SUAMI KU DAUN MUDA

SUAMI KU DAUN MUDA
Bab 48 - Mulai merasakan efeknya


__ADS_3

Setelah obrolan yang terdengar rancu itu, Salwa mengakhiri nya dengan rayuan yang langsung membuat Axel pulang tanpa berpamitan dengan para sahabat dan anak buahnya itu. Ketiganya hanya menatap bingung dengan Axel yang tiba-tiba pergi tanpa mengatakan apapun setelah menerima telpon dengan senyum-senyum bagai orang yang sedang tidak waras.


"Kenapa dia?" ujar Max memandang heran ke arah Axel yang sudah menghilang di balik pintu.


Bara dan Bagus hanya menjawab dengan mengedikkan bahunya tanda tak mau tahu urusan pribadi bosnya tersebut.


"Lalu bagaimana menurutmu tentang si Jack itu Bar?" tanya Max.


"Aku juga tidak begitu paham, tapi aku merasa pria itu sedang berkamuflase, ia bagai bunglon!"


"Maksudmu? wajahnya yang sekarang ia tunjukan bukan wajah aslinya?" Bara mengangguk walau ia sendiri tak pasti.


Max memang sedikit merasa aneh tentang jati diri Jack yang sebenarnya, beberapa kali terlihat mengintai dari jauh di setiap kejadian membuat mereka menebak-nebak sebenarnya Jack ini di pihak mereka atau di pihak musuh.


"Sepertinya kita harus memulai dari yang kecil Bar!"


Bara mengangguk, sepertinya kini mereka harus kembali mengatur ulang strategi mereka.


.


.


.


Mobil sedan putih milik Axel berhenti di depan halaman rumahnya, ia buka pintu dan berjalan terburu-buru agar bisa segera berjumpa dengan Salwa sang istri.


"Hai Jun!"


Axel menyapa Jun yang sedang duduk di ruang tengah, ia sedang memandang surat lamaran kerja untuk asisten rumah tangga di rumah itu.


"Iya Bos! Nyonya ada di kamarnya!"


Tanpa mejawab, Axel segera melajukan langkahnya untuk menemui sang istri.


Klek


Axel membuka pintu pelan, ia melihat sekeliling dan ternyata sang istri sedang meringkuk di atas ranjang mereka.


"Sayang!"


Axel mendekat ke arah Salwa, ia menepuk pelan pundak sang istri dan Salwapun membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


"Ada apa sayang?" Axel melihat Salwa seperti sedang merintih kesakitan.


"Salwa, kamu tidak apa-apa?" Axel mulai kwatir, ia melihat butiran keringat sebesar biji jagung muda menghiasi kening Salwa.


"Perutku sakit banget Ax, tiba-tiba saja. Tadi sepertinya aku sedang datang bulan. tapi nggak tahu bisa sesakit ini, biasannya nggak."


Axel mengingat sesuatu, jika Jo pernah mengatakan padanya jika Salwa akan mengalami sedikit perubahan di masa menstruasinya, namun Jo tidak mengatakan jika efeknya akan seperti ini.


"Kamu tahan sebentar ya? aku akan menghubungi Jonathan , sebentar oke!"


Salwa mengangguk sambil terus menarik nafas karena sakit yang sangat amat di perut bagian bawahnya. Tadi setelah menutup sambungan telponnya dengan Axel, Salwa yang sudah dari semalam merasakan perutnya tak nyaman tiba-tiba saja merasa perutnya semakin sakit dari detik ke detik. Namun hal yang membuat nya merasa aneh, sakitnya itu tak di tandai dengan darah haidnya yang seharusnya ikut keluar, seperti kebiasaan yang terjadai di setiap bulannya.


Axel di luar tengah menghubungi Jo, meminta sahabatnya itu agar segera datang kerumahnya untuk memeriksa kondisi Salwa. Jun melihat tuannya gelisah, mendekat dan mencoba bertanya.


"Ada apa tuan muda?" tanya Jun.


"Salwa sakit Jun!" jawab Axel pelan. pria muda itu sungguh sangat menyesali karena tak mengantisipasi kondisi ini lebih awal.


"Sakit?"


Axel mengangguk, ia menuju ke kamarnya lagi meninggalkan Jun dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.


"Tadi Nyonya baik-baik saja, apa dia salah makan?"


Jun mengkuti Axel menuju ke kamarnya, ia berdiri di depan pintu kalau-kalau sang tuan membutuhkan bantuannya.


Tak lama, selang tigapuluh menit Jonathan datang dan langsung menuju ke kamar Axel dan Salwa.


"Hai, Jun?"


"Iya tuan, selamat datang." jawab Jun singkat.


Jun langsung mengetuk pintu, setelah Axel memintanya membuka, Jun membuka pintu itu dan meminta Jonathan untuk segera masuk.


"Silahkan Tuan!"


Jonathan langsung membuka tas yang berisi peralatan perangnya sebagai seorang dokter setelah sampai di dalam.


"Aku akan menyuntikkan ini dulu Ax, kamu bisa pegangi istrimu."


"Sayang, Jo akan menyuntik mu. Tahan ya?" ujar Axel lirih di telinga Salwa.

__ADS_1


Salwa mengangguk pasrah, ia sudah tak lagi memiliki kekuatan untuk meronta.


"Sudah, biarkan istrimu beristirahat setelah meminum ini." Jo memberikan dua tablet obat kepada Axel agar membantu sang istri untuk meminumnya.


Axel mengambil air putih yang tersedia di meja yang ada di kamar itu. ia membangunkan Salwa dan membantu sang istri untuk meminum obatnya.


"Istirahat ya, nanti kalau kondisimu baik, kita langsung ke rumah sakit!"


Salwa tersenyum kecil menanggapi kekawatiran sang suami, karena Salwa berpikir ini hanya lah masalah siklus bulanannya saja, bukan hal besar. Namun apa jadinya jika Salwa tahu yang sebenarnya, Axel sungguh sangat kawatir ia masih belum bisa menjelaskan kenyataan yang seharusnya sudah ia ungkap dari awal kejadian itu.


Axel mengusap kening Salwa yang msaih mengeluarkan keringat, ia cium singkat dan menyusul Jonathan yang sedang menunggu di luar.


Axel dengan ekor matanya langsung mengajak Jo dan Jun mengikutinya ke ruang kerja, karena ia takut apa yang mereka bicarakan akan terdengar oleh snag istri.


"Bagaimana kondisi Salwa Jo?"


"Sebenarnya efek yang di timbulakan tidak ser


"Jangan bilang tidak serius, ia merintih kesakitan, ia sengaja tak memekik atau meminta tolong karena baginya itu hal biasa!" Axel memotong perkatan Jonathan sehingga membuat pria begelar dokter spesialis dalam itu terdiam seketika.


Axel menyenderkan tubuhnya di kursi putar kebanggaannya. ia mengusap wajahnya kesal. kenapa tidak dia saja yang menanggung semua ini, kenapa harus sang istri yang mengalaminya.


"Lalu apa yang kau temukan dari hasil risetmu itu?"


Jonathan mengambil sebuah flasdisk dari dalam tasnya, ia meminta Jun untuk mengambil laptop yang ada di meja Axel. Sedangkan ia duduk di sofa hitam yang ada disana. Jo mulai menghidupkan laptop, ia colokkan flasdisk tersebut dan mengetik sesuatu disana.


"Lihatlah!" ujar nya pada Axel.


Axel mendekat dan melihat apa yang ada di sana. Daun kokka, dan beberapa zat terlarang disana.


"Daun kokka bahan untuk membuat kokain kan, kenapa semua daun disini Jo?" sungut Axel karena tak begitu mengerti, apa yang di maksud dengan daun-daun itu.


"Kamu tahu daun-daun itu adalah bahan utama pembuatan Narkotika golongan satu, yah sebenarnya di ilmu kedokteran semua ini adalah obat dengan fungsinya masing-maasing, namun jika di gabungkan dan di jadikan luquid apa lagi dengan jumlah banyak permili nya bisa mengakibatkan kerusakan pada tubuh Ax. Tindakan ini sungguh sangat menyalahi aturan, kokain saja jika di konsumsi terlalu banyak bisa mengakibatkan banyak hal pada tubuh kita.


"Maksudmu orang-orang ini membuat narkoba dengan jenis baru dengan menggabungkan semua bahan-bahan itu?" Jonathan mengangguk.


...🖤🖤🖤🖤🖤🖤...


Hai pembaca setia, mampir juga yuk kesini..yang suka cerita casanova boleh mampir ? boleh banget dong ya...


Napen : Oktavia Hamda Zakhia

__ADS_1


Judul : DUDA CASANOVA TERJERAT GADIS BAR BAR



__ADS_2