SUAMI KU DAUN MUDA

SUAMI KU DAUN MUDA
Bab 43 - Juna sang pengawal setia


__ADS_3

Pukul 10 malam Salwa masih berkutat dengan beberapa pekerjaannya di kafe, ia juga sudah meminta ijin Axel bahwa hari ini ia pulang terlambat, Axel yang sedang dalam perjalanan pulang mengatkan akan menemani sang istri lembur, tapi Salwa melarang, karena hari ini adalah jadwal Axel belajar mengaji dengan ustad yang sudah menjadi gurunya beberapa minggu ini.


Axel akhirnya mengalah ia tidak ingin Salwa kembali marah karena ia membolos dari kelas mengajinya.


"Uhhg!"


Salwa menarik kedua tangan ke atas karena rasa pegal mulai menjalar kepunggungnya. ia menekuk lehernya kekanan dan ke kiri, agar sedikit mengurangi rasa pegalnya.


"Jun, apa kamu lapar?"


Juna sang pengawal yang sedang duduk di sofa menemani istri majikannya itu menggelengkan kepalanya.


"Dasar robot!" lirih Salwa.


Juna mendengar gerutuan Salwa, namun ia tetap dalam posisinya menatap tab yang ia pegang. Salwa melihat jam di pergelangan tangannya.


"Sudah pukul 10, berarti Yanti udah pulang, kok enggak pamit ya?"


Salwa menatap jamnya, ia heran kenapa Yanti tidak pamit, atau justru wanita itu belum pulang, Salwa berbicara pada dirinya sendiri.


"Nona Yanti sudah pulang setengah jam lalu Nyonya, ia berpamitan kepada saya tadi!"


Salwa menatap Juna tak percaya, disini siapa bosnya, kenapa Yanti justru berpamitan kepada Juna. Salwa menatap heran pengawal suaminya ini.


"Tadi saya sengaja melarangnya karena saya lihat anda sedang sibuk, jadi saya ijinkan saja ia pulang lebih dulu!"


Salwa menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal, justru hatinya yang tergelitik dengan sikap Juna, sungguh pengawal yang bertanggung jawab pikirnya, sampai temannya sendiri tak boleh mengganggunya walau hanya sekedar berpamitan.


"Ya sudah aku akan ke dapur dulu, apa para Chef sudah bersiap untuk pulang atau belum!"


Salwa mengangkat tubuhnya namun baru saja ia ingin menggeser kursinya, Juna lebih dulu berdiri dan melangkahkan kakinya keluar ruangan Salwa tanpa mengatakan apapun.


Salwa menatap kepergian Juna hingga manusia gurun itu menghilang di balik pintu yang tertutup.


"Aku tidak menyuruhnya keluar kan, apa ada kalimat yang menyatakan begitu?" Salwa menggaruk kepala nya, ia sungguh di buat bingung dengan sikap Juna yang terkadang membuat nya menegakkan tubuh, heran.


Salwa tak mau ambil pusing, karena memang punggung yang sangat tidak ingin lagi berlama-lama duduk, ia memutuskan tetap keluar dari ruangannya.


Sala berjalan ke arah kasir dan menepuk pelan pundak karyawannya.


"Astaga Mbak Salwa, saya terkejut!" ujarnya.


"Bagaimana hari ini, Gus?" tanya Salwa.

__ADS_1


Karyawan yang bernama Bagus itu menjawab dengan lugas, jika hari ini cukup ramai seperti biasanya. Mereka akhirnya mengobrol hingga Salwa lupa untuk ke dapur melihat para Chef yang ternyata sudah pulang.


"Nyonya!" panggil Jun.


Salwa menoleh menatap sedikit tak suka kepada Jun, bisakah tak memanggilnya dengan sebutan itu jika di depan para karyawannya, cukup para karyawan bertanya-tanya siapa Jun, jangan sampai mereka mengetahui jika ia sudah menikah dengan seorang CEO yang cukup terkenal di majalah bisnis itu.


Para karyawan Salwa memang sedikit merasa aneh, untuk apa pria muda berbakat yang selalu menjadi pusat khayalan bagi para wanita itu selalu datang dan bersikap mesra kepada sang bos, namun setelah Jack mengatakan jika pria itu adalah kekasih Salwa para karyawannya tak lagi mau mengghibah karena takut jika akan kena hukuman oleh Jack. Apa pun yang berhubungan dengan Salwa jika sampai ke telinga Jack pasti langsung mendapat teguran dari pria itu.


"Gus, rekap sekarang ya saya tunggu di ruangan, suruh mita membalik papan open/close juga!"


Bagus mengangguk patuh, ia sungguh takut dengan tatapan tajam yang Juna sarangkan pada nya.


.


.


.


Setir Jun pegang dengan sesekali membelok karena jalan menikung, sedangkan Salwa melihat jalananan yang ramai itu dan sesekali tersenyum lucu. Ia mengingat pesan Axel sebelum ia menata tasnya tadi, Aku akan menjadi patung menggantikan roro jonggrang jika kamu tak segera sampai di rumah.


Kalimat konyol yang di tulis Axel lewat pesan singkat itu sungguh membuat Salwa merasa konyol, suami berondongnya ini selalu bisa membuatnya geleng kepala.


Cekit...


"Ada apa jun?"


Jun tak menjawab pertanyaan Salwa, justru ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, terdengar sedikit di telinga Salwa jika Jun mengatakan bala bantuan. Ia letakkan ponselnya di saku celana dan membuka seatbeltnya.


"Apapun yang terjadi anda harus tetap di dalam, sekalipun nyawa saya melayang!"


Benar saja, tak lama ada 2 mobil datang dari arah berlawanan dan berhenti di sana.


"Maksud mu bagaimana?" Seru Salwa tak paham.


Jun keluar dari dalam mobil dan langsung terlibat perkelahian dengan beberapa orang. Salwa hanya menatap adegan itu dengan sedikit menilai seberapa kuat orang-orang itu.


"Siapa lagi mereka ya, apa sebegitu menyusahkannya menjadi orang penting seperti Axel!" mulut Salwa komat kamit namun tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang memukul mobilnya menggunakan tongkat besi.


"Keluar!" ucap para pria berwajah seram itu walau tak terlalu terdengar jelas di telinga Salwa.


Salwa berusaha membuka pintu tetapi tak terbuka karena sudah di kunci dari luar oleh Jun.


"Lah main kunci saja si Jun ini!"

__ADS_1


Salwa menggerutu tak jelas, sedangkan para pria itu mulai tak sabar. tapi mau bagaimana pintu tak bisa di buka.


"Maaf kawan aku tak bisa menemani kalian bermain!" Salwa menatap orang-orang itu dengan puppy eyes nya.


Sedangkan mereka semakin brutal memukul kaca mobil hingga pada akhirnya kaca itu retak dan grak, pecah berhamburan hingga mengenai tubuh salwa.


Jun yang sedang berusaha mengulur waktu terkejut mendengar kaca mobil yang pecah berhamburan, dengan sigap ia menekan tombol di kunci mobilnya agar Salwa bisa keluar dengan segera.


Axel yang mendapat kabar jika sang istri di serang langsung meraih kunci mobil tanpa membawa pengawal dan melajukan mobil nya bagai pembalap formula satu.


Salwa langsung keluar dan mendekat ke arah Jun.


"Siapa mereka Jun, sepertinya mereka sungguh ingin membunuhku!" ujar Salwa dengan kuda-kuda siap ikut andil dalam pertempuran itu.


Lima orang sudah tumbang, sedang kan lima orang lagi masih segar dengan senjata di tangan mereka masing-masing.


Tanpa menunggu lama, mereka menyerang Jun dan Salwa secara bersamaan. Salwa cukup kualahan karena senjata yang para bandit itu sarangkan padanya.


Namun dengan sigap, ia bisa menepis dan berhasil menumbangkan salah satu dari mereka. Sedangkan Jun sudah memukul habis 4 orang lainnya dalam sekejap.


"Wau kamu sungguh keren Jun!"


Tapi tiba-tiba...


Dor Dor..


Suara tembakan memekakan telinga mereka.


"Salwa!" teriak pria muda yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.


...❤🖤❤🖤❤🖤...


Yuhuuu readers...


Malam ini aku up dengan promo Novel terbaru dari kawan sesama penulis.


Napen : Alya Aziz


Judul : JERAT HASARAT SANG CALON DUDA


Simak yuk , jangan lupa kunjungi yah gengs, kalo berkenan bantu Share juga..story ini hanya di noveltoon...


__ADS_1


__ADS_2