SUAMI KU DAUN MUDA

SUAMI KU DAUN MUDA
Bab 46 - Saling mencari titik kelemahan


__ADS_3

Derap langkah tergesa membuat para pelayan yang ada di Vila itu mengernyit dan berbisik kira-kira akan ada kejadian apa lagi pikir nereka.


Cek lek


"Nyonya aku bisa jelaskan..


"Untuk apa kau membawa pengawal ku Vin!" wanita itu memekik dengan mata memerah.


Malam setelah kejadian itu, Jerry asistennya mendapatkan kabar jika para pengawal yang di naungi sang nyonya mengalami luka-luka karena ulah seseorang yang mereka serang atas perintah dari pria pemuda ini.


"Jangan melakukan hal yang bisa menarik perhatian Si Hadinata itu! untung saja para pengawal itu menunjuk ke alamat rumah yang menjadi base camp mu, jika sampai mereka menunjuk kesini bisa bahaya!" kesalnya.


"Maaf Nyonya, aku hanya geram karena ia menyakiti adik sepupuku, aku pikir pengawal mu lebih jago pasti bisa mengalahkan pengawal Axel tapi rupanya mereka tetap kalah."


Sang nyonya meremas tangannya, ia sungguh kesal dengan sikap gegabah yang di lakukan pria muda di hadapannya ini, jika bukan karena ia masih membutuhkannya, nyawanya sudah melayang seperti temannya di kala itu.


"Aku tidak mau tahu, aku ingin semua transaksi ku tidak bermasalah di negara ini, jadi ku harap kau bisa menahan diri sampai semua yang kita lakukan bisa mulai berjalan dengan semestinya."


Si pria yang menjadi budaknya itu hanya bisa mengangguk, ia tahan rasa kesal yang sudah sangat ia ingin lampiaskan.


"Jer, sampai mana kamu mengumpulkan data tentang Si Hadinata itu?"


Jerry sang asisten memberikannya sebuah map, yang berisi data-data penting tentang tuan muda Hadinata.


Sang nyonya menatap seksama setiap tulisan yang tertera disana. ia amati dengan baik, takut tertinggal walau hanya satu kata.


"Benar dia tak memiliki siapapun di belakangnya?"


"Ia nyonya, ia hanya memiliki beberapa teman dan orang kepercayaan yang memang cukup handal di bidang mereka masing-masing, namun saya sudah pastikan tak ada jaringan tertentu yang ada di belakang nya," ujar Jerry.


Nyonya besar itu menatap ragu kepada Jerry sang asisten, jika pria itu tak punya sesiapa yang handal dalam dunia cyber, lalu siapa yang masuk ke sistem nya hampir beberapa kali. Ia memijat kepala nya, ini sungguh membuatnya ingin sekali menembak seseorang.


"Dasar wanita dungu." Benak salah satu dari mereka.


Beberapa waktu setelah ia sampai di Indonesia. salah satu anak buah yang ada di kota nya mengatakan jika ada yang menerobos sistem mereka, setelah di telusuri ternyata orang-orang ini mencari tahu tentang masalah yang terjadi 7 tahun yang lalu.


Nyonya Terarra, menyimpulkan bahwa ada yang mengetahui tentang beberapa anak buah nya yang sudah ia lenyapkan, dan tentu saja pasti mereka mencari tahu tentang apa yang sedang ia lakukan dulu ataupun sekarang.

__ADS_1


Balas dendam yang ia lakukan sesuai apa yang ia lihat dan dengar tanpa mencari tahu lebih dalam dari kebenaran itu sendiri. Padahal jika ia tahu, semua akar masalah hanyalah bualan dari pria yang tak menyangka jika apa yang ia lakukan, akhirnya melukai banyak orang.


***


Axel mengetuk-ngetukkan pena dengan ukiran emas itu di kepalanya. Ia sedang mengamati data-data yang kembali dikirimkan seseorang padanya, banyak yang janggal tapi ia bingung harus dari mana memulai atau mengingatnya.


Sedang kan Farhan tetap setia duduk di hadapannya menunggu perintah selanjutnya.


"Apa kamu sudah memeriksa kembali tentang kejadian 15 tahun itu Han?"


Farhan menegakkan tubuhnya, ia mengangguk menjawab pertanyaan Axel.


"Lalu apa yang kamu temukan, aku hanya mengingat jika aku dan ibu sama-sama berlari dari kobaran itu."


"Tapi dokter masih belum mengatakan jika ingtan anda itu falid kan pak?"


Axel memang tak ingat sepenuhnya tentang apa yang terjadi dikala itu, karena setelah bangun dari komanya, yang ia ingat hanya hal terakhir ketika seseorang menarik tangannya agar masuk kedalam lift yang tiba-tiba saja terbuka, setelah itu ia tak ingat lagi apa yang terjadi.


Namun karena sang ayah, Erland mengatkan jika yang menariknya itu adalah Rima sang ibu ia percaya saja, apa lagi setelah itu sang ayah mengatakan jika ibunya meninggal karena asma yang ia derita kambuh saat di dalam lift tersebut.


Axel juga percaya saat sang ayah mengantarnya ke sebuah makam yang tidak jauh dari kediaman kedua orang tua sang ibu yang kini memilih tinggal di kampung mereka setelah kejadian itu.


Farhan juga tak tahu pasti kenapa si pengirim pesan mengatakan jika ia harus menggali lagi kejadian itu, karena memang si pengirim menemukan jika ada satu orang penting yang juga meninggal karena kejadian itu dan ada sangkut pautnya dengan orang yang selama ini menganggu Axel lewat dunia maya atau nyata.


"Han, list apa saja yang harus aku cari tahu, dari awal. Aku akan ke tempat Max, sudah sampai mana ia bekerja!"


"Baik pak!"


Axel melangkahkan kaki nya keluar dari dalam kantor, namun saat ia sampai di loby ia berpapasan dengan sang ayah.


"Mau kemana kamu,menemui istri jandamu itu?" sarkas sang Ayah.


Axel mendesah lelah, jika pria di hadapannya ini bukan ayahnya, sudah ia maki dari tadi.


"Urus saja urusan Ayah, jika ayah masih mau perusahaan ini aku pegang dengan baik, jangan campuri urusanku!"


Axel berlalu begitu saja melewati sang ayah, bukan ia tidak lagi menghormati atau menyayangi ayah nya, namun ia sungguh kecewa dengan sikap ayahnya yang tidak tegas dan plin plan.

__ADS_1


Paruh baya itu terdiam, ia memandang lurus ke depan membisu.


.


.


.


Sinar matahari menyeruak masuk kedalam celah jendela besar sebuah apartemen mewah dengan view pantai buatan, sungguh pemandangan ini sangat menyegarkan mata pria yang sedang memegang segelas kopi yang baru saja ia buat. Asap terlihat mengepul membuat aroma kopi itu memenuhi setiap sudut ruangan apartemen.


Lembur hingga jam 4 pagi sungguh membuat mata dan lehernya sangat lelah. Demi sebuah kesejahteraan otak nya ia berehat sebentar agar tak di landa depresi di usianya yang masih sangat muda.


Sungguh konyol bukan, pria tampan, mapan, tapi gila? itu tidak mungkin. Ia terkikik sendiri membayangkan jika hal itu terjadi padanya.


"Puk!"


Tepukan sedikit keras membuat lamuanannya buyar seketika. Ia menoleh kebelakang mendapati seseorang yang selalu membuat nya stress hanya dengan sentuhannya saja.


"Kau mengganggu khayalanku!" desis Max.


Axel terbahak, ia menggelengkan kepalanya mengejek.


"Kita hidup di dunia nyata Max, sedang kan kau selalu hidup di khayalanmu!"


Axel melangkahkan kaki nya menuju ruangan lain, meninggalkan pria blasteran itu.


"Sialan kau!" seru Max yang akhirnya mengekor kemana Axel pergi.


...❤❤❤❤❤❤...


Hai gengs...terima kasih sudah membaca Suamiku Daun Muda, serta dengan iklas memberikan like serta komen sebagai dukungan..🙏🙏❤❤


Aku ada cerita nih dari teman aku, karyanya bagus jangan lupa mampir ya..


Napen : Imamah Nur


Judul : TERPAKSA MENIKAH PUTRI MAFIA

__ADS_1



__ADS_2