaminya baik-baik saja, bahkan masih memanggilnya dengan sebutan, sayang.


Salwa berjalan pelan, hingga ia sampai di sisi ranjang yang Axell tiduri dan bugh~~


“Huaaa! aku kangen! kamu baik-baik sajakan?” Salwa memeluk erat tubuh sang suami, hingga kedua kakinya pun sampai terangkat.


Axell, membalas pelukan sang istri menggunakan tangan kirinya, ia usap punggung mungil itu pelan dan tak lupa ciuman sayang, ia sematkan di kening sang istri.


Jo serta Jun hanya bisa bernafas lega, namun begitulah nasib jomblo, harus dengan sukarela menyaksikan sejoli itu saling mencium pipi masing-masing.


“Jun, kita sudah tak lagi di perlu kan! kita keluar saja kalau begitu!”


Jun, pria itu mengangguk dan mengikuti langkah Jo untuk keluar dari ruangan itu, daripada mata mereka harus ternodai dengan kemesran yang tak bisa mereka tiru itu.


Sedangkan Salwa dan Axell, sama sekali tak peduli dan tak menghiraukan jika dua pria itu sudah tak ada di tempat, mereka sibuk saling mencumbu, menyalurkan kerinduan yang hampir saja tak akan bisa mereka lakukan lagi.


“Maaf ya, aku membuatmu cemas!”


Salwa menggeleng cepat, “Tidak, asal kamu tetap bangun dan tak ada drama lupa ingatan seperti di drama Tv, itu sudah cukup bagiku.”


Axell terkekeh, sungguh istri yang berusia lebih dewasa darinya ini masih tetap sama, tak pernah berubah, ia selalu realistis.


“Emm, Ayahmu juga datang kesini Ax. Dia memintaku mengabari jika kamu sudah siuman.”


“Biarkan saja, ia hanya takut jika aku tidak siuman siapa yang akan menjaga hartanya.”


Axell terkekeh begitupun juga dengan sang istri, tak ada lagi hambatan atau rasa ragu di hati Axell, ia tak akan lagi merasa tak nyaman dengan pemilik benda yang masih ia simpan rapi di dalam kamarnya di kediaman sang ayah, karena kini ia sudah tahu siapa pemilik dari benda itu.


“Max dan Bara sudah memeriksa kejadian itu, dan ternyata itu murni kecelakaan bukan karena sabotase seseorang,” ujar Salwa panjang lebar.


Axell tak menanggapi, ia hanya fokus pada sesuatu yang selalu menjadi candu baginya. tangan kiri yang tak ditempeli apapun membuat Axell dengan leluasa melakukan hal yang sangat ia rindukan dan satu kancing kemeja Salwa sudah berhasil ia tanggalkan.


“Ax, apa kamu tidak menyadari jika perban di kepalamu masih menempel erat, namun tanganmu sudah menjalar kemana-mana!” ketus Salwa menepis tangan Axell yang bertengger indah di atas gundukan gunung berapi miliknya.

__ADS_1


“Sedikit saja, pelit sekali sih!” ujarnya memelas.


Salwa menggelengkan kepala, ia merotasikan bola matanya dan kembali menautkan kancing kemejanya.


“Nanti, jika sudah dirumah, mau berapa ronde? aku akan memenuhinya!”


Axell, menatap kedua mata sang istri seraya menyunggingkan senyum termanisnya. Ia akan menagih itu, jangan harap ia akan lupa dengan perkataan sang istri barusan.


“Baik! aku akan pegang janjimu, sayang!”


Salwa, bergidik melihat tatapan buas sang suami, sepertinya ia salah mengatakan hal itu tadi.


***


Di sebuah tempat yang menjadi sasaran kedua pria tampan itu, terlihat beberapa pengawal menjaga cukup ketat. hampir tak ada celah untuk masuk ke dalam sana.


Sedangkan dari kejauhan, sekitar beberapa meter, seorang pria bermata abu-abu menatap tajam kedua pria ini.


“Untuk apa mereka mengintai tempat ini? apa, mereka sudah mengetahui siapa yang meneror bocah ingusan itu selama ini!”


Karena tak ingin kehadirannya diketahui, pria bermata abu-abu ini memilih segera pergi dari sana menggunakan motor besar berwarna hitamnya. Namun, ia tidak mengetahui jika dua pria itu sudah melihat pergerakan nya sedari tadi.


“Siapa dia, menurutmu?”


“Siapa lagi, jika bukan pria yang bekerja di kafe istri Axell!”


“Menurutmu, apa hubungan ia dengan Nyonya, itu?”


“Sudah pasti!”


“Apa?” tanya Bara menyelidik.


“Tentu saja dia adalah anaknya, dari data yang kita punya, wanita itu memiliki satu orang anak, bukan? nah, dia pasti adalah orangnya, jika bukan untuk apa ia langsung kabur seperti tikus begitu!” ujar Maxim panjang lebar.

__ADS_1


Bara hanya menganggukkan kepala tanda mengerti, walau sejujurnya ia masih belum memastikan siapa pria itu sebenarnya.


“Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?”


“Cukup laporkan kepada Jun, jika tidak akan mudah masuk kesana, kita butuh strategi! aku yakin mobil kita ini juga sudah masuk dalam rekaman cctv mereka!”


Max, dengan santainya tanpa beban mengatakan apa yang ada di dalam otaknya, sedangkan Bara hanya mengikuti saja, karena hal strategi bukan merupakan bidangnya. Tak ingin berlama-lama, akhirnya Max memutar setir mobilnya dan menjauh dari area itu.


“Kenapa mereka pergi tanpa masuk?” ujar sang Nyonya.


“Sepertinya mereka hanya mengamati Nyonya, mereka cukup tahu diri tidak masuk ke area kita!” jawab sang asisten.


“Anak muda itu sudah tahu siapa aku? kita harus gerak cepat, dan jangan lupa pastikan kerjasama kita berjalan lancar sebelum kita kembali ke Italia Jerry!”


Jerry sang asisten mengangguk patuh, ia memohon pamit untuk menghubungi para kurir mereka yang sudah tiba di berbagai pulau di Indonesia. Namun tanpa sepengetahuan sang nyonya dia, bersamaan dengan itu Jerry juga menghubungi seseorang lewat ponsel yang lain.


“Segera kirim pasukan, semua data sudah lengkap!”


“Baik!” jawab seorang disana.


Tetapi tanpa ia tahu, semua gerak geriknya sudah direkam oleh seseorang yang mengintainya tanpa sengaja sejak tadi.


“Apa yang sebenarnya Jerry lakukan, kenapa akhir-akhir ini pria itu cukup mencurigakan? apa mungkin ia menghianati, Nyonya Angel?”


Pria ini memicingkan matanya, ia curiga namun tanpa bukti ia tak bisa melakukan apapun, tidak mudah meyakinkan sang nyonya, apalagi Jerry merupakan orang yang paling lama mengabdi padanya. Tetapi sayangnya, Jerry yang ia lihat sekarang bukan Jerry yang sebenarnya.


Tak ingin berasumsi, pria ini memilih melanjutkan langkahnya untuk menemui majikan tersayangnya.


Di lain pihak, di perusahaan yang dipimpin oleh Axell, kini sedang mengalami kekacauan, setelah Farhan menemukan sebuah kecurangan yang sungguh membuatnya geleng kepala.


“Kenapa baru sekarang, kita mengetahui ini, Mas?”


Farhan terdiam, dia melipat bibirnya, ia juga bingung kenapa laporan ini baru mereka dapatkan sekarang, apa iya, wakil CEO mereka mempunyai keahlian hingga bisa menyembunyikan kecurangan ini hingga perusahaan mengalami kerugian yang cukup besar.

__ADS_1


“Tapi, beberapa berkas kerjasama itu memang memakai tanda tangannya kan, Mas! jadi kemungkinan ia sendiri yang sengaja mengubah semua nominal ini,” ujar Sania.


__ADS_2