
"Claudia.... Claudia.... " Panggil Alex sembari mengguncang pelan tubuh Claudia hingga ia tersadar.
"Pa, Claudia takut Pa," ungkapnya dalam tangisan. "Claudia takut."
Alex merangkul tubuh anaknya itu agar merasa lebih tenang.
"Sayang, kamu gak perlu takut, ada Papa di sini," kata Alex.
"Pa, apa boleh Claudia tidur di bawah sama Oma uyut...?" Tanya Claudia, Claudia yang sudah remaja itu juga mengerti, jika ia tidak boleh minta di temani tidur oleh Papa angkatnya atau minta di temani oleh Mamanya yang kondisinya sedang tidak baik, pasti akan sangat menggangu, untuk itu ia memilih untuk tidur dengan Oma buyutnya itu.
"Boleh sayang," jawab Alex mengangguk.
Alex mengantar Claudia ke kamar Oma karena takut Claudia tiba-tiba akan syok lagi mengingat kejadian buruk yang ia alami tadi siang.
"Ada apa Alex...?" Tanya Oma saat membuka pintu kamarnya.
"Oma, Claudia mau tidur sama Oma, Claudia takut Oma," kata Claudia.
"Iya Sayang ayo masuk," ajak Oma. "kamu tunggu Oma di dalam ya, Oma mau bicara dulu sama Papa kamu."
"Baik Oma," jawab Claudia mengangguk.
"Alex, ada apa dengan Claudia...?" Tanya Oma.
"Tadi Claudia ngigau berteriak takut Oma," jawab Alex.
"Ya ampun kasian sekali Claudia, ini pasti karena kejadian tadi siang," kata Oma.
"Iya Oma, aku yakin Claudia mengalami syok ringan, aku minta tolong jagain Claudia ya Oma," pinta Alex.
"Iya kamu tenang saja, sementara waktu ini kita tidak boleh membiarkan Claudia sendirian," kata Oma.
"Oma benar, terima kasih banyak Oma," ucap Alex.
"Claudia itu cicit Oma, kamu tidak perlu berterimakasih," kata Oma. "sekarang kamu kembali ke kamar, takutnya Raina mencari kamu dan akan curiga."
"iya Oma," jawab Alex lalu meninggalkan kamar Oma Mirna.
...
__ADS_1
Dua Bulan Kemudian...
Pernikahan Dimas alias Ken dan Feby akan segera berlangsung setelah tertunda 1 bulan karena Bapak Feby sakit dan hanya mau di rawat di rumah dengan obat-obatan tradisional. Feby tampak anggun mengenakan kebaya putih dan saat ini sedang di rias wajahnya, sedangkan Ken mengenakan Baju kurung melayu berwarna senada dengan kebaya Feby untuk sesi acara ijab kabul mereka.
Ken tampak gelisah, ia sudah berniat akan pergi dari sini saat acara pernikahan, karena saat ini Bapak Febby sudah sangat percaya kepada Ken, jadi tidak lagi mengerahkan anak buahnya untuk menjaga Ken.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, kalau aku tetap di sini, sama aja aku akan menghianati Stella dengan menikah lagi, tapi kalau aku pergi, bagaimana dengan nasib Feby ?" Gumam Ken.
Hatinya kini bimbang, ia tahu dan bisa merasakan jika Feby benar-benar mencintainya, meski caranya salah. Jika Ken mengakui bahwa dirinya sudah mengingat semuanya, pasti Bapak Feby akan marah dan tidak akan melepaskannya.
Setengah jam kemudian, Feby telah siap untuk melangsungkan ijab kabul bersama Ken, akan tetapi...
"Dimana dia, kurang aja sekali!" Kata Bapak Feby dengan amarah karena tidak melihat Ken ada di kamarnya. "Dimas dimana kamu...?"
"Pak ada apa..?" Tanya Feby yang menghampiri Bapaknya karena mendengar teriakan memanggil nama Dimas.
"Dimas tidak ada di kamarnya," jawab Bapak Feby. "Tapi kamu tenang saja, Bapak akan segera menyuruh anak buah Bapak untuk mengejarnya, dia pasti belum jauh dari sini."
Seketika tubuh Feby menjadi lemas, ia tidak percaya jika akan di tinggalkan calon suami di hari pernikahan mereka.
"Kenapa kamu pergi Mas...? Apa salah aku....?" Tanyanya dengan berlinangan air mata.
"Sar, kamu tolong jaga Feby dulu ya, Pakde akan pergi untuk mengejar Dimas," kata Bapak Feby sambil mengepalkan kedua telapak tangannya.
"iya Pakde," jawab Sari.
Akan tetapi dugaan Bapak Feby salah, ternyata Ken sudah pergi menjauh, karena ini semua telah Ken rencanakan dengan matang dari jauh hari, tentunya dengan bantuan Angga yang merupakan asisten pribadinya.
Mila salah satu teman Feby menemukan sepucuk surat di kasur Ken yang memang sengaja ia tinggalkan untuk Feby. Dengan cepat Feby menyambar surat tersebut lalu membuka dan membacanya.
"Maafkan saya Feby, saya tidak bisa menikah dengan kamu. Saya sudah ingat siapa saya sejak lama, saya sudah punya istri dan anak yang sangat saya cintai, saya akan kembali pada mereka, maaf kalau saya harus melakukannya dengan cara ini, karena sebenarnya saya juga tau gimana kelakuan kamu dan Bapak kamu agar saya tetap di sini bersama kamu. Terima kasih atas pertolongan dan kebaikan kamu juga Bapak kamu selama 2 tahun ini, semoga secepatnya kamu akan menemuka pria yang lebih baik dari saya, wassalam."
"Mas Dimas......." Teriak Feby histeris.
Mila dan Sari berusaha menenangkan Feby, sementara tamu undangan hanya dapat menatap Feby kasihan.
...
Ken dan Angga sedang dalam perjalanan menuju pulang ke rumahnya.
__ADS_1
"Angga, kita mampir ke toko Bunga dan Kue dulu!" Perintah Ken. "Saya mau membelikan bunga dan kue kesukaan istri Saya."
Ken tersenyum, ia sudah tidak sabar untuk bertemu anak dan istrinya yang sudah lama di rindukannya itu.
"Baik Pak," jawab Angga.
Sementara itu Stella sedang berada di rumah bersama Pak Johan dan Robert.
"Stella, kamu harus memikirkan Kayla juga, mau sampai kapan kamu akan hidup menjanda, membiayai hidup anak kamu seorang diri ?" Tanya Pak Johan.
"Apa salahnya Yah, aku masih sanggup kok buat membiayai hidup kami," kata Stella. "Saat ini aku benar-benar belum bisa buat menikah lagi, aku yakin Mas Ken akan kembali."
"Stella, Ken udah pergi hampir 3 tahun, dia gak mungkin kembali lagi,menikahlah dengan saya Stell" kata Robert.
"Maaf Mas, tapi aku benar-benar gak bisa buat nikah sama kamu," ucap Stella.
"Aku harap kamu mau mempertimbangkan ini lagi," pinta Robert. "Aku akan menunggu kamu Stella!" Katanya lagi.
"Gak perlu Mas, aku bahkan gak tau harus sampai kapan kamu akan menunggu aku," tolak Stella.
"Sampai kapanpun!" Kata Ken yakin.
"Ayah sudah mengikhlaskan kepergian Ken sejak lama, dan Ayah ikhlas jika kamu mau menikah dengan Robert, sama saja Robert ini juga anak Ayah," kata Pak Johan.
"Maaf Yah, Mas Robert, aku sama Kayla harus pergi sekarang, masih ada urusan," kata Stella.
"Biar saya antar," tawar Robert.
"Gak perlu Mas, terima kasih atas niat baik Mas Robert," Stella menolak Robert dengan halus.
"Tolong sekali aja kamu terima niat baik saya Stell," pinta Robert.
"Baik Mas," jawab Stella yang tidak tega karena terus menolaknya.
"ya udah kita jalan sekarang aja ya," ajak Robert.
Saat hendak keluar rumah, Stella sangat terkejut melihat seorang pria yang sangat ia nantikan berdiri di hadapannya.
"Enggak, pasti ini hanya halusinasi!" Gumam Stella tidak percaya.
__ADS_1
***