
Axel tak menyangka jika ia akan berurusan dengan orang-orang di luar dugaannya, selama ini sejujurnya ia tak memiliki musuh, mungkin hanya beberapa orang yang tidak suka dengan ketenarannya, tapi Axel tak pernah menganggap mereka musuh selama mereka tak melakukan hal-hal di luar batas.
Tapi kini sepertinya ia tak lagi bisa tinggal diam, bagaimana pun orang-orang ini bisa merusak generasi muda jika sampai terjerumus dalam obat-obatan terlarang apa lagi dengan modifikasi yang memiliki efek mengerikan seperti apa yang di alami Salwa.
"Tapi kenapa obat itu tak berpengaruh padaku?"
"Bukan tidak berpengaruh, namun memang mereka hanya menyuntikkan dosis kecil padamu, makanya efeknya hanya semalam saja, bahkan ketika aku menyuntikkan obat penetralisir nya kamu masih bisa mengernyit sakit. Sedang kan dengan Salwa berbeda, mereka sepertinya sengaja membuat Salwa lupa diri selain efek obat sakti itu. Aku rasa orang-orang ini memang sengaja ingin mennghancurkanmu lewat orang-orang terdekat."
Axel menatap Jonathan dengan sorot mata yang tak bisa diartikan.
Menghancurkan?
Kata yang sungguh membuat bulu kuduk meremang, apa salah nya? apa yang telah ia lakukan? jika ini mengenai pekerjaan, pekerjaan yang mana? sampai membuat seseorang begitu ingin melihat sisi kehancuran dalam hidup seorang Axel.
Apa ada kesalahan yang telah ia lakukan tanpa ia menyadarinya?
Berbagai pertanyaan bersarang di kepala Axel, bahkan kenangan yang hingga kini masih terlihat gelap justru semakin gelap, bertanya? pada siapa, ini sungguh membingungkan.
"Aku harap kamu mulai berhati-hati sekarang, dan bilang kepada Max agar ia mulai waspada dengan segala pergerakan orang-orang yang menurutmu patut di curigai, bahkan jika orang itu keluargamu sendiri, karena aku masih belum yakin, jika apa yang ayahmu katakan tentang kejadian itu seluruhnya benar adanya, apa kamu pernah tanya dengan mbok Jum perilah ini?"
"Mbok Jum waktu kejadian itu ia sedang pulang kampung, jadi ia tak terlalu tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi mbok Jum pernah mengatakan jika suatu saat ia yakin kebenaran tentang meninggalnya ibuku pasti terungkap."
"Sepertinya kamu harus mulai mencari tahu ini dari keluargamu sendiri Ax, bukannya aku pernah mengatakan itu padamu!"
"Aku sudah mencari Jo, tapi tak ada petunjuk apapun!" Axel duduk di mejanya dengan menaruh kepalanya di kedua sisi tangannya.
"Apa kah kamu tak curiga kenapa kejadian kebakaran di mall itu tak ada berita nya, aku yakin pasti ada pihak kuat yang meredam berita-berita itu agar tak menjadi buah bibir di masyarakat luas."
Axel mengusap wajahnya kasar, sungguh ia juga ingin sekali bisa kembali mengingat kejadian itu, tapi apa boleh buat di samping saat itu ia masihlah amat kecil ia juga kehilangan ingatannya akibat syok dan kekurangan oksigen saat terjebak dalam kejadian itu.
"Kita akan bantu kamu, sampai masalah dan orang yang sedang menyaksikan ini dari balik layar mencuat kepermukaan, ia kan Jun?"
__ADS_1
Juna mengangguk seperti biasa, tanpa ekspresi.
.
.
.
Di lain pihak, Bima kakak dari Salwa, sedang berada di Mall, tepatnya di ruangan David sang CEO, sesuai apa yang disarankan oleh Axel, akhirnya Bima mau bekerja disana, setelah Axel mengatakan jika Mall besar yang baru beberapa tahun di bangun itu tak ada sama sekali nama Hadinata di belakangnya.
"Jadi Pak Bima, posisi apa yang ada inginkan?" tanya David.
Bima terpana dengan pertanyaan yang David lontarkan. Memang seberapa kompeten kah ia sampai jabatan saja harus di tawari.
"Maaf pak David saya kesini di minta oleh pak Axel, dan sebelumnya saya sudah mengatakan jika saya di beri jabatan sesuai keahlian saya saja." ujar Bima sopan. Ia tak tahu saja jika pria di hadapannya ini juga hanya seorang anak buah.
"Baik kalau begitu, anda yakin tidak ingin menjadi asisten saya?"
"Bapak kan sudah ada asisten, jadi saya rasa tidak perlu! saya tetap pada jabatan yang saya mampu saja."
David mengangguk, benar kata Axel pria di hadapannya ini memang tak perlu lagi di uji, jabatan dengan gaji yang tentunya lebih dari sekedar manager, namun pria matang ini tak tergiur.
"Ya sudah pak Bima, anda bisa ikut asisten saya ke ruangan yang sudah di siapkan untuk anda sesuai permintaan pak Axel, kali ini jangan di tolak. Bagaimana pun anda adalah kakak iparnya, jadi saya rasa jika pak Axel memberikan sedikit fasilitas itu kepada anda, saya rasa tidak apa-apa." ujar David dengan sedikit senyum tersungging di bibirnya.
Bima hanya bisa tersenyum sopan, mau menolak juga sepertinya tidak mungkin. Iya in ajalah, ngapain dibikin susah Bim! bicaranya dalam hati.
Sebagai formalitas, David memberikan beberapa lembar kertas agar Bima menandatanganinya, Bima mengambil pena yang ia bawa untuk menaruh sign di atas lembaran kertas-kertas itu setelah membacanya dengan teliti.
David mengulurkan tangannya, sebagai tanda selamat datang untuk Bima yang sudah mau bergabung dan ikut mengembangkan Mall yang ia tangani.
***
__ADS_1
Esok hari di kediaman Axel, Salwa yang tadi malam tidur nyenyak setelah tamu bulanannya bisa keluar secara normal tak lagi merasa kan sakit, namun walau begitu Axel masih sangat cemas, bahkan ia tidak tidur demi menunggu istrinya agar tetap nyaman dalam tidurnya.
"Ax, jika lelah tidurlah lagi, aku tahu kamu tidak tidur kan semalam?"
Axel tersenyum, ia belai pipi yang mulai sedikit cubby itu lembut. "Tidak masalah sayang, yang penting kamu baik-baik saja, itu sudah cukup bagiku."
Salwa mendekat ke arah Axel dan memeluk tubuh kekar itu erat, ia rebahkan kepalanya di dada sang suami dan menggambar abstrak disana.
"Kenapa? apa yang kamu cemaskan?" Axel mengusap surai indah milik Salwa agar wanita itu merasa aman dan nyaman.
"Jika sampai tua kita tidak di beri keturunan, apa kamu akan bosan jika hidup berdua saja denganku?" Salwa berucap dengan nada yang sungguh sangat sendu.
Axel seketika menghentikan usapan lembutnya, saat mendengar apa yang di ucapakan sang istri. Jika aku di tanya apa harapan terbesarku hingga ajal menjemput? jawaban ku adalah bisa memiliki mu hingga sampai waktu terakhir. Anak hanya titipan, tapi kamu ? Allah sudah memberimu padaku untuk ku jaga seumur hidup ku. Bahkan aku berharap di dunia sana nanti, aku tetap bisa bersama dengan mu.
"Ax!"
"Hem!" Axel menatap manik mata sang istri yang juga sedang menatapnya.
"Kenapa melamun?" tanya Salwa.
"Siapa yang melamun, ada atau tidak seharusnya aku yang merasa bersalah sayang, kenapa jadi kamu yang bertanya begitu padaku?" Axel mencubit mesra hidung mungil milik Salwa.
Salwa tak lagi menjawab, ia justru semakin mempererat pelukannya dan mencium aroma tubuh suami mudanya itu rakus.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
Assallamualaikum readers.... selamat malam...
masih setiakan ya??
Aku ada cerita baru nih dari temen sesama penulis, yuk cari nama pena Anggraeni.arp hanya di NOVELTOON ya gengs...
__ADS_1