
Sudah lebih dari dua kali dua puluh empat jam Salwa di rawat,karena luka di pahanya yang cukup dalam,hingga hari ini ia masih tak bisa berjalan normal karena jika terlalu di tekan dengan tubuhnya rasa nyeri itu datang bagai belati yang kembali menusuk.
Axel beberapa kali memergoki Salwa meringis bahkan sampai menggigit bibirnya karena menahan sakit akibat aksinya yang cukup mencengangkan itu.
"Mau kemana ?"
Salwa hanya bisa menghela nafasnya pelan karena Axel kembali memergokinya mencoba turun dari ranjang nya.
"Aku bosan ax,bisakah aku di rawat di rumah saja ?"Salwa mencoba menyentuh hati keras bagai baja itu agar mengijinkannya pulang.
Tetapi seperti biasa Axel hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju,"ada beberapa tes lagi nona dewasa,jadi anda harus tetap disini,apa lagi kamu seperti ini karena aku bukan ?"
Salwa menatap dua bola mata yang selalu menampakan rasa bersalah yang dalam padahal luka yang Salwa dapat bukan sepenuhnya kesalahan Axel,"Oh ayolah Ax,ini bukan kesalahan mu,aku yang melukai diriku sendiri !"Salwa mulai bosan dengan Axel yang terus saja menyalahkan dirinya,tapi apakah jika Salwa tahu bukan hanya sekedar luka di paha itu yang membuat Axel menyesal.
Jika saja ia tahu,mungkin sekarang Salwa akan memaksakan dirinya untuk kabur dari Axel dan Salwa pasti akan membuat banyak alasan untuk bisa menghindar dari pria muda tampan dan kaya raya itu.
Aku akan terus menyesal sampai ada sebuah keajaiban untuk membuat mu kembali sehat seperti wanita lain.
"Ax !"Seru wanita di hadapannya.
"Hem ?"Axel terbangun dalam lamunannya,ia mendekat ke arah ranjang dan membenarkan posisi Salwa.
Salwa hanya bisa pasrah,luka tancapan kaca dari pecahan botol minuman itu memang cukup dalam dan sungguh sangat menyiksanya ketika tersadar dari tidurnya.
"Ayo kita menikah !"Axel mengatakan hal yang tentu saja membuat Salwa menatap tajam mata Axel lewat lirikannya.
Axel bebenahi duduknya,ia pegang punggung tangan Salwa dan mengecup nya sekilas,"Ayo kita menikah !"Ucapnya lagi.
Salwa masih terdiam,bukan ia tak sepaham dengan keinginan Axel,ia ingin sekali menikah kembali,memiliki keluarga kecilnya sendiri,tetapi ia tak bisa gegabah.
__ADS_1
"Ax kamu kan...
"Suutt !"Axel menggelengkan kepalanya untuk menghentikan kalimat yang pasti ujung ujung nya hanyalah sebuah penolakan.
Salwa mendengus,"Aku tidak mau ada penolakan,aku sudah menyetujui apapun yang masih ingin kamu lakukan setelah kita menikah,kita sudah membahasnya bukan ? jadi aku mohon jangan menolak dengan alasan yang klise nona Salwa Mahirra."Ujar Axel penuh dengan penekanan.
Salwa menyenderkan tubuhnya agar bisa lebih rileks,pembicaraan senditif seperti ini tidak bisa jika di barengi dengan emosi.
"Ax,kita baru mengenal,apa kamu yakin dengan perasaanmu ?"
"Kamu tak perlu meragukannya !"Jawab Axel cepat.
Salwa kembali mendengus,"lalu apakahah kamu tak ingin tahu tentang perasaanku ?"
"Aku tidak peduli,jika sekarang kamu belum bisa mencintaiku,setiap hari aku akan melakukan berbagai cara agar kamu bisa mencintaiku dengan segera !"Salwa menatap tak percaya atas jawaban pria muda di hadapannya."Tidak bisakah kamu mengatakan hal seperti ini tidak dengan wajah tengilmu ?"Sungut Salwa.
Axel hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Salwa,ia kembali meraih tangan kanan Salwa dan merematnya sedikit kencang.
"Jika kita menikah,apa kah kamu akan bersabar tentang keturunan dan beberapa penyakit yang aku derita ?"
"Apa maksudmu ?"Salwa tak paham dengan apa yang Axel utarakan.
Axel mengambil nafas kecil yang hampir tak terlihat jika ia melakukan itu,Axel tanpa ragu mulai menceritakan penyakit apa saja yang ia derita dari sakit mental sampai sakit pada tubuhnya.Salwa dengan seksama mendengar cerita penuh pilu itu,ia lihat sorot mata Axel mencoba untuk menemukan sebuah kebohongan atas semua hal yang pria itu bagikan kepadanya.Namun sayangnya ia tak menemukan apapun,justru ia melihat mata bening bagai mata air itu tetap tenang dan sama sekali Axel tak berkedip atau menggerakkannya.
"Kamu serius ?"Pertanyaan singkat Salwa lontarkan.
Axel mengangguk pelan,ia takut jika beberapa kalimatnya terdengar sebuah kebohongan di telinga Salwa.
"Lalu,kenapa kamu seyakin itu jika aku akan menerima segala kekurangan mu ?"Salwa mencoba memancing emosi Axel.
__ADS_1
"Aku yakin karena mantan suami mu juga memiliki hal yang sama dengan ku bukan,ia sulit memiliki keturunan ?"Ujar Axel mantap.
Salwa terkejut,ia sungguh tak menyangka jika hal pribadi seperti itu Axel akan mengetahuinya.
"Jadi aku yakin kamu tidak akan mencampakanku hanya karena masalah keturunan kan ?"Ujar Axel,Salwa kembali memejamkam matanya,ia rebahkan kepalanya di bantal empuk bersarung biru muda itu.ia tak tahu harus mengelak dengan cara apa lagi,ia tak pernah mengkawatirkan dirinya,justru ia sangat kawatir jika ada hal buruk yang akan menimpa kakak,serta om dan tantenya.bukan tanpa alasan,kejadian kemarin sungguh membuatnya percaya satu hal bahwa hidup bersama dengan Axel akan sangat tidak mudah.
"Jadi bagaimana nona Salwa,apa masih ada hal yang membuat mu ragu untuk menerima pria tak sempurna seperti ku ?"Salwa membuka matanya,ia mendengus pelan,"Apa kah aku bisa menolak Tuan Axel Hadinata ?"
Axel tertawa senang,akhirnya Salwa menyerah dengan segala uneg uneg yang langsung di patahkan begitu saja olehnya,sebelum ia mengatakan hal ini ia menyelidiki sendiri tentang hal pribadi milik Satya yang masih bisa ia akses.Dan ternyata ia menemukan hasil pemeriksaan tentang kesuburan yang harus pria itu penuhi sebelum pernikahannya berlangsung atas saran kedua orang tuanya sendiri.Dan hal ini merupakan salah satu alasan kenapa kedua orang tua Satya sangat menyayangi Salwa,karena ia mau menerima kekurangan sang anak yang belum tentu wanita lain mau dengan mudah menerimanya.
Namun sayang nya semua itu berubah setelah Satya meninggal,semua hal yang Salwa dambakan berubah 360 derajat.
"Salwa !"Axel memanggil wanita manis itu setelah tak lagi terdengar suara namun beralih kedengkuran halus yang menandakan wanita itu sudah terbang ke alam mimpinya.Usapan lembut di punggung tangannya membuat ia mengantuk dan tertidur begitu saja.
Axel menatap nanar wajah polos Salwa,"Maaf jika ada kebohongan dalam cerita ku,tapi ini lebih baik agar kamu tak memikirkan tentang siapa yang subur atau tidak,dan kekhawatiranmu tentang seluruh keluargamu aku akan sangat bertanggung jawab atas mereka."Ucapnya lirih hampir tak terdengar.
****
Di sebuah bandara di negara yang cukup sibuk,wanita paruhbaya itu berjalan dengan anggun ia langkahkan kaki jenjangnya menapaki aspal bandara menuju jet pribadinya.
"Selamat malam nyonya Terarra ?"Sapa pramugari cantik dengan senyum ramahnya.
"Malam Jessy,kau yang menemaniku malam ini ?"Wanita bernama Jessy itu mengangguk hormat.
Sang nyonya besar memasuki kabin dan duduk di salah satu bangku penumpang.ia letakkan kepalanya bersandar pada kursi eksklusif yang baru saja di ganti oleh sang asisten khusus untuk perjalanan mereka kali ini.
"Apakah nyaman Nyonya ?"Ia mengangguk dan melepaskan kan kacamata bermereknya.
"Aku akan tidur selepas lepas landas,tolong jangan mengangguku."Asisten yang sudah menemani nya selama bertahun tahun itu mengangguk,ia kembali menunduk hormat dan pamit untuk menemui pilot yang akan membawa mereka menuju salah satu kota di pulau Jawa.
__ADS_1
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...