SUAMI KU DAUN MUDA

SUAMI KU DAUN MUDA
Bab 68 - Senam Jantung ala Axell


__ADS_3

Ketiga Jomblowan itu mendekat ke arah Axell untuk menyambut kedatangannya.


“Kamu baik, Ax?” tanya Max.


“Seperti yang kamu lihat,” jawab Axell.


“Pak, Anda yakin jika akan naik menggunakan lift, lantai 10 lumayan jauh, Pak!” ujar Farhan tak yakin dengan apa yang dilakukan atasannya itu.


Axell yang ditanya dan mendapat tatapan meragukan dari mereka, hanya tersenyum kecil. Jika tidak membiasakan mulai sekarang kapan lagi dia akan melatih keberaniannya itu pikir Axell dan anggap saja dia sedang melakukan senam jantung. Tak ingin berdebat Axell segera menarik tangan sang istri agar mengikutinya masuk ke dalam gedung bertingkat itu menuju ke unit mereka.


Sesampainya di dalam lift, Salwa serta para pandawa di belakang Axell menghembuskan nafas lega saat Axell tak memberikan respon berlebihan saat pintu lift tertutup dan kotak otomatis itu mulai berjalan naik ke atas. Jun yang melihat wajah tegang para pria di sampingnya itu sedikit menyunggingkan senyumnya. Jika di lihat dengan cermat ketiga pria itu seperti sedang menahan sakit di perut mereka karena hajat yang tak tertahankan.


“Kamu tidak apa-apa, Axe?” tanya Salwa yang cukup khawatir melihat sang suami mulai meremas tangannya.


“Aku hanya belum terbiasa sayang, nanti jika sudah pasti tidak akan seperti ini,” ujarnya meyakinkan sang istri. Namun tak lama keringat dingin mulai membasahi kening Axell dan membuat Salwa semakin khawatir.


“Stop liftnya, Jun!” seru Salwa membuat Farhan, Bara serta Max ikut khawatir. Jun yang tak ingin terjadi apapun menekan tombol berhenti.


“Ax, kamu nggak apa-apa?” tanya Max, sedangkan Farhan dan Bara nampak sangat cemas, wajah-wajah takut kini sudah mulai menghiasi rupa mereka.


“Aku tidak apa-apa, jantungku memang berdetak sedikit kencang. Tapi kata Jonathan itu adalah hal yang wajar.”


“Jonathan?!” seru Salwa.


Axell yang memang tak memberi tahu Salwa akan hal ini sesungguhnya hanya ingin memberikan kejutan untuk sang istri. Dia hanya ingin Salwa tak lagi mencemaskan tentang kesehatan serta phobianya.


“Aku akan pukul wajah tampannya itu sampai tak berbentuk jika hal buruk terjadi padamu!” pekik Salwa yang tak lagi bisa menahan amarahnya, Sedangkan di tempat yang jauh pria yang sedang trending di situasi ini mendadak hatinya tak karuan. Seakan apa yang dikatakan Salwa langsung tertransfer kesana.


Para manusia dewasa itu akhirnya keluar dari lift agar Axell bisa sedikit menghirup udara segar. Sedangkan Axell yang melihat wajah khawatir Salwa sedikit menyesalkan perbuatannya kali ini.


“Maaf sayang, aku membuatmu cemas.”

__ADS_1


“Stop, jangan bicara! aku kesal padamu!” sewotnya.


“Jun, kau tahu sesuatu?” tanya Farhan yang melihat Jun nampak tenang padahal yang lain sudah seperti ingin berteriak melihat Axell membahayakan dirinya sendiri. Ini lah kenapa Farhan sempat menolak keinginan tak masuk akal CEO-nya itu. Sedangkan Jun yang mendapat tatapan mengintimidasi dari para sahabatnya serta Salwa hanya bisa memalingkan wajahnya menghindari sorot mata mengerikan itu.


“Jangan salahkan Jun, ini murni keinginanku!” tutur Axell yang sudah bisa bernafas dengan normal lagi.


“Ayo kita lanjutkan!” ujarnya.


“Kau gila, Axe!” pekik sang istri.


Farhan serta yang lain hanya bisa menurunkan pundak mereka satu persatu untuk membantu Axell agar bisa sampai dilantai tempat dimana unit mereka berada.


“Kalian ngapain?” tanya Axell.


“Pilih mau naik gendongan siapa?” tanya mereka membuat Axell tertawa keras.


“Kalian serius? ini baru lantai lima loh! Sudah aku tidak apa-apa, buka liftnya kembali Jun!” perintah Axell.


“Ax, tolong jangan buat kami khawatir!” rengek Salwa.


Dengan berat hati semua orang termasuk Salwa akhirnya menuruti kemauan Axell yang bagi mereka sedikit tak masuk akal. Jun sang pengawal kembali menekan tombol sesuai nomor lantai yang mereka tuju. Lift mulai bergerak, satu demi satu lantai lift itu lewati Axell memang nampak masih tegang, tapi ia bisa menguasai keadaan ini dengan baik hingga lift itu sampai di lantai yang mereka tuju.


“Anda baik, Pak?” tanya Farhan. Bukan apa-apa jika Axell sakit lagi tentu semua pekerjaan akan tertunda lagi, itu pikir Farhan.


“Aku baik-baik saja! wajah kalian kenapa seperti itu?” Tampang-tampang cemas yang lebih seperti sedang menahan kencing membuat Axell tertawa.


“Ah kau ini, sudah buat kami khawatir malah cengengesan! sialan!” ucap Max.


Axell yang cukup lelah langsung menarik tangan Salwa yang tiba-tiba terdiam sesaat sebelum akhirnya mereka keluar dari dalam lift. Axell yang tahu jika Salwa sedang menahan tangis memilih bergegas masuk kamar agar tak kembali membuat kegaduhan.


“Ini kamar, Pak Axell. Sedangkan Bara, Max serat Jun ada di kamar sebelah sana. Dan Saya tepat di sebelah kamar ini,” ujar Farhan.

__ADS_1


Tak ingin ambil pusing dengan penjelasan Farhan, Axell segera masuk ke dalam unitnya dan langsung menutup pintu tak lupa juga menguncinya.


“Sialan, kita sedang khawatir dia malah sibuk mau menenggak madu!” tutur Max dan pendapat kekehan dari ketiga temannya.


“Sudahlah, kita istirahat saja. Siap-siap untuk nanti malam,” ujar Bara.


****


Sore hari, Salwa yang mendapat telepon dari sahabat tercintanya mengenai kabar cafe miliknya meminta izin Axell agar memperbolehkannya keluar. Salwa yang memang cukup lama tak berkunjung ke cafe miliknya karena banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini mencoba memohon kepada Axell agar mengijinkannya untuk keluar. Padahal suami tercintanya itu sudah membayangkan banyak hal mengasyikkan dan ingin segera memiliki kenangan manis di setiap sudut apartemennya itu.


“Tidak bisakah besok saja sayang, aku ingin kamu dirumah saja!” rengek Axell sudah seperti bayi yang tak diberi asi.


“Sebentar saja Axe, aku janji selepas isya akan pulang.” Ciuman manis di pipi Axell Salwa sarangkan dengan penuh kelembutan.


“Ah, kau menyebalkan!” Axell kesal dan berlalu meninggalkan sang istri menuju kamar mereka, sedangkan Salwa tertawa melihat kelakuan suami yang usianya lebih muda darinya itu.


“Dasar anak TK!” cicit Salwa.


Wanita berusia 27 tahun itu berjalan ke arah dapur untuk mencari ponsel yang ia letakkan di sana sesaat sambungan teleponnya dengan Yanti terputus. Tak ingin sampai di cafe terlalu gelap dia mulai berselancar untuk mencari taxi online.


Ting tong


Bunyi bel dari arah pintu membuat Salwa menghentikan gerakan jari lentiknya. Dengan langkah santai ia berjalan menuju pintu.


“Jun!” ucap Salwa setelah membuka pintu dan mendapati Jun berdiri dengan memakai pakaian yang cukup…. Aneh. Tidak seperti biasanya.


“Mari Nyonya, saya yang akan mengantar Anda,” ujarnya.


“Dengan pakaian seperti ini?” tanya Salwa, menelisik Jun dari atas hingga bawah. Pakaian ala-ala CEO yang Jun gunakan membuat Salwa mengerutkan dahinya.


“Apa Axe yang memintamu memakai pakaian seperti ini?” tanya Salwa dengan tawa yang hampir meledak.

__ADS_1


Tak biasanya Jun memakai pakaian serapi ini. Karena lebih seringnya Jun hanya memakai kemeja dan celana Jeans robek khas ala seorang Juna.


“Aku yang memintanya, biar orang-orang segan padamu!” seru seseorang dari belakang Salwa, siapa lagi jika bukan sang suami tercinta.


__ADS_2