
Di lain pihak, pria yang kini sedang menjadi pembahasan Farhan juga Sania, justru tengah menikmati waktunya tanpa memikirkan apa yang akan terjadi padanya di kemudian hari.
Saat ini dia tengah bergelung mesra dengan seorang wanita, yang tak lain adalah adiknya sendiri. Siapa lagi kalau bukan Mayara, istri kakak iparnya.
Hubungan terlarang yang sudah berjalan bertahun-tahun ,membuat mereka tak lagi bisa menghindar karena hasrat yang terlalu menggebu.
Kepuasaan dari sang suami yang sudah tak Yara rasakan cukup lama, lemah iman, serta hanya dunia yang dianggap tempat abadi baginya, membuat wanita ini serta sang adik, tak lagi melihat ke dalam diri mereka bahwa, apa yang kini sedang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan yang teramat fatal.
Saling menindih, mencecap dan merayu seakan mereka adalah orang lain yang saling mencintai, namun pada kenyataanya mereka adalah saudara.
Sang adik, yang selalu gagal membina rumah tangga, karena hobinya yang suka bermain wanita membuat para istri nya tak betah dan memilih berpisah, dan pada akhirnya sudah hampir 10 tahun, pria itu tak lagi memiliki istri namun tetap bisa menyalurkan gemuruh isi dadanya kepada sang kakak yang juga kesepian. Hubungan yang saling menguntungkan, namun entah akan bermuara dimana, hubungan seperti ini.
“Aku lelah, Dam! sudah lima kali!”
Wanita itu menarik diri dari dekapan Damar, sang adik, beranjak dari ranjang namun ~~
Damar menarik tangan Yara, dan menjatuhkan tubuh tanpa sehelai benang itu kembali ke atas ranjang. “Hei, aku belum puas, Yara! kau tak bisa begitu!”
“Tapi aku capek, Dam! bisa nanti malam lagi kan? aku sudah cukup, puas!” ujar wnaita itu.
“Oke, tepati janjimu!” seringai bagai pemburu, Damar sunggingkan di ujung bibirnya.
“Tentu! asal Mas Erland belum pulang, kita akan saling memuaskan!” ujar Yara tak kalah.
Pria itu mengecup singkat bibir tanpa polesan lipstik, milik sang kakak. Menatapnya penuh damba.
Karena tak ingin membuat seisi rumah curiga akan hal yang mereka lakukan, Damar lebih dulu membersihkan tubuhnya lalu keluar dari kamar itu menuju kamar yang biasa ia tempati jika menginap di rumah Hadinata.
Tak ada satupun yang curiga, mereka kan kakak beradik, apa iya akan melakukan hal menjijikkan seperti dugaan mereka, tentu tidak mungkin.
“Dimana istriku, Bik Mur?” Erland datang bersama sang asisten dari perjalanan bisnisnya.
__ADS_1
“Masih di kamar Tuan, sejak pagi Nyonya tidak turun, tuan Damar juga semalam menginap disini.”
“Lalu, dimana damar?” lanjutnya bertanya.
“Sepertinya, masih berada di kamar juga, karena saya belum melihat Tuan Damar turun.” Lanjut Bik Mur.
Erland mengerutkan dahi, kenapa jika Damar menginap saat ia tak ada di rumah, saat pagi pasti kedua saudara itu tidak turun untuk sarapan, apa mengobrol di malam hari hingga larut, membuat mereka selalu melewatkan sarapan.
“Ya sudah, Bik! apa kamarku sudah dibersihkan?” tanya Erland.
“Sudah, Tuan! seperti biasa.” jawab Bik Mur hormat.
Sebelum Erland berlalu meninggalkan bik Mur, Yara sang istri terlihat turun dari arah tangga dengan rambut basahnya. Erland menatap heran, tak biasanya Yara sang istri akan mencuci rambutnya di pagi hari, kecuali~~
“Sudah pulang, Mas?” tanya Yara.
“Baru saja, tumben kamu keramas dan tak mengeringkannya?”
“Malas mas, aku capek, tadi malam main kartu dengan Damar hingga larut, jadinya baru turun untuk sarapan.”
“Ya, sudah! aku mau kekamar ku dulu, jangan mengangguku!” ujar Erland.
Yara, sang istri mengangguk patuh dan tersenyum kepada sang suami, jika Erland berlalu dengan segala keresahannya, lain dengan Yara sang istri yang tetap tenang, ia tak ingin apa yang ia lakukan tertangkap basah. Jadi, patuh seperti biasanya adalah hal yang paling baik.
Tak lama, setelah Yara menyelesaikan sarapannya, Damar turun dengan setelan jasnya, rapi dan sangat mempesona, walau usianya sudah menginjak 45 tahun, namun pesonanya sungguh sangat membuat wanita tak bisa berkutik, apalagi jika sudah tahu permainannya di atas ranjang, mereka tak akan segera menarik diri. Namun sayang di balik ketampanan dan kegagahannya, kebiasaan buruknya justru membuat para istrinya memilih untuk kabur.
“Mau kemana, kamu Dam?”
“Aku mau ke kantor, ada kabar yang sedikit tidak baik!” ujarnya lirih, tak ingin banyak yang mendnegar penuturannya.
“Ada apa?” tanya Yara.
__ADS_1
“Farhan, asisten anak tirimu mengetahui kecurangan ku di perusahaan, aku akan kesana mencari tahu siapa yang berkhianat.”
Yara, meremat kedua tangannya, bagaimana bisa apa yang dilakukan sang adik bisa tercium setelah sekian lama, tertutup dengan sangat rapi.
“Hati-hati, Dam! jangan sampai hal ini menyudutkanmu!”
Damar mengangguk, ia bergegas melangkahkan kakinya, sebelum ia terlambat menangani hal ini, dan akan berakhir di penjara. Namun, jika ia paham akan sesuatu, tentu saja Damar tak akan lagi berani melakukan hal konyol yang sudah Axell ketahui sudah sangat lama.
Selama itu, Axell tetap diam bukan karena ia takut, namun ia tak ingin membuat sang ayah lebih sakit, walau sikap ayahnya tak begitu baik terhadapnya. Namun, Axell tak ingin orang tua satu-satunya mati mengenaskan hanya karena ulah adik ipar serta istri gilanya itu, selama ini Erland juga tidak tahu, jika investor yang membuat perusahaannya tetap stabil adalah anaknya sendiri.
***
Jika Damar bersiap mencari penghianat di antara para jajarannya, berbeda dengan Farhan yang sudah mengantongi secara komplit siapa saja yang telah berkhianat di perusahaannya, selain sang wakil CEO.
“Pak Damar terlihat memasuki ruangannya Pak!” ujar Sania.
“Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?” lanjut Sania pada Farhan yang sedang duduk di sofa ruangan Axell.
“Biarkan dia melakukan hal yang dia mau, aku sudah menghubungi Pak axell, tinggal menunggu kabar darinya saja.”
“Tapi, mungkin kini pak Damar sudah mengetahui jika apa yang ia lakukan sudah terbonghkar, pasti ia akan melakukan dalih agar tak terlihat bersalah, di hadapan Tuan Erland.”
Farhan terdiam, ia sungguh lelah mengurusi tua bangka satu itu, dari beberapa tahun yang lalu, kelakuannya bukannya semakin baik, namun perangainya justru semakin menjadi.
“Biarkan ia menyiapkan alibinya, sedangkan kita, cukup menjadi penonton. Karena jika apa yang ia lakukan terbongkar, aku rasa Nyonya Yara juga tidak akan lepas begitu saja.” Sania mengangguk, setuju dengan apa yang Farhan ucapkan.
Di rumah sakit, Axell sedang melihat dengan seksama laporan yang Farhan kirimkan lewat Email, ia menatap tak percaya jika selama ini, wakil CEO nya yang tak lain adalah adik dari ibu tirinya itu, melakukan penggelapan dana yang tidak sedikit, tetapi yang membuat Axell lebih curiga lagi, kenapa Damar yang notabene tak memiliki keahlian dibidang IT bisa melakukan hal ini dengan sangat rapi tanpa cela.
Dari beberapa bulan lalu, Axell dan Farhan memang sempat mencurigai lelaki matang itu, namun setelah mendalami setiap laporan yang ada,mereka tak menemukan apapun, akhirnya Axell dan Farhan menyudahi kecurigaan mereka.
Tapi, beberapa hari lalu, Farhan mulai kembali menyelidiki semua yang terjadi setelah perusahaannya diserang sebelum Axell mengalami kecelakaan. Data yang dipulihkan secara bertahap membuat Farhan menemukan keganjilan di setiap laporan yang ada pada berkas-berkas miliknya.
__ADS_1
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...