SUAMI KU DAUN MUDA

SUAMI KU DAUN MUDA
Bab 59 - Janji Bima


__ADS_3

Salwa langsung menuju pintu saat Bima, Nayla, serta Allan melangkahkan kaki nya masuk ke dalam kediamannya.


"Tumben kesini nggak bilang, Ada apa Bang?" tanya Salwa penuh selidik.


Bima melirik ke arah Jun memohon bantuan agar bisa menjawab pertanyaan yang adiknya lontarkan padanya. Tetapi Jun malah pamit, mengatakan jika ia akan ke halaman depan meminta tambahan pengawal untuk menjaga rumah ini.


"Pengawal? untuk apa menambah pengawal yang sudah sangat banyak itu, pikir Salwa bermonolog dalam hati mendengar seruan Juna barusan.


Tak ingin ikut campur urusan pengawal pribadinya, Salwa beralih ke kakaknya yang tiba-tiba datang tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


"Tante gemukan ya Bu?" celetuk Allan, pria muda ini langsung mendapat cubitan di pipi gembulnya oleh Salwa.


"Kalau tante gemuk, tandanya om Axel bisa ngabulin semua apa yang tante mau!" ujar Salwa pamer.


"Masa sih? Om Axel kabulin semua permintaan tante, Allan mau dong! semua yang Allan pengen bisa di beliin!" rengek anak semata wayang Bima tersebut.


"Hus kamu tuh, emang apa sih yang nggak ibu sama ayah beliin? apa coba?" sungut Nayla tidak terima seolah-olah kedua orangtuanya ini pelit kepdanya.


Allan yang tak ingin mendapat jeweran dari sang ibu langsung berlari keluar dari ruang tamu menuju teras depan.


"Hai kembali kamu!" teriak Nayla, namun sayangnya punggung anak kesayangannya itu tak lagi terlihat.


Salwa dan Bima hanya bisa tertawa ngakak, melihat Allan kabur karena tak ingin mendapat kado indah dari jari jempol dan telunjuk sang ibu.


Setelah terdiam beberapa saat, Nayla langsung menarik pundak Salwa dan mengajaknya duduk di sofa ruang tamu agar mereka bisa lebih santai mengobrol, Salwa dengan pasti mengikuti setiap gerak langkah kaki kakak iparnya.


"Tadi Abangmu dapat telpon dari Axel, kalau kamu katanya bosan di rumah. Jadi kami memutuskan untuk datang, dan akan menginap disini, iya kan, Abang?" Nayla meneruskan perbincangan yang sempat tertunda karena celetukan Allan tadi.


Bima yang mendapat lirikan tajam dari sang istri justru tak menghiraukan, ia malah melamun dan tak segera menjawab pertanyaan Nayla.


"Abang?" ketus Nayla, sambil melebarkan kedua matanya.


Bima yang mendapat senggolan pada kakinya langsung mendongak menatap Nayla, dan langsung menganguk bagai kerbau di cucuk hidungnya.


"Tapi Axel belum pulang kak, ponselnya juga nggk bisa di hubungi, entah serumit apa masalah di kantor, sampai ia lupa menghubungi ku!" sungutnya bagai anak kecil yang gagal mengunjungi kebun binatang.


"Ya sudah sambil nunggu ia pulang, mending kita nonton drakor yuk, sambil nunggu suamimu pulang, biarkan Abangmu menemani Jun di sini!"


Bima melongo mendengar penuturan sang istri, menemani manusia gurun itu? apa tidak salah, yang ada justru nyamuk yang akan menemani mereka.


Salwa mengangguk antusias, selama ini jika Axel pulang larut ia hanya akan nonton drakor atau film kesukaannya sendirian di kamar, tapi kini sang kakak ipar akan menemaninya bahkan ia juga akan menginap, pasti rumah akan lebih ramai.


Salwa langsung mengajak Nayla untuk keruang tengah, disna ada Tv LED yang lebih besar dari pada di kamarnya.


"Kita nonton disini saja kak, karpet bulu ini belum pernah tersentuh sama sekali." Salwa menarik sang kakak duduk di karpet bulu yang jarang sekali terjamah oleh si pemilik rumah.

__ADS_1


"Memangnya kamu sama Axel kalo nonton di kamar terus?"


Salwa menggeleng, Nayla yang melihat gelengan di kepala Salwa menukikkan kedua Alisnya.


"Axel kalu di rumah nggak pernah nonton drama kak, dia nggak suka, justru ia sukanya bikin drama!" Salwa tertawa lebar.


Nayla yang menyaksikan tawa sang adik, tiba-tiba meremat kedua tangan yang berada di atas kedua lututnya, sungguh ia takut apa yang akan Salwa lakukan jika tahu sang suami kini tengah berjibaku di ruang operasi.


"Kak!" panggil Salwa saat ia mendapati sang kakak melamun.


"Kak!" panggil Salwa kembali.


"Iya Sal?" Nayla menoleh, dan menatap manik mata sang adik yang terdapat binar kebahagiaan itu.


"Kok, nglamun sih, ada masalah?"


Nayla menggeleng, ia tersenyum lalu meminta salwa menghidupkan smart Tv yang berada di hadapan mereka dan mulai menonoton drama lewat salah satu aplikasi disana.


***


Bima dan Jun yang sedang berada di depan kini sedang dalam mode diam, tak ada satu pun yang memulai pembicaraan. Bahkan Allan yang ada di tengah-tengah mereka merasa bingung, karena setahu ia sang ayah adalah orang yang cukup cerewet sama dengan sang ibu.


"Om Jun?" Allan mencoba mencairkan suasana.


"Om Jun dulu tentara ya? ototnya bisa sebesar ini?" tanya Allan membuat Jun menyunggingkan senyumnya.


Lah, bisa senyum juga nih orang, aku kira ia robot! Bima berbicara pada dirinya ssendiri.


"Iya Om dulu Tentara!" jawabya singkat.


Allan langsung berteriak heboh, ia tak menyangka jika dugaannya adalah hal yang benar, ia mulai bertanya banyak hal kepada Jun, pria berotot ini juga dengan antusias menjawab pertanyaan anak itu, di sela obrolan mereka Jun merasa ada yang sedikit mengiris hatinya, jika sekarang ia dan sang istri masih bersama, kemungkinan, ia juga pasti sudah memiliki anak yang cerdas seperti Allan. Namun sayangnya itu hanya khayalannya saja.


Saat ia kembali ingin menjawab pertanyaan Allan, ponselnya berbunyi. Tertera nama Farhan disana. Jun berdiri dan berjalan sedikit menjauh dari Allan dan Bima, agar bisa sedikit leluasa mendengar semua yang akan Farhan katakan.


"Iya pak Farhan?" jawabnya.


Terdengar suara yang cukup keras karena memang Farhan masih berada di depan ruang operasi, ia hanya mengabarkan jika operasinya berjalan baik, tapi Axel masih harus di ruangan itu sampai tak ada hal yang perlu di kawatirkan lagi.


"Baik pak, saya akan mengabarkan kondisi terkini kepada kakak ipar pak Bos!"


Setelah mengatakan itu panggilan pun di sudahi oleh Jun, ia berjalan mendekat ke arah kakak ipar sang Tuan.


"Bagaimana Jun?" tanya Bima.


"Lancar pak, hanya saja masih di perlukan sedikit waktu sampai tuan Axel di pindahkan ke ruang ICU terlebih dahulu," ujar Juna.

__ADS_1


Bima mengusap dadanya lega, tak lupa ia mengucap syukur kepada Tuhannya karena sudah memberi kelancaran pada operasi sang adik ipar.


"Setelah ini aku tak akan lagi menutupi apapun dari kalian, kalian wajib tahu masa lalu, yang kini membuat kalian terikat satu sama lain." Gumam Bima dalam hati seraya berjanji.


"Lalu kapan kita mengatakan kondisi ini kepada Nyonya muda, Pak?"


"Secepatnya Jun, paling tidak setelah Axel di pindahkan ke ruang rawat, baru kita beri tahu Salwa!" ujar Bima, Jun pun mengangguk pelan, karena Bima pasti lebih tahu kondsi emosi sang adik.


Keheningan pun kembali menyelimuti mereka, sedangkan Allan, si anak cerdas sudah masuk kedalam dan ikut serta menonton drama bersama ibu serta sang tante.


.


.


.


"Ada kabar nyonya!" Ujar salah satu pengawal yang membuntuti Axel.


"Kabar apa?" singkatnya.


"Pria muda itu mengalami kecelakaan tadi sore, mobil yang ia kendarai terguling di jalan utama menuju ke kediamannya, di sebabkan oleh sebuah truk yang menerobos lampu merah."


Sontak hal itu membuat sang nyonya tertawa lebar, tanpa menggunakan kedua tangannya pria muda itu kini sudah terkapar tak berdaya di atas bed rumah sakit.


"Aku harap ia akan segera menyusul sang ibu, dan wanita itu akan kembali kehilangan suaminya!"


Tawa puas, tawa yang suatu saat akan membuat malapetaka untuknya.


...🥀🥀🥀🥀🥀🥀...


yuk kembali dengan cerita baru dari teman sejawat,,


yang suka kisah wanita tangguh merapat yuk..


Napen : Indah Wulandari


Judul : AKU MAFIA BUKAN BIDADARI


Blurb :


Velia Selkova pergi ke negara lain untuk memulai hidup baru setelah di khianati suaminya. Baru saja ia mendapat musibah yang membuatnya terjun ke dunia Mafia karena sebuh perjanjian, Velia akhirnya menjadi ketua dari Klan Red Dragon itu membuatnya mendapat kesempatan untuk mengungkap pelaku yang ingin membunuhnya.


Setelah mengetahui semuanya ia ingin membalas dendam, bukan hanya balas dendam yang berhasil namun ia juga menemukan cinta yang menyembuhkannya dari luka lamanya.


__ADS_1


__ADS_2