
Damar yang tak lagi bisa berkutik hanya terdiam menunduk. Dia tidak mengira jika selama ini Erland kakak iparnya diam - diam juga mencurigai semua tindak tanduk yang dilakukannya. Diamnya Axell dan sang kakak ipar sungguh membuatnya terkecoh. Kini yang ada di pikirannya hanya kakak dan keponakannya yang akan terancam bui jika semua terbongkar satu persatu. Bahkan hal yang sangat dia takutkan sudah berada di tangan Axell.
“Paman, akan masuk bui dengan hukuman korup saja. Jika Paman, mau mengatakan tentang kejadian 15 tahun lalu dengan gamblang!” ucap Axell menatap dingin sang paman.
Damar membulatkan kedua matanya mendengar itu. Benar tebakannya tidak salah Axell sudah mengetahui itu semua. Kini dia tak lagi bisa mundur atau maju.
Tuan Erland yang mendengar tragedi 15 atau 16 tahun lalu mengernyit, “Apa maksudmu, Axe?” tanyanya.
“Gara - gara dia dan Kakaknya yang tamak itu. Membuat aku dan Salwa harus kehilangan orang tua kami. Sekaligus menanggung hal yang sama sekali tak pernah dilakukan oleh Ibu.”
“Sebelum aku dan Ibu pergi menemui teman yang ternyata adalah kedua orang tua Salwa. Aku mendengar Ayah dan Ibu ribut. Aku tak ingat dengan pasti apa yang kalian ributkan. Namun, aku mengingat ayah menyebut nama seseorang, Diego.”
Tuan Erland yang mendengar nama itu nampak sedikit membulatkan kedua matanya. Bisa dipastikan jika semua ingatan Axell bahkan sebelum tragedi itu ia ingat dengan sangat baik. Dia pun melipat bibirnya ke dalam dan nampak gugup.
“Ayah atau Paman, yang akan menjelaskan siapa, Diego ini?” kedua pria di hadapan Axell itu saling pandang sebentar hingga akhirnya mereka saling membuang muka kembali.
“Di dia mantan kekasih ibumu,” lirih tuan Erland.
__ADS_1
“Dan, siapa yang mengirimkan semua foto tentang pertemuan ibu dan laki - laki itu ke istri pria itu?”
Damar langsung meremas kedua tangannya. Sungguh jika semua ini terbongkar sekarang bukan hanya hukuman penjara bisa - bisa Axell akan membuatnya dihukum mati dan tak akan memiliki waktu untuk menyusun serangan balik kepada bocah sok itu.
“Foto?” tanya sang ayah yang tidak paham akan pembicaraan ini.
“Oh, jadi aku harus bertanya pada Pa - man. Jelaskan!” Titah Axell.
Saat tuan Damar hampir saja membuka mulut. Tiba - tiba terdengar suara ledakan yang cukup memekakan telinga dari samping gedung ART Media.
Axell serta dua laki - laki tua itu seketika menunduk sambil menutupi kedua telinga mereka.
“Astaga. Apa perempuan tua itu tidak bisa bersabar sedikit saja,” cicit Axell sambil merayap keluar dari ruangannya meninggalkan sang ayah dan pamannya.
Farhan dari arah lorong berlari menuju ke ruangan Axell dan setelah sampai di sana. Dia melihat Axell yang sudah berada di luar ruangannya sambil membenahi jsnya.
“Pak, mereka sudah melakukan aksinya. Sesuai peringatan dari tuan James,” ujar Farhan.
__ADS_1
“Gedung mana yang meledak?” tanya Axell.
“Parkiran, Pak!”
“Evakuasi semua karyawan dan suruh mereka segera menjauh dari gedung ini. KIta tidak tahu dimana - mana wanita tua itu menaruh bom. Astaga dia sungguh tak sabaran, bahkan dia tak memberiku waktu untuk menanyakan perihal suaminya pada Paman Damar. Sialan!” sarkasnya.
Tak ingin semua menjadi kacau. Farhan beserta para keamanan memulai aksi untuk melakukan tindakan evakuasi kepada semua karyawan. Sedangkan Damar dan tuan Erland sudah di giring masuk kedalam sebuah mobil anti peluru milik Axell.
Semua kejadian yang sudah Axell duga akan terjadi membuatnya merasa sedikit bersemangat. Bahkan kini Juna dan para bawahannya yang cukup terlatih sudah berada di sebuah rumah yang menjadi tempat Damar mengendalikan bisnis ilegal yang sudah dijalani bertahun - tahun. Bersama dengan seseorang yang cukup andil dalam meninggalnya ibu Axell yaitu nyonya Rima.
Tak ingin terjadi hal berbahaya dengan sang istri. Dia menghubungi Wulan dan meminta wanita itu untuk menghentikan semua agenda yang akan dijalani sang istri hari ini. Dengan patuh Wulan mengiyakan permintaan Axell dan mulai waspada jika kalau - kalau ada sesuatu yang mengharuskannya bergerak secara mendadak.
Maxim dan Bara yang kini sedang memantau dari jarak jauh sedang berusaha membobol sistem keamanan milik seseorang. Tidak hanya itu Bara dan Bagus juga meretas seluruh alat komunikasi yang berada di kediamanan itu.
“Bagaimana, Bara?” tanya Maxim.
“Sedang berusaha. Kali ini seharusnya mereka tidak akan menyangka jika kita melakukan ini setelah James memberikan sandi itu secara percuma.”
__ADS_1
Max mengangguk, “Aku tidak menyangka jika dia mau membantu Axell di sela pekerjaannya yang menantang nyawanya kapanpun.. Padahal jika diingat pak tua itu cukup tidak suka dengan Axell.”
Bara yang tidak terlalu mengerti bagaimana masa lalu Axell dan Max hanya mendengarkan tanpa menimpali perkataan pria blasteran itu.