SUAMI KU DAUN MUDA

SUAMI KU DAUN MUDA
Bab 72 - Pengawalan Baru


__ADS_3

Sang surya yang bersinar cukup cerah hari ini, masih belum cukup menyilaukan mata Axell yang masih bergelung dibawah selimut dengan tubuh polosnya. Tadi pagi setelah selesai sholat subuh Axell yang kembali mendapatkan keinginannya kini tengah memejamkan mata, karena rasa nikmat yang tak bisa ia gambarkan serta rasa lelah yang menyelimuti tubuhnya membuatnya kembali mengarungi mimpi.


Sang istri yang mendadak mendapat telepon dari sahabatnya Yanti, justru segera bergegas bangun dan membersihkan dirinya. Salwa, wanita itu kini sedang memasak di dapur dengan asistennya yang sudah datang pukul setengah enam pagi tadi. Wanita bernama Wulan yang beberapa waktu memperkenalkan diri kembali kepada Salwa sedang berdiri di sisi meja makan sambil menatap Salwa yang sedang memasak.


“Apakah kau tidak pegal berdiri terus seperti itu?” tanya Salwa yang mulai risih dengan tatapan wanita di hadapannya ini.


“Maaf. Nyonya, ini memang pekerjaan saya. Jika Nyonya tidak mengijinkan saya membantu, saya akan memilih untuk standby seperti ini.”


Salwa yang mendengar perkataan wanita itu mengerutkan keningnya. Dia mulai paham bagaimana wanita itu bekerja. Jika di lihat, dia lebih mirip Jun yang akan melakukan tugas jika disuruh dan dia akan terus mengawasi jika tidak mendapat perintah. Apa wanita ini juga mantan abdi negara?


Salwa terus menduga tentang wanita bernama Wulan, yang Axell ditugaskan menjaganya. Padahal jika Salwa mau dia bisa meminta kepada sang suami agar tidak memberikannya pengawal seperti ini. Karena dia masih mampu menjaga dirinya sendiri. Salwa memang tidak terbiasa dengan hal seperti ini dan ini sungguh membuatnya kikuk.


“Kau bisa duduk disana, Wulan. Jangan berdiri terus seperti itu, aku merasa seperti seorang narapidana saja,” Salwa mengomel sambil terus mengaduk masakannya.


“Maaf, Nyonya. Ini sudah menjadi perintah.”


“Siapa yang memberi perintah?”


“Tuan Axell, Nyonya.”


“Kau bekerja untukku kan? Maka dari itu turuti perintahku saja, jangan turuti perintah anak muda itu, sungguh menyebalkan!” gerutu Salwa.


Wulan yang mendengar Salwa memanggil Axell dengan sebutan anak muda membuatnya bertanya - tanya. Kenapa bisa seorang istri berbicara seperti itu pada suaminya?


Tak ingin pusing dengan urusan para orang kaya ini Wulan memilih tetap diam di posisinya. Karena dia takut jika berubah posisi akan ada seseorang yang memarahinya nanti.


Salwa yang melihat Wulan terdiam pun menghentikan pertanyaan yang hampir saja terlontar dari mulutnya namun ia urungkan.


“Sayang!” Seru Axell yang baru saja keluar dari kamarnya dengan hanya kaos dan celana pendek saja.


“Kau?” Ujar Axell terkejut melihat Wulan sudah berada di apartemennya.


“Pagi, Tuan.”


Axell mengangguk dan langsung menuju sang istri yang sedang memasak.

__ADS_1


“Sayang, kenapa kau sibuk disini dan meninggalkanku dikamar sendirian,” rengeknya seperti anak kecil.


“Ax, bisakah kau jaga sikapmu. Ada Wulan di sini!” geram Salwa sambil menatap tajam sang suami.


Axell menoleh menatap Wulan dan melihat wanita itu dari atas hingga bawah, melihat apa yang Axell katakan tentang penampilannya sudah dipenuhi dan ternyata apa yang sudah dimandatkan kepada Wulan dilakukan gadis itu dengan baik.


“Kau boleh menunggu istriku di ruang tamu saja. Sebentar lagi Juna juga akan kesini,” ucap Axell.


“Baik, Tuan. Saya akan menunggu Nyonya di depan saja.”


Axell mengangguk dan mendapat anggukan hormat dari wanita itu.


Tuk


“Aduh!” teriak Axell yang mendapatkan pukulan dari spatula yang Salwa pegang.


“Kenapa sih? Sakit, Sayang.”


“Kau tahu, dia disini dari pukul setengah enam. Apa dia juga tahu pin kamar ini?” tanya Salwa.


“Tentu, Sayang. Bagaimana dia bisa menyelamatkanmu jika dia tidak tahu kunci kamar ini, kau ini ada - ada saja.”


“Tidak bisakah aku melakukan semua hal sendiri, Ax. Aku bisa jaga diri, trust me!”


Axell yang tahu Salwa akan berkomentar dengan semua aturan baru darinya hanya bisa menatap kasihan. Bukan ingin membatasi gerak - gerik sang istri namun karena memang kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk Salwa berpergian atau di dalam apartemen sendiri. Itu akan membahayakan dirinya.


“Aku tahu kau tidak suka dengan hal ini. Tapi Sayang, semua ini aku lakukan agar kamu selamat. Ada banyak hal yang tidak bisa aku ceritakan padamu sekarang. Mengertilah,” ucap Axell sembari mengusap pipi sang istri.


Salwa yang tahu jika kini situasi yang sedang dihadapi suaminya cukup genting membuatnya mau tak mau harus mengikuti semua aturannya.


“Oke!” Ucapnya malas.


“Ax, apa kau sudah mandi?” tanya Salwa.


Axell menggeleng, “Aku menunggu istriku untuk memandikanku,” ujarnya sambil menaikkan kedua alisnya menggoda Salwa.

__ADS_1


Seketika Salwa merotasikan bola matanya malas mendengar keinginan sang suami.


“Mandilah sendiri, aku sudah!” ucap Salwa mendengus sebal.


Axell tertawa melihat wajah kesal sang istri. Menggoda Salwa memang selalu membuat moodnya selalu baik. Maka dari itu Axell tidak pernah mau jauh dari wanita dewasa kesayangannya ini. Jika memungkinkan, Axell ingin selalu membawa sang istri kemanapun dia pergi. Namun, sayangnya itu tidak mungkin.


Satu jam berlalu, kini Axell sudah rapi dengan penampilan dia yang biasanya. Hari ini dia telah siap datang kembali ke kantornya untuk memulai misi pemberantasan para bawahannya yang ikut korup dalam klan yang paman tirinya buat selama ini.


Kemarin malam dia juga mendapat kabar dari David jika sang paman diam - diam menemui sahabatnya itu untuk pembahasan kontrak kerja sama yang sudah Axell tandatangani sebelumnya. Namun sayangnya niat sang paman yang ingin menghancurkan karir Axell justri sedang menggali kuburan untuk dirinya sendiri.


Juna yang mulai hari ini aka bertugas bersama dengan Max sudah memulai pekerjaan mereka beberapa waktu lalu. Sedangkan Bara dan Bagus tetap bekerja di balik layar dan bertugas untuk memantau lapangan dari benda persegi empat yang selalu ada dihadapannya itu.


“Sayang, aku berangkat ya.”


Salwa mengangguk, mengambil tangan Axell dan menciumnya takzim. Axell pun membalas dengan mengecup kening Salwa cukup lama. Rasa enggan meninggalkan sang istri membuatnya seakan tak ingin melepaskan kecupan itu.


“Ax!” panggil sang istri yang masih berada di dekapannya.


“Iya, iya. Aku akan berangkat.”


Axell melepas pelukannya dan mencium kembali pipi Salwa. Wulan dan Farhan yang mendapatkan tontonan live streaming kemesraan antara Axell dan Salwa hanya bisa menundukkan kepala mereka.


Axell berjalan menuju pintu dan berlalu bersama dengan Farhan.


“Maaf, Nyonya. Apa, Anda hari ini ada jadwal ke cafe?”


Salwa menggeleng, ”Aku sudah menyerahkan semua pekerjaanku hari ini pada temanku yang ada disana. Tapi, siang nanti aku akan kerumah sakit untuk mengecek kondisiku,” terang Salwa.


“Baik. Saya akan siapkan mobil dan persiapannya Nyonya,” pungkas Wulan.


Salwa mengangguk, “Aku akan ke kamar untuk beristirahat sebentar. Kamu belum sarapan kan? Makanlah..”


“Tapi..”


“Ini perintah, Wulan. Lakukan saja.”

__ADS_1


...*******...


Maaf Readers membuat kalian bingung. Aku akan berusaha melanjutkan cerita ini, silahkan berikan komen kalian agar aku lebih bersemangat.. Terima Kasih.. ❤❤


__ADS_2