SUAMI KU DAUN MUDA

SUAMI KU DAUN MUDA
Bab 20 - Bertemu calon mertua baru


__ADS_3

Salwa meremat kaftan brokat berwarna hitam yang Axel berikan padanya.Ia tak mengerti kenapa harus berpenamilan heboh seperti ini.


"Ck,mau kemana sih harus pakai beginian !"Sungutnya.


Axel yang mendengar gerutuan Salwa hanya bisa menggeelengkan kepalanya,"menurut dan jadilah gadis menggemaskan hari ini,oke ?"Axel mengambil pergelangan tangan Salwa pelan dan menelusupkan jari nya ke sela sela jari Salwa.


"Aku ini wanita dewasa Tuan Hadinata,bukan anak remaja !"Salwa menatap manik mata Axel tanpa sungkan.


Pria muda tampan nan gagah itu hanya bisa menghela menurunkan dadanya,ia tak tahu terbuat dari apa sebenarnya wanita di sampingnya ini,"tak bisakah jika saat bersamaku kamu tak menunjukkan sikap mu yang seperti ini,bisakah mulai sekarang kamu menganggapku teman ?"Axel mencoba bernegoisasi


Salwa melirik dengan tajam pria muda itu,"sikap yang bagaimana maksud anda tuan ?"


Axel mendekatkan wajahnya ke telinga Salwa,"Sikap sok kuat namun sejujurnya rapuh !"bisik Axel.


Cih,"aku memang kuat,bukan sok kuat !"sinisnya.


Axel tak lagi menaggapi perkataan Salwa,karena ia tak mau acara yang sudah ia susun ini berakhir berantakan.


Sedangkan Farhan yang sedang menjadi sopir terus bergumam di dalam hatinya,"nasib bawahan jomblo !"ck!".


.


.


Satu jam berkendara,akhirnya mobil BMW keluran terbaru itu berhenti di sebuah taman pemakaman elit yang terdapat pintu gerbang besar di area luar pemakaman.


Axel keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Salwa


"Pemakaman?"cicit Salwa,ia mengedarkan pandangannya,"area yang cukup luas dengan hamparan hijau,ini kuburan apa taman buat piknik ?"Batinnya tertawa.


"Kita akan menemui ibu ku dulu sebelum bertemu dengan ayah ku !"Salwa menghentikan langkahnya,"Ibu mu ?" beo Salwa.


Axel mengangguk,"dulu ia memang tak di makamkan disini,tapi setelah aku memiliki uang lebih akhirnya aku memindahkannya kesini dan membeli beberapa area juga untukku dan keluarga kecilku nanti.


Salwa yang mendengar cukup tercengang,anak muda sepertinya sudah merencanakan bagaimana disaat terakhir di dunia.Jika kebanyakan orang mengumpulkan uang seakan selamanya di dunia tapi tidak dengan Axel,Salwa cukup terkesan.Walau hatinya tetap menggerutu,"aku terkesan,tapi kan ini cuma ke pemakaman apa harus pakai kaftan dengan harga mahal begini !ck!".


"Kita sampai!"Ujar Axel,Salwa menatap gundukan di depannya tanpa sadar ia mencengkram erat baju bagian dadanya setelah membaca tulisan di atas marmer hitam itu.Seolah ada sesuatu yang membuat hatinya tak nyaman.


Axel melepas tautan jarinya lalu berjongkok di samping makam ibunya yang bertuliskan Rima Nayanti binti Sujaswadi di atas mamer hitam di atas gundukan rumput hijau itu."Assallamualaikum ibu,maaf Axel lama tidak kemari,tapi kali ini Axel kemari membawa calon makmum,kalau dia setuju."Axel terkekeh.


Salwa terdiam mendengar penuturan Axel,ia tak mampu membuka mulut nya yang tadi terus mengajak Axel berdebat,seakan ada hal yang ia ingin utarakan namun ia tak mampu.

__ADS_1


Axel yang tak mendengar apa pun dari wanita yang ada di sampingnya menoleh,"Apa nona tidak akan menyapa calon mertua mu ?"


Salwa mengedipkan matanya beberapa kali untuk kembali menyadarkan dirinya dari lamunan."Kenapa,apa matamu kelilipan ?"Tanya Axel.


Salwa menggeleng pelan,ia tatap makam di depannya seoalah ada kerinduan yang mendalam,"Assallamualaikum tante,Maaf Salwa baru datang."Ucapnya tanpa sadar.Axel menoleh mendengar ucapan Salwa,ucapan yang seakan Salwa lama tak datang kemari.


Salwa mengusap batu nisan itu lembut dan menatapnya penuh haru,"Maaf Salwa masih butuh waktu untuk menjadi menantumu,bukan tak ingin tapi aku butuh meyakinkan hatiku."Salwa bergumam dalam hati serta melantunkan doa untuk almarhumah.


Setelah selesai mendoakan sang ibu dan menabur bunga yang Farhan bawa,mereka langsung kembali kemobil mengingat hari semakin siang dan jalanan pasti akan sangat macet.


Salwa memandang ke arah luar melihat bangunan dan pepohonan yang silih berganti sesuai kecepatan mobil yang Farhan kendarai.Ia masih sesekali meremat dadanya,merasa ada yang masih mengganjal namun ia tak tahu apa itu.


Axel yang melihat Salwa terdiam dan melamun langsung mencium pipi Salwa tanpa ijin,dan itu sangat membantu membuat suasana kembali memanas.


"Bisakah kamu tak melakukan ini,ada Farhan !"Salwa menatap tajam mata Axel.


"Jadi jika tak ada Farhan apa aku boleh melakukan lebih ?"Lirihnya.


Wajah Salwa seketika memerah menahan kesal yang sudah di ubun ubun.Kali ini ia benar benar ingin mencakar wajah pria tengil di depannya ini."Aku bisa saja membuat wajah tengil mu itu tak berbentuk tuan muda Hadinata !"Kali ini Salwa tak main main,tapi justru ini yang Axel suka.


Axel tersenyum smirk,"cobalah !" tantang pria muda itu.


Janda kembang bertubuh mungil ini menghela nafas untuk menetralkan degub jantungnya yang kian cepat.ia mendengus beberapa kali namun itu justru terdengar seperti melodi bagi Axel."Aku rasa pasti akan menyenenengkan jika sudah hidup satu rumah dengannya."Batin Axel.ia pun terkekeh pelan.


.


.


.


Tepat di jam makan siang Axel dan Salwa tiba di kediaman Hadinata,rumah megah serta halaman yang sangat luas menjadi pemandangan mata Salwa setelah Axel memintanya keluar dari dalam mobil.


Jika gadis lain pasti akan sangat tersanjung bahkan mungkin grogi,tapi tidak dengan Salwa.justru ia merasa biasa saja berbeda ketika di pemakaman tadi.


Farhan berlari kecil setelah keluar dari dalam mobil,"apakah saya perlu ikut masuk pak Axel ?"


"Tidak perlu Han,saya akan hadapi ini sendiri."Farhan mengangguk dan segera memberi ruang untuk Axel.


"Siapa saja yang akan kita temui di istana mu ini ?"Tanya Salwa.


Axel menggoyangkan telunjuknya,"ini bukan istana ku,ini istana ayahku dan istrinya.jika kamu mau istana,aku akan bangunkan nanti,khusus untukmu."Salwa melengos mendengar ucapan Axel yang syarat akan gombal dan janji manis itu.

__ADS_1


"Semua laki laki sama saja,tukang gombal !"Lirih Salwa namun masih terdengar di telinga Axel.


"Yang jelas itu pasti bukan aku,karena aku tak suka membuat janji manis,tapi aku lebih suka mewujudkannya dengan segera."Axel merangkul tubuh mungil itu dan mendekapnya."dan sekarang tersenyumlah !"Salwa mendongak menatap Axel dan mengernyit.


Tiba tiba pintu besar itu terbuka,para maid datang menghampiri Axel dan menunduk hormat padanya dan Salwa."Wah tuan muda sesungguhnya ini mah."benak Salwa terkekeh melihat kelakuan para pembantu itu.


"Apa harus seperti ini ?"


"Biasakan lah mulai sekarang."Ujar Axel.


"Memang siapa yang setuju untuk menjadi istrimu wahai anak muda !"Axel tertawa memandang Salwa yang tinggi nya hanya sebatas dadanya saja.


Dari arah tangga,seorang wanita paruhbaya yang masih sangat cantik bahkan lalat saja akan terpeleset di kulit mulusnya itu,menatap tajam kearah Salwa.


Salwa yang ditatap seperti itu tak menampakan wajah ketakutan sama sekali,Jika gadis lain akan menundukkan kepalanya,tapi tidak dengan Salwa,ia justru menatap balik tajam ke arah nyonya rumah itu.


"Siapa gadis kecil ini !"Batin nya.


"Selamat siang Axel,siapa dia ?"Tanya nyonya Mayara dengan senyum yang dibuat buat.


Axel yang ditanya tak menjawab,ia justru terus melaju melangkahkan kakinya menuju tangga.Sedangkan Salwa menunduk sekilas ketika melewati nyonya Mayara.


"Kamu tidak sopan !"Ujar Salwa.Axel tak mau menanggapi ucapan Salwa,ia hanya mengedikkan bahunya tanda tak peduli.


Tok tok


Axel mengetuk pintu bercat coklat di hadapannya.Salwa yang tak tahu ruangan apa itu hanya diam dan mengikuti saja.


Cek lek


Pria paruhbaya yang merupakan asisten pribadi sang ayah menunduk hormat kepada Axel."Tuan muda !" sapanya."Apakah dia baik baik saja ?"pria paruhbaya itu mengangguk.


Axel menarik pelan pergelangan tangan Salwa dan mengajaknya masuk keruangan yang berisikan rak rak besar yang terdapat buku buku yang sudah di pastikan berharga fantastis.


Axel mendekat kemeja besar yang terdapat beberapa berkas serta laptop yang masih meyala."Siang ayah !" Sapa Axel kepada pria paruhbaya yang sedang duduk dengan posisi memunggungi Axel.


Tuan Erland ayah kandung dari Axel itu membalikkan kursinya dan mentap tajam kearah sang anak."Apa kau tak lagi menghormatiku sebagai orang tua Axel ?"Ujarnya datar.


Salwa yang tahu akan ada perang dunia ketiga menyiapkan kuda kudanya."Harus siap siaga nih !"Benak nya.


Tuan Erland yang tak mendapat jawaban dari Axel berbalik menatap kearah Salwa,namun tiba tiba ia menukikkan alisnya."Wajahnya tak asing,siapa dia ?"Benaknya bertanya tanya.

__ADS_1


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


__ADS_2