SUAMI KU DAUN MUDA

SUAMI KU DAUN MUDA
Bab 58 - Naluri istri


__ADS_3

Darah segar mengalir dari kepala bagian sisi kiri Axel, benturan yang terjadi dalam sekejap mata itu membuat Axel langsung mengalami penurunan kesadaran. Sedangkan truk yang menabraknya juga cukup terkejut, sang sopir langsung keluar dari dalam truk karena menyadari kesalahannya.


Para warga yang menyaksikan kejadian itu langsung berkerumun, dan terlihat beberapa orang juga berusaha menghubungi 118 agar Axel dapat segera tertolong.


Tak lama, ambulance yang mereka hubungi datang, para tim kesehatan segera membantu Axel keluar dari dalam mobil yang ia kendarai, warga memang tak ada yang berani membawa nya keluar, karena takut jika akan salah menarik atau menekan luka yang seharusnya tak tersentuh.


"Astaga, dia CEO muda itu kan?" seru salah satu wanita berhijab yang ikut medekat ke arah mobil Axel.


Para warga seketika mengamati Axel dan ternyata benar, beberapa warga mengenali wajah CEO muda yang wara wiri di majalah bisnis, walau darah menutupi sebagian wajah tampannya.


Setelah berhasil mengeluarkan Axel dari dalam mobil, mereka mencari alat komunikasi yang dapat membantu mereka segera menghubungi kelurga, dan beruntung ponsel Axel baik-baik saja dan tidak dalam kondisi terkunci.


Di dalam ambulance, salah satu tim medis mencari nomor terakhir yang menghubungi Axel dan ternyata disana tertera nama Farhan di panggilan masuk sesaat kala mobil itu terguling.


Farhan menghubungi Axel karena ia mendapat sebuah informasi tentang penyusup yang berhasil masuk ke dalam kantor Axel, namun ia tak tahu jika bersamaan dengan itu Axel mengalami kecelakaan.


Jika Axel tengah berjibaku berusaha mempertahankan kesadarannya yang terus menurun, lain halnya dengan Bima sang abang ipar yang baru saja tiba di kediamannya.


"Tumben, sore bang, pulangnya?" tanya sang istri yang sedang membaca majalah di ruang tamu.


"Iya, nggak tahu pengen pulang cepet saja!"


Nayla langsung mengambil tas kerja sang suami, dan mencium tangan pria yang sudah menjadi pasangan halal nya selama lebih dari sepuluh tahun itu takzim.


"Apa kamu menghubungi Salwa hari ini, sayang?"


"Iya, satu jam yang lalu aku menghubunginya, Axel masih mengurungnya di rumah!" jawab Nayla terkikik.

__ADS_1


"Abang sendiri mau sampai kapan menyembunyikan rahasia itu dari mereka?" tanya Nayla.


Bima, menatap sang istri sejurus kemudian ia kembali menunduk. Bima mengatupkan bibirnya sembari membuka kancing lengan kemejanya dan melepas sepatu yang masih bertengger di kedua kakinya.


"Bang!" panggil Nayla pelan.


Bima membuang nafas kasar, ia tak tahu, apa yang harus ia jelaskan kepada sang adik dan suaminya itu mengenai masa lalu mereka. Bukan Bima menutupi segala hal yang terjadi, namun jika melihat bagaimana dulu sang adik sangat terpukul atas kejadian itu, sungguh ia lebih memilih terus diam dan merahasiakannya saja.


Akan tetapi ternyata takdir berpihak kepada mereka berdua, setelah hampir 15 tahun lamanya tak bertemu, mereka bertemu kembali dan sekarang telah mejadi sepasang suami dan istri, tanpa tahu takdir mereka sebelumnya.


"Aku tahu sayang, tapi aku takut luka di hati Salwa akan kembali membuatnya depresi seperti kala itu, jika kembali mengingat insiden itu," ujar Bima.


"Tapi bagaimana pun takdir tetap mempertemukan mereka, Bang! Salwa yang selama ini susah sekali di dekati oleh pria bisa luluh dengan mudah di hadapan anak itu, dan itu pertanda jika di hati Salwa, Axel tak pernah hilang dari ingtannya." Ujar Nayla panjang lebar.


"Tapi menurut Abang, apakah tuan Hadinata sama sekali tak mengenali Salwa teman kecil anaknya itu?" lanjut Nayla.


Bima mengingat bagaimana kejadian itu hampir membuatnya hidup sendiri di dunia ini, tak berselang lama kala ia mengendong Axel menuju dimana keluarga dan ambulance sudah menunggu di lantai satu Mall, tiba-tiba lift yang di tumpangi salwa terjun bebas hingga lantai satu dan menghantam lantai cukup keras.


***


Di sebuah Rumah sakit, dimana ambulane membawa Axel untuk segera di tangani, kini pria itu sedang berada di meja operasi, setelah mendapat persetujuan dari Farhan agar segera di lakukan tindakan. Farhan tak lupa menghubungi Jonathan agar menyusulnya kerumah sakit tersebut.


Setibanya di rumah sakit, Farhan segera meminta bertemu dengan dokter yang menangani Axel, untuk tahu bagaiman kondisi Axel saat ini.


Seorang suster mengantar Farhan,masuk kedalam ruang UGD yang langsung terhubung dengan ruang operasi, penanganan pertama untuk korban kecelakaan.


Selang beberapa menit, seorang dokter pria berusia matang, keluar dari dalam ruangan itu untuk menemui Farhan.

__ADS_1


Sang dokter menarik nafas dalam sebelum mejelaskan secara singkat kondisi si pasien.


"Akibat benturan itu, ada luka robek yang cukup dalam di kepala bagian kirinya akibat goresan dari kaca yang pecah berhamburan,Bahkan beberapa pecahan kecil masih menempel di kulit kepala Pak Axel. pada bagian tulang lengannya juga bergeser mas," ujar sang dokter.


Frahan hanya bisa tertunduk lemas, baru saja beberapa jam lalu sang atasan dalam kondisi baik-baik saja, tapi sekarang? takdir tak ada yang tahu. Dokter pria itu hanya bisa menepuk pundak Frahan untuk menguatkan, setelahnya ia segera kembali kedalam ruang operasi untuk membantu tim yang menangani Axel.


Tak ingin berdiam diri saja, Farhan langsung meminta Max dan Bara untuk mengusut CCTV yang ada di tempat kejadian, Max serta Bara awalnya cukup syok mendengar Axel kecelakaan padahal beberapa waktu lalu, mereka masih mengobrol. Tanpa menunggu apa-apa lagi mereka segera bertindak mencari tahu jika kecelakaan itu murni atau sabotase.


Kini Farhan sedang duduk sambil meremat kedua tangannya, ia bingung bagaiamana ia akan mengabari Salwa, sungguh ia tak ingin membuat wanita itu terkejut. Akhirnya Farhan memilih menghubungi Jun, dan mengabarkan hal ini serta menghubungi Bima agar datang ke kediaman sang adik untuk menemani Salwa.


Sedangkan Jun, hanya bisa terdiam mematung tatkala mendapat kabar dari Farhan atas apa yang menimpa bos mudanya tersebut. Bahkan panggilan Salwa tak ia hiraukan.


"Jun!" Seru Salwa mendekat dan meneriaki sang pengawal tepat di telinganya.


Jun terkejut hingga ponsel yang ia pegang terjatuh cukup keras.


"Ya Allah, maaf Jun aku nggak sengaja!" Salwa merasa tak enak karena sudah mengangetkan pria tinggi ini.


"Tidak apa Nyonya, saya yang tidak fokus!" ujarnya. apa yang harus ia katakan kepada Salwa mengenai Axel yang kini seang berada di meja operasi, sungguh ia tak bisa mengatakan apa-apa sekarang, ia takut Salwa akan syok yang akan mempengaruhi kesehatannya kembali.


"Apa Axel masih sangat sibuk di kantor ya, Jun? barusan aku menghubunginya tapi tak mendapat jawaban, Farhan juga, susah sekali di hubungi." Keluh Salwa.


Dia adalah istri, hati dan pikirannya tentu lebih peka, tanpa ia sangka kekhawatirannya memang mendasar.


Tak lama, tiba-tiba Bima dan Nayla datang, berjalan sedikit tergesa membuat Salwa mengerutkan dahinya.


"Tumben mereka datang?"

__ADS_1


...🥀🥀🥀🥀🥀🥀...


__ADS_2