
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Salwa yang mendengar ungkapan Axel langsung menjauhakan tubuhnya.ia meraih tisu,dan membantu Axel membersihkan darah di hidungnya yang masih mengalir,tanpa mau mendengar lebih lanjut lagi tentang apa yang Axel katakan tadi.
"Tidak perlu."Ujar Axel,karena Salwa ingin memencet tombol darurat yang ada disamping tempat tidur.
"Tapi pak."Sebelum Salwa menyelesaiakan perkataannya,Axel lebih dulu menarik Salwa agar lebih dekat dengannya.
"Saya tidak tahu ada magnet apa yang ada pada dirimu,tapi aku selalu merasa bahwa tidak hanya sekarang,namun jauh dari ini kita sudah pernah bertemu sebelumnya,sentuhanmu tidak asing untuk tubuhku."Dengan penuh penekanan Axel mengungakapkan isi hatinya.
Salwa masih tak mengerti tentang apa yang sebenarnya pria di hadapannya ini katakan,sentuhan yang bagaimana,pertemuan seperti apa,ia bingung.
Axel masih memegang lengan Salwa erat,Salwa mengerjap beberapa kali karena Axel memandangnya secara intens.
Cup
Sebuah kecupan singkat Axel layangkan pada bibir mungil wanita yang hanya memiliki tinggi 155 cm itu.Salwa melebarkan matanya,ia mematung.Salwa tercekat,seperti ada sesuatu yang menggelitik hatinya akibat sentuhan singkat itu.bahkan ia tak pernah merasakan rasa ini sebelumnya,rasa yang entah bagaimana menggambarkannya.
Axel yang tak melihat pergerakan apapaun dari Salwa kembali melayangkan kecupan kedua di bibir mungil itu dengan sedikit ******* kecil,hingga membuat dada Axel berdesir karena hasrat yang mulai bergelora.
"Stop !" Salwa menjauhkan wajahnya dari wajah Axel.
"Apa yang kamu rasakan ?" Pertanyaan Axel membuat wajah Salwa langsung merona.ia bingung ingin menjawab apa.rasa yang tak sama ketika dulu sang suami juga pernah melakukan ini padanya.
Salwa melepaskan tangan Axel pelan dari lengannya dan berbalik memunggungi anak muda itu.ia mencoba mencerna apa yang sedang terjadi saat ini serta memegangi dadanya yang terus berdebar tak karuan.
Axel tersenyum smirk di balik punggung itu,ia yakin dan sungguh sangat yakin jika wanita di hadapannya ini memang memiliki sesuatu yang membuat hati Axel tak bisa berpaling.
"Nona Salwa !" Panggil Axel.
"Maaf pak Axel saya permisi dulu."Salwa melangkahkan kakinya menjauh dari Axel tanpa berbalik menatap Axel.
Sedangkan Axel terkekeh melihat punggung itu semakin menjauh dan hilang di balik pintu kamarnya.
"Manis,akan lebih manis lagi jika aku bisa merasakannya setiap hari,ia menyentuh bibirnya dengan senyum yang masih mengembang.
__ADS_1
Salwa tidak langsung menuju keluar rumah sakit,namun ia mencari kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang terasa panas.
"Huh.seger!" Salwa membasahi wajahnya namu efek panas itu masih belum hilang.
"Arrggghh!" Bego banget sih,di cium sembarangan sama pria bocil itu bisa bisa nya kamu terbuai Salwa."Salwa berteriak sehingga membuat beberapa orang yang ada di dalam bilik langsung keluar.sedangkan Salwa tersadar jika ia sudah melakukan kesalahan langsung mengucapkan maaf beberapa kali sambil menunduk.
Karena malu yang bertubi akhirnya Salwa memutuskan langsung ke kafe miliknya tanpa berpamitan lagi dengan Axel,Bima..ah gampang nanti tinggal telpon,dan mengatakn jika kafe membutuhkannya dan membuat ia tak bisa berlama lama,pikirnya.
"Dimana Adik saya pak Axel ?" Bima serta Farhan masuk kedalam setelah mendiskusikan sesuatu di kantin Rumah Sakit.
"Mungkin ia sudah ke kafe miliknya pak Bima."Pernyataan Axel membuat Bima mengernyit.
"Kenapa Salwa tak berpamitan padaku."lirihnya.
"Mungkin ia buru buru pak Bima."Bima mengangguk,karena pekerjaannya telah selesai,ia juga memohon pamit,tapi sebelum itu Axel mengatakan sesuatu yang membuat Bima seakan tak berpijak.
"Saya akan segera datang kerumah pak Bima dan tolong jangan pandang saya sebagai CEO dari ART MEDIA,pandang saya sebagai Axel saja."Bima mengangguk mengerti,tinggal bagaimana ia akan mengatakan ini pada adik perempuannya itu.
****
Salwa mulai mengingat setiap ucapan Axel serta mengingat pertemuan tak sengaja mereka.jika bertemu sekali mungkin masih bisa di katakan kebetulan,tapi jika dua kali sampai harus memepertaruhkan nyawa,Salwa mulai merasa bahwa ini bukan sekedar kebetulan.
"Tapi apa yang mendasari keadaan ini."Gumamnya.
"Salwa !"Panggil Jack yang tiba tiba masuk kedalam ruangannya.
"I iya Jack,ada apa ? " Jawan Salwa sedikit canggung.
"Kenapa sih,ada masalah ?" Tanya Jack yang melihat Salwa seperti terkejut karena kedatangannya."Salwa menggeleng.
"Ya sudah,aku cuma mau bilang kalau besok aku jadi minta ijin."Ujar Jack.
"Jadi pulang kemedan ?"Jack mengangguk."ibu ku rindu katanya,jadi yah harus pulang,satu minggu.Enggak apa apa kan ?"
"Enggak dong,pergi aja ntar aku bilang yanti biar pulang agak larut sedikit selama kamu cuti.
__ADS_1
Jack mengangguk seraya tersenyum,namun bukan hanya sekedar senyuman seperti biasanya.tapi sayangnya Salwa tak menyadari,karena ia masih sibuk dengan pikirannya tentang kejadian di rumah sakit tadi.
"Ya sudah aku pamit ya."Ujar Jack.Salwa mengacungkan jempolnya tanda setuju.
Jack melangkahkam kakinya keluar dari ruangan Salwa dengan hati yang berkecamuk.ia tahu apa yang membuat Salwa seperti itu karena diam diam ia meminta seseorang untuk membuntuti Salwa.
"Aku tidak akan membiarkan kamu terlibat,jika dulu ia mati dan akhirnya bisa membuatmu terbebas dari hal hal mengerikan itu,begitu juga sekarang.aku tidak akan membiarkan kamu ikut dalam pertempuran ini."Gumam Jack,ia senderkan tubuhnya di tembok luar ruangan Salwa.
****
Malam hari di Rumah Sakit tempat dimana Axel dirawat sedikit ada ketegangan.Tadi siang ketika ia merasakan kepalanya sakit hingga membuatnya menitikan darah dari hidungnya tenyata hal itu merupaka sesuatu yang buruk.
"Jadi gimana menurutmu Jo ?"
Jonathan,dokter yang menangani Axel ini sedang melihat hasil rongent milik Axel yang di lakukan tadi sore.
"Levernya bermasalah akibat suntikan obat terlarang itu,dosisnya terlalu tunggi Vid."Jawabnya atas pertanyaan sang teman.
David menghela nafasnya,sepertinya kali ini akan sedikit rumit,apa lagi Bara sang ahli IT masih belum menemukan siapa siapa di balik insiden ini.karena setiap di lacak,selalu menemukan jalan buntu,seakan akan mereka sudah tahu jika pihaknya juga melakukan pelacakan.
"Aku permisi,aku akan melihat lebih detail lagi."Ujar dokter muda itu.
Farhan yang berada diluar kamar Axel langsung masuk saat dokter muda itu telah menyelesaikan urusannya.
"Jika untuk urusan ini,hanya pak Axel yang bisa kita andalkan pak David."Farhan duduk di hadapan David.
"Tapi ia sudah memberikan ke Bara untuk wewenang ini Han,apa iya kita harus merepotkan Axel juga."Ucapnya sedikit kesal karena ia tak bisa melakuakn apa pun untuk sahabat yang sudah ia anggap adiknya itu.
"Tapi hanya keahliannya saja yang mampu pak,pak Axel selama ini memang membiarkan Bara menangani semuanya karena ia ingin anak itu terus berkembang.tapi pada kenyataannya hanya pak Axel yang bisa jika sudah seperti ini."Farhan tampak pasrah,jika urusan memenangan tender ia jagonya,tapi jika urusan lacak melacak di dunia cyber,Hanya Axel yang bisa karena itu adalah pekerjaannya dulu.
"Lalu dengan insiden malam itu,bagaimana ?"
"Pak Axel sudah mengantongi nama seseorang dari ponsel jadul yang kami temukan sehari setelah kejadian itu di balik semak secara tidak sengaja.namun pak Axel tidak bertindak,karena ia sedang mencari tahu ada masalah apa sebelumnya dengan orang ini sehingga ia menyerang secara tiba tiba.
David yang tak mengerti akan tindakan Axel yang selalu nampak santai,terkadang membuatnya geram tapi juga salut.justru karena ketenangannya ini,Axel bisa merajai dunia bisnis yang bisa membesarkan namanya.dan juga bisa membangun bisnis yang lainnya tanpa di ketahui siapapun kecuali orang orang kepercayaannya termasuk David.
__ADS_1
...🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻...