
Disebuah club,para manusia pencari kesenangan dunia Fana ini berjejal di lantai menari,tarian acak karena hawa panas tubuh berkat minuman penghilang penat yang sejatinya minuman yang memperpendek kesehatan mereka.
Alasan demi alasan yang terkadang tak masuk akal mereka lontarkan hanya karena masalah berbalut kesenangan yang ujung ujungnya terkapar dengan segudang kekhilafan yang mereka akan katakan setelah sadar.
Di ujung sana,sang pemilik sedang menjamah para wanita yang rela dengan pasrahnya disentuh tiap bagian sensitif mereka hingga membuat bulu kuduk berdiri bersamaan dengam hasrat yang kian meninggi.
"Kekamar yuk bos !"Ucap salah satunya.
"Disini jika kamu sudah tak tahan."Bisiknya tepat ditelinga wanita seksi itu seraya tertawa.
Pria tampan berwajah oriental itu mengambil remot kecil yang ada di meja yang penuh dengan berbagai merk minuman terkenal dengan harga tak main main.
"Klik"
Kaca yang tadinya transparan berubah menjadi gelap jika di lihat dari arah luar,para bodyguard yang ada disana langsung keluar dan menjaga kegiatan panas itu di didepan pintu.
GS CLUB adalah usaha pemuda tampan itu yang ia geluti sejak masih berumur belasan,walaupun ayahnya seorang petinggi kepolisian namun tak menyurutkan kan niatnya untuk membangun Club yang cukup tersohor di kalangam muda dan tua ini.
Anak terakhir dari 3 bersaudara ini sejak kecil memang memiliki minat yang aneh menurut kedua orang tuanya,walau ia tak suka membangkang namun ia selalu berusaha mendapatkan keinginannya walau harus sedikit mengancam kedua orang tuanya.
Termasuk Club ini,semenjak ia bisa membangun Club ini dengan caranya sendiri ia mulai keluar dari rumah sejak ia masih SMA,entah kecerdasan apa yang ia miliki atau hal apa yang sudah ia tempuh sehingga bisa menjadi bos yang selalu di takuti para bawahannya ini.
"Arggghhh."ia berteriak puas karena pelepasan yang kesekian kalinya namun itu masih tak menyurutkan keinginan untuk semakin memacu detak jantungnya lebih dan lebih.
"Tring"
Sebuah pesan singkat masuk kedalam ponselnya,ia meminta wanita disampingnya untuk mengambil ponsel itu."Thanks honey."Ucapan mesra itu ia tiupakn di telinga sang wanita,ia pun kembali memainkan jari jemarinya di tubuh pria yang sedang menyaksikan wanita lain beraksi selayaknya menunggang kuda.
Namun tiba tiba pria tampan dengan perut bisepnya ini meminta si wanita menghentikan aksi berkudanya.
"Kenapa bos !"Keluh nya karena ia belum mendapat pelepasannya.
"Main dengan salah satu bodyguardku,pilihlah.Aku ada urusan."Tanpa aba aba ia berdiri dan langsung menyambar celana serta bajunya yang berserakan di lantai.
__ADS_1
Dua wanita itu pasrah,jika tak selesai.uang pun tak akan mengalir kerekening mereka.
****
Di balkon sebuah kamar bak hotel bintang lima,pria usia 22 tahun itu kini tengah memandang langit yang gelap tanpa bintang.
Ia sedang berkhayal jika saja wanita yang kini tiba tiba singgah di hatinya ada didepannya,mungkin ia akan sangat senang atau mungkin hanya berdiam diri dengan canggung.Ia menepuk keningnya,menggeleng dan tertawa.
"Aku bisa gila lama lama seperti ini."Ia usap wajahnya kasar.
Tak ingin berlarut ia memilih masuk menutup pintu kaca itu dan naik ke ranjangnya,namun sebelum ia terlelap ia membuka laci nakas yang ada di samping tempat tidurnya dan mengambil kotak kecil berwarna coklat.
"Siapa sebenarnya pemilik kalung ini,jika saja aku bisa mengingat kejadian itu.mungkin saja aku bisa mengingat siapa orang terakhir yang bersama dengan ku."Gumamnya.
Axel selalu berusaha mengingat kejadian 15 tahun yang lalu itu,dimana ia dan sang ibu terjebak di lantai 3 sebuah mall dalam kondisi kebakaran hebat,dan akibat kejadian itulah Axel harus kehilangan sang ibu dan seseorang yang dekat dengannya namun entah siapa,Axel tak dapat mengingat apapun setelah bangun dari komanya,yang ia ingat hanya sebuah lift dalam kondisi gelap serta asap yang mengepul di sela selanya.
Entah lah,Tuhan sedang menulis takdir seperti apa untuk Axel dan seseorang itu.
.
.
.
"Tidak mungkin pak,terlalu mahal jika hanya belanja dengan nominal seperti itu bisa menadapatkan liburan di salah satu pulau ternama di indonesia."Ujar salah satu karyawan bagian keuangan.
"Itu adalah salah satu strategi pak Aris,coba saja jika mereka benar benar menjadi salah satu pemenang bukankah mereka akan terus berbelanja disini.dan mungkin saja ia akan menambah nominal belanjanya setiap bulan kan."Ujar sang CEO blasteran Indo - Korea itu.
Semua para divisi yang ikut dalam meeting ini mulai saling berbisik,terkadang ide CEOnya ini aneh namun setiap akhir bulan semua pendapatannya sesuai dengan apa yang telah ia perhitungankan.
"Pak !" Panggil sang asisten.
Pria bernama David Raksya Sanjaya ini menoleh."hem"
__ADS_1
"Ada telpon dari tuan Axel,pak!"Ia mengangguk dan tersenyum kepada para jajaran stafnya.
David berdiri dari duduknya dan mengatakan jika meeting kali ini harus disudahi karena dia ada tamu yang tak suka menunggu.
Tap tap tap
Derap langkah kaki serta pembawan tegasnya selalu bisa membuat para karyawan wanitanya terbuai.
Cek lek
"Kau terlambat !" Seru pria gagah namun usia masih belia ini.
"Sorry Rion,rapat ini penting." Ujarnya.
"Rion atau Axel adalah sahabat David sejak ia kelas 6 SD dan Axel kelas 2 SD.pertemuan yang tak sengaja di kala Axel di bully oleh teman teman sekelasnya karena mereka menganggap Axel anak aneh,David yang kala itu sedang berjalan pulang dari menemani ibu angkat nya berbelanja langsung melempari anak anak nakal itu dengan pasir dan langsung membuat mereka berlarian menjauh.
Ketulusan hati David di sambut baik oleh Axel kecil dengan sebuah jabat tangan walau hanya beberapa detik saja.Dan hingga detik ini mereka masih bersahabat baik bahkan lebih dari itu,David selalu menganggap Axel selayaknya adiknya sendiri.
"Ada apa kamu kesini ?" David melepas kancing jasnya dan menempelkan pa*t*t nya di sofa empuk yang ada disisi kanan meja nya.
"Bagaimana perkembangan peluncuran produk ponsel terbaru itu ?" Tanya Axel.
"Baik,sedang tahap pengujian tentu saja."aku dengar Bara merekrut asisten baru ?"Tanya Axel.
"Iya,dia adik dari pantinya yang dulu ia tinggali.dia adalah anak yang kamu biayai sekolah.apa kamu lupa?"
Axel terdiam,bukan sombong namun karena banyak sekali anak anak remaja cerdas yang ia sekolahkan dari panti tempat Bara tinggal.
"Permisi pak."Asisten David masuk membawa sebuah map dan ia serahkan kepada Axel dan langsung pamit keluar kembali.
"Itu berkas yang membutuhkan tanda tanganmu."Ujar David sembari membuka kulkas,ia mengambil sof drink untuk nya dan Axel.
Axel membuka map berwarna biru itu dan membaca seluruh isinya dengan cermat.tak butuh waktu lama hanya dua menit saja Axel selesai membaca berkas yang berisi 5 lembar kertas itu dan menandatanganinya.
__ADS_1
...πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ...