
Sejoli yang biasa nya selalu mengisi waktu mereka dengan bercanda dan saling menggoda, kini mereka terdiam seribu bahasa. Suara angin yang berhembus dari alat pendingin ruangan seakan menandakan bahwa sedang tak ada kehidupan disana, bahkan detak jantung keduanyapun sama sekali tak terdengar karena rasa lelah yang sedang melanda jiwa salah satunya, si pria hanya bisa menunduk dan sesekali menarik nafas yang kian sesak seakan ikut larut, merasakan kesakitan di hati wanita di hadapanya.
Tangis pilu terdengar sayup di telinga Axel, ia mendongak menarik kepalanya ke atas. Tak bisa terucap apapun dari bibir itu, namun rasa sakit itu seakan menular hingga membuat air di mata bulatnya ikut menetes, mengalir hingga jatuh ke lantai dimana ia sedang berpijak.
Wanita itu menutup mulutnya, membungkam sekuat tenaga agar teriakan hatinya tak terdengar oleh siapapun.
Pilu, hati pria di hadapannya bagai teriris belati yang ia pakai sendiri. Ia sungguh tak menyangka jika apa yang ia anggap baik, bisa menggores hati wanita nya hingga tangis itu keluar tanpa suara.
Kedua lengan kokohnya terangkat pelan, ia mencoba meraih pundak sang istri berharap bisa tetap menjadi tempat bersandar bagi wanita yang sungguh sangat ia cintai. Wanita yang untuk pertama kali membuat hatinya berdebar, membuat sekujur tubuhnya meremang hanya dengan mencium wangi tubuh wanita yang menguar indah di indera penciumannya
"Aku minta maaf, bukan maksud aku untuk menyembunyikan ini terus menerus."
Axel menarik pelan pundak itu dan memeluknya lembut, seakan Axel takut jika wanita itu akan terluka kembali.
"Kenapa kamu harus bohong?"
"Maaf!"
Hanya kata maaf yang kini ia bisa utarakan, entah ia merasa tidak ada kata lain di dalam benaknya yang bisa mewakili keadaan ini kecuali kata maaf.
Salwa membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami, tempat ternyamannya beberapa bulan ini, namun apa kah selamanya dada kokoh ini akan tetap menjadi tempat ternyamannya untuk bersandar?
Kini berbagai pertanyaan bersarang di kepalanya, apa ia akan kembali dengan kesendiriannya seperti dulu saat Satya tiba-tiba pergi meninggalkan ia untuk selamanya? jika dulu ia tak tahu apa yang terjadi, mungkin kini alsannya lebih jelas.
"Apa kamu akan
"Stop!" Axel memotong ucapan Salwa yang pasti mengarah ke hal yang jelas tak ingin ia dengar. Axel menutup mulut sang istri segera sebelum ucapan ngelantur yang akan membuat hal ini lebih tidak mudah, ia susuri bibir itu dengan penuh kasih, tak perlu menjelaskan apapun, karena baginya apapun yang ada pada diri wanita ini sebelum dan sesudah kejadian itu baginya tak akan merubah rasa yang ada pada hatinya.
Salwa menikmati setiap deru nafas yang mengalun bagai instrumen yang indah bahkan sampi di sanubarinya.
__ADS_1
"Jangan pernah meragukan rasa yang ada di sini," Axel menunjuk dada kirinya.
"Jangankan jiwa, ragaku pun tak akan bisa berpaling, seribu kalipun kamu menolak, aku akan memiliki seratus ribu alasan agar kamu menerima jiwa dan ragaku seutuhnya.
Salwa terdiam ia terpatri pada pupil mata yang menatapnya tajam namun penuh binar rasa, gejolak hati yang terdalam.
Axel mengusap bibir itu dengan jempolnya, "nona dewasa, apa kamu mau memaafkan ke egoisanku ini?" tanya Axell.
Salwa tidak mengerti namun rasa di hatinya tak bisa menyalahkan pria di hadapannya ini, rasa cinta dan sayangnya mengalahkan segala bentuk kesalahannya.
"Aku minta maaf, kini aku tidak sempurna seperti yang kamu harapkan!" ujar Salwa sembari menghapus air mata yang ada di sudut pipinya.
"Apa sempurna hanya karena itu? apa rasa disini tak lebih penting dari hanya sekedar hal yang terbentuk di rahim mu?"
"Hubungan pernikahan memang salah satu hal penting untuk memperpanjang generasi, tapi apakah hanya karena hal itu saja semua orang menikah?"
Salwa mengulum bibirnya, selama ini ia memang tak pernah berpikir tentang keturunan saat Axel mengatakan jika ia tidak subur, entah karena Axel sudah sangat banyak memberinya cinta dan perhatian seakan keturunan tak lagi menjadi masalah baginya, jika memang tak mampu untuk memiliki.
"Sungguh percayalah, aku mencintai walau hanya kerlingan matamu saja Salwa Mahirra!" ucap Axel sedikit menggoda.
"Gombal banget sih!" Salwa tersenyum malu dan menjauhkan sedikit tubuhnya.
Axel bangkit dari posisi berjongkok, berdiri dan meletakkan pinggangnya di samping sang istri.
"Jadi kapan kamu mengetahui ini semua?"
Salwa melirik sebentar lalu kembali memandang ke arah depan.
"Saat kamu menghubungi Jo di ruang kerjamu!" ujarnya.
__ADS_1
Axel memiringkan lehernya kekiri, ia mencoba mengingat kapan itu terjadi.
"Apa beberapa hari lalu?" Salwa mengangguk.
"Aku tak sengaja mendengar percakapanmu saat itu, tadi nya aku pikir mungkin kamu sedang membicarakan hal penting dengan seseorang, jadi aku mengurungkan niatku untuk masuk kesana, tapi belum genap satu langkah, tiba-tiba telingaku mendengar nama ku kamu sebut, jadi aku putuskan untuk tetap berdiri di samping pintu dan mendengar semuanya."
Axel langsung memeluk sang istri dan membawa tubuh itu dalam dekapannya, bodoh! kenapa ia bisa terlupa dengan pintu yang tak tertutup rapat, padahal jika pintu tertutup jangankan berbicara berteriakpun Salwa tak akan mendengar, karena ruang kerja Axel kedap suara.
"Aku berjanji akan melakukan segalanya demi bisa mengembalikan semua nya seperti semula, aku sedang berusaha sayang, jadi tolong bersabarlah, oke?" Axel terus mengusap punggung sang istri.
Salwa tak menjawab, ia tak ingin berharap apapun sekarang, ia hanya ingin pria yang sedang mendekapnya tetap seperti ini dan tak akan berubah, baginya itu lebih dari cukup.
"Berjanjilah jangan menyalahkan dirimu karena hal ini, smua bukan kesalahanmu, aku yang tak bisa memprediksi akibat dari kejadian itu, jadi aku mohon jangan lagi mempermasalahkan ini, yakinlah pada dirimu, suatu saat kita pasti akan bisa memilikinya."
Salwa mengeratkan pelukannya, ia mencoba meyakinkan dirinya agar terus percaya jika keajaiban itu akan datang.
Aku akan menghukum orang yang sudah membuat mu seperti ini, tapi nanti saat dalang utamanya bisa aku temukan, benak Axel.
Disaat dua sejoli ini saling menguatkan dengan rasa yang ada pada diri mereka, lain halnya dengan pria yang tanpa sengaja menguping pembicaraan mereka.
Ia sangat paham, bahkan tanpa menerka ia sangat tahu siapa yang membuat wanita yang ia kagumi itu mengalami hal buruk seperti ini.
Ini lah mengapa ia tak pernah setuju dengan tindakan seseorang yang sangat berjasa pada hidupnya, namun sungguh rasa hormat itu menguar begitu saja saat ia tahu sang ibu melakukan hal di luar bisnis keluarganya.
...🤎🤎🤎🤎🤎🤎...
Assallamualikum selamat siang Readers...
kembali up bersama cerita on going lainnya nih, kali ini aku bawa judul DUDA vs ANAK PERAWAN karya SANTI SUKI.. hanya di NovelToon ya...
__ADS_1
Cekidottt.....