
Axel menatap geram hasil laporan yang Farhan kirimkan,ia ingin sekali mengebom dan meluluh lantahkan kediamannya saat ini.Ia sungguh tak menyangka jika sang ayah mampu melakukan hal yang bisa merendahkan maratbat Hadinata karena kelakuan liciknya.
Namun justru hal ini akan menjadi semangat untuk Axel untuk segera meminang Salwa,dan lepas dari ART MEDIA,ia ingin tahu bagaimana jika perusahaan itu berdiri tanpa nya,Axel ingin melihat bagaimana sang ayah akan mengurusnya nanti.
Sedangkan di kediaman Bima kini sudah lebih tenang,setelah polisi yang Farhan kirim mampu menyeret badan audit yang telah membuat kamar sejoli memadu kasih itu berantakan.
"Maaf pak Bima atas hal yang membuat anda tidak nyaman."Farhan dan Sania menunduk hormat kepada calon kakak ipar sang tuan.
Bima memundurkan sedikit tubuhnya atas perilaku Farhan dan sania ia merasa tak pantas mendapat perlakuan sopan dan hormat seperti itu.
"Maaf pak Farhan anda tidak perlu sungkan !"Ujar Bima merasa tak nyaman."Hal ini juga memang merupakan keteledoran saya,saya tidak mengecek secara detail nominal yang tertera di berkas pengajuan itu.
"Tidak Pak,semua ini memang sudah di rencanakan oleh seseorang agar seolah olah anda melakukan korupsi,Pak Axel sungguh minta maaf atas kejadian ini apalagi sebagian karyawan keuangan juga sudah tahu akan hal ini.Tapi saya yakin mereka yang mengenal anda pasti tidak akan percaya dengan mudah."Ujar Farhan.
Sania sekretaris Axel mengambil berkas di tasnya dan ia berikan kepada Bima.
"Apa ini Bu Sania ?"Tanya Bima sambil mengulurkan tangannya mengambil berkas yang disodorkan wanita cantik itu.
Sania tersenyum,"Itu adalah lowongan pekerjaan yang di tawarkan pak Axel untuk anda ja..
"Saya akan keluar saja dari ART MEDIA ibu Sania,saya tidak ingin membahayakan adik saya Salwa."Bima memotong pembicaraan Sania.
__ADS_1
"Pak Bima bisa dengarkan dulu penjelasan dari Sania?"Lanjut Farhan memohon.
Bima menoleh ke arah sang istri,Nayla pun mengusap lengan Bima dan mengangguk.Sania sekretaris Axel tersenyum ramah dan mulai menjelaskan isi berkas tersebut,setelah mendapat persetujuan dari Bima.
Lowongan pekerjaan itu bukan dari perusahaan milik Tuan Erland,namun dari sebuah Mall besar yang baru berdiri beberapa tahun ini.Sania juga menjelaskan jabatan yang akan Bima duduki,Sania memberi dua opsi kepada Bima,menjadi manager keuangan atau membantu sang CEO dari Mall tersebut.
"Maksud dari membantu CEO nya bagaimana ya Bu Sania ?"
"Menjadi tangan kanan nya pak.sekarang memang Tuan David sudah memiliki aspri namun ia membutuhkan seseorang lagi untuk menganalisis data keuangan tanpa ia harus repot menunggu laporan dari para bawahannya."Ujar Farhan.
Bima mengernyit,mana ada pekerjaan seperti itu,jika begitu lalu untuk apa pak David ini memiliki manager dan direktur keuangan dan para staf nya.Bima sungguh tak paham.
Farhan dan Sania tahu jika Bima pasti curiga dengan opsi kedua itu tapi bagaimana lagi ini adalah perintah dari Axel sendiri yang tak mungkin mereka bantah.
Bima masih terdiam ia tak bisa gegabah untuk memustukan hal ini,"Emm bagaimana jika suami saya berpikir dulu,Tuan Farhan ?"Tanya Nayla.
Farhan mau tak mau mengangguk ia tak ingin gegabah yang justru akan membuat Bima menolak dan membuatnya terkena omelan yang bertubi dari bos mudanya itu.
"Jadi kalau begitu kami permisi Pak Bima,kami masih ada bebrapa urusan."Bima berdiri bersamaan dengan Farhan dan Sania yang mulai melangkahkan kaki nya keluar dari kediaman Bima.
Mobil SUV hitam milik Farhan mulai meninggalkan kediaman Bima,"apa seserius itu pak Axel akan menikahi wanita ini?"Tanya Sania.
__ADS_1
"Jika tidak serius mana mungkin beliau sampai menentang ayahnya sampai begini,kamu tahu sendirikan selama ini pak Axel selalu diam dan setuju saja dengan semua hal atau aturan yang Tuan besar buat,walau pak Axel terkadang tak suka dengan aturan yang memang tak sejalan dengan hatinya ia tetap menurut kan ?"Sania yang berada di sisi Farhan mengangguk.
"Sebenarnya yang membuat pak Erland seperti ini adalah istri dan saudara ipar yang tidak tahu diri itu,padahal pak Damar tidak pernah melakukan tugasnya dengan baik di kantor tapi seolah dia yang sangat berjasa."Sungut Sania.
"Kita makan dulu yuk,aku laper ?"Sania tanpa sungkan menggelayuti lengan Farhan.Sedangkan pria itu hanya mengangguk sambil menahan sesuatu yang siap meledak kapanpun jika Sania terus berperilaku menggemaskan jika mereka sedang berdua saja.
"Enggak peka banget sih,apa coba kurangnya aku,awas saja jika bukan aku yang jadi istri kamu nanti !"Sania bergumam dalam hati,sambil terus memohon semoga pria baik di sampingnya ini bisa menjadi belahan jiwanya suatu hari nanti.
***
Sudah hampir satu minggu Salwa di rawat dan hari ini mau tidak mau Axel harus memberi ijin kepada wanita itu untuk pulang ke rumahnya,setelah Salwa mengancam akan kabur jika ia tak memperbolehkannya pulang.
Salwa merasa sudah sangat sehat walau luka tusukan kaca itu memang masih sedikit nyeri jika ia pakai untuk aktifitas yang berlebihan,namun rasa tak nyaman dalam hati nya membuat tekadnya bulat untuk segera keluar dari rumah sakit bak penjara bawah tanah itu.
"Masih ada satu tes lab lagi sayang,tidak bisakah kamu bersabar sedikit lagi ?"Axel mencoba merayu sebisa mungkin.
"Enggak Ax,aku merasa ada hal yang sedang di tutupi Yanti dan Jack,aku rasa pasti sedang ada masalah di kafe."Dua hari lalu ia mencoba menghubungi Yanti lewat ponsel Axel,namun ketika Salwa membahas tentang bagaimana kondisi kafe nya Yanti tiba tiba saja menjadi gagap dadakan yang membuat Salwa curiga jika ada yang tidak beres.Walau sebenarnya sejak kemarin kondisi kafe sudah mulai normal lagi walau masih tak seperti biasanya.Tentu saja smua itu tak luput dari bantuan yang Axel lakukan,setelah ia tahu bahwa masalah di kafe Salwa juga adalah perbuatan ibu tiri dan paman tirinya.
"Aku yakin semua baik baik saja Salwa !"Axel terus merengek bagai anak kucing yang akan di tinggal induknya.
"Kamu itu memang sengaja mau ngurung aku di sini dengan alasan yang sebenarnya kamu buat sendiri ya ?"Salwa menatap curiga kepada pria muda di sampingnya ini.
__ADS_1
Axel menelan ludahnya kasar,wanita di samping nya ini memang cukup peka.
"Enggak lah,kalau kamu curiga tanya saja Jo,semua pemeriksaan itu memang penting adanya sayang !"Axel merengek ia mengusap usapkan hidungnya dilengan Salwa,membuat Salwa merotasikan bola matanya malas,ia sungguh merasa sedang berbicara dengan adiknya bukan dengan kekasihnya.