SUAMI KU DAUN MUDA

SUAMI KU DAUN MUDA
Bab 7 - Menawarkan investasi


__ADS_3

Farhan dan Axel yang masih berada di depan pintu langsung masuk kedalam,walau Salwa belum memepersilahkan masuk.


Axel langsung duduk di atas sofa yang ada di ruangan Salwa,dengan gagahnya.ia memperlihatkan bahwa ia bukan orang sembarangan.Farhan hanya menghela dalam hati.katanya mau menarik perhatian Salwa,kenapa jadi seperti bertemu klien.Farhan bingung.


"Maaf pak Farhan,ada urusan apa anda kesini ?" Tanya Salwa,tanpa memandang ke arah Axel.Axel dengan lirikan matanya mengernyit heran,padahal yang menyapanya tadi bukan Farhan melainkan ia.


"Kami kesini,ingin berterima kasih dengan nona Salwa karena sudah membantu kami malam itu."Farhan dengan santun mengutarakan niatnya.


"Tidak perlu pak Farhan,saya hanya kebetulan lewat,dan alhamdulillah nyawa saya masih ada,jadi saya rasa tidak perlu sampai sesungkan itu."Emm apa anda terbiasa berdiri dan bos anda saja yang duduk ?"Lanjutnya bertanya karena setelah Salwa duduk,Farhan tetap berdiri.Pertanyaan Salwa sedikit mencubit hati Axel,ia merasa Salwa sedang menilai dirinya.


"Duduk Han!"Seru Axel.Farhan dengan sigap langsung duduk di sebelah Salwa.karena yang Axel duduki adalah kursi single.Axel langsung membesarkan kedua pupil matanya,menatap sinis kearah Farhan.sedangkan Farhan yang ditatap seperti itu justru menoleh ke arah Salwa dan tersenyum canggung.


Axel membenahi jasnya pelan,ia mengumpulkan kekuatan agar bisa mengatakan niatnya dengan gamblang tanpa tersendat."Maaf nona Salwa,saya ingin mengatakan sesuatu kepada anda."Salwa mengangguk tanda siap mendengarkan apa yang akan Axel katakan padanya.


"Kedatangan saya kesini selain untuk berterima kasih juga ingin menawarkan investasi untuk kafe anda."Ujarnya.


Farhan menghela nafas,menurunkan dadanya.bukan itu yang sebenarnya harus di katakan oleh Axel.


Salwa yang mendengar kata investasi menukikkan kedua alisnya bersamaan."Investasi untuk apa ya pak Axel ?" Tanya Salwa penuh selidik.


Axel terdiam sebentar,ia mulai gugup di tatap seperti itu dengan Salwa.jika di depan para klien mungkin ia terbiasa menampakan wajah tegasnya yang berwibawa itu,namun di depan Salwa seakan apa yang ada pada dirinya tak berarti apa - apa.


"Ya,untuk menjaga silahturahmi kita,karena saya dengar dari pak Bima kakak anda,anda baru saja menyelesaikan hutang yang anda pinjam di bank,jadi alangkah baiknya jika saya menanam modal untuk kafe ini agar bisa lebih bagus dan baik lagi tanpa anda harus meminjam ke bank."Axel tidak tahu ia sedang berbicara dengan wanita seperti apa.mungkin kemarin ia tak membaca seluruh detail tentang Salwa yang Farhan berikan.

__ADS_1


Sang asisten yang melihat bahwa sebentar lagi akan ada perang dunia,hanya bisa merapalkan doa agar selamat hingga ia pulang kembali ke apartemennya.


"Maksud pak Axel,saya tidak mampu untuk menanggung semua beban ini,sampai anda mengulik kehidupan saya lewat kakak saya.anda lancang,kita tidak sedekat itu."Tatapan tajam setajam belati sungguh menusuk jantung Axel,sedangkan Farhan hanya bisa menunduk dan bergumam,"Ini nih kalau enggak pernah deket sama perempuan,padahal aku sudah kasih tahu kalau nona Salwa tak pernah meminta bantuan siapapun kecuali abang nya sendiri,dia wanita mandiri.haduh!


Axel memang tidak terbiasa menangani seorang perempuan,jangankan merayu berkata manis saja ia tak pernah.selama ini yang ia tahu hanya belajar serta bagaimana menguasai bisnis keluarga.ia tak tahu bagaimana caranya berinteraksi dengan wanita.dengan Jihan yang notabene teman sejak ia kecil saja,Axel tak pernah bisa mengobrol selayaknya hubungan pertemanan pada umumnya.


Dulu ketika Rima sang ibu masih ada,Axel sering di ajak pergi dan bermain di mall atau taman agar bisa bersosialisasi dengan sesama anak seusianya.Namun setelah sang ibu meninggal tepat didepan matanya di usianya yang baru enam tahun,membuat si kecil Axel menjadi pria seperti sekarang.tapi sayangnya Axel tak mengingat dengan jelas kejadian yang menimpa ia dan sang ibu waktu itu setelah ia bangun dan sadar dari komanya,hingga detik ini pun ia masih terus mencoba mengingat kenangan sebelum dan sesudah kejadian tersebut,namun nihil.


"Jika pak Axel kesini hanya untuk berterima kasih karena bantuan kecil saya waktu itu,saya menerimanya.Tetapi maaf saya tidak menerima tanda terimakasih dalam bentuk apapun." Tegas Salwa membuat Axel seketika bungkam dan tak jadi membuka mulutnya.


Farhan yang dalam situasi tak nyaman ini hanya bisa melirik ke arah sang Bos,seakan mengatakan bahwa sudahi omong kosong anda jika tidak ingin keadaan ini berubah menjadi lebih mencekam.Axel yang paham bak para normal hanya bisa menurunkan dada bidangnya yang tadi membusung.


"Maaf jika bos saya ini lancang nona Salwa,tapi coba anda lihat dari sisi keuntungan yang akan bisa mensejahterakan karyawan anda juga nantinya.karena saya lihat karyawan anda cukup banyak."Farhan mencoba meredam emosi Salwa dengan kalimat negosiasinya.


"Jika anda menjadikan ini adalah peluang bisnis,bukan hanya sekedar rasa terima kasih saya masih bisa menilai dan memikirkannya."Ujar Salwa membuat Farhan tersenyum senang.


Axel yang tak mengerti apa sebenarnya yang dua orang dihadapannya ini bicarakan hanya bisa terdiam sambil bersungut.


"Jadi deal,kita berbisnis bukan tanda terima kasih."Ujar Farhan.


"Baik,tapi bisa beri saya waktu beberapa hari untuk membuat proposal nya serta menghitung keuntungan setelah investasi ini ?"Farhan mengangguk ia sedikit melirik ke arah Axel dan membentuk huruf O dengan jari telunjuk serta jempolnya.


Axel yang masih tak paham hanya bisa menatap Farhan tajam,"apa sebenarnya maksud Farhan,kenapa jadi ada proposal pengajuan segala."Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Sebelum Salwa berubah pikiran Farhan mengajak Axel untuk berpamitan dengan alasan bahwa masih ada pertemuan yang lain,Salwa yang percaya karen pasti orang seperti Axel adalah orang yang sangat sibuk.dengan sopan Salwa mengantarkan mereka sampai ke parkiran kafenya.


Sebelum masuk kedalam mobil Axel sedikit membenahi jasnya dan berpamitan kepada Salwa."Kami permisi nona Salwa "Ujarnya.


Salwa hanya membalas dengan anggukan kecil saja,mungkin hampir tak terlihat oleh pandangan Axel.


"Sampai rumah sepertinya aku harus sidang abang lemes itu."Sungut Salwa mengingat bahwa Bima dengan lancangnya mengatakan tentang hutang hutang nya.


Sedangkan di dalam mobil,Axel terus melirik tajam bawahannya itu.


"Kenapa jadi ada proposal segala Han !"Geramnya.


Farhan menurunkan tekanan pada gasnya dan menoleh ke arah Axel."Pak wanita model seperti nona Salwa itu tidak akan mau menerima bantuan secara cuma cuma,jadi saya alihkan dengan cara mengambil pola peluang bisnis,dan lihat dia mau menerima investasi dari anda kan.


Axel yang merasa bahwa semua hal bisa ia dapat dengan uang tak pernah memikirkan apapun jika ingin mengeluarkan hartanya apa lagi pada wanita yang sudah membuatnya nyaman walau ia masih tak yakin kenapa itu bisa terjadi.


"Tapi aku hanya ingin ia menerima tanpa berpikir untuk membagi keuntungannya dengan ku,Han. kenapa ia tak bisa melihat ketulusanku !"Ujarnya.


Farhan paham,tapi tidak semua orang sama dengan para penjilat itu yang selalu mengatasnamakn sumbangan adalah bentuk sebuah dukungan.


"Namun tidak semua orang mau dengan sukarela menerima bantuan secara cuma cuma pak Axel,yah mungkin sekarang anda harus terbiasa dengan sifat nona Salwa jika ingin meraih hatinya tanpa paksaan.


"Apa kah harus begitu ?"Farhan mengangguk.

__ADS_1


...❤❤❤❤❤❤...


__ADS_2