
Axel melangkahkan kaki nya menuju ke sebuah kamar yang seharusnya di jadikan ruangan tidur namun, Axel merubahnya menjadi ruang kerja untuk Bara dan Max serta satu orang lagi.
"Hai Gus?" sapa Axel pada pria muda yang usianya sama dengannya.
Pria muda benama Bagus itu mengangguk hormat kepada Axel. Ia berjalan mendekat ke arah Axel dan memberikan sebuah kertas berisi data yang ia kumpulkan beberapa bulan ini.
"Setahu saya, Mas Jack memang terkadang sedikit mencurigakan, tapi selama saya disana tak ada hal yang aneh padanya, mungkin hanya satu saja hal aneh." Bagus mencoba mengingat sesuatu.
"Apa anehnya?" Axel mengernyit.
"Emm, dia suka curi-curi pandang jika sedang bersama dengan Mbak Salwa, itu aneh kan?"
Bara dan Max menggelengkan kepalanya, kenapa hal tersebut justru di sebutkan secara gamblang, gara-gara kejadaian hari itu saja, Axel mengurung Salwa di rumah, apa lagi setelah tahu hal ini, keduanya menepuk jidat masing-masing. Sedang kan Axel wajahnya langsung bermuram durja, ia kini sangat setuju dengan idenya sendiri jika mengurung istri dewasanya itu di rumah akan mengurangi mata-mata nakal yang bisa memandang sang istri seenaknya saja. Dia hanya milikku! gerutunya.
"Lalu ini, beberapa dia ijin, kemana?
"Yang terakhir kemarin dia bilang ke Mbak Salwa jika ingin mengunjungi saudara jauhnya di sebuah Vila, namun tepatnya dimana Mas Jack tak mengatakan apapun. Tapi mungkin ini bisa menjelaskan sesuatu Bos!"
Bagus mengambil sebuah alat rekam yang langsung terhubung ke alat penyadap yang ia taruh di ruangan Jack tanpa sepengetahuan pria itu.
"Bar. hidupkan!"
Bara langsung menghidupkan alat rekam itu dan memperbesar volumenya.
Axel, Bara, dan Max dengan seksama mendengar rekaman itu, tapi semua kalimat yang terlontar dari mulut pria itu semua nya ambigu.
"Sepertinya dia cukup hati-hati Ax, Ia orang yang sangat waspada dan terlatih!"
Kata terakhir yang Max lontarkan seketika membuat Axel menolehkan kepalanya ke arah Max.
"Terlatih?" Max mengangguk.
"kau ingat kan, jika kita dulu sedang dalam misi, kita selalu menggunakan beberapa kata sebagai kode, kita juga tidak pernah menyebutkan nama seseorang yang sedang terhubung dengan kita bukan?"
Axel mengangguk, kini ia paham kenapa ia selalu tak mendapat apapun dari pria yang sudah ia curigai dari awal pertama bertemu. Di malam ia diserang, Axel tak sengaja melihat sosok Jack disana, maka dari itu ia meminta Farhan menelusurinya dan ternyata pria itu bekerja dengan Salwa.
Waktu itu Axel tak berpikir apapun, ia hanya menerka mungkin Jack sengaja membuntuti Salwa untuk menjaga keselamatan wanita itu. Namun semakin kesini, Axel menyadari jika pria itu hampir selalu ada di setiap peristiwa namun ia tak melakukan apapun, Axel menyimpulkan jika Jack memang sengaja ingin melihat kemampuan Axel menjaga Salwa atau ia memang terlibat dari semua kejadian itu.
"Lalu bagaimana komunikasimu dengan James?"
Axel menghela nafas panjang, ia menggeser tubuhnya dan duduk di salah satu kursi yang ada disana.
__ADS_1
"Dia membuatku pusing!"
"Maksud mu?"
"Dia mengatakan jika semua hal ini berhubungan dengan masa lalu ku, sedangkan kau tahu bukan, aku tak ingat apapun tentang semua masa itu."
Max mentap Axel, dan menaruh jari telunjuk di dagunya. "James sedang dalam misi, kau tahu?" Axel menggelengkan kepalanya.
"Beberapa waktu lalu sebelum aku kembali ke negara ini, ia mengatakan padaku jika sedang dalam misi, ia sedang mencari bukti tentang kelompok mafia yang hampir beberapa tahun ini merajai dunia obat-obatan terlarang, dulu kelompok ini hanya menyelundupkan senjata secara ilegal saja."
Axel mengernyitkan dahinya, "bukannya kelompok seperti itu sudah biasa dengan penyelundupan ilegal dalam berbagai bentuk?"
"James mengatakan kali ini berbeda, namun ia belum bisa mengatakan itu padaku, mungkin James menemukan sesuatu dalam misinya yang berhubungan dengan mu? mungkin saja!" ujar Max.
"Max benar Bos, karena jika kita menelisik kemasa itu, semua hal yang terjadi, bahkan nama korban saja sudah di block kan, tidak bisa di akses lagi, bahkan media yang meliput kejadian itu juga semua nya tutup mulut tak mau membahas kejadian dimana bos dan ibu anda mengalami tragedi itu."
Axel mulai berpikir dengan mencoba mengingat hal-hal yang telah ia lupakan, tapi sekeras apapun, ia tetap saja tak bisa mengigat, bahkan kini ia curiga jika semua perkataan sang ayah mengenai tragedi itu semuanya tidak benar, sepertinya sang ayah juga menutupi sesuatu darinya, lagipula Axel hanyalah anak berusia 6 tahun saat itu.
***
Di rumah Axel, Salwa sedang memilih calon pembantu yang akan membantunyua mengurus rumah itu.
Tadi Jun, sang pengawal meyerahkan beberapa lembar kertas berisi surat lamaran untuk menjadi asisten rumah tanggan nya sesuai instruksi dari Axel.
Jun yang setia berdiri di samping sang nyonya hanya menganggukkan kepala saja.
"Jun, kamu mendengarku?" seru Salwa.
Jun mendekat dan duduk di hadapan nyonya mudanya itu.
"Semua yang tertera di situ sudah melalui tahap pemeriksaan yang cukup ketat oleh nona Sania Nyonya!"
Salwa melipat kedua tangannya di dada, ia sungguh tak paham dengan pemikiran orang-orang cerdas level ampun ini, hanya seorang ART saja harus lulusan S1 yang benar saja. Jika hanya lulusan S1 kenapa tidak dia saja yang menjadi ART.
"Jika S1 yang dibutuhkan, kenapa tidak aku saja yang menjadi ART!" Salwa mengomel dan meninggalkan Jun yang diam mematung.
Jun juga tidak paham akan hal ini, karena semua instruksi langsung dari Axel, jadi Sania pun hanya menjalankan perintah saja. Jangan di kira Sania tak terkejut akan hal ini, ia sempat memprotes Farhan tentang predikat setara pendidikan yang harus di penuhi. Entah Axel punya maksud apa dengan hal ini.
Salwa berlalu menuju kamarnya untuk mencari letak dimana ponselnya berada.
"Nah, ketemu!"
__ADS_1
Salwa membuka kunci layar ponselnya, wallpaper wajah sang suami menghiasi layar berukuran 6 inch itu.
"Bocah tengil!" gumamnya.
Salwa menekan gambar telepon dan mencari panggilan terakhir.
Tut tut
"Lama!" sungut Salwa.
Tut tut
"Assallamualaikum, sayang!"
"Dimana Ax? bisakah kamu pulang segera?"
"Ada apa kakak sayang?"
"Aku ingin mendiskusikan ART yang kamu rekomdasikan padaku?"
"Kenapa, sudah ada? aku percayakan pilihannya padamu!"
"Kamu yakin?"
"Ya, tentu!"
"Oke, aku pilih diriku sendiri! aku juga S1 Ax!"
Axel melihat layar ponselnya, memastiakan betul sang istri atau tidak seseorang yang sadang menghubunginya.
"Benar, istri tercintaku, tapi kenapa jadi dia yang mengajukan jadi ART?" gumam Axel.
Sedang kan di seberang sana, Salwa berteriak memanggil nama sang suami, karena tak lagi mendapat jawaban.
...❤❤❤❤❤...
mampir yuk di karya temen aku, kisah tentang asmara orang biasa dan CEO keren..
Napen : Ingflora
Judul : Junior CEO And Bodyguard Mei
__ADS_1