SUAMI KU DAUN MUDA

SUAMI KU DAUN MUDA
Bab 69 - Kecurigaan Salwa


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Salwa terus saja menahan tawanya, ia merasa jika Axell mulai tidak waras. Sedangkan Juna yang sedang berperan layaknya asisten pribadi seorang nyonya besar hanya bisa pasrah melihat kondisinya saat ini.


“Kenapa aku jadi seperti, Farhan!” batin Juna menjerit. Jujur saja jika bukan sang Bos yang memintanya, seumur-umur ia tak mau mengenakan pakaian formal seperti ini. Bukan apa-apa, Juna hanya merasa jika ini bukan gayanya.


Walaupun sebenarnya saat ini Juna sungguh seperti asisten salah satu bintang Korea yang pernah membintangi drama bersama anak muda lainnya kala itu, film bertajuk meraih mimpi itu cukup terkenal di jamannya. Sungguh para wanita pasti akan meleleh melihat Juna, apalagi dengan otot-otot yang menonjol di lengan serta dada bidang yang tercetak jelas itu membuat hati siapapun berdesir. Jika dilihat lebih dekat, Juna saat ini seperti bos mafia, wajah dingin serta tak banyak bicara membuatnya sungguh sangat berkarisma.


Salwa yang duduk di belakang, mengulum senyum dan membuka pembicaraan, “apa kau tidak nyaman Jun?” tanya Salwa masih dengan senyum yang tidak surut dari bibir manis kesukaan Axell.


“Tidak, Nyonya! saya nyaman” jawab Juna.


“Kau tau Jun, walau kamu tampak aneh memakai pakaian formal seperti itu tetapi sungguh, kau sangat keren!” ujar Salwa mengatakan hal yang sesungguhnya.


Juna menarik kedua sudut bibirnya, bukan karena sanjungan Salwa namun karena Salwa merasa apa yang ia pakai ini tak membuatnya malu. “Terima kasih, Nyonya!”


“Tapi jangan bilang Axell jika aku mengatakan ini padamu, kau tahu dia seperti apa. Semenjak keluar dari rumah sakit dia semakin aneh,” ujar Salwa sambil membayangkan Axell yang memberikan ia wejangan panjang kali lebar apartemennya saat Salwa keluar dari pintu unit mereka.


Salwa bergidik, entah kenapa Axell menjadi semakin posesif seperti itu. “Menurutmu, apa yang membuat dia sembuh dari traumanya dalam sekejap seperti itu Jun?”


“Dia sembuh karena Anda Nyonya,” ujar Jun dalam hati. Jun tak bisa mengatakan itu secara gamblang karena Axell melarang menceritakan apapun tentang masa lalu mereka kepada Salwa. “Saya tidak tahu dengan pasti Nyonya!” Salwa menganggukkan kepalanya, Axell sendiri juga belum menceritakan apapun padanya. Biarlah Axell melakukan itu, mungkin memang banyak hal yang tak bisa Axell ungkapkan kepadanya, mungkin untuk kebaikannya, pikir Salwa.


“Sudah sampai, Nyonya,” Jun menghentikan mobil itu tepat di parkiran cafe milik Salwa.


“Kau, iku masuk Jun?” tanya Salwa sambil membereskan tasnya.


“Sesuai perintah Bos, saya akan disamping Anda hingga kita kembali pulang!”


Salwa manggut-manggut, ia keluar dari mobil tanpa menunggu Jun membukakan pintu, Juna yang tahu kebiasaan Salwa tak pernah mempermasalahkannya. Bukan tak patuh pada Axell, tetapi Salwa selalu mengatakan jika segala sesuatu yang bisa dikerjakannya sendiri, tolong jangan bantu cukup melihat saja.


“Kita lewat depan Jun!”


“Baik, Nyonya!” ujar Jun.


Salwa berjalan di depan sedangkan Jun mengikuti tepat di belakangnya. “Wah, ramai!” gumam Salwa melihat para pengunjung.


Para pengunjung yang melihat Salwa datang bersama Jun, langsung memusatkan pandangan mereka kepada keduanya.


“Itu bukannya yang punya cafe? wah pria dibelakangnya siapa, apa suaminya? keren banget!” terdengar gumaman lirih pengunjung membuat Salwa menahan senyumnya.

__ADS_1


“Salwa!” seru seorang wanita yang baru saja keluar dari arah dapur. Namun sebelum berhasil memeluk sahabatnya, matanya lebih dulu tertuju kepada seorang pria gagah yang berada di belakang Salwa.


“Nggak usah teriak-teriak! berisik!” ujar Salwa.


“Sal, siapa?” tanya Yanti.


“Kamu pangling atau lupa?”


“Memangnya dia siapa?”


Salwa hanya bisa merotasikan bola matanya, “ingat suami woi!” Salwa mengusap wajah Yanti sedikit kasar, agar membangunkan wanita itu dari lamunannya.


“Dia, Jun!”


“Jun? pengawalnya Tuan Axell?” Salwa mengangguk.


“Wah tuan! Anda kenapa tidak jadi model saja!” ujar Yanti sambil mengagumi bentuk tubuh Juna yang, uh! pengen peluk.


“Ayo Jun, jangan buat dia khilaf!” Salwa berjalan melewati Yanti begitupun Juna.


“Dimana Jack!” tanya Salwa. Jun langsung melirik ke arah Salwa saat nama seseorang yang sudah menjadi list di dalam otaknya disebut.


“Jack, sudah beberapa hari ini tidak ke cafe, katanya ada keperluan!”


“keperluan?!” alis Salwa menyatu mendengar Jack yang selalu ada di cafe ternyata tidak ada di tempat.


“Sejak Axell dirawat dirumah sakit, Jack sering sekali izin!” ujar Yanti sedikit kesal, karena pekerjaan yang seharusnya Jack selesaikan justru Yanti yang harus melakukannya.


Salwa terdiam, ia tak mengerti kenapa setelah dia menikah dengan Axell, Jack sering bertingkah aneh.


“Beberapa hari kemarin, Kak Nayla juga datang kesini, untuk bantuin aku rekap.”


“Kak, Nayla?” Salwa terkejut mendengar nama kakak iparnya disebut, bukan tak percaya akan kemampuan Nayla, tapi sang kakak ipar sudah sangat lama tak berkecimpung dalam pekerjaan seperti ini.


“Iya, katanya selama kamu sibuk dengan Axell dirumah sakit. Mas Bima meminta Kak Nayla untuk bantu urus cafe.” Salwa mengangguk paham, dia akan ke rumah sang kakak nanti untuk ucapkan terima kasih.


Salwa yang datang ke kafe memang untuk melihat pekerjaan yang sudah lama ditinggalkannya, meminta Yanti membawakan beberapa laporan pemasukan bulan ini. Yanti dan Salwa pun larut dalam obrolan, sesekali juga terdengar gelak tawa dari dua wanita itu. Jun yang duduk di salah satu sofa hanya melihat keduanya bekerja. Dengan mata yang tak lepas dari istri tuannya itu.

__ADS_1


“Oke Yan, aku akan usahakan untuk datang yah paling tidak dua kali dalam seminggu, nanti aku akan bicarakan dengan Axell,” ujar Salwa menutup laptop di hadapannya dan merapikan beberapa kertas yang sedikit berserakan.


“Oke, aku nantikan kabar darimu!”


Dret


Getaran di ponsel Salwa membuatnya mengalihkan pandangan, “sebentar Yan!” ujarnya.


“Assalamualaikum!”


“...”


“Iya, ini sudah selesai!”


“...”


“Tidak perlu, aku akan segera pulang, kau ini!” sewot Salwa.


Panggilan itu Salwa putus sebelum seseorang di seberang sana selesai dengan unek-uneknya.


“Siapa?” tanya Yanti.


“Hah, siapa lagi!” Salwa merapikan kembali tas yang ia bawa dan meminta Jun untuk meninggalkan ia dan Yanti sebentar.


“Saya akan tunggu di luar pintu Nyonya,” Salwa mengangguk.


“Ada apa?” tanya Yanti.


“Apa kamu tak melihat gelagat aneh dari Jack?” tanya Salwa sedikit berbisik.


“Aneh?” Salwa mengangguk. Yanti mencoba menerawang mengingat-ingat apa ada hal aneh dengan sahabat sekaligus rekan kerjanya itu.


“Jika menurutmu aneh tentang dia mengelola cafe, tentu tidak ada. Tetapi jika aneh merujuk pada sikapnya, tentu aku juga merasakan itu.”


Kini, Salwa yakin jika bukan hanya dia saja yang merasa jika Jack sedikit aneh. Sepertinya ia akan meminta bantuan Axell untuk menyelidiki apa yang sebenarnya Jack sembunyikan darinya, ia takut jika Jack sedang mengalami masalah yang tak mau merepotkan dirinya ataupun Yanti.


“Ya sudah aku pulang, kabari jika ada apa-apa!” tutur Salwa.

__ADS_1


__ADS_2