SUAMI KU DAUN MUDA

SUAMI KU DAUN MUDA
Bab 54 - Dia muda, tapi Predator


__ADS_3

Hari ini, Axel dan Salwa kembali mengunjungi Jo kerumah sakit atas permintaan Salwa, ia ingin tahu seberapa tak berfungsinya organ-organ yang ada di area reproduksinya. karena kemarin jujur ia tak bergitu paham dengan penjelasan Jo, karena Salwa merasa sudah hancur duluan hanya karena mendengar ia akan sulit memiliki keturunan.


Axel meremat tangan Salwa mencoba menguatkan sang istri, sesekali ia mencium punggung tangan itu dan mengusapnya.


"Kamu yakin akan mendengar secara detail, tentang kondisi ini?" tanya Axel.


Salwa yang sedang fokus melihat ke arah luar jendela, menoleh menatap seseorang yang ada di sampingnya.


"Apa wajahku terlihat ragu!" jawabnya.


Axel menggeleng, ia usap pipi merah itu dan menarik sang istri ke dalam pelukannya. Axel tahu sang istri sedang sangat membutuhkan sandaran, ia tahu jauh dalam lubuk hati sang istri ada rasa takut serta tak nyaman.


"Janji ya, apapun kata Jo dan dokter kandungan itu, tidak akan mempengaruhi aktifitasamu, akhir-akhir ini kamu sering melamun!" tutur Axel.


Salwa mendongak begitupun Axel juga menekuk lehernya kebawah. Saling tatap membuat Axel tak kuasa.


Cup


kecupan singkat ia sarangkan di bibir mungil milik istrinya. Salwa melebarkan matanya dan mendesis. Dasar tidak tahu tempat, nggak nyadar apa ada duda yang sedang menyetir dan memperhatikan mereka dari balik kemudi.


Axel hanya mengedikkan bahunya, pura-pra tak tahu dengan isyarat yang Salwa berikan padanya.


"Dasar omes!" sungut Salwa.


Axel tertawa kecil, sungguh ia tak tahan jika menatap mata sang istri, entah apa yang ada di bola mata istrinya, tapi ia selalu terhipnotis hanya dengan tatapan dan senyuman itu. Seakan ia sudah terbiasa.


Sedangkan Jun yang sedang memegang setir pura-pura tak tahu, ia menutup telinga dan hatinya, agar tidak terbawa emosi melihat keromantisan sejoli yang sedang saling memeluk di belakangnya.


Tak lama, Jun membelokkan setir mobilnya dan masuk ke area parkir rumah sakit dimana Axel sering di rawat jika membutuhkan perhatian dari pihak medis untuk memeriksa kesehatannya.


Axel keluar dari dalam mobil, tak lupa ia memberi isyarat pada Jun, agar ia saja yang membuka pintu untuk sang istri. Axel letakkan telapak tangannya tepat di atas kepala sang istri agar Salwa tidak terkantuk pintu mobil. Salwa berdiri dan sedikit merapikan kemeja yang ia pakai, ia memegang lengan sang suami dan berjalan masuk dengan saling menyamakan langkah kaki keduanya.


Para perawat serta staf rumah sakit menyapa Axel hormat, bahkan ada yang sampai menundukkan kepala hingga tak terlihat wajahnya. Salwa sedikit heran, se terkenal itu kah suami mudanya ini sampai-sampai mereka bersikap seperti itu.


Axel hanya melirik sekilas ke arah sang isrti yang nampak heran dengan kelakuan orang-orang di rumah sakit ini.


"Selamat pagi Pak Axel!" sapa perawat wanita yang merupakan asisten Jonathan.


"Apa Jo sudah datang?" tanya Axel.

__ADS_1


"Beliau serta Pak kev sudah menunggu anda di tempat biasal!" ujarnya.


Axel mengangguk ia menarik pelan bahu sang istri menuju ketempat biasa ia membahas hal penting di rumah sakit ini. Salwa merasa aneh, apa iya tempat penting untuk sebuah pertemuan dengan dokter ahli lewat lorong begini, pikirnya.


Namun Axel tak menjelaskan apapun tentang rasa kawatir yang tergambar dari remasan tangan sang istri di jasnya. ia paham, batin Salwa pasti sedang betanya-tanya, masa iya ruangan penting ada di lantai dasar dan terpencil.


Klek


Jun mendorong pintu bercat hitam dengan aksen gagang pintu berwarna emas, ia mempersilahkan Axel dan Salwa untuk masuk. Dan ternyata...


"Wau!"


Salwa takjub! ruangan yang cukup luas serta terdapat beberapa alat olagraga yang berada di sudut sebuah pintu yang sepertinya adalah ruangan penting lainnya. Ada lemari pendingin, rak yang di penuhi dengan buku-buku kegemaran si pemilik serta satu set sofa hitam yang tampak sangat berkelas.


Akan tetapi, sepertinya aku pernah berada di ruangan seperti ini yah, tapi dimana, Salwa bergumam hingga tanpa sadar ia menjadi pusat perhatian seluruh orang karena kedapatan melamun.


"Kenapa sayang?" Axel mengeratkan rangkulannya.


"Ha, hem!" Salwa linglung karena ia tak mendengar jelas apa yang Axel tanyakan.


"Kamu ini kenapa?" tanya Axel kembali, ia menggiring Salwa agar duduk di sofa bersama dengan dua orang yang sudah meenunggu mereka.


Sontak perkataan Salwa membuat dua orang yang duduk berhadapan dengannya dan Axel terkekeh. Tentu ia tak asing, karena gaya ruangan ini hampir sama dengan ruang CEO ART MEDIA.


"Tentu anda tidak asing Nona, hampir semua tata letak di ruangan ini tema nya sama dengan beberapa ruang yang di miliki sang pemilik." ujar Jo.


Salwa mulai mengingat satu hal. ruang kerja sang suami yang berada di rumah tata letak dan perabotannya juga sama. Ia langsung menoleh menatap ke arah Axel dan mengernyitkan dahinya.


"Kenapa menatapku seperti itu?"


"Rumah sakit ini milik mu?" tanya Salwa tercengang.


Axel tak mengelak, ia anggukan kepalanya dan tersenyum kepada wanita masa depannya ini. Salwa menutup muliutnya, ia tak menyangka jika rumah sakit yang belum lama berdiri ini merupakan milik suaminya sendiri, sungguh ia tak menyangka.


"Aku pikir yang buat rumah sakit ini orang korea," lanjut Salwa terkikik.


"Korea?" beo Axel.


Salwa tersenyum, sedangkan dua dokter hebat yang sedang menyaksikan kemesraan ini hanya bisa menggigit jari masing-masing.

__ADS_1


"Khem! bisa kita mulai Pak Axel?" tanya dokter laki-laki yang sangat kompeten di bidang urusan organ kewanitaan.


Mata Salwa langsung tertuju kepada seorang dokter yang masih sangat muda, mungkin usia nya sama dengan Axel.


"Anda dokter kandungan, yang dari jerman itu?" tanya Salwa tak percaya.


Pria muda, dengan wajah orientalnya ini tersenyum ramah menatap Salwa.


"Jadi dokternya dia?" tanya Salwa mengarah, menatap kepada Jo.


"Iya, dia dokter yang kami minta khusus datang ke sini hari ini untuk memberikan pendapatnya tentang apa yang sedang menimpa anda!"


"Jadi dokternya muda begini? Salwa mengira jika dokter yang akan memeriksannya adalah dokter yang usianya mungkin sudah kepala lima atau mungkin lebih, karena sebelum berangkat tadi Axel mengatakan jika dokter ini sudah sangat berpengalaman. jadi Salwa kira...


"Muda sekali Ax?" bisiknya.


"Yah, dia hanya lebih tua dua tahun di atas ku dan itu sangat meneyebalkan!" gumam Axel malas, membuat dokter muda itu merotasikan bola matanya.


Salwa tak paham dengan kata menyebalkan yang Axel gumamkan. apa mereka-mereka ini semua berteman, karena sama sekali tak ada kecanggungan dari tatapan ketiganya.


"Apa kalian berteman?" tanya Salwa tertuju kepada mereka.


Axel menoleh menatap Salwa tajam, untuk apa menanyakan ini, apakah hal itu penting.


"Jangan menatapnya sayang, ia memang cerdas, tapi dia predator!"


Jo seketika terbahak, mendengar penuturan Axel, ia tak menyangka jika Axel akan cemburu hanya karena sebuah tatapan ringan dari Salwa yang mengarah ke pria yang duduk di sampingnya itu.


...🌻🌻🌻🌻🌻🌻...


Hai gengs... ada cerita on going lainnya nih, mampir yuk keren lo ceritanya..


simak dulu yuk!


Napen : Reni.T


Judul : Terjerat Cinta Mafia Tampan


__ADS_1


__ADS_2