
Malam hari di kafe Jack yang sedang patah hati memilik menyibukkan dirinya dengan beberapa pekerjaan yang sebetulnya sudah ia selesaikan beberapa hari lalu, bahkan ia sampai ikut membantu para pramusaji mengantar makanan hanya agar dirinya tetap sibuk dan bisa sedikit melepas pikiran-pikiran negatifnya.
Setelah Axel menyelesaikan masalah yang di hadapi kafe milik istrinya itu, alhamdulillah beberapa hari ini pelanggan yang berkujung sudah mulai kembali berdatangan seperti biasa.
Bukan hal yang sulit untuk Axel meyelesaikan masalah di kafe itu, bukan karena ia berkuasa, tetapi karena yang membuat masalah adalah keluarganya sendiri maka dari itu dengan mudah ia menyelesaikan nya, bahkan seseorang yang sudah menyebarkan berita tentang kafe Salwa yang aneh aneh juga sudah Axel penjarakan walau akhirnya orang itu di keluarkan oleh Damar paman tirinya.
Tapi Axel pura pura tidak mengatahui semua hal yang di lakukan paman tirinya itu.
"Jack, aku pulang lebih dulu ya, capek!"
Yanti menekuk lehernya kekanan dan kekiri karena rasa lelah yang ia rasakan, setelah dari acara Salwa demi membantu kawan jomblo nya ini ia rela kembali kekafe untuk membantu Jack karena kafe mulai rame kembali.
"Jack, kira kira siapa ya yang kemarin bikin masalah sama kafe ini?" Yanti menarik kursi yang ada di meja kerja Jack.
Jack menatap Yanti, "Aku juga enggak tahu, yang penting semua sudah kembali normal kan." Ujar nya.
"Kamu baik-baik sajakan?"
"Hah!" Jack menghentikan kegiatan menulisnya dan meletakkan pena yang sedang ia pegang.
"Aku baik, jika pria ingusan itu bisa membahagiakan Salwa aku bisa apa Yan, Jack menjeda kalimatnya.
"Tapi jika suatu saat bocah itu berani seujung kuku saja menyakiti Salwa, aku tidak akan tinggal diam!" Kilatan mata elangnya tajam menatap Yanti.
Sedangkan alis Yanti menukik tajam melihat tatapan Jack, "kamu tidak akan melakukan hal di luar batas kan Jack?"
"Te tentu tidak lah, aku kan orang baik Yan!" Jack tertawa seakan perkataan nya hanya sebuah lelucon.
"Ya sudah, tetap pakai akal sehat mu, oke!"
"Siap!" Jack mengacungkan jempolnya.
Yanti keluar dari ruangan Jack menuju dapur untuk mengambil tas dan bersiap untuk pulang.
Jack dari awal memang sudah kalah, bukan karena ia tak pernah berusaha mendekati Salwa sebagai seorang pria sejati, tapi dari awal ia dan Salwa bertemu, wanita itu tak pernah membuka hati untuknya, dan Jack sadar akan itu.
****
Satu minggu setelah perhelatan sakral yang di selenggarakan secara diam diam itu, kini Axel sudah melakukan kembali rutinitasnya seperti biasa begitupun juga Salwa sang istri, dan hingga hari ini juga Axel dan Salwa masih belum melakukan kegiatan ranjang yang menguras tenaga dan jiwa mereka.
"Hari ini jangan lupa jika kamu pulang terlambat hubungi aku, agar aku bisa menghubungi pak ustad jika kamu tidak bisa mengikuti pelajaran hari ini."
Axel menelan ludah nya kasar, ia tahu jika kalimat yang terlontar dari istri nya itu adalah sebuah peringtan karena kemarin ia datang terlambat sehingga membuat guru ngajinya harus menunggunya hingga dua jam.
"Ia sayang, nanti aku akan kabari, tapi akan aku usahakan bisa pulang sebelum mahgrib."
__ADS_1
Salwa merotasikan bola matanya malas, "dasar anak ingusan!"
Salwa mengumpat di dalam hati nya, Salwa harus ekstra sabar menghadapi pria muda yang sudah menyandang status sebagai suaminya ini.
Cup
Kecupan lama Axel tambatkan di pipi sang istri, "Jangan marah Nyonya Hadinata, aku mencintaimu."
"Hah, ya sudah berangkat sana Farhan sudah menunggu di luar." Axel tersenyum lebar setelah Salwa menyunggingkan senyumnya dan mengusap dada bidangnya.
Axel dan Salwa berjalan beriringan keluar dari kamar mereka menuju teras depan.
"Selamat pagi tuan dan nyonya!"
Salwa mencebikkan bibirnya, "Bisakah jangan memanggilku Nyonya pak Farhan, aku tidak pantas dengan panggilan itu. cukup panggilan itu hanya untuk Nyonya besar Hadinata saja."
Axel mengulum senyum melihat Farhan kikuk karena ia kembali salah mengucapkan kata sapaan pagi ini.
"Maaf Bu Salwa, saya masih belum terbiasa."
"Biasakan, oke!"
Farhan mengangguk hormat di hadapan Salwa, "Mari pak Axel!"
Axel mencium kening sang istri, setelahnya ia masuk ke dalam mobil dan bersiap menuju ke kantornya.
.
.
.
Axel tiba di kantor seperti biasa, para karyawan juga melakukan hal yang sudah biasa mereka lakukan yaitu menyambut kedatangan Axel.
Tapi sudah beberapa hari ini para karyawan sedikit di buat heran dengan sikap Axel yang menurut mereka tidak seperti biasanya.
"Dia senyum lagi!"
Salah satu karyawan bergumam, dan di angguki teman yang ada disebelahnya.
Setelah Axel menghilang di balik tangga, para karyawan kembali menegakkan tubuh mereka.
"Pak Axel, senyum lagi?" Ucap salah satu resepsionis.
"Iya, apa kita sedang dalam tender besar?" sahut yang lainnya.
__ADS_1
"Sepertinya tidak!" yang lain menggeleng.
Mereka cukup heran, karena selama ini Axel tidak pernah tersenyum seperti itu. Jika para karyawan terheran-heran, orangb yang sedang ada di sudut belakang tepatnya di depan pintu lift justru menatap Axel penuh amarah.
"Hanya anak kemarin sore, apa hebatnya dia. Sebelum ia pegang kendali, aku yang lebih dulu berjasa setelah Erland sakit. Punya adik juga tidak berguna, sampai sekarang ia tak bisa meyakinkan Erland si penyakitan itu!" pria berusia 45 tahun ini geram, ia mengepalkan tangannya kesal, sungguh kesal.
.
.
.
Di dalam mobil sedan berwarna hitam yang di kemudikan Jun, Salwa sedang asik menatap laporan yang di kirim Jack lewat email di tab yang Axel berikan. namun ketika ia mendongak menatap sekitar, sepasang matanya menangkap sosok mobil SUV hitam yang tepat berada di belakang mobilnya.
"Jun, hanya perasaanku saja atau kamu sependapat dengan ku, bahwa mobil di belakang kita mengikuti kita dari tadi?"
Jun, pengawal yang di tugaskan Axel untuk menjaga Salwa itu mengangguk pelan, namun ia tak mengatakan apapun karena ia tahu siapa yang sedang membuntuti mobil mereka.
"Untuk apa membuntuti seperti itu, apa Axel biasa mengalami hal seperti ini?"
"Tidak selalu Nyonya!"
"Hais! " Salwa mendesis.
"Tidak bisakah kamu dan Farhan memanggilku tidak dengan sebutan Nyonya, aku merasa sedang berada di telenovela, Jun!" sungutnya.
Jun, sang pengawal baru untuk Salwa hanya bisa menunduk hormat tanpa menjawab pernyataan Salwa. menjengkelkan, memang? karena ia juna Sagarra, salah satu pengawal pribadi Axel yang sangat irit bicara, bahkan ia juga jarang sekali tersenyum, dingin bagai es di kutub utara, entah apa yang membuat pria berkulit sawo matang itu seperti itu.
...🍃🍃🍃🍃🍃...
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers...
yuk jenguk dan baca cerita teman ku! di jamin enggak akan kalah seru...
Blurb :
kisah cinta antara profesor muda yang sangat tampan bernama Prof. Hugo Raine Richmound (Raine)
yang sudah menutup hatinya untuk wanita manapun dan bersumpah untuk tidak jatuh cinta lagi.
Dipertemukan dengan gadis yang sangat cantik yang merupakan artis yang sangat cantik yang merupakan artis terkenal sekaligus muridnya.
Renata Lovely Hadinata (Rena) bagaimana kisah cinta mereka saat pada pertemuan pertama renata nekat mencari ciuman di bibir Dosen tampannya itu.
Nama pena : Ippiiieee
__ADS_1
Judul : DOSEN TAMPAN PEMIKAT HATIKU