SUAMI KU DAUN MUDA

SUAMI KU DAUN MUDA
Bab 16 - Mengunjungi mertua


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Sudah satu minggu sejak kata SESERAHAN terucap dari bibir seksi milik Axel kini Salwa di sibukkan dengan pekerjaan barunya sebagai CS dengan pelanggan setia si tuan muda Hadinata,yang terus menghubunginya lewat telpon ataupun pesan singkat di aplikasi hijaunya hampir dua jam sekali.


Salwa bahkan sampai berkeinginan untuk mengganti nomer nya agar tak terus terusan di hubungi Axel yang bagai penagih hutang.


Bahkan ketika ponsel nya berdering atau dalam mode getar Salwa ingin sekali memasukkan manusia menjengkelkan itu ke mulut ikan paus dan memasukkan ponsel Axel ke perut ikan hiu,agar ia tak lagi bisa menghubungi Salwa.


"Tak bisakah ia menghentikan kekonyolan ini,astaga !"Salwa berteriak hingga memenuhi isi kamarnya.


Namun bukan hal ini saja yang sebenarnya membuat Salwa mersa jengkel,namun karena sebuah kebisaan yang menurutnya membuang buang uang.


Tok tok


"Salwa dengan malas membuka pintu kamarnya"


Cek lek


"Apa lagi kak Nay ?"


"Emm kali ini bukan bunga mawar Sal,tapi bunga Tulip warna merah."Ucap Nayla kakak iparnya.


Salwa bingung,kenapa tiba tiba Axel menggganti bunga mawar yang ia biasa kirim setiap pagi dengan bunga tulip berwarna merah."Eh ngapain aku mikirin dia ganti bunga apa enggak."Salwa menggelengkan kepalnya atas asumsi spontannya itu.


"Setahu kakak bunga Tulip warna merah itu menandakan cinta sejati lo Sal ?"


Mata Salwa membola,cinta sejati benaknya tak percaya.yang mana bisa di katakan cinta sejati jika mereka saja tak memiliki hubungan secara khusus.


Bagi Salwa memang begitu tapi tidak bagi Axel,Bagi Axel perasaan yang ia rasakan terhadap Salwa saat ini murni dari jiwanya yang terdalam,bukan hanya sekedar rasa kagum yang jika sudah terpenuhi akan hilang begitu saja.


Bagi Axel setelah ciuman singkat itu,ia sudah memberikan stempel kepada Salwa jika ia adalah wanitanya dan Axel tak akan membiarkan siapa pun merebut miliknya,bahkan dari pria yang selama ini sudah membantu Salwa secara diam diam.


Axel juga mulai mengulik tentang kehidupan Salwa tanpa wanita itu ketahui,bahkan hingga hari ini Salwa masih tak menyadari jika ada pengawal yang Axel sebar di berbagai sudut jalan untuk memantau setiap pergerakan Salwa,karena pria muda itu tak mau jika ada suatu hal yang akan membahayakan wanita bertubuh mungil itu.


Axel sedang memastikan jika Salwa tak terlibat tentang apa yang sudah almarhum suaminya itu kerjakan tanpa sepengetahuan Salwa.

__ADS_1


Bahkan Axel juga menemukan bahwa kematian Satya memang sudah di rencanakan oleh seseorang.


"Kak aku ke kafe dulu ya,udah siang banget nih dan nanti mungkin aku pulangnya agak malam,karena hari ini aku harus kerumah ayah Ridwan buat ngasih ini."Salwa menunjukam amplop berisi uang yang biasa ia berikan kepada kedua orangtua Satya.


"Kenapa sih enggak transfer saja Sal ?"


"Aku sekalian jenguk ayah sama ibu kak."Ucap Salwa sambil memakai sneakersnya.


Nayla hanya bisa merotasikan bola matanya,bukan ia tak suka dengan apa yang Salwa lakukan,namun ia sangat tidak suka dengan perlakuan ibu dari Satya yang selalu mengisyaratkan jika apa yang Salwa lakukan sekarang ini merupakan tanggung jawab Salwa setelah Satya meninggal.


Bahkan uang yang Satya tinggalkan untuk Salwa tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya sampai detik ini masih utuh justru bertambah setelah Salwa bisa membangun bisnis peninggalan suaminya hingga berkembang seperti sekarang,tapi kedua orang tua Satya tak pernah mengetahui itu.


Yang mereka tahu selama ini Salwa memberikan uang itu karena murni dari usaha sang anak yang di wariskan kepada Salwa.


.


.


Salwa menggeber motor besarnya yang ia beli secara mencicil lewat teman Jack yang memiliki usaha jual beli moge beberapa tahun lalu.


Setelah hampir setengah jam perjalanan,Salwa akhirnya sampai di kediaman kedua orang tua Satya.Rumah berlantai dua yang dulu sering ia kunjungi dan selalu menjadi rumah ternyaman karena perlakuan kedua orang tua Satya yang selalui hangat dengannya.


Tapi sayangnya itu tak betahan lama,setelah kematian Satya semua hal itu berubah 360 derajat.


Ting nong


Salwa memencet bel yang ada di depan pintu gerbang rumah bercat biru itu.


Tak lama seorang gadis berusia kuarng lebih 17 tahun menghampiri dan membukakan pintu gerbang.


"Asaallamualaikum rahma !"Ucap Salwa sopan.


"Walaikum salam kak Salwa,bagaimana kabar kakak ?" tanya nya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


"Alhamdulillah baik Rahma,bagaimana kabar ayah ?"

__ADS_1


"Alhamdulillah ayah baik,berkat kakak pengobatan ayah bisa terus berlanjut."


"Itu memang sudah tanggung jawab nya Rahma." Sahut wanita paruh baya yang diam diam mendengar percakapan Salwa dan Rahma.


"Ibu jangan mulai !" Rahma memperingatkan ibunya,dulu Rahma juga membenci Salwa,namun seiring berjalannya waktu serta bertambah besarnya usia Rahma,ia mulai memahami jika apa yang Salwa kerjakan adalah hal yang luar bisa.


"Jangan menggurui ibu Rahma,ibu lebih tahu apa yang harus di lakukan dan tidak !" Ketusnya.


Rahma yang tak ingin terjadi keributan memilik pamit kebelakang untuk membuatkan Salwa minuman.


"Ini uang yang Salwa udah siapkan bu." Ucapnya.


"Seperti biasa kan ?" Salwa mengangguk pelan.


Wanita paruhbaya itu langsung mengambil uang yang masih berada di tangan Salwa secara kasar.


"Bu,tidak bisakah pelan saja mengambilnya ?" Namun sang istri tak menghiraukan perkataan suaminya.


"Dari kafe atau rumah nak ?"


"Dari rumah ayah,sekalian mau ke kafe."Salwa menjawab dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Bekerjalah dengan giat,jika bukan karena kamu mengijinkan Satya pergi ia tak akan mengalami kecelakaan itu dan meninggalkan kami."Ibu Satya menatap sinis kearah Salwa.


Pak Ridwan yang sudah merelakan kepergian sang anak tak lagi menaruh rasa benci terhadap Salwa.tetapi sayangnya tidak dengan nyonya Runi sang ibu mertua ia masih saja menyalahkan Salwa tentang kejadian yang sebenarnya Salwa sendiri tak paham,kenapa tiba tiba Satya keluar dari gedung pernikahan dan mengalami musibah yang menewaskan pria yang baru satu hari menyandang sebagai suaminya tersebut.


"Makan siang disini saja ya kak ?"Tawar Rahma adik iparnya.


"Enggak usah Rahma,kakak sudah di tunggu asisten kakak di kafe karena ada pekerjan yang akan kami bahas,alhamdulillah ada orang yang menawarkan investasi untuk kafe kakakmu."Salwa mengucapkan kalimat itu dengan penuh binar di matanya,karena tanpa di sadari ia sedang membayangkan pria yang menawari invetasi itu.


"Wah,rezeki kakak benar benar melimpah ya!" Seru Rahma senang,tetapi berbanding terbalik dengan sang ibu,ia terkejut kenapa justru ketika Salwa yang mengelola kafe itu malah semakin berjaya,bagaimana jika ia tahu bahwa sang anak juga meninggalkan sejumlah uang yang nominalnya tak kira kira bagi seorang pengusaha kafe biasa seperti Satya.


"Alhamdulillah Salwa,jika kafe yang Satya tinggalkan bisa berkembang sangat bagus."Tutur sang ayah mertua.


Salwa mengangguk dengan tawa yang tersungging dari bibirnya.

__ADS_1


... 🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤...


__ADS_2