SUAMI KU DAUN MUDA

SUAMI KU DAUN MUDA
Bab 35 - Pelajaran Agama


__ADS_3

Arion Axell Hadinata pria yang kini berusia 22 tahun itu, sedang menikmati waktu yang tak akan mungkin terulang untuk kedua kalinya, tapi ia sudah bertekad menyatakan pada dirinya bahwa ia akan terus membuat gurat senyum lugas milik wanita yang kini sedang ia pandang dari sudut lain akan tetap seperti itu selamanya.


Jika semua orang mengatakan ia egois memaksakan kehendaknya dan terus menggoda wanita dewasa itu agar terjerat tali cinta nya,itu memang benar adanya, namun bukan hanya itu saja, dari awal pertemuan mereka di ART MEDIA hati Axel sudah terpanggil untuk terus mengingat mata indah yang tak sengaja bertabrakan dengan netranya.


Dan di pertemuan kedua di malam itu,membuat hati dan raganya tak lagi bisa jauh,seakan Salwa memakai sebuah magnet yang terus saja membuat Axel ingin mendekat tanpa Salwa melakukan apapun.


Axel tak pernah mengklaim bahwa apa yang ia rasakan adalah cinta, namun satu hal yang ia yakini bahwa semua hal yang ia rasakan pada wanita itu lebih dari sekedar kata itu sendiri.


Sampai pada hari ini,akhirnya ia bisa memiliki seutuhnya wanita itu,walau banyak hal yang harus ia sembunyikan tapi baginya itu tidak masalah asal wanita itu tetap tersenyum ia akan menanggung apapun resikonya.


"Ax!"


"Hem!" Axel terkesiap, terbangun dari lamunannya.


"Mandi gih, setelah itu solat dzuhur yuk!"


Axel menatap Salwa bagai ingin menelusuri setiap aliran yang melewati tubuh wanita itu. "Solat ?"


Salwa mengangguk, ia berjalan ke sudut kamarnya untuk mengambil mukena di dalam koper yang Bima bawakan.


"Ax!" mandi,ayok solat !"


Axel mengangkat tubuhnya, ia sambar handuk basah yang sedang berada di kepala wanita nya itu.


"Ax,rambut aku basah !" serunya.


"Aku mau pakai ini,whlee!" Axel menjulurkan lidahnya seperti anak kecil.


"Dasar bocil!" pekik Salwa saat Axel sudah masuk dan menutup pintu kamar mandi.


"Dia pakai pelet apa sih,cuma waktu tiga bulan aku sudah bisa jadi istrinya,hati ku juga kenapa enggak bisa nolak apapun permintaanya, padahal karena kelalaiannya aku hampir kehilangan ke hormatanku, tapi setiap aku menatap netra bulat itu keyakinan dan amarah ku hilang begitu saja."


Salwa terus bergumam lirih dalam hatinya, ia sungguh tak mengerti kenapa dengan para pria yang ada di sekelilingnya ia tak pernah bisa membuka hati. Sedangkan dengan Axel, dari awal berjumpa hingga pria itu menawarkan sebuah pernikhan, tanpa bersusah payah hati kecilnya langsung mengatakan iya, walau lisannya berkata lain.


Cek lek


"Aku sudah mandi dan wudhu, tapi bisakah kita solat masing-masing saja?"

__ADS_1


Salwa menukikkan alisnya tajam mendengar Axel mengatakan solat masing-masing.


"Memangnya kenapa tidak jamaah saja?" Salwa terheran dengan pria di hadapannya ini.


"Emmm...."


Axel mengusap leher belakangnya, ia berjalan mendekat kesisi ranjang dimana Salwa sedang meletakkan bokahan sintalnya.


"Maaf, aku sudah lama tidak pernah melakukan ini!"


"Maksud kamu?"


"Aku tidak pernah menunaikan itu yang namanya solat." Ujar Axel.


"Kamu tidak pernah melakukan kewajibanmu sebagai umat islam?" Salwa mentap tajam mata pria yang sudah sah menjadi suaminya ini.


"Emm, hanya solat. Yang lain aku mengerjakannya." Ucapnya takut takut bagai sedang di sidang ibunya sendiri.


"Apa ayahmu, tak pernah mengajarkanku beribadah Ax?"


Axel menggeleng,ia tundukan kepalanya dalam dalam. "lalu apa yang kamu pelajari dari ayahmu selama ini?"


"Apa uang sebanyak itu tidak mampu untuk membayar guru ngaji yang mungkin tak seberapa dari biaya pendidikan formal mu?"


Axel terdiam,selama ini sang ayah selalu memberikan fasilitas terbaik untuk menunjang pendidikannya agar bisa mengambil alih perusahaan, tapi ayahnya tak pernah mengajarkannya bagaimana hidup yang sesungguhnya, di KTP saja islam, tapi sang ayah tak pernah melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim yang taat.


Farhan sang asisten memang beberapa kali sering mengajak Axel untuk menunaikan ibadah wajib lima waktu itu, namun karena Axel tak pernah mendalami, ia sesekali saja ia melakukan, tapi selebihnya ia sering meninggalkannya.


"Jadi sampai kapan aku harus menunggu suami ku bisa menjadi imam solat ku?"


Axel menatap mendongak menatap Salwa, "Jadi apa kah ini alasan kamu meminta suster untuk menolongku ketika aku ingin solat di rumah sakit, karena kamu tak tahu apa yang harus di lakuakan?"


Axel mengangguk pasrah, "Fiks aku nikah sama bocah!" benaknya,Salwa menurunkan kedua tangan yang tadi bersedekap dan mengusap pipi Axel.


"Belajarlah, nanti kita akan cari guru ngaji yang handal untuk mengajarimu tentang bab agama, aku orang awam, jika masalah rukun saja aku bisa menjelaskan padamu, tapi selebihnya harus ada guru agar kamu bisa belajar dan mengenal luas apa itu agama yang sedang kamu yakini."


Axel kembali mengangguk bagai anak kecil yang telah selesai mendapat wejangan dari ibu, karena kenakalannya.

__ADS_1


"Ya sudah, solat sebisamu semoga ini menjadi awal kamu berhijrah Ax!"


"Terima kasih, kamu mau menerima lagi satu kekuranganku!" Axel tersenyum penuh kelegaan.


"Satu lagi, jika kamu mau malam pertama belajarlah bagaimana melakukan nya sesuai syariat islam, jika masih tidak tahu, kita tunda itu samapai kamu mampu."


Axel membulatkan matanya terkejut, ia tak menyangka jika hal seperti ini juga ada tata caranya. Kenapa setiap Farhan menyarankan ku belajar agama tidak pernah aku realisasikan, aku bodoh!


Salwa bangkit dari duduknya dan mengambil mukena , ia menggelar sajadah dan bersiap untuk melakukan kewajibannya.


Axel menatap sang istri yang sedang menggerakkan tubuhnya untuk menunaikan kewajiban utama sebagi seorang muslim, ia tatap dalam dalam, hingga tanpa sadar cairan bening itu mengalir di sudut mata nya.


"Bu, jika kamu masih ada apa mungkin sekarang yang ada di hadapnku adalah kau, apakah yang mengomel dengan segala kekuranganku adalah dirimu, apakah usapan di pipi ku juga adalah dirimu, aku sungguh merindukan mu."


Walau hanya samar-samar mengingatnya, apa yang sedang Salwa lakukan juga dilakukan sang ibu setipa harinya,seingatnya dulu sang ibu sering memakaikan kopiah dan menuntun Axel agar mengikuti gerakan ibunya, namun sayang nya belum selesai Axel kecil belajar dari sang ibu ia sudah di tarik sang ayah agar mengikutinya untuk belajar hal duniawi.


Ingatan tentang ibunya memang hanya tentang hal hal yang masih ada di memory otaknya, selebihnya semua hilang di telan insiden itu.


"Aku akan keluar menemui Abang serta yang lain, kamu solat lah, sebisamu dulu, nanti aku akan ajarkan hal yang kamu tidak mengerti. Kamu hafal Al-fatihah kan?"


Axel mengangguk, "aku hafal bacaan solat walau mungkin tidak sempurna." Ujarnya.


"Ya sudah, lakukan sebisamu dan tertibkan mulai sekarang, aku mau mengarungi dunia ini dan dunia abadi itu tetap bersamamu."


Axel langsung mendekap Salwa erat, ia sungguh beruntung mendapatkan wanita ini, tidak salah jika banyak sekali yang menaruh hati padanya, karena ia adalah orang yang sangat tulus dan berjiwa besar.


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


Hai pembaca setia bagaimana kabar kalian hari ini?


jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, terima kasih atas dukungan kalian hingga hari ini, I love you


Oh ya aku ada cerita baru nih dari teman sejawat.


nama pena : Yayuk Triatmaja


judul : Ranjang Sang Mafia

__ADS_1


jangan lupa mampir ya Readers..



__ADS_2