
Rombongan para petinggi perusahaan yang datang membuat gempar seluruh ART Media. Axell yang dikabarkan tengah sakit dan menjalani perawatan intensif kini sudah berdiri di hadapan mereka sehat tanpa cacat sedikitpun tidak sama dengan berita yang santer diberitakan oleh sang paman. Jika Axell lumpuh dan tidak dapat beraktivitas.
“Han?” panggil Axell. Pria bernama Farhan itu mendekat.
“Iya, Pak.”
“Kenapa semua staf memandangku seolah - olah aku habis bangkit dari kubur?” tany Axell sambil membolak balik berkas yang ada di meja kerjanya.
“Karena, Paman Anda mengatakan jika Anda sedang dalam perawatan dan mengalami kelumpuhan, Pak.”
Axell menghentikan kegiatannya dan menatap tajam kertas - kertas di hadapannya. Dia membanting map berwarna merah itu sedikit keras sambil berdecak.
“Apa, Ayahku tidak pernah ke perusahaan selama aku dirawat?” tanya Axell.
“Beliau kesini hanya untuk mengatakan jika wewenang perusahaan di bawah kendali adik iparnya, selama Anda sakit Pak.”
Axell tidak mengerti kenapa ayahnya yang dulu sangat perkasa kini seperti keledai. Bahkan dia tahu benar bahwa pria matang tak beristri namun sudah terlalu sering keluar masuk pintu gua itu tidak pernah becus dalam bekerja.
“Sepertinya Ayahku memang sengaja membuat perusahaannya bangkrut. Bagaimana jika kita lakukan saja,” cibirnya sambil menarik nafas.
Farhan dan Sania yang berada di sana hanya bisa diam tak berkata apapun mereka takut salah bicara.
“Lalu, apa saja yang kau temukan, Han?”
Farhan berjalan mendekat dan meletakkan sebuah flashdisk di meja kerja milik Axell.
“Disana tercantum nama - nama siapa saja yang selama ini mendukung tuan Damar, Pak. Dan semua aset yang dihasilkan dari mencurangi tender sudah semua terangkum disana. Dan…” Farhan menjeda kalimatnya sambil menelan salivanya.
“Dan?” ucap Axell.
“Dan nama ibu tiri serta nama kakak perempuan Anda, ada disana,” lanjut Farhan.
__ADS_1
“Kak Anita juga ikut terlibat?” tanya Axell cukup terkejut. Kakak yang selama ini tinggal di luar negeri dan selalu datang ke Indonesia jika membutuhkan sesuatu darinya itu ia kira tak akan selicik ini. Axell sungguh tidak mengerti ada apa sebenarnya dengan keluarganya sekarang. Jika dia melihat kejahatan di dalam diri ibu tirinya itu sudah biasa di lihat an dirasakannya, tapi sang kakak yang dia kira tidak peduli justru diam - diam melakukan hal tidak terduga.
“Bekukan semua aset yang masih memakai nama Hadinata dan pecat semua yang ada di bawah kendali paman gilaku itu! Segera!” tegas Axell.
Farhan dan Sania yang melihat tatapan membunuh dari Axell bergegas keluar dari ruangan Axell dan mulai menjalankan misi sang Bos.
“Astaga! Kenapa Pak Ax, jadi galak begitu,” cicit Sania.
“Dia sudah mendapatkan seluruh ingatannya walau sedikit samar. Karena bagaimanapun waktu itu Pak Axell masih berusia 6 tahun. Kini dia ingin melindungi orang - orang baik di sekitarnya dan bertindak tegas.”
Sania manggut - manggut mendengar ucapan Farhan.
“Jadi sekarang dia tidak akan main - main lagi. Bahkan seluruh investasi yang sudah digelontorkan lewat tuan David. Akan diambilnya secara perlahan.”
“Maksudmu, Beliau akan membuat ART media bangkrut secara perlahan?” Farhan mengangguk.
Sania membulatkan mulutnya. Dia tidak mengira jika Axell sudah sampai dalam keputusannya ini. Tak ingin membuat Axell menunggu dan membuatnya marah. Kedua orang kepercayaan ini langsung bergegas menuju HRD.
***
“Kau hanya kacung Vin. Kau tidak berhak menjelekkan Jerry. Dia setia padaku sudah cukup lama. Alasanmu sungguh tidak masuk akal,” pungkasnya.
“Maaf Nyonya, aku hanya sekedar memberitahukan pendapatku saja. Jika Anda masih tetap percaya padanya maka maafkan saya karena telah berburuk sangka.”
“Kau masih selamat hingga kini karena kau di bawah kendaliku. Axell bisa saja segera melaporkan semua tindak tandukmu jika dia mau, tapi karena dia tahu dimana kau berkubu saat ini. Axell diam di tempatnya. Jad, tahu dirilah!” serunya.
Sedangkan pria yang bernama Jerry hanya bisa tersenyum smirk melihat pria muda bodoh itu dimarahi habis - habis oleh nyonyanya. Dia tidak tahu saja bahwa apa yang terjadi setelah ini akan lebih seru.
Sedangkan di kejauhan sana. Pria yang seharusnya berada disini tengah disiksa habis - habisan agar mau membuka mulutnya. Para interpol dan FBI yang sudah mengantongi beberapa nama itu kini sedang menunggu kabar selanjutnya dari seseorang yang tengah menyamar.
“Jer, sepertinya kita sudah terlalu lama berdiam. Sudah saatnya kini melayangkan perlawanan pada bocah tengil itu. Semua pengiriman di negara ini juga sudah selesai tinggal pembalasan dendam pada anak itu saja yang belum kita lakukan dengan maksimal.“
__ADS_1
Pria bernama Jerry itu mengangguk. Dia segera menghubungi seseorang agar memulai misi mereka.
“Kini hanya kepandaianmu yang bisa membuat pertarungan ini lebih seru, Ax.” Gumam seseorang itu dalam hati.
***
Brak
Pintu ruangan Axell didobrak cukup keras membuat Axell mengusap dadanya karena terkejut.
“Apa ini maksud mu?” teriak pria matang yang tak lain adalah paman tirinya itu.
“Kenapa, teriak - teriak! Bikin kaget saja.”
Axell bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah sofa ruangan itu.
“Silahkan duduk, Paman. Kita bisa bicarakan ini baik - baik, bukan,” ujar Axell dengan senyum tengilnya.
“Kenapa semua asetku kau bekukan. Dan kenapa semua jajaran ku kau pecat!” teriaknya kesal.
“Jangn terburu - buru, Paman. Ini masih aset belum bui ‘kan?”
Pria bernama Damar yang tengah memadu kasih bersama para wanita bayarannya terkejut kala mendapat telepon dari salah satu stafnya jika semua yang bekerja di bawah kendalinya dipecat secara tidak hormat oleh Axell. Damar yang mendengar jika bocah itu sudah berada di kantor cukup terkejut. Karena berita yang didengarnya Axell masih dalam pengobatan dan belum bisa melakukan apapun.
“Ayahmu tidak akan percaya jika aku melakukan itu semua!” dalihnya.
“Siapa yang tidak percaya?”
Suara seseorang yang sangat dikenalnya terdengar jelas di telinganya. Pria bernama Damar itu seketika menoleh menatap pria yang ia kira dungu selama ini justru diam - diam memantau semuanya lewat jauh.
“Kak!” Ucapnya terkejut melihat suami dari kakaknya ada di hadapannya sekarang.
__ADS_1
Tadi setelah Axell melihat seluruh isi Flashdisk dan mencermati seluruh isinya. Dia langsung menghubungi sang ayah dan memastikan jika pria paruh baya itu sedang tidak dirumah dan tidak bersama dengan sang istri. Setelah ia mengatakan jika sedang bersama asisten pribadinya. Axell meminta sang ayah untuk melihat email yang dikirimkannya. Dan sekarang pria itu hadir disini untuk membantunya memberantas semua tikus yang membuat sarang di perusahaanya.
“Aku memang sudah mencium gelagat tidak beres antara kau dan Yara. Namun aku sungguh terkejut jika kau dan Yara juga bermain - main di perusahaanku. Aku kira selama ini kau masih bisa aku andalkan ternyata kau tetap sama justru lebih buruk.”