
Jam terus bedetak, seluruh penghuni rumah sudah memejamkan mata, tak lagi menghiraukan bunyi detak jam yang terus bergerak, namun di sudut sofa ruang tamu masih ada satu orang yang terjaga, siapa lagi kalau bukan Jun si pengawal setia.
Salwa yang lelah menangis, karena menonton drama yang sangat menguras emosi dan airmatanya, tanpa sadar tertidur dan tak lagi menunggu sang suami pulang, disana, Axel juga sedang memejamkan matanya, namun dalam konteks yang berbeda.
Jun cukup bersyukur atas itu, jadi ia tak lagi perlu mencari alasan tentang dimana kini suami dari sang nyonya muda itu berada.
Sedangkan di rumah sakit, Jonathan yang meminta kepada pihak rumah sakit agar Axell dapat di pindahkan ke rumah sakit dimana biasanya ia di rawat, di larang oleh dokter yang menangani Axell, ia beralasan jika terjadi sesuatu atau kondisi Axel memburuk ia akan mendapat sangsi dari rumah sakit, alhasil Farhan dan Jo akhirnya mengalah menunggu sampai kondisi Axel stabil.
"Besok ajak Salwa kesini Han! tidak mungkin kita menutupi hal ini terus menerus, ia pasti bingung, jika suaminya tidak pulang, bukan?" ujar Jo.
Farhan mengangguk, tadi ia juga sudah meminta salah satu anak buahnya untuk mengurus supir truk yang menabrak Axel, jika terbukti lalai Farhan ingin dia di penjara dengan segera, tetapi jika terbukti ia sudah mematuhi rambu-rambu yang ada. Farhan bersedia mengelurkan sang sopir dan mengembalikannya ke pihak keluarga.
.
.
Farhan yang terkantuk kantuk, mencoba melebarkan matanya agar tak tertidur, sedangkan Jonathan ia sedang menatap layar ponselnya sedang membaca sesuatu.
Farhan melihat jam di pergelangan tangannya dan ternyata jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.
"Saya pamit cari mushola dulu Dokter Jo, tolong! jaga atasan saya." ujar Farhan, menoleh menghadap Jo yang masih tetap terjaga.
Jo menepuk pundak Farhan dan tersenyum padanya, Farhan meluruskan punggungnya, ia berdiri tegak dan mulai melangkahkan kaki nya satu persatu menuju mushola.
"Apa jadinya Axel tanpa orang sebaik itu, sudah jodoh memang!" gumam Jo menatap punggung yang semakin menghilang secara perlahan.
***
Subuh, Adzan berkumandang dari salah satu ponsel yang tergeletak di atas meja tempat dimana Salwa, abang serta sang kakak ipar tertidur tadi malam.
Salwa mulai menggeliat, ia ubah posisi tubuhnya dan sedikit mengerjapkan matanya, ia membuka perlahan mencoba menyesuaikan sinar dari lampu yang lupa tidak mereka matikan.
"Subuh ya? kok Ax belum pulang?" gumamnya sambil duduk bersila mengumpulkan nyawanya yang mungkin masih berlarian.
Salwa menarik nafas perlahan, ia melihat sekeliling, dan ternyata dugaannya benar, sang suami belum pulang, jika pulang, pria muda itu tak akan membiarkan Salwa tidur di ruangan ini. Salwa bangkit dari duduk nya, ia berjalan sempoyongan menuju depan untuk mencari keberadaan pengawal setianya itu.
"Jun!" panggil Salwa masih dengan suara paraunya.
Jun yang sedang terlelap di sofa sudut yang berada di ruang tamu, segera membuka matanya waspada, ia menarik nafas sebentar sebelum akhirnya ia menegakkan punggung lebarnya itu.
"Jun!" panggil Salwa kembali.
__ADS_1
"Iya, Nyonya!" Jawab Jun berdiri mendekat ke arah Salwa.
"Apa, suamiku, tidak pulang?"
Jun gusar, apa yang harus ia katakan, sedangkan Farhan mengatakan jangan katakan apapun sampai Axel di pindahkan.
"Oi, Jun! melamun sih?" seru Salwa.
"Tuan Muda masih ada beberapa pekerjaan di kantor Nyonya!" tegasnya.
Salwa yang tak menaruh curiga, hanya mengangguk, tetapi hatinya sungguh merasakan sesak yang ia sendiri tak bisa mengatakan apa alasannya.
"Nanti antar aku menyusulnya ke kantor, dia pasti butuh baju ganti dan sarapan kan? aku akan solat subuh terlebih dahulu!" tanpa mendengar jawaban Jun Salwa langsung membalikkan tubuhnya, menapaki satu persatu keramik indah itu menuju kamar yang ia tempati bersama dengan sang suami, ruangan tempat dimana mereka menghabiskan malam yang indah.
Jun, menatap punggung kecil itu tanpa berkedip, ia mulai merasa bersalah, karena telah menutupi hal penting mengenai Axel dari sang istri yang seharusnya tahu hal ini lebih dulu, rasa tak nyaman mulai menggerogoti hatinya.
"Maaf , Nyonya Muda!" lirihnya dalam hati.
.
.
Tanpa membangunkan kedua kakaknya, Salwa langsung menuju dapur untuk memasak setelah menunaikan solat subuh dan menyiapkan pakaian bersih untuk ganti sang suami. Ia masih tak curiga tentang kondisi Axel yang sebenarnya, walau dada nya sesak bagai tertusuk duri.
Tanpa memperdulikan rasa sesak di dadanya, ia tetap melanjutkan kegiatan memasaknya, Salwa mulai memakai appron dan siap mengiris bumbu, sayuran serta daging ayam yang ia ambil dari dalan lemari pendingin.
Dengan sigap ia mulai menghidupkan kompor, dan mulai memanggang ayam yang sudah ia marinasi dengan beberapa bumbu yang sudah ia tuangkan secara bersaman.
Nayla yang mencium bau masakan langsung terbangun, terkejut. "Jam berapa ini?" gumamnya.
Ia ambil ponsel miliknya yang ada di dalam tas kecil yang ia bawa semalam, matanya seketika membesar. "Ya ampun telat solat subuh! Salwa juga kenapa nggak bangunin sih, ini lagi laki tidur nyenyak bener!" Nayla mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Bima agar pria itu segera terbangun dan menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim.
Bima mengerjap, ia pandang sang istri yang sudah menatapnya tajam, dan bersungut-sungut.
"Kenapa, yang?" tanya Bima santai.
"Bangun Bang! solat subuh! udah 5.30 tuh!" Nayla tanpa memperdulikan sang suami langsung bangun dan berlari mencari Nayla agar meminjamkannya mukena.
***
Setelah dua jam memasak. Salwa mulai merapikan meja makan di bantu Nayla serta Allan.
__ADS_1
"Tan, Om Axell, kok enggak pulang sih?"
"Ini tante mau nyusul dia ke kantor sayang, mungkin pekerjaannya terlalu banyak, makanya Om Axell nggak pulang." Salwa mencubit hidung mancung Allan, hingga membuat bocah lelaki itu mengaduh.
Nayla yang berada di situ hanya bisa diam, tapi tanpa ia duga, Jun tiba-tiba datang dan mengatakan sesuatu yang membuat Nayla menjatuhkan gelasnya.
"Apa maksud mu, Jun?" Salwa mencoba mencari kebenaran dari apa yang Jun katakan 1 detik yang lalu.
"Tuan Axell tidak lembur di kantor," ulang nya.
"Tuan muda tidak ada di kantor, melainkan kini ia sedang berada di rumah sakit," lanjutnya.
Kalau pun nanti Jun akan di hajar oleh Jo atau Farhan ia akan terima dengan lapang dada, tetapi ia tak bisa melihat Salwa dengan binar bahagia menata setiap masakan yang akan ia antar ke kantor untuk Axell harus menerima kenyataan yang lebih membuatnya terpukul.
Tanpa mereka semua duga, Salwa sama sekali tak menangis, ataupun bersikap berlebihan, ia mendekat ke arah Jun dan meminta pria dengan tubuh besar itu mengantar dimana Axell kini berada.
"Ayo Jun, Axel pasti menungguku untuk membangunkannya!"
"Kak, Tolong kemas semua masakan nya, yang rapi ya?" ujar Salwa dengan suara yang semakin mejauh karena ia berlari menuju kamarnya.
Bima menatap sendu sang adik, hal yang sama kala ia terbangun dari koma nya, dan mengingat kedua orang tua serta pria kecil yang ia anggap sudah tiada.
...🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤...
Hai hai reader,,, please jangan bosan ya, kisah ini memang alurnya step by step...🙏🙏
Aku bawa lagi nih kisah dari teman sesama penulis,, simak yuk!!!
Napen : Kai_sora
Judul : SEKRETARIS KU CANDU KU
Blurb :
Tiga keluarga terbesar selalu bersaing untuk mendapatkan yang terbaik, tapi satu keluarga yang telah menyamarkan pewarisnya sejak pewaris yang lama meninggal.
Mahezra Antares CEO muda yang dingin dan sangat di segani, tidak pernah sekalipun melirik satu pun wanita. Andhara Auriga adalah seorang sekretaris baru yang cantik namun memiliki banyak rahasia.
Sejak kedatangannya di perusahaan Antares, ia telah memikat hati Mahezra Antares. Tapi jalan yang harus mereka lalaui tidaklah mudah. terlebih lagi rahasia yang disembunyikan Andhara selama ini akansangat berbahaya jika terungkap sebelum waktunya.
Dengan segala cobaan yang datang bertubi-tubi pada hubungan mereka akankah cinta dan kebahagiaan yang mereka dambakan akan sirna?
__ADS_1
Cekidooott