
Axel melihat kearah Salwa yang ditatap sangat intens oleh sang ayah,"Ada apa ini,apa ayah pernah bertemu dengan Salwa sebelumnya."Batinnya bergejolak.
"Siapa namamu ?"Tanya Tuan Erland
"Saya Salwa tuan,Salwa Mahira."Jawab nya tegas tanpa keraguan.
"Mahira ?" Beo nya."Salwa mengangguk.
Tuan Erland terdiam,ia meraba pikirannya dan mencari apakah ia mengetahui nama itu sebelumnya.tetapi ia tak dapat mengingatnya sama sekali tapi ia yakin bahwa nama itu tidak asing.
Axel menatap sang ayah tak senang karena beliau terus saja menatap tajam kearah Salwa."bisakah ayah tak menatap wanitaku seperti itu ?"Geram Axel.
Tuan Erland tersadar dan menolehkan wajahnya ke arah lain."Khem.. untuk apa kamu membawa wanita ini,jika di lihat dari wajahnya ia lebih dewasa dari pada dirimu ?"
Salwa merotasikan bola matanya,"jelas banget kalau ngomong nih bapak bapak."Batinnya.
Axel yang mendengar penuturan sang ayah tak menanggapinya justru ia kembali merangkul pundak Salwa dan mengajaknya duduk di sofa besar bak kursi raja yang ada di ruangan itu.
Salwa hanya menurut dengan semua perlakuan yang Axel lakukan padanya.Dan semua itu tak luput dari pandangan tuan Erland."Siapa wanita ini,kenapa Axel dengan mudahnya menyentuh bahkan merangkul pundaknya,sama sekali ia tak menampakkan rasa tak nyaman pada wanita ini."tuan Erland terus bergumam melihat tingkah anaknya yang tak biasa.
"Lalu untuk apa kamu datang dan membawa dia ?"
"Aku akan menikah !"tegas Axel menjawab pertanyaan sang ayah.Salwa langsung meremas tangan Axel kencang,namun Axel tak bereaksi apapun seakan pria itu tak lagi membutuhkan persetujuannya.
Pria paruhbaya itu menatap tak percaya dengan kalimat yang di lontarkan begitu saja tanpa keraguan kepadanya."Apa kau tahu,tindakan gegabahmu ini akn berdampak pada reputasimu dan perusahaan,Arion Axell Hadinata !"Seru sang ayah.
Salwa menghela nafasnya,"memang anda pikir saya ini perempuan yang bagaimana tuan Erland Hadinata ?"ia tatap tajam pria paruhbaya itu,Salwa kesal ia pikir sebegitu inginnya kah ia menjadi menantu di keluarga ini,cih !"
Tuan Erland berdiri dari duduknya,"Lancang !"Pekiknya.
__ADS_1
Axel yang melihat adegan ini justru tak menengahi atau ikut menambah kata.ia tetap duduk diam serta melipat kakinya.
Salwa mulai tak sabar,bukan ia tak sopan.tapi apakah ia seburuk itu sehingga ia akan menjadikan reputasi anaknya dan perusahaan nya tercemar.
"Maaf tuan Erland,anda tak seharusnya menilai saya seburuk itu,yah saya memang seorang janda,usia saya juga terpaut hampir 6 tahun dengan Axel,tapi saya tak pernah melakukan hal di luar norma agama saya,jadi anda tak pantas melakukan ini !"penuh dengan hati yang membara Salwa mengatakan itu semua tanpa rasa takut sama sekali.
"Janda ?" Ujarnya terkekeh meremehkan.jadi kau hanya seorang janda,dan ingin bersanding dengan Axel ? mimpimu terlalu tinggi !"Tatapan tajam setajam belati siap menusuk jantung Salwa.
Axel bediri dari duduknya dan menggenggam erat tangan Salwa,"Jika ayah dan keluarga disini tak mau menerima nya,aku siap keluar dari perusahaan ternama itu."Axel tanpa beban mengatakan semua itu.Salwa menoleh,ia menatap mata Axel untuk mencari kebohongan disana,namun ia sama sekali tak menemukan semua itu,ia hanya melihat mata yang penuh binar padahal pria muda itu baru saja mengundurkan diri dari perusahaan dimana ia mencari pundi pundi uang.
Tuan Erland sama sekali tak mengerti dengan isi otak sang anak,kenapa semua hal yang ia cetuskan selalu di tolak mentah mentah dan tak pernah di saring dahulu oleh sang anak.Apakah ia sudah tak berguna bagi Axel anak lelakinya yang sangat ia sayangi dan kagumi itu.
"Apakah tak pernah sekalipun terbesit didalam hatimu,bahwa ayah melakukan semua hal ini demi kebahagiaan dan keselamatanmu Axel,wanita ini sudah menjadikanmu pembakang sekarang,apa yang akan ia lakukan padamu jika ia sudah menjadi istrimu nanti !"tuan Erland memgangi dadanya karena ia mulai merasa sesak.
Axel melepas tautan tangannya dan mendekat kearah sang ayah untuk membantu pria paruhbaya itu duduk di kursinya kembali,serta mengambil obat di laci meja untuknya.ia memberikan obat itu dan menyerahkan air putih yang ada di samping sofa.
Tuan Erland meminum obat itu sambil melirik kearah Salwa,ia mengisyaratkan bahwa anaknya masih sangat peduli dengan kesehatannya."Istirahatlah dan pikirkan baik baik jika aku keluar dari perusahaan itu apa yang akan terjadi.Dari awal aku sudah katakan aku mau menjadi pewaris asalkan ayah tak mengusik kehidupan pribadiku,dan ayah sudah janji.jadi tolong jangan mengatakan apapun lagi tentangnya."Ayo Salwa,aku akan mengantarmu pulang".Salwa mengangguk dan berpamitan kepada Tuan Erland dengan sopan,sedangkan pria paruhbaya itu hanya bisa menatap kepergian sang anak dengan hati yang sangat kesal.
Axel langsung keluar dari ruangan itu tanpa menoleh kebelakang lagi.
Cek lek
"Astaga !"
Salwa terkejut saat melihat wanita paruhbaya yang ia jumpai di bawah tadi hampir terjatuh karena tarikan pintu yang Axel lakukan."Axel sengaja."Gumamnya dalam hati,sedangkan Axel hanya menatap ibu tirinya itu datar.Sedangkan nyonya rumah itu hanya bisa tersenyum kecut karena apa yang ia lakukan tertangkap basah oleh Axel.
"Ka kalian mau pulang ?"tanya nya sembari merapikan penampilannya,"Salwa hanya mengangguk kecil dan tersenyum seadanya.
Axel justru tak menjawab atau memandang wanita paruhbaya yang merupakan ibu tiri nya tersebut.Ia menarik tangan Salwa dan mengajaknya langsung turun ke lantai kebawah.
__ADS_1
"Dasar anak kurang ajar !"Nyonya Mayara menggeratkan gigi giginya kesal,sedangkan Axel yang mendengar ucapan lirih ibu tirinya itu tak menghiraukan sedikitpun.
"Tuan muda !"Sapa kepala maid yang biasa Axel panggil dengan sebutan bik Mur.
Axel tersenyum memandang bik Mur yang ada di hadapannya,"Maaf bik,saya tidak akan makan siang di rumah saya masih ada keperluan".Ujarnya.
"Dan ini kenalkan,Ia Salwa calon istri ku bik !"Bik Mur yang mendengar itu sungguh tak menduga jika masih ada jodoh untuk tuan muda nya ini.
Ia mengenggam tangan Salwa dan memandang nya hangat,tatapan bik Mur sama sekali tak sama dengan tatapan nyonya rumah atau pun tuan rumah di kediaman ini.Salwa pun langsung menurunkan pundaknya yang tegang,dan tersenyum kepada bik Mur.
"Semoga nona bisa menerima semua kekurangan serta keanehan tuan muda kami ya ?"bik Mur mengatakannya dengan tawa meledek kearah Axel.
Salwa mengernyit,"Aneh ?"beonya.
Bik Mur mengangguk kecil,"tapi kebaikannya lebih dari segala keanehannya nona,nona pasti akan sangat beruntung,disamping anda adalah wanita pertama yang ia bawa anda juga wanita pertama yang di genggam erat seperti ini setelah ibunya tentu saja."Lanjut bik Mur.
Salwa tak tahu harus bagaimana mengekspresikan dirinya atas perkataan bik Mur,ia hanya bisa tersenyum tulus tanpa harus menahannya.
Setelah perbincangan singkat itu,Axel melangkahkan kaki nya keluar dari dalam rumah yang ia sudah tempati sejak ia kecil dengan berbagai perubahan yang sudah ayahnya lakukan dengan rumah itu seperti penambahan Lift yang khusus ayahnya buatkan untuknya,namun sayang nya Axel tak pernah bisa menggunakannya dari awal dibuatnya lift itu hingga kini.
Salwa tiba tiba tertawa tanpa ada satu hal pun yang lucu menurut Axel,"Kenapa ?"Tanya Axel heran dengan tawa Salwa yang tiba tiba setelah mobil itu melaju meninggalkan rumah besar itu.
"Aku kira akan ada kejadian menegangkan setelah keluar dari pintu tadi,sayangnya apa yang aku bayangkan tak terjadi".Salwa tertawa menggelengkan kepalanya.
Axel tahu apa yang Salwa pikirkan pun ikut terkekeh,"hal itu tak mungkin terjadi,ayah tak mungkin melakukan hal yang akan menurunkan saham perusahaannya nona Salwa.
"Ayahmu sungguh penikmat harta ya !" Axel yang mendengar penuturan Salwa tentang ayahnya terbahak.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1