SUAMI KU DAUN MUDA

SUAMI KU DAUN MUDA
Bab 70 - Rolling, Honey!


__ADS_3

Perjalanan yang cukup jauh membuat Salwa tak sengaja tertidur di kursi belakang. Tadi setelah berpamitan dengan Yanti dan para penghuni dapur serta para pramusaji, Salwa segera beranjak dari cafe karena Axell terus saja menghubunginya lewat sambungan telepon. Seakan takut sang istri tak menepati janji Axell sampai turun ke lobby untuk menunggu sang istri.


“Mana sih, lama banget!” Axell menatap ke arah pintu masuk sambil terus memperhatikan mobil yang berhenti.


Tak lama, mobil yang dikendarai Jun datang namun tak berhenti, mobil itu terus saja bergerak hingga hilang dari pandangan Axell. Axell yang tahu kemana arah mobil itu, segera melebarkan langkahnya takut jika sang istri sedang tak baik-baik saja.


“Jun!” panggil Axell. Jun yang tak ingin sang nyonya terbangun karena teriakan Axell meminta Axell diam dengan menyatukan jari telunjuknya tepat di bibir tebalnya.


“Kenapa?” ujar Axell setengah berbisik.


Jun tak mengatakan apapun, dia justru membuka pintu belakang dan meminta Axell melihatnya sendiri. “Dari kapan?”


“Mungkin sepuluh menit setelah kami melaju dijalan utama,” jawab Juna.


Tak ingin membuat Salwa tidak nyaman dengan tidurnya, Axell meminta Jun memegang pintu sedangkan dia bersiap untuk menggendong sang istri. Namun sebelum Axell dapat menggendong wanita yang sangat dia kagumi sedari kecil itu menggeliat, dan terbangun.


“Kamu, ngapain bengong, ada yang aneh sama perempuan yang baru bangun dari tidurnya?” tutur Salwa sambil menutup mulutnya karena dia ingin menguap.


“Tadinya aku ingin menggendongmu, tapi kamu sudah lebih dulu bangun!” ujar Axell nampak sedikit kesal, gagal sudah menjadi pria gentleman dihadapan sang istri.


“Cih! kamu pikir kita tinggal di lantai berapa?!” Salwa membenarkan duduknya dan keluar dari dalam mobil. Tak menghiraukan sang suami yang sudah mencebikkan bibirnya beberapa kali.


Tak menghiraukan Axell yang kesal, Salwa berjalan mendahului Axell dan Jun, “Kalian mau disitu terus, biar digigit nyamuk!” seru Salwa tanpa menoleh.


Jun dan Axell saling tatap, sejurus kemudian dua pria beda usia ini menarik kedua sudut bibir mereka sambil menggeleng melihat tingkah Salwa yang acuh.


Pintu apartemen dibuka oleh Salwa, namun belum sampai masuk kedalam dia dibuat terkejut dengan adanya seorang wanita mungkin seusianya membungkuk dan mengucapkan selamat malam padanya.

__ADS_1


“Maaf, kamu siapa?” tanya Salwa sambil melepaskan sepatu yang dipakainya.


“Dia yang akan menjagamu selama aku pergi kekantor!” ucap Axell yang datang dan langsung merangkul pundak Salwa posesif.


“Tapi bukannya sudah ada Juna?”


“Mulai besok, Jun akan memiliki pekerjaan baru, dan tidak bisa lagi mengawalmu sayang!”


“Jadi dia?”


“Dia akan jadi asisten, supir pribadi dan juru masak untukmu, jika aku tidak ada dirumah. Dia bisa tiga bahasa, bela diri dan tentu saja dia bisa memasak!” pungkas Axell.


Salwa yang mendengar penuturan Axell panjang lebar membuatnya termangu, dia mulai menatap wanita dihadapannya ini dengan seksama. “Dimana kamu mendapatkannya Ax?” tanya Salwa. Cantik, tinggi dan sedikit kekar, benak Salwa.


“Emm…. lebih tepatnya bukan aku, tapi Max yang mencari semua kandidat sesuai keinginanku! dan dia yang terpilih,” ujar Axe.


“Apa dia akan tidur disini?” Axell menggeleng.


Wanita dengan mata tajam kulit sawo matang karena seringnya terkena terpaan matahari ini mengangguk mengiyakan ucapan Axell, sang Tuan.


Beberapa waktu lalu saat Axell masih dirawat, dan mendapat kabar yang kurang enak dari Farhan mengenai beberapa hal, membuat Axell memutuskan akan menarik kembali Jun untuk tugas baru yang akan diembannya. Dan mau tidak mau, Axell yang saat itu masih terbaring, meminta Max mencarikan bodyguard untuk sang istri dengan kriteria yang menurut Max sedikit aneh, pintar berbahasa serta cekatan dalam beladiri masih menjadi kategori normal dan wajar, namun pandai memasak? sungguh membuat Max mengumpat kesal pada bos serta temannya itu.


“Oke, kalian boleh pergi!” Jun dan wanita misterius itu mengangguk, mereka menunduk hormat dan berlalu keluar dari pintu.


“Jangan membuat kesalahan! Nyonya muda sangat berarti untuk Tuan!” papar Jun tanpa menatap lawan bicaranya.


“Baik!” ucap wanita itu dingin sama dengan Juna yang tak menampakan wajah bersahabat.

__ADS_1


Juna berlalu kembali ke unitnya, sedangkan wanita ini berjalan menuju lift untuk turun kelantai bawah sambil sedikit menarik sudut bibirnya, “lama kita tak berjumpa, Kak!” lirihnya dalam hati.


***


Pukul 11 malam, hujan yang mengguyur kota Jakarta dengan tiba-tiba tengah dinikmati dengan sangat khidmat oleh dua sejoli yang menjadi penghuni baru apartemen mewah ini. Di sudut kamar utama apartemen, terdengar suara-suara yang sedikit membuat bulu kuduk merinding. Namun suara yang bukan berasal dari suara jeng kunti atau sejenisnya. Suara horor itu berasal dari mulut si wanita yang tengah menikmati penerbangannya menuju langit ketujuh. Sedangkan pria yang sedang menjadi pilotnya tengah mencengkram erat pa*ha sang istri di bawah sana.


“Ax!” panggil Salwa yang kembali menikmati serangan yang membuat perutnya berdenyut.


Pria yang tengah menikmati kegiatan mengasyikan itu tak menghiraukan panggilan sang istri, senyum smirk diwajahnya menandakan ia tak ingin berhenti sampai sang istri tak lagi membahas seseorang yang sangat dibencinya, sekarang dan selamanya.


Satu jam yang lalu, saat Salwa telah selesai dengan kesibukannya di kamar mandi, dan mengganti bajunya dengan piyama couple yang Axell pesan dari salah satu desainer terkenal di kota metropolitan membuka percakapan dengan sang suami.


Pembahasan tentang seseorang yang telah dekat dengan Salwa kurang lebih beberapa tahun ini. Membuat Axell kesal. Bukan karena perhatian Salwa pada pria itu namun Axell kesal kenapa bukan dia yang lebih dulu bertemu Salwa dan menjaga wanita ini.


Axell yang tak suka memiliki hutang budi merasa dirinya tak becus karena melupakan Salwa dan membuat seseorang yang ternyata menjadi musuhnya itu menjaga Salwa dengan baik. Sebuah kenyataan yang membuat harga dirinya terluka.


“Sudah Ax! intinya, ih!” ujar Salwa yang sudah tidak tahan dengan rasa ngilu di perutnya.


“Oke, sayang, aku akan ke intinya!” senyum puas tercetak jelas di wajah Axell. Tanpa aba-aba benda sakti yang sudah Axell jaga untuk Salwa itu menghujam dengan ganasnya sehingga membuat Salwa memekik tertahan.


“Auch! pake aba-aba dong!” Salwa yang ingin meneruskan perkataannya terhenti tak lagi bisa meneruskan kalimatnya, hawa panas yang sudah mulai menjalar ke ujung jempol kakinya membuat ia memejamkan mata menikmati gerakan suaminya.


“Rolling, honey!” pinta Axell.


“Ye, Sir!”


Tanpa melepaskan apa yang sudah menyatu, Axell menarik sang istri dan membuat Salwa berpindah posisi menjadi pemimpin penerbangan menuju nirwana hingga keringat di tubuh sang istri mengalir cukup deras. Bahkan hawa dingin dari pendingin ruangan pun tak membantu mereka sama sekali.

__ADS_1


Setelah perjuangan yang cukup keras, jel vanila itu menyembur ke tempat yang seharusnya, Salwa yang kelelahan langsung ambruk.


“Kau hebat sayang, kau menepati janjimu!” dengan sisa-sisa kenikmatan itu Axell memejamkan matanya mencium pucuk kepala Salwa dengan sayang.


__ADS_2