SUAMI KU DAUN MUDA

SUAMI KU DAUN MUDA
Bab 34 - Bersama dalam satu ikatan sakral


__ADS_3

Axel duduk di kursi tempat dimana ia akan mengucap ijab dan qabul, mengesahkan hubungan antar manusia nya dengan Salwa agar menjadi hubungan resmi nan halal yang kita sebut sebagai suami dan istri.


Jas abu senada dengan gaun yang Salwa kenakan melekat pas di tubuh Axel, menampakan lengan kokoh serta dada bidang yang akan selalu ia gunakan untuk menopang tubuh sang istri dalam suka maupun duka, hiasan bunga mawar merah di bagian samping kiri dadanya menambah kesan manis untuk pria muda ini.


"Han?"


Farhan mendekat dan menundukkan kepalanya di samping wajah Axel.


"Ada apa Pak?"


"Apa kah semua aman,kamu sudah menyalakan semua cctv yang ada di sudut luar rumah kan?"


Farhan mengangguk,ia mengambil ponselnya yang langsung terhubung dengan cctv di rumah tersebut.


"Hanya ada satu pengintai saja Pak! tapi sudah saya pastikan ia tak akan membuat ribut di hari ini."


Axel menyunggingkan senyumnya, ia tahu betul siapa orang yang sedang mengintai rumahnya, tak lain dan tak bukan utusan ayahnya sendiri.


"Pastikan semua aman Han!" Farhan mengangguk dan kembali ke barisan dimana ada Jun juga disitu.


Sedangkan om dan tante Salwa duduk tepat di belakang Axel bersama Jonathan dan david yang akan menjadi saksi pernikahan. Axel memang sengaja tak menghadirkan pihak keluarga intinya, karena baginya itu adalah hal yang percuma dan membuang waktu saja. ia juga tak memberi kabar kepada kakek dan neneknya bukan karena tak ingin membagi kebahagiaannya tapi bagi Axel keselamatan mereka adalah utama,karena hanya tinggal merekalah keluarga dari sang ibu.


"Pak Axel,mempelai wanitanya apa sudah siap?"


"Mungkin sebentar lagi,sedang di panggil oleh kakak nya di kamar pengantin." Ujar Farhan.


"Pak!" Farhan memegang pundak Axel pelan dan menunjuk ke arah depan nya dengan dagunya.


Axel mengikuti kemana arah dagu Farhan menunjuk,


Deg!


Bola mata hitamnya menatap tajam wanita yang sedang berjalan menuju ke arahnya, manis-cantik dan mungil. tentu saja benak Ax terkekeh.


"Saya serahkan adik saya,tolong di jaga dan perlakukan dia dengan baik, jika anda sudah tidak mampu, tolong kembalikan kepada saya dengan utuh seperti hari ini tanpa ada luka di jiwa dan raganya."


Bima sang kakak, mengucapkan kalimat itu dengan tegas dengan tatapan tajam siap menguliti Axel jika semua yang ia sampaikan tak dapat pria muda itu laksanakan dengan baik.


"Aku Arion Axell Hadinata akan menjaga nya dengan jiwa dan raga ku, aku siap meneteskan darahku jika sampai aku melukai sedikit saja hatinya." Axel dengan mantap dan menegaskan tiap suku katanya untuk menjawab kalimat yang Bima lontarkan.

__ADS_1


Bima tersenyum lega, walau hatinya masih sangat berat melepas sang adik, tapi ia ingin mencoba percaya pada pria muda di hadapnnya ini.


.


.


.


.


"Saya terima nikah dan kawin nya, Salwa mahirra binti Faris Hadi Permana alm. dengan seperangkat perhiasan dan satu buah rumah beserta isinya di bayar tunai."


Penghulu terdiam sebentar, ia menoleh ke kanan dan kiri memastikan Axel menjawab dengan benar.


Sah


Para saksi mengucapkan kata sah yang membuat hati Axel lega, pundaknya yang tadi menegang kini turun dengan perlahan dan siap meneruskan rangkaian sampai dengan penandatanganan berkas agar hubungan mereka sah secara hukum dan negara.


Selamat ya!


Pak penghulu kembali menyalami Axel begitupun juga dengan Salwa serta tak lupa mendoakan kebahagiaan mereka, serta memberikan sedikit wejangan untuk pengantin baru itu.


"Selamat ya Sal." Ujar yanti yang baru saja.


"Yan,mana Jack?"


Yanti termangu, "emm..ia tak bisa hadir,karena kafe enggak mungkin di tinggal kan Sal?" Yanti tertawa sumbang.


"Tinggal sebentar juga enggak akan kenapa-napa Yan, enggak mungkin juga tuh kafe bakalan di bawa keong."


Yanti mencoba mencari opsi lain, agar Salwa tak kecewa atas ketidak hadiran Jack.


"Tadi juga dia bilang,akan ada bahan yang datang hari ini,jadi dari pada nanti ia buru buru mending stay di kafe kan, tadi dia juga bilang kalau bakal nemuin kamu besok."


Salwa mengehla nafasnya, bagaimanapun Jack adalah orang yang sangat berjasa di hidupnya, maka dari itu ia sangat berharap jika pria itu datang dan menyaksikan acara ini.


"Jangan sedih dong, besok juga bakal ketemu di kafe kan?"


Axel merangkul pundak Salwa dan mencium pipi nya sekilas.Salwa mengangguk dan tersenyum cerah kepada suami berondongnya itu.

__ADS_1


"Selamat ya nona manis, saya tidak menyangka kita bertemu lagi dalam kondisi seperti ini." David mengulurkan tangannya.


Salwa meraih tangan berotot itu ia tersenyum tulus ke arah pria yang selama ini sering menggodanya jika mereka bertemu di perpustakan kota.


"Apa kah setelah ini kita masih bisa bertemu di sana?" Axel menatap tajam bagai elang siap mencengkram tubuh David karena ia tahu apa kata arti disana.


"Apa kau mau saham mu aku beli dengan murah,Vid?"


David seketika tertawa mendengar ancaman yang Axel berikan padanya. "Bisakah jangan selalu mengancamku dengan saham Rion, kamu tahu betul saham itu adalah kekayaanku."


"Jangan macam-macam!" tegasnya.


Salwa hanya menggelengkan kepalanya. "Dari awal kita memang tidak berjodoh Vid, bukan aku tidak mengenalmu, aku tahu siapa dirimu, tapi waktu memang tak pernah memilihmu."


Sembari tersenyum Salwa berbicara dalam hatinya, selama ini bukan ia tak tahu siapa David sebenarnya, namun karena Salwa memang tak ingin terikat pada pria manapun, seolah-olah ia berlagak tak mengenal David sama sekali.


Bagaimana bisa aku tak mengingat pria berkaca mata, yang menolongku saat aku hampir terjatuh dari tangga kampus. Bagaimana aku bisa melupakan pria yang telah menyelamatkanku dari sebuah insiden yang bisa saja merenggut nyawaku waktu itu.


Salwa mentap punggung David yang semakin menjauh dan berhenti di kerumunan para tamu yang hanya terdiri dari keluarga dan pengawal itu.


"Apa semenarik itu pertemuan kalian, sampai kamu tak berkedip memandang punggungnya?" Axel berbicara sambil berbisik di telinga Salwa.


Salwa menoleh menatap suami berondongnya. "Pada dasarnya disini yang sangat membuat hal ini menarik adalah kamu!"


"Kenapa?" Axel menatap dengan seksama wajah sang istri.


"Karena disini yang suka memaksa hanya kamu, pria muda yang suka nya sama janda yang usianya lebih tua, apa ada hal yang lebih menarik dari itu tuan muda?"


Axel mengambil kedua kerah jas dan menariknya seakan membenarkan perkataan sang istri. "Yah, karena disini, hanya aku yang paling keren dan menarik, sehingga pesona ku bisa meluluhkan hati skeras bajamu itu."


"Narsis!"


"Sal!" Nayla memanggilnya karena akan melakukan foto bersama.


"Ayo! kita buat kenang-kenangan?" Ujar Axel dengan senyum tengilnya.


Salwa membalas senyum tengil suaminya dengan ciuman singkat di rahang Axel. "Kenapa disitu?"


"Kamu terlalu tinggi Ax,heels ku sudah 10 centimeter!" keluh Salwa, seketika Axel terbahak sampai orang-orang menoleh kepadanya.

__ADS_1


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


__ADS_2