SUAMI KU DAUN MUDA

SUAMI KU DAUN MUDA
Bab Enam Puluh Tiga


__ADS_3

Sunyi, rumah sakit yang biasanya ramai dengan hiruk pikuk pasien dan para perawat yang berlalu lalang, malam ini sepi, jam yang tertempel di kamar Axell menunjukan pukul 01.25 dini hari. Di kala seluruh penghuni rumah sakit sedang dalam mode istirahat, begitupun juga Salwa. Tetapi, ada seseorang yang tiba-tiba membuka matanya, perlahan dan berangsur iapun mengedipkan matanya menyesuaikan cahaya dari lampu yang masih menyala.


Bibirnya mulai bergumam, pelan. Memanggil seseorang yang tengah memegang erat punggung tangannya dan meletakkan kepalanya di samping lengannya, tertidur.


Ia gerakkan tangan yang terasa kaku itu pelan, bertahap hingga ia bisa mengangkatnya dan mengusap surai yang merumbai di kasurnya.


“Kakak!” panggilnya lirih, hampir tak terdengar.


Seseorang yang tengah tidur dengan bersidekap di sofa menajamkan pendengarannya merasa ada sebuah pergerakan. Karena ia tak ingin ada kejadian buruk menimpa sang nyonya atau tuannya, ia langsung berdiri dan mendekat ke arah ranjang pasien.


“Tuan Muda!” gumamnya tanpa suara, terkejut.


Pria yang tengah berbaring itu, tersenyum dan mengedipkan kedua matanya, meminta agar pria di hadapannya tak bersuara yang dapat mengganggu tidur sang istri. Tak ayal pria gurun ini langsung mejatuhkan dadanya, lega. Ia lega, akhirnya sang Bos siuman, walau tampak sekali ia masih cukup lemah.


Tak ingin membangunkan sang istri, Axell meminta Jun tak melakukan apapun, dan mengisyaratkan padanya agar melanjutkan kembali istirahatnya.


Jun, sang pengawal setia menunduk hormat dan kembali ke sofa, namun ia tak lagi memejamkan mata. Jun, memilih mengawasi keadaan, jika sewaktu-waktu Axell membutuhkan dirinya.


Salwa yang cukup lelah dengan tubuh dan pikirannya, sama sekali tak terbangun dengan usapan demi usapan yang Axell lakukan pada kepalanya.


Hingga tanpa sadar, karena terlalu nyaman dengan usapan itu, Salwa bahkan membenahi posisi kepalanya agar lebih nyaman, dan itu sukses membuat Axell tersenyum geli melihat sang istri yang sangat menggemaskan.


“Aku sangat mencintaimu, dulu, sekarang, selamanya! aku janji tak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita. Walau aku belum sepenuhnya ingat apa yang terjadi, namun satu hal yang pasti, kamu adalah orang terakhir yang bersamaku di lift itu. Seseorang yang rela kehilangan nyawanya, hanya demi menyelamatkanku, sama seperti malam dimana kamu, dengan sukarela membantu ku melawan preman-preman itu.”


Semua hal yang terjadi akhir-akhir ini, ternyata bukan sebuah kebetulan melainkan mereka bertemu memang atas takdir dari Allah. Berjanji saat nafas kian terkikis, agar selalu bersama, dan ternyata kini mereka bersama dalam satu ikatan sakral yang selalu Axell gaungkan, dulu saat bermain bersama dengan Salwa, 16 tahun yang lalu.


“Pokoknya, Kak Mahirra harus jadi istri Axell kalau sudah besar!” serunya Axell kecil.


“Hei, usiaku lebih tua Ax, mana mungkin kita menikah, usiaku berapa jika harus menunggumu besar!” kekeh nya, sembari mencubit hidung si kecil Axell.


Percakapan terakhir, sebelum akhirnya tragedi mengerikan itu terjadi dan membuat mereka terpisah selama 16 tahun ini.


***


Adzan subuh berkumandang dari masjid yang berada di area rumah sakit. Salwa, wanita ini seketika mengangkat kepalanya dan mengedip-ngedipkan mata. Ia terdiam memastikan jika sayup-sayup suara yang ia dengan adalah adzan.


"Jam 4.30.” gumamnya.

__ADS_1


Salwa merentangkan kedua tangannya keatas agar sedikit rileks, ia mengerjap beberapa kali agar rasa kantuknya sedikit hilang.


“Aku, sholat subuh dulu ya sayang! sebentar kok, setelah ini aku bersihin tubuh kamu! cup!”


Ciuman lembut di pipi Axell membuat Axell ingin sekali membuatnya mengatakan jika ia sudah sadar, namun ia ingin memberi kejutan kepada sang istri nanti.


“Jun! kamu nggak sholat?” tanya Salwa.


“Anda duluan Nyonya, saya akan menyusul nanti!” ujar Jun.


Salwa mengangguk, ia meneruskan langkahnya ke kamar mandi. untuk mengambil air wudhu yang menjadi salah satu syarat sah sholat.


.


.


Setelah salam yang terakhir, Salwa menengadahkan kedua tangan dan berdoa, setelah selesai dengan munajatnya, segera ia bangun, mengambil air hangat untuk mengusap tubuh suaminya. Hanya di bagian-bagian yang terlihat saja agar sang suami terlihat lebih segar.


“Nyonya, jika anda ingin mencari minuman hangat atau sekedar jalan-jalan di area rumah sakit, silahkan! saya akan berjaga disini.” Ujar Jun tiba-tiba.


“Kamu yakin meminta ku jalan-jalan sendiri di area ini?” Jun menggelang cepat. “Anda tidak sendiri, ada beberapa pengawal yang akan menemani anda di luar, tapi tolong jangan terlalu jauh!” pinta Jun.


Salwa pun menuruti perintah Jun, ia menyerahkan penjagaan Axell kepada Jun begitu saja, entah kenapa dengan mudahnya Salwa mengiyakan saran yang diucapkan kepadanya, atau memang hatinya menyadari jika sang suami sudah baik-baik saja, entahlah.


“Ya sudah, aku keluar sebentar sekalian mencari sesuatu!” ucap Salwa.


“Sayang, aku keluar dulu ya! sebentar kok, nggak lama!”


Salwa menegakkan tubuhnya, ia berdiri dan berjalan keluar ruangan, sedangkan Jun mengikutinya dari belakang.


“Jaga Nyonya, jangan lengah!”


“Siap bos!” ujar para bodyguard yang siap mengikuti Salwa, mengekor wanita itu di belakangnya.


Jun, menutup pintu erat, dan kembali ke sisi Axell lagi. “Anda boleh membuka mata Tuan?”


Axell membuka kedua matanya perlahan, ia menatap sinis ke arah Jun, dan membuat pria tinggi besar itu menunduk secara patuh.

__ADS_1


“Kenapa kamu biarkan Salwa keluar?” sinisnya.


“Saya tahu ada yang akan anda sampaikan kepada saya, maka dari itu saya meminta Nonya muda untuk menghirup udara sebentar.”


“Instingmu masih tajam, tidak pernah berubah!” kekehnya.


Dengan kekuatan yang masih belum sempurna, Axell mulai mengatakan hal yang memang sangat ia ingin sampaikan kepada Jun, obrolan itu didominasi oleh Axell dan Jun, ia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. 


“Bilang Max dan Bara segera selidiki orang itu, seluruhnya! jangan sampai ada yang tertinggal.”


Jun, mengangguk, ia segera keluar kamar dan memanggil dokter Jo, mengabarkan Jika Axell sudah siuman.


Jo, dengan sigap langsung keluar dari ruangannya, bahkan para pasiennya melihat kepergian Jo hingga mata mereka tak berkedip.


“Ada dengan dokter Jo!” 


Begitulah kira-kira gumaman mereka melihat sang dokter muda nan tampan itu berlari keluar dari ruangannya. Dari kejauhan Salwa mengerutkan dahi saat melihat Jonathan berjalan cepat menuju ke arah ruangan sang suami, tanpa ingin menduga, Salwa segera berlari takut-takut jika ada apa-apa dengan suami mudanya itu.


Salwa membuka pintu cukup keras, hingga membuat Jo, Jun dan Axell sendiri terkejut.


“Dokter, ada apa?” dada Salwa naik turn , ia menghentikan perkataannya dan mencoba mengatur nafas.


Salwa masih tak menyadari jika sang suami telah membuka matanya.


“Tidak ada apa-apa!” ujar Jo santai, bagai tak terjadi apapun.


Kedua bola mata Salwa membola, berjalan cepat bagai keadaan emergency serta dengan muka khawatir seperti itu ia mengatakan tidak apa-apa, hais! yang benar saja.


“Jangan bercanda–


“Sayang, kau tidak ingin memelukku?” suara yang sangat ia rindukan, memanggil namanya  begitu manja.


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


Maaf baru Up readers... 🙏🙏


 

__ADS_1


__ADS_2