
Setelah mengobrol santai, tiga pria dan satu wanita ini kini terlibat pembicaraan yang serius mengenai kesehatan si wanita. Sang dokter muda yang sengaja mereka panggil dari luar negara, sedang menjelaskan inti permasalahannya.
"Jadi paling utama, adalah mengembalikan sistem hormon mu terlebih dahulu, baru kita akan lakukan terapi yang lain, aku tidak tahu ini akan berjalan lama atau tidak, tapi aku berharap kamu bersabar dan jangan stres," ujar Dokter yang bernama Kevan tersebut.
Salwa memejamkan mata sejenak, penjelasan yang sedikit rumit tentang ini dan itu membuat kepala nya sedikit pusing, belum lagi tentang terapi yang harus ia jalani. Entah ia mampu bersabar atau tidak.
"Lakukan saja dok, saya akan mengikuti semua hal yang dokter sarankan!" Salwa tiba-tiba bersuara.
Axel menatap sang istri dalam, ia tahu hal ini akan sangat memakan waktu, karena Kevan tadi menyatakan jika ini tidak akan semudah membalikkan telapak tangan , namun keajaiban Tuhan siapa yang tahu.
Kevan melanjutkan apa yang perlu ia jelaskan kembali, Salwa pun kembali mendengar dengan baik setiap kata, larangan dan hal apa saja yang harus ia lakukan.
"Jadi langkah pertama, kita harus memastikan kandungan obat itu sudah bersih dari dalam tubuhmu, setelah itu kita bisa ke tahap selanjutnya," sela Jonathan.
Axel mengangguk seraya mengusap punggung sang istri untuk menguatkannya. agar sang istri juga yakin jika kesembuhan itu pasti datang.
.
.
Sudah dua jam lamanya mereka membahas hal ini, kini mereka saling berpamitan setelah Axel menyudahi percakapan itu, karena Salwa terlihat sudah cukup lelah dengan segala pemikirannya.
"Apa perlu aku libur hari ini sayang?" tanya Axel.
Salwa terdiam tak menjawab, karena setelah masuk kedalam mobil ia langsung memejamkan mata nya tertidur.
"Sepertinya Nyonya tertidur Bos!" Ujar Jun.
Axel tersenyum kecil, tentu ia tertidur. Tadi malam ia menghajar habis-habisan tubuh mungil ini, bukan karena sangat berhasrat namun demi mengalihkan pikiran sang istri Axel membuat wanita ini terbang berkali-kali, hingga dini hari ia baru menyudahi tindakannya karena Salwa tertidur dibawah tubuh atletisnya karena kelelehan.
"Jadi kita ke kantor apa pulang Bos?" tanya Jun.
"Kita pulang, dan tolong kamu ke tempat David ambil beberapa berkas yang harus aku tandatangani hari ini, bilang padanya aku tak bisa kesana, untuk urusan ART MEDIA aku akan menghubungi Farhan nanti!"
"Siap Bos!" jawab Jun patuh.
Axel tak sengaja melihat kaca depan, ia mengerutkan dahinya karena ada sebuah mobil sedan berwarna silver terus saja mencoba tak ketinggalan jarak dengan mobil yang Jun kemudikan.
__ADS_1
"Apa kah dari tadi mobil itu mengikuti kita?"
"Iya bos! dari kita masuk jalan utama tadi, mobil itu sudah mengikuti," ujar Juna sang pengawal.
"Hah, aku tidak tahu apa sebenarnya maksud orang-orang ini Jun, banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini yang membuat aku tak habis pikir. ada apa dengan mereka sehingga selalu membuntuti kemanapun aku pergi!" Axel memijat keningnya pelan.
"Saya pikir pasati ada masalah yang mendasari ini Bos, hanya saja kita belum menemukan apa yang sebenarnya," ujar Jun.
Axel sungguh muak dengan orang-orang yang tak ada henti-hentinya mengganggu dan mengintai seluruh pergerakananya, ada apa dengan mereka ini sebenarnya. Banyak sekali pertanyaan bersarang di kepalanya dan satu pun belum bisa ia jawab, bahkan wanita paruh baya yang beberapa minggu lalu bekerja sama dengan perusahaan sang ayah juga membuatnya merasa aneh, apa lagi tatapan wanita itu.
Axel menggendong Salwa sesampainya di rumah, ia dekap tubuh mungil nan ringan itu dan mengantarnya sampai di kamar mereka.
Axel letakkan Salwa dengan sangat perlahan takut jika wanita itu akan terbangun, Axel melepas sepatu sang istri lalu menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya.
"Saya pamit Bos!"
"Hem!" Axel berdehem dan mengangguk.
Jun berjalan menjauh dari kamar sang tuan kembali menuju mobil untuk melaksanakan tugas yang Axel berikan tadi.
Setelah memastikan Salwa nyaman, Axel melangkahkan kaki nya menuju ruang kerja untuk menghubungi Frahan. Namun belum sampai di depan pintu ruangannya, ponselnya lebih dulu berdering dan tertera nama Farhan disana. Ia geser keatas dan telpon itu tersambung.
"Ada masalah Pak!" Farhan memotong pembicaraan Axel.
"Masalah apa?"
"Ada yang menyabotase sistem perusahaan pak, akibatnya seluruh komputer kita tidak dapat bekerja pak!"
Axel mengernyit, sabotase? untuk apa? pikirnya.
"Halo pak!" ujar Farhan dari seberang sana.
"Lalu bagaimana para IT kita menanggulangi ini?" Axel menjawab pertanyaan Farhan sembari berjalan ke ruang kerjanya.
"Sedang di usahakan Pak!"
"Ya sudah kabari aku, setelah solat dzuhur aku akan keperusahaan!"
__ADS_1
"Bail pak!" tut..
Sambungan telponpun terputus. Setelahnya Axel langsung menghubungi Max agar bisa membantunya menangani hal ini.
"Ia data ku juga nggak bisa di buka!"
Axel menatap Laptopnya yang hanya menampilkan warna hitam, sistem yang langsung terhubung dengan laptopnya yang berada di rumah juga ikut di retas.
"Come on Ax, berikan keahlian mu!" Axel meremat kedua tangannya hingga tulang-tulang di jari-jarinya berbunyi.
Ia langsung mengotak atik laptopnya, jarinya terus mengetik disana ia gunakan keahliannya hingga pergerakan jari itu seperti bergerak tak terkendali. Dan..
Warna hitam di layar nya tiba-tiba mulai bergerak, garis putih mulai turun naik dan menampakan tulisan angka serta huruf yang sangat banyak bagai sandi yang tak mungkin bisa di pecahkan.
Axel menghentikan apa yang sedang ia lakukan dan menunggu angka serta huruf tak beraturan itu berhenti dengan sendirinya.
Selang 2 menit, semua pergerakan si layar nya tiba-tiba berhenti dan menampakan sesuatu yang membuat Axel menukikkan alisnya tajam.
Disana terdapat tulisan seperti kode yang Axel sendiri tak mengerti.
"Kode apa ini?" gumamnya.
Ia langsung mengambil ponsel yang ada di laci meja kerjanya, ia ketikan kode itu dan mengirimkannya ke Max dan Bara agar bisa segera di selidiki. Lalu kenapa ia tak memakai ponsel yang biasa ia gunakan? karena ponsel yang ia ambil dari laci sudah ada sistem pengaman jadi pesan atau panggilan apapun tak akan mudah di retas walau memakai satelit sekalipun.
Namun karena Axel penasaran dengan sesuatu, ia kembali mengotak atik laptop nya agar bisa di gunakanm sesuai kodrat nya. Tak lama tampilan laptopnya sudah berubah seperti sedia kala kembali.
Ia membuka laman pencarian untuk mencari info yang mungkin bisa ia dapat secara global sebelum ia bisa mengakses secara pribadi dengan keahliannya.
Axel menuliskan sesuatu disana, tak lama muncul beberapa info yang ia cari. Tapi setelah membaca satu-persatu berita mengenai tragedi yang sedang ia cari tidak ada sama sekali.
"Kenapa tak ada satu pun!"
"Apakah benar, jika apa yang ayah katakan selama ini hanyalah sebuah kebohongan, jika ia untuk apa!"
Axel sungguh tak mengerti, ia sungguh menyesal kenapa waktu kejadian itu ia baru berumur 6 tahun, jika saja usia nya lebih besar mungkin akan dengan mudah mengingat dengan jelas apa saja yang terjadi saat itu.
"Sial!"
__ADS_1
...🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤...