
Lebih dari satu jam perjalanan akhirnya para pemuda pemudi itu sampai di sebuah hotel bintang lima,Farhan sng asisten langsung membukakan pintu untuk Axel dan Salwa.
"Beneran baju dan penampilan ku sesuai buat acara ini ?"Salwa nampak beberapa kali meremat tas kecil bertabur mutiara itu,cemas.
Axel pemuja gadis dewas sejak kecil ini mengulurkan tangannya agar Salwa mengandenganya."Tenang saja,aku sangat terpukau dengan penampilanmu,aku enggak nyangka kamu yang tomboy bisa dandan se cantik ini."Ael meraih punggung tangan Salwa dn mengecupnya singkat.
Salwa yang selalu di perlakukan romantis oleh Axel merasa selalu di atas awan,walalu begitu ia tetap waspada jika tiba tiba awan yang ia tumpangi itu raib begitu saja.
Axel mensejajarkan tubuhnya dengan Salwa,alih alih meminta Salwa untuk mengapitkan lengan kokohnya,justru ia mengaitkan tangan nya dan tangan Salwa,"lebih baik seperti ini,aku enggak akan kehilangan kamu.Siapa pun yang akan menarikmu aku akan tetap memegangmu erat."Yuk !"
Salwa dan Axel masuk kedalam ballroom bersama Farhan yang ada di belakang mereka.
"Selamat malam tuan muda Hadinata ?"sapa seorang pria tampan yang merupakan teman jika bersama.
"Malam tuan David ? anda disini juga ?"David mengangguk dan tersenyum,"siapa ?"tanya David berbisik ditelinga Axel.
Axel tersenyum smirk,ia menunjuk kerah depan dengan dagunya,mengisyaratkan jika ada seseorang berjalan kearah mereka.David yang paham akan situasi langsung menjauh kan tubuhnya sedikit dari Axel.Salwa yang ada di samping Axel tersenyum sopan kearah David yang tak sengaja memandang kearahnya.
Jantung David tiba tiba berdebar,ia hafal senyum itu walau perempuan di samping Axel ini merubah penampilannya lain dari kebiasaannya,namun senyum itu sudah terpatri jelas di hatinya,"nona manis ini,kenapa bisa datang bersama Axel,dan kenapa Axel tanpa sungkan menggenggam tangannya.Batin david bergejolak,ia takut jika asumsinya adalah nyata.
"Halo tuan Sandi,selamat malam ?"Axel mengulurkan tangannya dan menyalami sang tuan rumah sekilas tanpa menggenggamnya.
Tuan Sandi tersenyum tulus kepada Axel dan David yang sedang berada di tempat yang sama.
"Kau terlambat anak muda,pemotongan kue sudah berjalan 15 menit yang lalu?"Ujar pria paruhbaya pemilik acara tersebut.
Axel tertsenyum dan melirik kearah Salwa,"maaf tuan sandi,mohon maklum kalau bawa calon istri yah begini,pilih gaun saja bisa dua jam."Ujarnya terkekeh.
__ADS_1
Tuan Sandi dan David yang mendengar penuturan Axel terkejut hingga minuman yang di bawa pria paruhbaya itu hampir saja terlepas,sedangkan David mulutnya bagai terkena lem perekat,jangankan bergumam berkata dalam hati saja ia tak mampu.
Salwa yang menjadi bahan perbincangan hanya bisa tersenyum setulus mungkin,agar para orang orang ini tak melihat kegelisahan yang sedang ia rasakan.
"Kenalkan tuan Sandi,dia Salwa calon istri saya !"Axel dengan tegas mengatakannya,Salwa jangan di tanya ia gugup hampir oleng di perkenalkan begitu saja sebagai calon istri CEO muda yang sangat terkenal di kalangan pembisnis ini.
Salwa mengulurkan tangannya sopan dan sedikit menundukkan kepalanya,"Saya Salwa !" Tuan Sandi enggan menerima uluran tangan itu tapi mau tak mau ia harus menerimanya,ia pun tersenyum seadanya kearah Salwa.
Axel meyenggol lengan David sesaat tuan Sandi berpamitan untuk memanggil anak perempuannya."Kenapa ?"
David hanya menggelengkan kepalanya,"Besok saja kita ngobrol di kantorku."Axel mengangguk.
Akhirnya mereka bertiga akhirnya ikut berbaur dengan semua orang,para klien yang tidak pernah melihat Salwa pun terheran,mereka menduga duga kira kira siapa wanita yang di gandeng dengan erat oleh Axel,bahkan hanya mengambil minuman saja,Axel tak berniat sedikitpun untuk melepas pegangannya.
Perempuan bergaun hitam dengan belahan dada yang hampir membuat isinya tumpah berjalan kerah Axel,"Hai Axel,apa kabar ?"Wanita itu menundukkan tubuhnya untuk mencium pipi Axel,namun sebelum itu terjadi.Farhan yang entah datang darimana menahan wanita seksi itu.
"Maaf nona,tuan muda kami tak bisa sembarangan disentuh,maaf jika saya tidak sopan !"Ujar Farhan,wanita yang bernama Diva anak tunggal dari tuan Sandi itu malu bukan kepalang.
Axel mendongak ia tatap lekat mata penuh damba itu,"tentu aku ingat,kau adalah salah satu anak yang dulu membully ku karena aku tak punya ibu."Jawaban menohok Axel membuat Diva melipat bibirnya kedalam,ia tak menyangka jika Axel masih sangat mengingat kejadian yang sudah sangat lama itu.
"Itu sudah sangat lama Axel,dan waktu itu kita masih anak anak,jadi apapun yang keluar dari mulutku itu hanya bualan saja,"Diva mencoba mencari pembenaran untuk aksinya di masa lalu.
Salwa terkekeh,"Jika masih kecil saja tak bisa menjaga bicara bagaimana jika sudah remaja dan dewasa,"lirihnya.
Diva yang mendengar perkataan Salwa langsung membuat nya naik pitam,"Apa maksud mu ?"ia tatap Salwa bengis.
Salwa mendongak menatap wanita yang tinggi nya bagai pagar rumah hadinata ini,"Saya hanya mengatakan apa yang ada di benakku saja,maaf jika anda tersinggung nona."Salwa menundukkan kepalanya tanda permintaan maaf.
__ADS_1
Diva yang tak mau lepas kendali memilih kembali kemeja nya,iatersenyum memandang sekitar walau banyak orang yang menggunjingnya karena mendengar lamat lamat apa yang Axel katakan tadi.
"Good job,sayang !"Axel tersenyum kepada Salwa,"enggak usah ge er,aku paling tidak suka dengan penindasan,jadi spontan saja mengatakan itu."Salwa menoleh kearah berlawanan dan meminum jus yang ia pegang.
Semua yang Axel dan Salwa lakukan tak luput dari tatapan seseorang yang berada di meja lain."Jadi benar mereka punya hubungan,bagaimana jika Ara tahu semua ini,ia pasti akan semakin mendesakku untuk mendapatkan pria sialan itu."Pria pemilik GS club itu memandang penuh amarah kepada sejoli yang sedang di mabuk cinta tersebut.
"Ax,aku mau ketoilet bisa tunjukkan jalannya saja ?"
"Tidak,aku akan mengantar !"Axel merasa was was,karena ia tahu jika ia sedang di awasi.
Salwa yang tak tahu jika bahaya sedang mengintainya tetep kekeh untuk kekamar mandi sendiri,Axel yang tak ingin Salwa bertanya yang macam macam ia hanya bisa pasrah merelakan Salwa untuk ke toilet tanpanya.
"Han,awasi Salwa!" Axel berbicara pada Farhan lewat jam tangan yang ia kenakan.
Sedangkan Diva beserta kedua orangtuanya sedang saling tatap,"papi bilang jika Axel belum punya kekasih,lalu siapa wanita kerdil di sampingnya itu ?"
"Maaf Div,om Erland mengatakan jika Axel tak pernah punya pacar,jadi mana papi tahu,tiba tiba ia datang membawa seorang wanita kesini,bisanya ia hanya akan datang bersama asistennya itu dan sekretarisnya yang nama nya Sania."Ujar sang ayah membela diri.
Diva hanya bisa mendengus,walau dulu ia sangat tidak suka dengan Axel yang suka menyendiri setelah di tinggal sang ibu,namun kali ini berbeda.Pria introvet itu kini sudah menjelma menjadi pria tampan yang sangat memukau.
"Bruk,au !"Salwa terkejut karena tertabarak oleh alat kebersihan yang dibawa oleh salah satu OB.
"Maaf nona,saya tidak sengaja !"Ujarnya sembari menyentuh tubuh Salwa seolah takut wanita itu cedera.
"Tidak apa apa kak."Salwa tersenyum.Tanpa Salwa sadari pria itu menyuntikkan sesuatu ke lengan Salwa menggunakan alat kecil yang terselip di balik punggung tangannya.
Salwa berjalan menuju keruangan pesta,namun sebelum benar benar keluar dari lorong kamar mandi,Salwa terjatuh.
__ADS_1
"Target off bos !"
"Pria di seberang sana terkekeh,"hanya begitu saja pengawasan seorang Hadinata."Ck !"