
Brak..... Alex menendang pintu rumah tua tempat dimana Claudia di sekap.
"Papa....." Teriak Claudia menangis histeris.
Alex, Rey, beserta beberapa bodyguard dan anak buahnya masuk ke dalam, sementara anak buah Denis yang berjaga di dalam sudah siap akan menghajar musuhnya.
"Claudia," gumam Alex, ia merasa sangat marah dan sedih melihat keadaan Claudia yang kaki serta tangannya di ikat di sebuah kursi, sehingga membuat Claudia kesakitan dan tidak bisa bergerak.
"Brengsek kau Denis, lepaskan anakku!" Teriak Alex sembari mendekati Denis dan Claudia.
"Eits tetap berdiri di tempat atau pisau ini akan menggores leher anak kesayanganmu ini," ancam Denis yang menyodorkan pisau di dekat leher Claudia.
"Papa... Claudia takut, hu.. hu.. hu..." Teriak Claudia terus menangis.
"Diam kamu anak kecil," bentak Denis dan tanpa ragu menutup mulut Claudia dengan lakban.
"Hei, lepaskan lakban itu dari mulut anakku, apa kau tidak punya hati menyiksa anak kecil seperti itu," bentak Alex dan ingin menghajar Denis.
"Jika Anda mendekat, saya tidak segan untuk menggores pisau ini," lagi-lagi Denis mengancam, sehingga untuk saat ini Alex hanya bisa diam di tempat sambil menahan sakit melihat anaknya tersiksa di depan matanya.
"Maafkan Papa Clau," gumam Alex menatap binar mata Claudia, dari sorotan mata Claudia terlihat jelas ia sangat ketakutan dan meminta untuk di selamatkan.
"Apa yang kau mau Bedebah," teriak Alex penuh amarah.
"Bram," Denis memberi kode kepada asistennya itu.
Segera Bram menghampiri Alex lalu memberikan sebuah berkas.
"Apa ini...?" Tanya Alex.
"Bukankah Tuan Alex mau tahu apa yang saya mau, lihat saja isi berkas itu lalu Anda akan tahu apa mau saya," jawab Denis.
Tanpa melihatnya, Alex sudah tahu yang Denis inginkan hanyalah dia mundur dari proyek lalu proyek itu akan diserahkan kepada Denis.
Rey menghampiri Alex lalu berbisik ke telinganya. Alex tersenyum tipis lalu merobek berkas yang sedang ia pegang itu.
"Hei kenapa Anda merobeknya...? Anda mau melihat anak ini mati di depan anda hah...?" Tanya Denis murka.
Alex yang sebenarnya sangat khawatir terhadap Claudia itu mencoba bersikap tenang.
"Santai dong Tuan Denis, sebelum Anda yakin mau menyakiti anak saya, lihat dulu saya punya tamu istimewa buat Anda," ucap Alex.
__ADS_1
Denis terdiam tidak mengerti.
"Masuk...." Teriak Alex.
Krek.... Pintu terbuka, tampak 2 orang pria berbadan besar yang merupakan anak buah Alex bersama seorang wanita yang menggendong anak bayi, tanpa di pegang atau di paksa, wanita itu rela ikut karena tahu tujuan para pria itu membawanya.
Denis membulatkan matanya, ia sangat terkejut melihat Istri dan anaknya ada di depan mata.
"Rita, Dania,"panggil Denis dan hendak menghampiri keluarga tercintanya itu, akan tetapi anak buah Alex menghalangi Denis.
"Ups sabar dong, mana sikap arogan Anda tadi yang katanya mau membunuh anak kecil," ucap Alex.
"Apa yang kau lakukan terhadap istri dan anakku Alex? Kenapa kau menculik mereka?" Teriak Denis dengan bengisnya.
"Mereka tidak menculikku, setelah aku tau kenapa mereka datang dan menceritakan permasalahannya, dengan senang hati aku mengikuti mereka, mereka sama sekali tidak menyakitiku, mereka bukan penjahat seperti kamu Denis. Aku tidak menyesal datang ke sini karena akhirnya aku tau ternyata kamu sama sekali tidak berhenti, bahkan kamu rela menyakiti anak kecil yang tidak tau apa-apa demi mencapai tujuanmu itu," ucap Rita sangat kecewa.
Bahkan Alex juga bisa melihat betapa kecewanya Rita atas perlakuan suaminya itu.
"Sayang aku bisa jelaskan," ucap Denis.
"Bram lepaskan anak Pak Alex," perintah Rita.
"Tapi Buk..." Ucap Bram.
"Sayang jagan ngomong seperti itu, aku mohon,"pinta Denis.
"Pak Alex silahkan bebaskan anak Bapak dan bawa pulang!" Ucap Rita.
"Biarkan saja," ucap Denis saat anak buah Denis hendak menghalangi Alex, pisau yang tadinya Bram sodorkan di dekat leher Claudia juga ia lepaskan.
"Sayang, kamu gak papa kan...?" Tanya Alex sambil membuka lakban yang menutup mulut Claudia juga tali yang mengikat kaki serta tangannya.
"Claudia takut Pa," jawab Claudia.
Alex memeluk erat tubuh anaknya yang bergetar karena ketakutan itu, tidak hentinya Claudia menangis sehingga membuat Alex juga ikut menangis merasakan kesakitan Claudia.
"Claudia jangan takut lagi ya sayang, ada Papa, Papa janji akan selalu menjaga Claudia, tidak akan ada lagi yang berani menyakiti kamu sayang. Maafin Papa ya," ucap Alex.
"Iya Pa," jawab Claudia.
"Sekarang kita pulang ya," ucap Alex.
__ADS_1
Claudia mengangguk menyetujuinya.
"Rey Ayo kita pergi," ajak Alex.
Sementara beberapa anak buah Alex masih menangani Denis di rumah tua itu.
...
Alex dan Claudia tiba di rumah, Rey langsung kembali ke Perusahaan untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai meskipun hari sudah menjelang sore. Untungnya Mang Ujang sudah terlebih dahulu Alex suruh pulang dan menceritakan kepada Oma, akan tetapi Alex tidak mau Raina sampai tahu.
"Alex, Claudia, kalian baik-baik saja kan...?" Tanya oma sangat antusias lalu memeluk Claudia.
Ia sangat khawatir memikirkan cucu dan cicitnya itu.
"Aku baik-baik aja Oma," jawab Alex.
"Aku takut Oma, untung Papa datang selamatin aku," jawab Claudia dengan wajah sendu.
"Claudia jangan takut lagi ya, ada Papa,Oma dan Om-Om bodyguard yang akan selalu jagain kamu," ucap Alex.
Claudia hanya mengangguk berusaha menghilangkan rasa takutnya.
"Ya sudah ayo masuk," ajak oma.
"Oma, Raina lagi apa...?" Tanya Alex.
"Biasa istirahat di kamar, tadi Raina juga tanyain Claudia sudah pulang atau belum, Oma bilang ada tugas tambahan di sekolah"jawab oma.
"terimakasih Oma, Claudia kamu bisa kan jangan bilang Mama tentang apa yang terjadi tadi, kasian Mama lagi sakit dan ada dedek bayi dalam perutnya, nanti Mama khawatir dan jadi stres," ucap Alex.
"Iya Pa" jawab Claudia
"Anak Papa udah besar, udah kelas 2 SMP, makin pintar," puji Alexa tersenyum.
"Ya sudah ayo kita ke atas temui Raina dulu, Raina dari tadi sangat khawatir menunggu kalian pulang, setelah itu Oma akan menemani Claudia ke kamar"ucap oma.
"baik Oma," jawab Alex dan Claudia kompak.
Alex membuka pintu kamar, ia melihat istrinya itu sedang tertidur pulas lalu memberi kode kepada Oma, Oma yang mengerti segera mengajak Claudia ke kamarnya terlebih dahulu karena tidak mau mengganggu Raina.
Alex mendekati Raina dan mencium keningnya. ia menatap wajah polos istrinya yang sedang tidur.
__ADS_1
"*Sayang, maafin Mas ya karena telah gagal menjaga keluarga kita, kalau sampai Claudia kenapa-napa tadi, Mas gak akan maafin diri Mas sendiri"gumam Alex dalam hati*.
***