
Di dalam mobil, Salwa hanya melamun menatap kosong jalanan yang riuh dengan kendaraan, sedangkan Nayla yang berada di sampingnya sudah tak lagi bisa membendung airmatnya, Bima sang kakak yang berada di kursi depan sesekali menghela nafas panjang. Dan Jun sang tersangka utama, tetap fokus dengan kemudinya.
Seujung jalan, Salwa terus menekan jari telunjuknya dengan jempol tangan sebelahnya, hingga tanpa sadar darah mulai keluar karena robekan kecil yang di hasil kan dari tancapan kuku pendeknya.
Rasa perih, sudah tak lagi bisa ia rasakan, bayangan dimana ia harus menyaksikan Satya meninggal di depan matanya, sungguh membuatnya ingin ikut saja kala itu.
Kini ia harus merasakan kembali sakit, atas apa yang menimpa orang terkasihnya, apa kali ini sang kekasih akan tuhan panjangkan umurnya, atau-- entah, Salwa tak lagi bisa berbaik sangka.
Jun, sang pengemudi membelokkan setir mobilnya saat gerbang rumah sakit dimana Axel di rawat tepat di depan matanya. Ia kurangi kecepatan dan memakirkan mobil yang ia kemudikan di parkiran pengunjung.
Senyap, mesin mobil yang terdengar lirih tadi kini sudah Jun matikan, namun Salwa masih tak memperhatikan, padahal Nayla kakak iparnya sudah membuka pintu dan keluar. Suara riuh dari arah luar pun masih tak bisa membangunkan lamunannya.
Bima yang masih di dalam akhirnya memanggil panggilan kecil Salwa, dengan intonasi yang biasa ayah mereka pakai.
"Mahirra!" ucapnya lembut namun penuh ketegasan.
"Iya, Ayah!" jawab Salwa cepat, setelahnya ia memandang ke sembarang arah, dan tak hanya menemukan sang abang disana.
"Ayo, Suamimu, sudah menunggu!" tanpa menghiraukan jawaban Salwa, Bima langsung keluar bersamaan dengan Jun yang secepat kilat langsung membuka pintu untuk Salwa.
Salwa mengeluarkan satu kakinya, ia tatap bangunan rumah sakit yang menjulang tinggi itu, pikirannya kembali berkecamuk, Axel di kamar mana? ia takut naik lift, apa kah Axel ada di salah satu lantai itu? .
Mata Salwa tak berkedip, Jun mendekat seakan tahu apa yang dipikirkan wanita ini.
"Tuan Muda ada di lantai dasar Nyonya, ia ada di ruang ICU sekarang!" Salwa menganguk begitu saja, tanpa ekspresi.
Salwa keluar dari dalam mobil dan menuju pintu masuk rumah sakit, saat jaraknya semakin dekat ternyata Farhan sudah menunggu istri atasannya disana.
"Selamat datang! Bu Salwa!"
Salwa terus berjalan tanpa menghiraukan Farhan yang sedang menyapanya. Farhan berlari kecil berusaha menyamakan setiap langkahnya.
"Dimana Suamiku?" tanya Salwa.
__ADS_1
Farhan tak menjawab, ia giring Salwa menuju ruang ICU yang tak jauh dari UGD rumah sakit. Bima, Nayla serta Jun mengikuti dari arah belakang.
Sesampainya di lorong itu, Jonathan berdiri menyambut istri sahabatnya seraya menatap Salwa sendu, tatapan kosong itu sudah tak perlu lagi ia tanyakan, Salwa sungguh sangat terpukul, Jonathan paham akan itu.
"Dia di dalam, Dokter Jo?"
Jonathan mengangguk, ia membuka pintu itu agar memudahkan Salwa untuk masuk.
Salwa memegang dadanya, ia menarik nafas dalam, menguatkan dirinya sendiri agar tidak lepas kendali.
Pelan namun pasti, mulai terdengar bunyi alat-alat itu seakan saling bersautan, hanya suara itu tak ada suara Axell. Salwa mendekat kearah satu ranjang dengan posisi tirai yang tertutup, ia sibak pelan dan terlihatlah tubuh sang suami yang terbujur lemah dengan alat medis di sekujur tubuhnya.
Wanita ini menarik kursi di samping bed, dan duduk pelan tanpa mengalihkan pendangannya dari pasangan halalnya tersebut. tangannya mulai gematar, airmatanya jatuh tanpa permisi, hatinya tersayat, kemarin siang sang suami masih mengajaknya bercanda dan sekarang ia terbujur dengan beberapa luka di tubuhnya.
"Apa mereka menyakitimu Ax? apa ini ulah orang-orang itu?" lirih Salwa.
Sedangkan di luar, Farhan serta yang lain saling diam tanpa suara, mereka sangat tahu, dari seluruh rasa khawatir, tak akan ada yang bisa menggambarkan rasa khawatir yang Salwa rasakan.
"Maaf pak, Bima!" ujar Farhan tiba-tiba.
Bima mendekat ke arah Farhan dan menepuk pundak pria yang berusia jauh dari nya ini, pelan.
"Saya paham, tapi bagaimanapun, Salwa adalah orang yang paling terpukul karena hal ini jadi, saya minta tolong, jika emosinya sedikit memburuk, kalian harap maklum! bukan hanya sekali ia merasakan kondisi seperti ini." Ungkap Bima.
Jo, Jun dan Farhan mengangguk kompak. Di dalam, Axel yang masih belum memberikan responnya dari semalam, tapi kini air itu jatuh lewat sudut matanya, ia merasakan bahwa seseorang yang selama ini hilang dari hidupnya, telah kembali.
Salwa yang melihat itu, tersenyum. "Kamu tahu aku disini? Kamu menunggukukan?" Salwa tak lagi bisa membendung airmatanya.
"Aku datang, sayang! aku disini, aku tidak akan pergi!" lanjutnya.
Lagi, air itu mengalir kembali lewat sudut mata yang satunya. Salwa melengkungkan bibirnya melihat Axel merespon suaranya, sungguh dalam lelapnya Axel sangat gembira mendengar suara kecil itu lagi. suara yang sudah ia rindukan 16 tahun lamanya.
Salwa terus mengajak suaminya itu mengobrol ringan, ia juga tak henti-hentinya bersyukur masih bisa melihat sang suami dalam kondisi ruh masih berada di tempatnya.
__ADS_1
.
.
Waktu terus bergulir, sang surya kian meninggi dan mulai menampakan sinar teriknya, Salwa masih dengan mata sendunya menatap Axell yang masih terbaring di bed ruang ICU, Bima yang ingin mengajak Salwa beristirahat, kembali mengurungkan niatnya saat melihat Salwa masih menatap Axell tanpa mau mengubah posisinya.
Akhirnya Bima dan sang istri mencari kantin berdua saja agar bisa segera makan siang, karena setelahnya mereka juga harus menunaikan kewajiban mereka sebagai hamba Allah tang taat.
Sejujurnya mereka sebenarnya bisa saja makan dengan masakan yang Salwa buat tadi pagi, tapi jika mengingat masakan itu ia buat khusus untuk Axel, Nayla tak tega untuk menyentuhnya, apa lagi sampai memakannya.
Jun, pengwal setia itu memilih tetap menunggu sejoli itu di luar ruang ICU, sedangkan Farhan dan Jo sudah kembai ke tempat meraka masing-masing. Farhan, meminta ijin kepada Bima untuk tetap ke perusahaan karena ia harus menyelesaikan permasalahan yang terjadi disana.
***
Jonathan serta David sedang menyiapkan peralatan khusus untuk menyambut Axell di rumah sakit miliknya sendiri, rumah sakit yang Axel bangun bertujuan untuk membantu orang-orang yang memiliki masalah mental seperti dirinya agar memiliki wadah yang pas.
"Seberapa parah Jo?"
Jo menatap David yang duduk di sebelah nya, "goresan kaca itu tidak parah, namun benturan keras itu cukup membuat kepala Axel mengalami trauma, jadi dokter mengatakan jika kemungkinan Axel akan membutuhkan waktu untuk sadar, tapi kita doakan saja, semoga Salwa bisa menangani ini!"
"Ap, Max sudah memberitahumu tentang tragedi yang menewaskan orang tua Axel?" tanya David.
"Yah, Max mengatakan jika ternyata Salwa juga berada di tempat kejadian, Bahkan Bima kakak iparnya juga masuk di dalam korban selamat!"
David mengangguk, kini ia paham, kenapa Salwa dengan mudahnya mengaitkan hati nya kepada Axel, mungkin memang ada hal yang pernah mereka alami ketika mereka masih kecil, otak mereka mungkin melupakan, namun hati mereka tidak.
"Lalu bagaimana dengan persaanmu terhadap Salwa?" tanya Jo mentap tajam kearah depan.
David seketika menoleh, tatapan tajam Jonathan seakan sedang mengintimidasinya.
"Kamu bertanya atau mengintrogasi?"Tanya David.
...🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻...
__ADS_1